
Layar leptop didepaan mereka menunjukkan situasi di kamar bayi kembar, Gea ang tertidur di kasur, Zahra yang menggendong bayi perempuannya dan Abra yang mengajak bayi laki-laki mereka berbicara, hp yang diletakkan disudut ruangan membuat hampir keseluruhan kamar terlihat.
Lima orang menatap layar leptop itu dengan berbagai ekpresi yang berbeda-beda, Regan yang tersenyum dengan tatapan yang tertuju pada Zahra, As yang cekikikan kecil melihat Abra, Emma dan Alaric yang menatap Abra dengan tatapan tak percaya sedangkan Javir menatap Gea yang tertidur meringkuk dengan pulas.
"Bunda kenapa gak pakai babysitter?" tanya Regan.
Posisi Zahra yang dekat dengan hp memperlihatkan senyum Zahra yang sangat jelas, "kalau pagi ada Fani yang bantuin sampai malam, jam sembilan dia baru Bunda suruh istirahat. Nenek sama Kakek juga masih ada disini, lusa pulang kasian sapi sama kambingnya dikampung."
"have you given them names?" tanya Alaric.
Terlihat Zahra berfikir sejenak, "iya dan tidak" jawabnya tidak jelas.
Abra menggendong bayinya duduk disamping Zahra, "yang perempuan ini Bunda ingin manggil dia Be, Ayah maunya manggil dia Ade karena dia yang terkecil."
"Dia lahir belakangan, dia kakaknya Ayah" Zahra menatap bayi yang digendongnya.
"Yang lahir duluan itu yang kakak Ara, angka saja yang pertama angka satu bukan angka sembilan" Abra tidak mau mengalah.
"Dia kan ngalah sebagai kakak" Zahra masih tetap pada pendiriannya.
"Bunda, memangnya dalam perut Bunda mereka senggol-senggolan gitu adiknya harus lahir duluan?." Regan ikut nimbrung diperdebatan mereka.
"Al tanya nama loh Bun, bukan siapa yang kakak siapa yang adik" Aslan menengahi sebelum perdebatan mereka panjang.
Bibir Zahra langsung mengerucut merasa di proter para laki-laki, "pokoknya Bunda maunya panggil dia Be."
Emma hanya memperhatikan Zahra dan Abra serta pada empat pria disekitarnya tanpa mengerti apayang mereka bicarakan, tidak seperti Alaric yang mulai mengerti dan bisa berbicara bahasa indonesia.
"Ya sudah namanya Bilqis Bun, panggilannya Bi" usul Regan.
Zahra menyugingkan senyumnya, "Bunda juga maunya Bilqis."
"Ara" rengek Abra, "terus Ade?" tanya Abra tak terima.
"Adesyah Bilqis, selesai" putus Regan.
Abra dan Zahra saling tatap sebentar sebelum Abra memutuskan untuk kembali menatap kearah kamera, "jangan sembarangan kasih nama artinya apa?."
Regan langsung menghela nafas lemas, Aslan tertawa mengambil hpnya dan mulai mencari arti dari nama yang diberikan Regan.
Keluarga yang tidak mau mengalah satupun membuat Aslan selalu menjadi penengah mereka, terkadang dia juga menjadi api untuk semakin membuat mereka berdebat hingga Aslan tertawa melihatnya.
"Adesyah artinya putri raja, Bilqis ya ratu Bilqis" Aslan membaca apa yang dia temukan.
Melihat senyum Abra dan Zahra membuat Regan merasa lega, "yang cowo siapa?" tanya Regan.
"Ayah hanya punya nama Chaka, Chaka Ganendra."
"Kenapa gak tiga kata juga?"
"Bunda juga setuju namanya Chaka" sahut Zahra.
"Kalau mau tiga kata juga Abang yang kasih nama" Abra tersenyum pada Regan.
Regan terdiam berfikir.
"Tunggu."
Jika Aslan berbicara dengan serius, Regan dan Abra langsung mengerutkan kening tidak mulai mencurigai sesuatu.
"Jangan asal ya awas" ancam Regan.
"Not Asi again As" desis Abra juga penuh ancama.
Aslan tertawa sambil mengangguk, "enggak kali ini gak main-main." Aslan membenarkan posisi duduknya, "Bunda panggil Regan Ar, Ayah panggil si kecil Ade, satuin aja jadi Ardi atau ardiansyah."
"Artinya?" tanya Regan dengan nada kurang bersahabat.
Aslan menyengir, "Ardi itu artinya Bumi ... kalau Ardiansyah." Jari Aslan langsung mencari arti nama usulannya, "Raja Bumi artinya raja Bumi, tadi putri raja sekarang Rajanya, namaku juga masuk wahahahha ...."
"Dia mengambil kesempatan" sindir Alaric.
"Kebiasaan As" timpal Javir.
Aslan yang masih tertawa merangkul Regan dan menupuk-nepuk pundaknya.
"So what are their names?" tanya Emma bingung dengan apa yang Aslan ketawakan.
Zahra mengangkat bayi ditangannya, "She is Adesyah Bilqis Ganendra you can call her Be, and he is Ardiansyah Chaka Ganendra, Chaka."
Kening Emma mengerut, "Ar, Be and Chaka?, that is ABC" Emma mengatakannya secara sepontan.
__ADS_1
Sontak Aslan dan Alaric tertawa mendengarnya, mereka tidak berfikir sampai kearah situ.
"And she?, her name?"
"Angela Lovita" jawab Javir spontan membuat Regan dan Aslan bersamaan menatap padanya.
Javir yang meresa diperhatikan menoleh menatap mereka bergantian dengan kening mengkerut, Aslan mulai tersenyum seduktif membuat Javir tersadar dan memalingkan muka.
"Mr. Abra why does your family first name start with A?" tanya Emma.
Semua terdiam memikirkan apa maksud dari pertanyaan Emma.
Emma menghela nafas, "Mr Abra, Mrs Ara" Emma menunjuk Abra dan Zahra. "Ar, As, Ade, Ardi dan Angela why?."
Setelah mengerti apa yang Emma maksud semua tertawa membenarkan, meskipun sebenarnya Ara adalah panggilan sayang Abra pada Zahra dan Gea lebih sering dipanggil Gea dari pada Angela jika dipikir entah itu nama panggilan atau nama depan mereka semua berawalan A.
Gea yang mendengar tawa Abra dan Zahra terbangun dari tidurnya, perlahan Gea duduk dan berjalan pelan menghampiri Abra berdiri didekat Abra memicingkan mata menatap layar hpnyang menampilkan Aslan, Regan dan Alaric tiga orang yang pertama Gea lihat.
"Hai guys ..." sapanya sambil melambaikan tangan yang tiba-tiba lambayan tangannya terhenti.
Jemari Gea perlahan turun menjadi genggaman, senyum yang baru saja perukir kecil menghilang, dipojok layar Javir duduk menatapnya.
Tatapan mata mereka bertemu sejenak sebelum akhirnya Javir berdiri menghela nafas pergi entah kemana.
*-*
"Aku gak mau Papa" ucap Vira penuh penekanan.
"Barang-barang kita sudah ada dirumah baru di luar kota, Papa juga harus segera membangun perusahaan Papa lagi." Pak Jaya membujuk Vira yang masih kekeh tidak mau ikut mereka.
"Papa dan Mama saja pindak kesana, Vira disini."
"Rumah ini akan dijual!"
Vira langsung lemas menatap Pak Jaya dengan tatapan memelas.
Pak Jaya memalingkan wajahnya berdiri membelakangi Vira, sedalam dan sebanyak apapun luka yang telah Vira berikan, melihat tatapan Vira yang memelas membuatnya bisa membuatnya luluh.
"Siap-siap kita akan kerumah Abra untuk pamit pada Gea sekalian menjenguk Zahra yang baru melahirkan."
Pergi setelah mengatakannya Pak Jaya pergi begitu saja, membiarkan Vira masih terdiam duduk diruang tamu.
*-*
"Kita keruang kerja lo, ada yang mau gue ceritain soal semalem" Malvi yang berinisyatif lebih dulu berdiri dari duduknya.
"Prabu juga mau kesini" Sam menunjukkan chatnya dengan Prabu.
"Syukur dia mau kesini, sekalian kasih dia pelajaran" desis Malvin
Abra yang merasa ada sesuaru yangbtidak beres semalam dipesta penyamnutan Prabu langsung mengangguk menyetujui Malivin dan berjalan menghampir Zahra.
"Aku ada sesuatu yang mau dibicarakan sama anak" Abra mencium kening Zahra tanpa malu pada beberapa orang disekitar mereka.
"Fani jika ada yang mencari saya langsung antar keruang kerja" ucap Abra sambil berjalan meninggalkan Zahra sambil menatap layar hp ditangannya.
Baru saja Abra, Malvin dan Sam masuknke ruang kerja Abra, sebuah mobil berhenti tepat didepan rumah Abra.
Gea yang melihatnya langsung hendak berdiri, Sebelum sempat melarikan di Zahra menyerahkan Bilqis dalam gendongannya pada Gea, kepala Gea menggeleng tidak mau.
"Mamimu mau pergi loh" bisik Zahra.
Kepala Gea menunduk dalam lebih memilih menatap Bilqis dalam gendongannya.
"Assalamu'alaikum" Pak Jaya mengucapkan salam sambil melangkah masuk kedalam rumah.
Vira tersenyum bahagia menatap Gea yang duduk disebelah Zahra, memangku anak bayi sambil tersenyum menoel-noel pipi bayi itu.
Pak Jaya dan istrinya bersalaman pada Ibu dan Ayah Zahra serta Sari dan Bela, sedangkan Vira melangkahkan kakinya menghampiri Gea. Yesi yang sejak tadi duduk disamping Gea langsung berdiri memberi ruang.
Vira duduk disamping Gea mencium kening Gea dalam, "Mami kangen" ucap Vira serak.
"Jangan peluk-peluk Mi, lagi gendong Be kasihan kejepit nanti" Gea memiringkan wajahnya menjauh.
Vira tertawa kecil, "ini namanya bukan gendong tapi mangku."
"Gea lagi belajar" proters Gea.
Vira tersenyum mengelus rambut Gea sayang, merasa hening Vira menoleh kesamping Gea, ternyata sejak tadi Zahra memperhatikan mereka berdua.
Senyum lebar Vira perlahan menghilang, teringat kembali saat Vira mengeluarkan amarahnya di kantor Abra dulu. Sebenarnya jika boleh jujur dia merasa bersalah, tetapi saat melihat Abra dan Zahra begitu bahagia, Vira merasakan sesuatu yang membuatnya merasakan kesengsaraan seorang diri.
__ADS_1
"Sini Bilqis sama Bunda dulu, Gea sama Mami ya" Zahra hendak mengambil Bilkis dari pangkuan Gea.
Kepala Gea menggeleng pelan, zahra menghela nafas hendak mengatakan sesuatu tetapi Vira lebih dulu mengelus kepala Gea sayang, membat Zahra dan Gea menatap Vira, tidak lernah Vira mengelus puncak kepala Gea sebelumnya.
"Tidak apa-apa Mami mengerti" ucap Vira lembut menatap Gea lalu beralih pada Zahra, "bisa bicara dengan Abra?."
Zahra mengangguk pelan, "diruang kerjanya dengan Sam dan Malvin."
"kebetulan kalau begitu" Vira tersenyum pada Gea sejenak.
Setiap langkah Vira mendapat tatapan oleh beberapa orang yang ada disana, Vira sendiri meski merasa sedang diperhatikan tidak memperdulikannya, dia benar-benar membutuhkan Abra untuk membantunya kali ini.
Vira membuka pintu ruang kerja Abra tanpa mengetik pintunya terlebih dahulu, dia melangkah mendekati mereka yang denga duduk disofa.
"Ngapain lo kesini?" tanya Sam dengan nada tidak suka.
"Jangan cari gara-gara deh lo" Malvin mencoba memperingati.
Tanpa babibu, "ajari gue tentang bisnis" ucap Vira penuh keyakinan.
Sontak Sam, dan Abra tercengang, sedangkan Malvin menyandarkan punggungnya sambil tersenyum kecil.
"Lo kesambet dimana?" Sam hendak menyentuh kening Vira.
Tangan Vira menepisnya sambil mendelikkan matanya, "lo diem deh." Vira kembali menatap Abra, "gue serius ajari gue bisnis lagi, ada beberapa hal yanh udah gue lupa, dan gue butuh informasi tentang dunia bisnis jaman sekarang."
Abra melirik Malvin sejenak lalu menuandarkan punggungnya kesandaran kursi menatap Vira dengan tatapan serius, jiwa Bossy Abra mulai terpancar.
"Mau ngapain?, gue gak punya waktu main-main sekolah-sekolahan dengan lo." Nada bicara Abra begitu datar.
Vira menghela nafas, "gue melamar kerja di perusahaan Jaya Indah."
Kali ini hanya Sam yang terbengong-bengong, Abra tersenyum sarkas pada Vira tanpa memikirkan perasaan Vira akan tersinggung atau tidak.
"Buat apa perusaan kalian sudah diakuisisi?, dari dulu kemana?, sekarang lo gak berguna, gak usah ngebuang waktu." Tatapan dan kata-kata Abra yang tajam membuat Vira sesak.
Sabar, Vira mensugesti dirinya sendiri untuk sabar menerima kata-kata yang akan semakin menyakiti Vira sebentar lagi.
"Mereka gak bodoh mau nerima lo" Malvin mulai angkat bicara, "kita saja tahu niat busuk lp, setelah diterima lo akan berkhianat sama mereka perusahaan bangkrut lo pasti akan kembali menguasai Jaya Indah."
"Dia tidak akan mampu."
Seluruh mata tertuju pada pintu ruang kerja Abra yang terbuka lebar, Vira balik badan ingin tahu siapa orang yang meremehkannya.
Prabu berdiri dengan sebelah tangan masuk kedalam saku celananya, berjalan dengan tegap kearah Vira dan berdiri tepat didepannya.
"Hai Nono Savira" sapa Prabu dengan senyum serkasnya.
Rahang Vira mengeras menatap Prabu nyalang, Vira menoleh menatap Abra meminta penjelasan tetapi Abra malah bersikap santai menatap Prabu dengan senyum.
"Dia siapa lo?" tanya Vira pada Abra.
Abra membalas tatapan Vira dan tersenyum lebar, "kenala gue."
"Pak Abra yang memperkenalkan saya pada Pak Jaya, semalam dia tidak datang dan jadi saya yang datang meminta selamat darinya." Prabu melirik Abra dengan kepala memiring.
Tangan Vira mengepal.
"Dia bilang mau bekerja diperusahan lo" sahut Sam, "jangan diterima karena nanti pas ...."
"Tidak akan mampu" potong Prabu penuh keyakinan menatap Vira dengan senyum lebarnya seakan meremehkan. Prabu berjalan melewati Vira duduk disebelah Malvin, "saya bekerja bukan hanya mengandalkan uang, tapi otak."
Prabu menekan kata otak semakin membuat Vira muak, Vira membuka tas yang dia pegang, mengeluarkan map dan melempat map itunkeatas meja tepat didepan Prabu.
Alis Prabu naik sebelas, menatap Vira dengan tatapan tajamnya bahkan senyum lebarnya juga terus terukir. "What is this?" tanya Prabu tanpa melirik map yaang Vira lempat.
"Lo gak bisa baca?" semprot Vira tidak bisa menahan kekesalannya, "apa perlu lo gue ajari baca dari ABC lagi?."
Sam mengulum bibirnya menahan tawa.
Prabu melirik map didepannya, membukanya perlahan yang ternyata berisi ijazah Vira saat sekolah dan saat kuliah diluar negri, Prabu melempar mao itu ke ujung meja, duduk bersandar disandaran kursi menatap Vira dengan pongkah.
"Nilaimu rata-rata selalu A dan B tidak ada C, tetapi buat apa pintar jika otakmu tidak digunakan."
Nada suara Prabu yang semuakkan begitu dingin hingga dapat menyentil Vira, tidak ada senyum lagi dibibirnya. Mereka hanya saling tatap dengan perasaan yang berkecamuk namun berbedak makna.
*-*
.
Lop you Readers 😙
__ADS_1
.
Unik Muaaa