One More Chance

One More Chance
Semua Demi ...


__ADS_3

Seminggu terakhir ini Zahra semakin susah tidur, semakin kurus, kakinya mulao membengkak dan mudah kelelahan membuat Abra khawatir dan memaksanya untuk kembali cekup meski minggu lalu mereka baru saja cekup.


"Apa waktu kelahirannya semakin dekat?" tanya Abra dengan wajah khawatirnya.


Dokter Erna tersenyum, "ya sepertinya lebih cepat dari yang kami perkirakan."


"Apa tidak apa-apa?"


"Tidak apa-apa Ayah" kali ini Zahra yang menjawabnya dengan nada lembut.


"Jangan ikutan jawab, aku tanya sama dokter."


"Kalau sudah sembilan bulan gak masalah meski waktu kelahirannya maju beberapa hari bahkan seminggu dari perkiraan."


"Benar Pak Abra, jangan terlelu panik yang tenang saja" Dokter Erna lalu tertawa kecil. membantu Zahra menenangkan Abra.


Ucapan Dokrer Erna membuat Abra menoleh pada dokter Erna, "tapi saya benar-benar khawatir dokter, begini saja dok bagaimana kalau kita langsung ...."


"Enggak" potong Zahra, dia tahu apa yang akan dikatakan Abra setelahnya.


Kembali Abra menoleh pada Zahra, kali ini wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang yang membuat Zahra menghela nafas pasrah. "Semua demi keselamatan kalian, semakin dekat dengan waktu kamu melahirkan aku semakin khawatir Ara. Ibu hamil anak kembar rentan ..."


"Ayah" panggil Zahra lembut menghentikan rentetan kalimat yang akan Abra katakan, "gini nih kalau terlalu banyak baca sehingga kekhawatiran kamu berlebihan, kalau kamu begini kamu semakin menakutiku."


Mata mereka saling bertautan, Abra mengelus kepala Zahra lembut, "kata dokter juga udah dekat, jadi apa salahnya kita disini saja sampai kamu melahirkan."


Perlahan mata Zahra semakin berkaca-kaca, "kamu ... tiap nemenin aku cekup aja tangan kamu sering kedinginan gini." Zahra menggenggam tangan Abra, "kalau aku sudah merasakan kontraksi atau ketubannya pecah saja, kita baru tidur dirumah sakit sampai mereka boleh dibawa pulang juga gak masalah."


Lagi-lagi Zahra memikirkan orang lain dari pada dirinya sendiri membuat Abra menghela nafas membuang muka sejenak nemahan diri.


"Aku bisa bertahan" ucap Abra penuh keyakinan kembali menatap Zahra dalam, "aku bisa sekalian mengobati phobiaku Ara, tapi kamu terutama mereka tidak. Sekarang yang lebih penting kamu dan mereka, bukan aku yang perlahan sudah bisa menguasai diri."


Setiap kali mereka berdua cekup selalu membuat dokter Erna tersenyum karena banyaknya pertanyaan yang akan Abra tanyakan, perdebatan kecil mereka dan berakhir dengan kemenangan kata-kata Abra yang penuh kekhawatirannya, memenekankan anjuran dan larangan dokter pada Zahra.


"Jangan pulang lagi ya?" bujuk Abra.


"Kita tinggal disini?" tanya Zahra dengan nada yang lirih mulai melunak.


Abra mengangguk dengan senyum kecilnya.


"Tapi kamu tetep kerja ya?, aku ditemani sama Fani atau Ibu aja nanti."


Senyum Abra semakin lebar, dia mencium puncak kepala Zahra "terima kasih."


Selalu batin dokter Erna, dan selalu saja berawal dari pertanyaan, perdebatan dan kekhawatiran Abra yang sedikit berlebihan dan yang membuat Dokter Erna tersenyum diakhir perdebatan Abra akan menunjukkan rasa sayangnya pada Zahra.


*-*


"Buat apa mereka bawa kardus-kardus kekamar?" tanya Vira pada Pak Jaya.


Langkahnya yang lebar terhenti tidak jauh dari Pak Jaya uang sedang sarapan.


Hari masih pagi, sejak sepuluh menit yang lalu Pak Jaya dan Istrinya mulai sarapan terlebih dahulu tampa menunggu Vira, karena mereka tahu apa yang membuat Vira tidak cepat turun untuk sarpan bersama mereka seperti biasa.


Pak Jaya meminta para pembantu keluarga mereka untuk mengepak semua barang yang akan mereka bawa saat pindah rumah sejak kemarin, dan hanya barang-barang Vira yang belum tersentuh sama sekali.


"Kita akan pindah" jawab Pak Jaya dengan santai kembali mengunyah makannya.

__ADS_1


"Pindah?" Vira melangkah cepat semakin menghampiri Papanya. "Kenapa pindah?, kita pindah kemana?."


Pak Jaya meletakkan sendoknya, menoleh menatap Vira. "Keluar kota, karena kita harus kembali membangun bisnis keluarga kita dari awal."


Kening Vira mengerut, dia semakin bingun dengan setiap jawabanyang diberikan Papanya, Vira duduk disalah satu kursi makan menatap Pak Jaya dengan tatapan serius. "Kenapa?, kenapa harus dari awal lagi.?"


"Karena Papa tidak bisa membalik keadaan Perusahaan kita seperti sebelumnya, sampai stabil seperti sebelum Abra membantu pun Papa tidak sanggup."


Kali ini jawaban yang diberikan Pak Jaya cukup jelas membuat Vira menggelengkan kepala tidak percaya.


Melihat setiap hari Pak Jaya selalu tenang meski dapat terlihat lingkaran hitam dibawah matanya setiap pagi, Vira tidak percaya bahwa usaha dan kerja keras beliau tidak bisa membalikkan keadaan.


"Papa jangan bercanda" ucap Vira dengan tawa kecilnya tak percaya dengan apa yang Pak Jaya katakan. "Aku percaya Papa pasti bisa, setidaknya Papa bisa menstabilkan kondisi perusahaan kita, aku yakin Papa bisa." Vira mengatakannya dengan penuh keyakinan bahkan menatap Pak Jaya.


"Apa kamu pikir mudah mengembalikan keadaan perusahaan seperti dulu, setelah apa yang kamu lakukan?" suara Pak Jaya mulai dingin, bahkan tatapan matanya begitu menusuk pada Vira. "Papa hanya memperjuangkan perusahaan papa sendirian, terlebih banyak para lawan perusahaan kita yang terus mencoba mencuri data perusahaan Jaya Indah. Apa kamu pikir Papa bisa mengatasinya?, Papa manusia biasa, uang kita pas-pasan, kita tidak mempunyai relasi yang siap membantu dengan uang miliaraan seprti Abra. Meskipun seandainya kita punya, mereka tidak akan mempercayai Papa seperti mereka mempercayai Abra karena kemampuan Abra jauh diatas Papa."


Diam, bahkan tatapan Vira seakan kosong tak bernyawa menatap Pak Jaya, tubuhnya melemas hingga punggungnya bersandar pada sandaran kursi.


Satu persatu pertanyaan bermunculan diotaknya, bagaimana jika Luis datang mencarinya?, apa yang harus dia lakukan untuk kembali pada Luis jika uang saja dia tidak punya?, Mengapa dunianya perlahan semakin runtuh?, pada siapa dia akan meminta bantuan?, pada Gea?, anak itu tidak mau mengangkat telfonnya apalagi bertemu dengannya dan membantunya dengan suka rela.


"Menjual perusahaan Jaya Indah juga demi membayar hutang atas namamu diluar negri."


Deg!


Perhatian Vira langsung tertuju pada Pak Jaya, dia menatap pak Jaya dengan dada bergetar, kembali Vira tidak percaya dengan apa yang dia dengar, Vira sedikitpun tidak pernah membicarakan hutangnya di luar negri pada diapapun.


"Hutang?" tanya Mamanya menatap Vita dengan mata menyalang.


Pak Jaya tidak menghiraukan pertanyaan istrinya, beliau berdiri dari duduknya melangkahkan kaki menghampiri Vira dan berdiri didekat Vira.


Pak Jaya tersenyum mengelus puncak kepala Vira, apa yang dilakukannya kali ini membuatnya teringat kebiasaan Abra yang selalu mengelus kepala Gea dengan sayang seperti yang sekarang dia lakukan pada putrinya.


Perlahan kepala Vira mendongak menatap Pak Jaya, tatapan mata mereka saling bertemu, mata Pak Jaya memerah mulai berkaca-kaca.


"Mungkin kami salah mendidik kamu" kali ini suara Mami Vira yang terdengar, "kami terlalu memanjakanmu hingga kamu seperti ini. Jika seandainya bisa .... Mami ingin menelanmu dan kembali melahirkanmu, mendidik dari awal agar kamu tidak seperti sekarang."


Vira masih terdiam menatap Pak Jaya dalam, meski Maminya mengatakannya dengan tulus tidak mampu menarik perhatian Vira pada sosok orang pertama yang dicintainya.


"Ini demi kamu, semua yang kami lakukan sema demi kamu" Pak Jaya tersenyum kecil, "percayalah semua demi kamu."


*-*


Rapat sudah berjalan lebih dari satu jam, karena rapat kali ini adalah proyek besar jadi membutuhkan waktu yang sangan panjang untuk membahan segala hal.


Ibnu yang hadir saat rapat mendapatkan pesan dari Tari jika Zahra sudah akan melahirkan, Tari menghubungi Abra tetapi tidak diangkat atau membalas chat Tari.


Ibnu yang ikut senang mendengarnya berdiri secara sepontan membuat beberapa orang menatap kearahnya tak terkecali Abra yang sedang mendengarkan presentasi dari klien.


"Ada apa pak Ibnu?" tanya Abra dengan kening mengkerut menatap Ibnu dengan tatapan penuh pertanyaan karena sikap dan mimik wajah Ibnu tidak seperti biasanya.


"Zahra akan melahirkan den ...."


Abra tidak menunggu Ibnu selesai berbicara, mendengar Zahra akan melahirkan saja degup jantung Abra berdetak kencang, membuatnya tanpa pikir panjang berlari meninggalkan rapat tanpa mengatakan apapun.


Meskipun rapat kali ini penting, Abra tanpa berfikir dua kali meninggalkan rapat begitu saja semu demi keluarganya, dia yakin Ibnu dan Sam dapat menghendel.


Tadi dini hari sebelum Zahra tidur, wanita itu masih biasa saja, tidak mengeluh merasakan tanda-tanda akan melahirkan seperti kontraksi, kekuar lendir atau ketubannya pecah. Jadi wajar saja dia terkejut dan berlari begitu saja, dia ingin menemani Zahra saat lahiran.

__ADS_1


Flash back


"Kenapa?" tanya Abra langsung sigap berdiri dari tidurannya dibed penunggu melihat Zahra berusaha untuk duduk.


"Mau pipis" ucap Zahra lirih.


Abra membantu Zahra turun dari kasur, dia memapah Zahra berjalan kearah kamar mandi, bahkan juga menunggu Zahra disamping kamar mandi hingga Zahra keluar.


Melihat Abra yang selalu ada untuknya membuat Zahra merasakan ketenangan, terkadang juga merasa kesal jika Abra terlalu overprotective juga padanya.


Setelah Zahra berhasil duduk kembali diatas kasur Abra belum langsung kembali kekasurnya, dia menatap Zahra, menggenggam tangan Zahra erat dan menatap perut Zahra dengan senyum mengembang.


"Merek sebentar lagi lahir" ucapnya lirih namun penuh kebahagiaan, "tapi kenapa sepertinya perut kamu semakin turun?."


Zahra tertawa kecil, "karena sudah dekat dengan waktu persalinan."


"Sudah mulai merasakan kontraksi, keluar lendir atau merasakan ketuban kamu pecah belum?."


Zahra memeluk Abra meski tidak bisa erat karena terhalang perutnya. "Belum Ayah, kamu sudah bertanya dengan pertanyaan yang sama selama kita disini."


Abra tertawa kecil, "kata dokter Erna sudah semakin dekat jadi aku tidak sabar."


Tangan Abra mengelus rambut Zahra, perlahan Zahra melepaskan pelukannya membenarkan posisi duduknya menyamping dan menoleh kelain arah agar Abra leluasa megelus dan menyisir rambutnya.


Abra yang mengerti tersenyum kecil mengambil sisir dan mulai menyisir rambut Zahra. "Rambut kamu agak kusut" ucap Abra memperhatikan rambut Zahra.


Kepala Zahra mengangguk, "nanti aku ingin potong, pasti kesusahan kalau menyusi mereka dengan rambut panjang."


"Iya"


Abra mencium puncak ramput Zahra, naik keatas kasur Zahra dan memeluknya dari belakang membuat Zahra bersandar pada dadanya.


Flashend


Seandainya saja tanda-tanda akan melahirkan dapat dirasakan Zahra, Abra tidak akan mau menyetujui rapat sampai malam seperti sekarang.


"Zahra ..."


Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Abra pada Tari karena ngos-ngosan mengatur nafas, tanpa menyadari kehadiran Ayah dan ibu Zahra yang berdiri didekatnya.


"Ikuti suster Maria" perintah Tari.


Diruang bersalin Abra menatap Zahra dengan tidak tega, Zahra terengah-engah mengatur nafas dan mengikuti intruksi dokter Erna.


Perlahan Abra melangkah mendekati Zahra, menggenggam tangannya menatap Zahra dalam, tanpa berani menatap proses kelahiran anak mereka. Zahra tersenyum melihat Abra disampngnya, kali ini dia melahirkan ditemani suami.


Sesekali Abra menghapus keringat dikening Zahra dengan lengan bajunya sambil berbisik "kamu bisa, yang kuat ya" dan terus berulang-ulang.


*-*


.


Hore lahir ... πŸ‘


Ayo berikan selamat buat mereka dengan πŸ”–Vote πŸ‘Likd and πŸ’¬ Comment


.

__ADS_1


Love you πŸ˜™


Unik Muaaa


__ADS_2