One More Chance

One More Chance
Aase


__ADS_3

Brak ...


Baru sampai Abra langsung menerjang Dorio yang sedang duduk didepan Enzo, tidak ada yang menghalangi Abra menghajar Dorio meski didepan mereka.


Enzo duduk dengan tenang memperhatikan Abrra dan Dorio yang mencoba melawan, Malvin menghela nafas dan malah berjalan memperhatikan senjata Malvin yang terpajang dilemari kaca.


Sam sendiri malah duduk disofa dengan tenang membuka toples yana berisi cemilan sambil membaca kertas-kertas yang berserakan di atas meja.


"Kamu bukan hanya hampir membuat istriku mati ketakutan, tapi tindakan kamu juga akan membahayakanku As..l" maki Abra meneriaki Dario dan mendorong tubuhnya menjauh hingga terjatuh.


Abra mengurai rambutnya dengan jemarinya, menatap Dorio tajam. "Kenapa kamu berani padaku sampai menculik istriku tetapi pada Enzo tidak?, apa kamu pikir setelah keluar dari dunia kalian aku kehilangan kemampuan untuk menghajarmu?."


Dorio menggelengkan kepala, "awal ya ... tapi setelah melihatmu dan anakmu mengamuk sepertinya aku salah."


Buk ...


Kembali Abra melemparkan rumpukan berkas diatas meja Enzo pada kepala Dorio, dia paling benci diremehkan.


"Apa yang ingin kamu bicarakan padaku?, kita bicarakan sekarang" Abra duduk disalah satu kursi didepan meja Enzo.


"Aku ... aku hanya ingin bertanya keberadaan Clara"


Brak ...


Buk ...


Abra menendang kursi yang akan diduduki Dorio hingga Dorio jatuh dan terduduk dilantai.


"Enzo kakak Clara, kenapa kamu malah bertanya padaku?" bentak Abra.


Dorio berdiri menatap Abra tajam dengan tatapan tidak suka.


"Karena kamu cinta pertama Clara, dia menghilang saat hamil anakku, aku tidak mendekati Enzo karena dia lebih gila darimu dan diantara kalian dan aku tidak mau kehilangan kakiku seperti kakakku. Dia mengejar Clara untuk bertanya apa anak yang dia kandungnya anakku atau tidak, dan kamu malah menyerahkannya pada sir Romanov sehingga dia kehilangan sebelah kakinya" Dorio mengatakannya dengan berteriak, tetapi tatapan matanya menunjukkan kesedihan.


Semua terdiam memperhatikan Dorio yang meraup wajahnya, menatap kelangit-langit ruangan menenangkan diri.


Malvin menatap Dorio dan Abra bergantian, satu lagi pria hampir gila karena ditinggalkan wanita pikir Malvin dalam benaknya.


*-*


Diam menatap Mension didepannya yang begitu megah, mewah dan menakjubkan dimata Zahra. Banyak orang kekar berdiri menyambut kedatangan mereka, membuat Zahra berfikir yang tidak-tidak.


"Daddy dan yang lain ada diruang kerja"


Alaric menghampiri Zahra setelah bertanya keberadaan Enzo pada salah satu anak buahnya.


Kali ini mereka bukan di mension Enzo dan Hanna, tetapi mension keluarga Romanov terdahulu yang memang menjadi markas atau tempat tinggal para bawahan mereka.


Setelah menemukan lokasi Abra, mereka membangunkan Alaric bertanya apa dia tahu lokasi itu, karena Regan tidak mau jika mereka menyetujui kemauan Zahra untuk langsung menghampiri Abra, Regan hanya menjaga diri saja takut masuk kedalam kandang para mafia.


Zahra mengangguk pada Alaric, mereka mulai masuk kedalam mension. Regan, Aslan dan Javir memilih duduk diruang tamu menunggu mereka tidak ikut ke ruangan Enzo.


"welcome to headquarters sir" salah satu anak buah Enzo menyapa Alaric.


Zahra yang tidak mengerti mengeluarkan hpnya mencari terjemahan dari kata head quarters yang tidak dia mengerti.


Markas besar?, batin Zahra menatap Alaric yang berjalan didepannya dari belakang.


Langkah Zahra terhenti kala melihat foto Abra, Sam, Malvin dan Enzo begitu besar dengan tulisan Mafia Aase Romanov dibawahnya membuat Zahra tercekat.


Sepontan Zahra bertanya, "apa kalian mafia?" pertanyaan Zahra menghentikan langkah Alaric.


Takut Salah bicara Alaric hanya diam ditpatnya tidak berani berbalik menghada Zahra.


"Jawab dengan jujur"


Alaric memilih tersenyum kecil menunjuk pintu disebelahnya, "mau langsung masuk?" tanya Alaric setelah mereka berada didepan ruang kerja Enzo.


Kepala Zahra menggeleng, "enggak usah Bunda nunggu disini saja dulu, kamu tunggu dibawah saja dengan yang lain" ucap Zahra dengan nada dingin.


Alaric mengangguk dan berjalan meninggalkan Zahra, setelah cukup jauh Alaric menghentikan langkahnya menoleh menatap Zahra yang masih terdiam menatap tajam pada pintu didepannya.


Klek ...

__ADS_1


Pintu terbuka, ternyata Sam yang membuka pintu hendak keluar lalu terpaku didepan Zahra, bingung mau bereaksi seperti apa saat melihat Zahra didepannya. Sam hanya terdiam beberapa saat saling tatap dengan Zahra, mencoba mengatakan sesuatu tetapi takut salah ucap, akhirnya Sam mengedip-ngedipkan matanya dan berjalan mundur menghampiri Abra.


Sam menarik lengan baju Abra membuat Abra menoleh padanya lalu pada arah jari Sam yang menunjuk pada pintu.


Zahra masih berdiri disana tersenyum lebar dan tatapan datarnya, salah satu senyum yang dibenci Abra.


Perlahan Zahra melangkah masuk meski tanpa dipersilahkan, menatap seisi ruangan dan terpaku pada lemari kaca yang penuh dengan senjata.


"Sebaiknya kita keluar" ucap Malvin.


Dan semua menyetujuinya, Malvin, Dorio, Sam dan Enzo keluar dari ruangan Enzo untuk memberi Abra dan Zahra waktu.


"Kenapa tiba-tiba pergi dan datang ketempat seperti ini?" tanya Zahra dengan tenang setelah mendengar pintu ruangan tertutup.


Abra hanya diam mencoba menyusun kata agar tidak terpancing oleh permainan kata Zahra.


"Sebenarnya apa pekerjaan Enzo hingga membutuhkan banyak pengawal?, dan ini senjata semua milik dia bukan?" tangan Zahra menyentuh lemari kaca senjata Enzo.


"Ya" jawab Abra singkat, berdiri dan berjalan menghampiri Zahra menyentuh kedua lengan Zahra. "Kenapa sampai menyusulku kesini?, apa kamu baik-baik saja?, kesini bersama siapa?" tanya Abra dengan lembut.


"Maaf kalau aku melacak keberadaanmu, karena merasa ada sesuatu yang kamu tutupi."


Zahra berbalik badan membuat tatapan mereka saling bertautan, Abra mencoba tenang dengan menyentuh kedua pipi Zahra dengan tangannya.


"Kamu bilang mengantuk, tetapi saat aku bangun kamu tidak ada dimanapun. Kamu menyembunyikan sesuatunkan?."


Abra terdiam.


"Sekarang jelaskan siapa yang menculikku dan kenapa?, kenapa kamu juga sangat yakin mereka tidak akan membunuhku."


Akhirnya Zahra mulai mengajukan pertanyaan yang beruntun, Abra menarik Zahra untuk duduk di sofa.


Perlahan Abra menghela nafas sebelum memulai menjawab pertanyaan Zahra yang Abra yakini akan ada pertanyaan-pertanyaan berikutnya.


"Dia menculikmu hanya untuk memancingku agar bertemu dengannya, dia ingin bertanya dimana Clara adik Enzo."


"Kenapa tidak bertanya pada Enzo?"


"Karena dia takut pada Enzo"


"Enzo orang yang terkenal dan cukup berpengaruh."


"Tapi kamu kan teman Enzo, kenapa dia berani padamu?."


Belum sempat Abra menjawab pertanyaan Zahra, kembali Zahra membuka suara yang membuat Abra tercekat.


"Mafia Aase Romanov" ucap Zahra dengan suara datar, "head quarters" Zahra menghela nafas.


Kali ini begitu terlihat Zahra sebenarnya sedang menahan dirinya untuk tenang sejak tadi. "Aku diculik bukan hanya karena dia ingin tahu dimana adik Enzo bukan?, pasti ada sesuatu selain itu." Tangan Zahra menggenggam mantelnya dengan begitu erat. "Kamu mafia?, kamu menyembunyikannya dariku?."


"Aku bukan mafia Ara" Abra meraih tangan Zahra dan menggenggamnya erat.


Kata-kata Abra yang mencoba meyakinkannya bahwa dia bukan mafia malah semakin membuat Zahra merasa tertekan.


"Oh ya? ... jangan berbohong karena tidak ada satupun kebohongan atau rahasia yang aku sembunyikan darimu lagi" mata Zahra memgkilat marah, menarik tangannya dari genggaman tangan Abra.


"Ara ..."


"Jangan mengelak!" hardik Zahra, "kamu marah marah saat tahu aku menyembunyukan sesuatu darimu, tapi saat kamu bertanya aku jujur Abra!."


Abra


Abra


Abra


Berkali-kali Zahra memanggil namanya bukan Ayah seperti sebelumnya, membuat Abra sadar jika Zahra benar-benar marah kali ini. Tapi bagaimanapun Abra bukan mafia, dan Zahra harus yakin hal itu.


"Aku tidak berbohong Ara, aku bukan mafia" Abra menekan tiga kata terakhir.


"Oh ya?" Zahra tersenyum dengan tatapan tajamnya yang dibenci Abra.


"Aku ... aku ... lebih tepatnya kami berteman dengan Hanna yang saatbitu berpacaran dengan Enzo. Aku terlibat bentrok dengan segerombolan geng, tepat saat aku melarikan diri dari mereka aku menolong perempuan yang ternyata adik Enzo, dan setelah itunakhirnya aku tahu jika keluarga mereka mafia" akhirnya Abra mengatakannya meski tersendat-sendat diawal.

__ADS_1


Kembali Abra menarik tangan Zahra menggenggamnya erat. "Akhirnya keluarga Romanov menganghap kami keluarga sehingga mafia yang lain menganggap aku, Sam dan Malvin salah satu dari mereka. Tapi kami bukan mafia Ara" Abra memperhatikan reaksi Zahra.


Tiba-tiba saja Zahra panik melepas tangan Abra, menyentuh kepalanya terlihat Zahra sangat panik hingga berdiri melangkah mundur menjauh.


"Jadi ... jadi benar kita di markas besar mereka?, dimaskas besar mafia? Kamu ... aku ... anak-anak ..."


Zahra semakin panik saat mengingat Aslan dan Regan sudah setahun lebih berada dinegara ini dan sedang ada dibawah.


Dengan panik Zahra melangkahkan kakinya hendak keluar, Abra berlari menghadang langkah Zahra hingga Zahra terkejut dengan panik melangkah mundur.


Tatapan mata Abra langsung berubah sedih menatap reaksi Zahra yang ketakutan padanya, "Ara kamu takut padaku?" tanya Abra memaksakan diri mengeluarkan suaranya meski tenggorokannya seakan tercekik.


"Aku ... aku tidak takut" ucap Zahra menatap kelain arah.


"LALU KENAPA KAMU MENGHINDAR!" teriak Abra dengan bentakan yang menggelegar.


Zahra yang terperanjat mendapat bentakan dari Abra menatap Abra dengan mata berkaca-kaca.


Mata Abra sendiri sudah memerah menahan amarah bercampur sedih karena kecewa pada Zahra.


"Aku bukan Mafia Ara" ucap Abra sambil memukul dadanya berkali-kali, "tidak bisakah kamu percaya apa yang akunkatakan?" suara Abrs terdengar memelas.


Ketakutan Zahra yang selalu berfikir negatif membuat Abra kali ini merasa sesak. Kepalanya mulai pening karena kurang tidur, terlalu banyak berfikir dan menahan amarahnya.


"Tidak semua Mafia jahat, begitu pun juga dengan Heacker. Jangan terlalu terbawa cerita film yang fiktif Ara, aku berteman dengan Enzo dan Malvin bukan berarti aku seorang mafia dan heacker."


Abra melangkah mendekati Zahra, kali ini Zahra tidak menghindar seperti tadi, Zahra tetap berdiri ditempatnya tetapi menatak kelain arah.


"Lalu apa seorang mafia tidak membunuh?, apa mereka tidak pernah menyakiti orang lain?, kalau memang tidak pernah lalu senjata itu untuk apa?." Zahra menunjuk kearah lemari kaca penyimpanan senjata Enzo, "apa hanya sekedar pajangan atau koleksi?."


Abra tidak menjawab, meski keluarga Romanov sekarang tidak sesadis dulu, tetapi tidak bisa dipungkiri jika mereka tetap berhati dingin, dan tidak ada belas kasih bagi orang yang mengusik ketenangan mereka.


"Berteman dengan seorang penjual parfum kalian akan mendapat harumnya, dan kamu sudah lihat dampaknya terjadi padaku." Zahra mendongak kali ini berani menatap Abra, "aku tidak tahu kesalahan apa yang sebenarnya kamu atau kalaian perbuat hingga orang itu menculikku. Tapi setelah gagal mengancammu melaluiku bagaimana jika mereka menggunakan anak-anak kita, kamu tahu kan bagaimana aku bisa gila jika menyangkut mereka?."


Abra kembali mengingat perkataan Regan dulu saat anak itu tahu dia pernah terlibat dalam dunia mafia, Regan mengambil istilah dari orang penjual parfum seperti istilah yang Zahra gunakan sekarang ini mengingatnya tersenyum kecil mengetahui seberapa erat hubungan antara anak dan Ibu.


Mereka terdiam saling tatap satu sama lain, tangan Abta membingkai wajah Zahra mencium keningnya cukup lama sebelum menarik tubuh Zahra masuk dalam pelukannya.


"Regan pernah mengistilahkan hal yang sama sepertimu, tapi Ara. Kita boleh berteman dengan siapapu maling, copet, rentenir atau siapapun. Tetapi kita hanya boleh mengambil ilmu dari mereka tidak untuk menirukan kejahatan mereka."


Abra tidak bisa menyalahkan pemikiran Zahra, bagaimana pun juga jika cerita tanpa sesuatu yang dideramatisir tidak akan menarik minat penonton, sehingga bagi orang awal akan berfikir itu nyata didunia kenyataan.


Abra membenamkan wajahnya dipundak Zahra, "aku pastikan apa yang terjadi padamu tidak akan terjadi lagi Ara. Sebelumnya ku sudah mewanti-wanti As dan Ar, bahkan memasrahkan mereka dalam pengawasan langsung Enzo, memantau pergerakan mereka melalui Javir. Yang terjadi padamu karena kesalahku terlalu takut terbuka mengungkapkan masa lalu, sehingga kurang memperketat pengawasanmu hanya agar menjaga kamu tidak curiga. Aku tidak menceritakannya karena aku takut kamu menjauh Ara, bahkan melihatmu melangkah mundur seperti tadi membuatku sesak rasanya" pelukan Abra semakin erat.


Basah


Zahra merasakan basah di pundaknya, Abra menangis kah?, setakut itukah?.


"Tidak ada orang waras mau menerima pasangannya yang seorang mafia" ucap Zahra lirih.


Kepala Abra mengangguk dan terkekeh kecil, "ya ... Enzo, Sam bahkan aku. Kami semua kesusahan menjelaskan bagaimana masa lalu pada istri masing-masing. Hanna pernah sampai Enzo kunci dalam kamar karena mau kabur, Sam bahkan hampir bercerai dengan Sari, jadi aku takut kehilangan kamu lagi."


Merasa semakin erat pelukan Abra, Zahra menggerakkan tubuhnya agara Abra melepaskan pelukannya.


"Kalau sampai terjadi apa-apa pada anak-anak pada yang akan kamu lakukan?" tantang Zahra.


"Ada Enzo dan Javir, anak-anak juga sudah aku wanti-wanti untuk menjaga diri dan menjauh dari dunia mafia ja ..."


"ANAK-ANAK TAHU?"


Zahra mendorong tubuh Abra menjauh, menatap nyalang pada Abra.


Sadar jika dia kembali memancing amarah Zahra, Abra berdecak kesal pada diri sendiri.


*-*


Bab terpanjang ... dari awal One More Chance up πŸ˜† waw πŸ˜†


Semoga saja para Readers kece semua suka sama alurnya πŸ˜†


Ya sudah jangan lupa tinggalkan jejak dengan πŸ‘Like and πŸ’¬ Comment


Tak lupa Author ucapkan banyak terima kasih karena sudah memberikan πŸ‘Like and πŸ’¬ Comment yang membangun πŸ˜‰ itu tuh buat Author semangat buat Up 😍

__ADS_1


Apa Author pindahin aja lagi si Raja Series ke lapak ini dari sebelah πŸ˜† karena disini lebih banyak yang sayang Author πŸ˜‡ marilah comment πŸ˜‰


Salam peluk Lop lop you πŸ˜™ Unik Muaaa


__ADS_2