One More Chance

One More Chance
Manja


__ADS_3

"Mau tidur lagi?" tanya Abra.


Zahra mengangguk dengan mata yang mulai kembali mengantuk, padahal mereka baru saja sholat subuh berjam'ah tetapi sudah berminggu-minggu ini tidak seperti biasanya Zahra akan tidur setelah sholat.


Dengan terkantu-kantuk Zahra menarik tangan Abra menuju kasur, Zahra menatap Abra dengan kelopak mata yang sesekali berkedip-kedip.


Abra tersenyum merasa gemas dengan tingkah Zahra, mengelus rambut Zahra sebelum naik keatas kasur. Abra tidur ditengah-tenganmerentangkan tangan kirinya untuk menjadi bantak Zahra seperti biasa.


Zahra tersenyum kecil dan maik perlahan keatas kasur, menarik badcover hingga benar-benar menutupi tubuhnya sampai keleher lalu merebahkan tubuhnya disamoing Abra.


Dia memeluk Abra membenamkan wajahnya di dada Abra seperti biasanya, Zahra diam-diam akan menghirup dan menciumi dada Abra terkadang membuat Abra harus menghela nafas berkali-kali.


"Ara tidur, gak usah ngendus-ngensus" tegur Abra dengan suara selembut mungkin agar Ara tidak tersinggung.


Selain selalu mengantuk dan tidur setelah subuh, Zahra juga gampang sedih terkadang menangis tanpa sebab setelah kejadian Regan menutup video call mereka.


"Ayah harum, aku suka" guma Zahra.


Tapi aku yang tersiksa batin Abra berbicara. "Aku belum mandi, kalau cuma mau ngendus-ngendus duduk ya ..."


Kepala Zahra menggeleng.


Abra pasrah akhirnya mengelus rambut Zahra, biasanya Zahra akan cepat tertidur jika Abra mengelus-elus rambutnya.


"Apa Ar belum menghubungimu?" tanya Zahra lirih.


Jika membahas tentang Regan, Abra yakin Zahra akan kembali menangis seperti yang sudah-sudah, membuat Abra menghela nafas pasrah.


"Belum."


Zahra mendongakkan kepalanya menatap Abra. "Ar tidak merindukanku?, apa Ar belum bisa menerima mereka?, aku harus bagaimana?, apa dia tidak sanyang padaku lagi?."


Abra tersenyum mencium kening Zahra bertubi-tubi. "Siapa yang marahin aku saat terlalu banyak mikir?."


Mata berkaca-kaca Zahra malah berkedip-kedip semakin membuat Abra gemas akhirnya mencium bibir wanita itu tidak tahan lagi.


"Aku suka kamu yang menggemaskan seperti ini" bisik Abra mempererat pelukannya tidak mau memandang Zahra takut kebablasan. "Andai tidak ingat umur, aku ingin kita melanjutkan apa yang menjadi impian kita, mempunyai anak lima."


Zahra menggigit dada Abra.


"Aw ... sakit Ara" keluh Abra bukan marah dia malah mempererat pelukannya dan memutar tubuh mereka hingga Zahra tidur diatas dadanya. "Gak bole KDRT sama suami loh."


Wajah Zahra langsung cemberut menatap Abra "habisnya kamu selalu bahas mau punya anak lima, kita udah punya anak tiga besar." Kembali Zahra merebahkan kepalanya didada Abra "didalam perut aku ada dua, udah cukup jadi pemain basket."


Abra tertawa menggoyang-goyangkan tubuh Zahra dalam pelukannya. "Udah tidur, kalau enggak aku mau ngurus kerjaan."


"Enggak" Zahra memperat pelukannya. "Hari ini saja jangan kekantor, temenin aku seharian biar gak nagisin Ar."

__ADS_1


Abra mencium rambut Zahra "asal gak nangis aku mau nemenin."


Kepala Zahra mengangguk dan kembali memejamkan mata.


Abra mengelus punggung Zahra memrapikan rambut Zahra yang berantakan, terkadang rambut Zahra membuatnya terganggu, tetapi jika dipotong dia tidak bisa mengelus rambut Zahra.


Semenjak Zahra hamil wanitanya malas menyisir rambut, tetapi Abra yang menyukai rambut hitam Zahra dengan telaten selalu menyiris rambutnya. Tidak perli dipertanyakan lagi seberapa besar dia mencintai wanita dalam pelukannya ini bukan?.


*-*


Meja makan kembali tanpa kehadiran Zahra dan Abra membuat Gea menghela nafas dan tersenyum kecil. Akhir-akhir ini mereka selalu tidak sarapan bersama seperti biasa.


Hp Gea berbunyi ada notifikasi masuk ternyata pesan dari Ayahnya, bukan hanya pesan tetapi juga foto pantulan dari kaca lemari yang memperlihatkan Zahra yang tidur memeluk Abra.


Ayah


*Tidak mau lepas


Tiap pagi nangisin ArπŸ˜‘


Maaf tidak bisa nemeni Ge sarapan,


Ayah sepertinya juga tidak bisa


Kekantor hari ini 😌*


Sejak kejadian waktu Zahra memberitahu hamil hp Regan kembali tidak aktif dan susah dihubungi.


"Selamat pagi Gea."


Gea menoleh pada sumber suara yang menyapanya.


Ternyata Ibnu dan Tari, mereka berjalan menghampiri Gea yang sedang makan dimeja makan.


"Hai Om Tante selamat pagi" balas Gea dengan senyum cerahnya.


"Ayah sama Bunda mana?" tanya Tari duduk di kursi disamping Gea.


Gea tersenyum dan melirik hpnya yang masih menampilkan pesan Abra dan foto yang Abra kirim.


Tari tertawa kecil.


Sedangkan Ibnu mengelus rambut Gea. "Gea ngertiin mereka ya, ibu hamil moodnya selalu up and down."


Kepala Gea mengangguk. "Iya Om, lagi pula ini pertama kali Bunda hamil ditemani Ayah."


"Katanya kembar ya Ge?" tanya Tari.

__ADS_1


Gea tersenyum "iya, Ar terkejut denger kabar itu sampai sekarang belum nelfon balik mangkanya mood Bunda tambah kacau."


*-*


Jam sudah menunjukkan jam sepuluh malam, Zahra masih duduk di ruang tamu menatap layar tv dengan wajah cemberut.


Tadi Sore Abra di telfon klien minta untuk segera menemuinya karena ada urusan penting membuat Zahra mau tidak mau melepas pelukannya dari Abra.


Gea yang baru turun dari tangga memicingkan mata menatap Zahra yang masih duduk sejak mereka selesai makan malam, melirik jam di hpnya yang sudah menunjukkan jam sepuluh lewat.


Dengan kaki diseret Gea menghampiri Zahra. "Bunda belum tidur?" tanyanya serak, Gea terbangun karena haus dan tadi lupa mengisi botol minumannya.


Zahra tersenyum segaris dan menggelengkan kepalanya."Gea kenapa bangun?, bukannya sudah tidur?, besok sekolah loh Ge."


Gea mengangkat botol airnya "air Gea habis, Gea mau ngisi."


"Ya udah sana isi airnya sesudah itu kembali tidur."


Tanpa banyak bicara Gea berbalik badan berjalan menuju dapur sesekli menguap.


Suara kunci pintu diputar mengalihkan perhatian Zahra dari Gea. Dengan cepat Zahra menoleh tetapi tidak berdiri mendekati pintu menyambut Abra datang.


Abra yang baru membuka pintu terkejut melihat Zahra yang duduk sofa menunggunya dengan mata setengah terpejam. "Kenapa belum tidur?" tanya Abra khawatir sambil melangkah lebar mendekati Zahra.


Kepala Zahra menggeleng, mengambil alih tas Abra, bersalaman lalu menarik Abra duduk di sofa ruang tamu.


"Aku ngantuk" keluh Zah lirih.


Abra mengusap kepalanya sayang "Ayo tidur dikamar."


Kepala Zahra menggeleng menarik Abra duduk, membantu membuka jas Abra dan mepuk Sofa panjang di sebelahnya "bubuk."


Mata Abra melotot tak percaya, tetapi dia juga tidak membantah merebahkan tubuhnya di sofa dan Zahra juga ikut merebahkan tubuhnya disamping Abra dan memeleknya seperti biasa.


Diam-diam Abra menghela nafas membalas pelukan Zahra. 'Untung sofa chaise lounge, kalau tidak gimana bisa tidur' batinyya sebelum ikut Zahra memejamkan matanya.


Gea yang sejak tadi memperhatikan mereka mengulum senyum, perlahan menghampiri mereka mematikan tv, manatap mereka membuatnya gemas dan diam-diam memotret mereka yang tertidur.


'Pasangan yang cepat tertidur pulas' Gea membatin sambil memeluk botol airnya saking gemasnya melihat mereka.


*-*


.


.


.

__ADS_1


Unik_Muaaa


__ADS_2