One More Chance

One More Chance
Berubah Pikiran


__ADS_3

"Kenapa harus dengan Gea?" tanya Gea menundukkan kepala.


Semua mata tertuju pada Gea seketika, Zahra yang duduk disamping Abra langsung menatap Abra tajam, dia menangkap kejanggalan dari nada suara Gea.


Senyum, tawa dan kebahagiaan memudar perlahan. Javir yang duduk bersebelahan dengan Gea menatap gadis remaja itu, sejak Gea turun dari tangga Javir merasakan keanehan, tetapi dia berfikir mungkin saja Gea sedang gugup, tetapi mendengar pertanyaan Gea barusan Javir merasakan kejanggalan seperti yang Zahra rasakan.


"Ayah sudah jelasin ke Gea ..."


"Gea berubah pikiran" potong Gea mengangkat kepalanya menatap Abra.


Semua tercengang tak percaya.


Hari ini adalah hari pertunangan mereka, memang tidak mewah karena Gea yang meminta cukup antara keluarga saja.


Dari keluarga Javir juga sudah membawa beberapa barang bawaan selain cincin. Dari dua minggu yang lalu setelah Malvin kekantornya dua keluarga itu berkumpul bersama dengan Javir dan Gea menanyakan pendapat mereka. Javir awalnya terkejut lalu menerima rencana pertunangannya dengan Gea, sedangkan Gea tersenyum bahagia.


Mereka berdua juga meminta waktu untuk semakin saling mengenal selama dua minggu untuk memberikan jawaban pasti, dan tiga hari lalu mereka berdua memberikan jawaban yang sama, tetapi kenapa malam ini Gea berkata berubah pikiran secara tiba-tiba.


"Gea jangan bercanda" tegur Javir.


Tatapan mata Gea masih tertuju pada Abra, tidak pernah Abra melihat Gea berani menatapnya dengan lama, menatapnya dengan tatapan serius namun kosong dan datar.


"Mungkin Gea sedang gugup atau butuh waktu lagi ya?" tanya Bela lembut.


"Apa Gea terlihat gugup?" Gea balik bertanya dengan nada datarnya. "Gak butuh waktu lagi, dua minggu juga sia-sia terbuang" Gea tersenyum segaris berdiri dari duduknya.


Javir ikut berdiri menghalangi langkah Gea yang hendak pergi. "Kamu kenapa?" tanya Javie menatap wajah Gea dalam, sedangkan Gea yang membuang muka.


"Apa karena setelah tunangan aku keluar Negri dan kamu gak mau LDRan?, kita sudah bahas itu kan Gea?."


Gea tersenyum lebar membalas tatapan Javir, "Aku bukan mainan, aku juga bukan tempat sampah" dua kaliamat yang diucapkan Gea penuh penekanan.


Setelah mengatakan itu Gea berjalan melewati Javir yang masih terdiam ditempatnya.


"Gea keluarga Javir sudah ..."


"Ayah" potong Gea untuk yang kedua kalinya, Gea menghentikan langkahnya didepan tangga tanpa membalikkan bada dia berkata "barang bawaannya gak usah dikembalikan, nati Gea yang ganti ngambil uang tabungan Gea."


Abra melangkahkan kakinya dengan cepat menghampiri Gea yang masih berdiri didepan anak tangga. "Bukan masalah barang sayang, Om Malvin tidak kekurangan uang, ta ...."


"Ayah" potong Gea lirih sembil mendongakkan kepalanya menatap Abra. "Gea capek" ucap Gea begitu lirih.


Mata Gea mulai berkaca-kaca, bibirnya bergetar, Abra tahu jika gadis didepannya sedang menggigit bibir bawahnya bagian dalam.

__ADS_1


Tangan Abra mengelus rambut Gea, menghela nafas "naiklah."


Satu kata yang keluar dari mulut Abra seakan menjadi alaram bagi Gea, gadis itu berlari menaiki tangga.


Javir menatapnya sejak tadi, terlihat Gea menghela nafas dan membuang nafas beberapa kali, Gea sedang menahan tangis, Javir tahu kebiasaan Gea yang satu itu.


*-*


Didalam kamar, tanpa berganti baju Gea langsung menangis, mencari hpnya dan melakukan panggilan video call pada Regan.


"Apa udah aca ..." kalimat Regan mengambang.


Gea meletakkan hpnya dikaki boneka dengan kamera layar depan mengarah padanya, sedangkan Gea tidur terlentang dengan seluruh badan hingga kepala ditutupi selumut menangis segugukan.


"Gea kenapa?" tanya Regan lembut.


Perlahan Gea memembuka selimutnya hanya sebatas mata yang terlihat. "Ar ... jangan tanya atau ngomong ... diem aja temenin Gea nangis" pinta Gea terputus-putus disela-sela segugukannya.


Regan hanya mengangguk menghela nafas pasrah melihat Gea kembali menutup kepalanya menangis.


Aslan dan Alaric yang bermain PS sampai menghentikan permainan mereka dan menghampiri Regan.


Jari telunjuk Regan menempel dibibirnya agar mereka berdua tidak berisik, lalu Regan memberi isyarat pada Aslan untuk menelfon Zahra dan menunjuk layar hpnya.


Regan masih diam hanya menatap Gea membuat Gea kesal membuka selimutnya dan menendang-nendang udara. "Ih ... kenapa Ar diem aja" Gea kembali menangis.


"Tadi gak boleh ngomong, diem aja malah nangis?. Mood cewek sebenernya lagi up and down waktu apa saja sih selain pms dan hamil?."


Pertanyaan Regan membuat Aslan tertawa ngakak.


"Gak tau, jawab dulu pertanyaan Gea tadi, Gea boleh gak tinggal sama Ar dan As disitu?."


Kepala Regang langsung menggeleng cepat, "enggak boleh, aku disini sudah pusing dengan tingkah laku adik Alaric masih ditambah kamu. Aku disini sekolah bukan jalan-jalan jangan nyusahin."


Gea kembali menangis "Gea ini lagi segi sedih loh Ar kok gitu?, gak ada niatan gitu biat menghibur Gea."


Mendengar Gea menangis Aslan merebut hp Regan dan memberikan hpnya pada Regan. "Gea kalau mau dihibur jangan ke Ar, dia gak tahu ngibur cewek."


Melihat layar hp Aslan yang masih tersambung dengan Zahra Regan melangkahkan kakinya menjauh dari Aslan.


Diruang tamu Zahra dan Abra duduk diam mendengarkan apa yang dikatakan Gea. Didepan mereka Malvin dan Bela juga diam ikut mendengarkan, hanya Javir yang seakan sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Ar gak tau kenapa, Bunda dengan sendiri kan Gea gak mau bahas kenapa dia nangis malah bahas takut Ayah marah" Regan berbicara dengan nada pelan disebrang takut Gea mendengar.

__ADS_1


Zahra menggenggam tangan Abra "katakan pada Gea Ayah gak akan ngusir Gea."


"Ayah minta tolong hibur dia, kalau dia nangis kelamaan nanti biasanya sakit." Pinta Abra, "pintu kamarnya pasti dikunci."


"Memangnya ada masalah apa?" tanya Regan.


Abra melirik Javur yang terdiam menatap jemarinya, Zahra menon aktifkan loudspeaker hpnya dan berjalan menjauh dari ruang tamu.


"Gea berubah pikiran, tidak mau bertunangan dengan Javir" jelas Zahra.


"Kali sudah mastikan Gea mau?."


"Sudah, tiga hari lalu dia bilang iya. Kemarin dia dan Javir masih menjemput cincin pertunangan mereka setelah pulang sekolah."


Zahra duduk di Gazebo belakang rumah menatap kearah air kolam yang tenang.


"Ya sudah, sepertinya Gea nangis lagi" Regan melirik Aslan.


Setelah mematikan panggilan dari Regan, Zahra masih duduk di gazebo belum langsung kembali ke ruang tamu.


Zahra menatap ruang kamar Gea dilantai dua, lampunya masih menyala pertanda Gea belum tidur.


"Ya sudah mau bagaimana lagi" Zahra mengatakannya sambil berjalan menuju ruang tamu. "Jika menurut Javir tidak ada maslah kemarin berarti memang dari Geanya yang belum siap."


"Kita sebagai orang tua Gea minta maaf, ini semua diluar dugaan kita." Sambung Abra menatap Malvin.


Sedangkan tatapan Malvin tertuju pada Javir yang masih terdiam "saat kita mengatakan pada Gea dia bahagia dan senang, tiga hari lalu saat kita bertanya dia masih bilang mau. Tetapi pemikiran manusia selalu berubah-ubah, meski begitu tidak ada yang berubah diantara persahabatan kita."


"Masalah anak-anak jangan dibawa kepersahabatan kita, lo lupa apa aja yang udah kita laluin?" Abra melempar sebiji kacang yang dia ambil didalam toples yang terbuka didepannya.


Plak ...


Tangan Zahra dengan cepat memukul paha Abra "jangan lempar-lempar makan" omel Zahra sambil melotot.


Abra hanya meringis mengusap pahanya yang sakit akibat pukulan tangan Zahra.


*-*


.


.


.

__ADS_1


Unik Muaaa


__ADS_2