
Seakan membeku, Gea terdiam di tempatnya saat pertama kali melihat Javir.
Sudah hampir setengah tahun mereka tidak bertemu, penampilan Javir semakin terlihat dewasa, rapi dan lebih keren dengan mantel yang dia kenakan hari ini.
Abra, Zahra dan Fani sudah berjalan terlebih dulu dengan Alaric dan Javir, tetapi langkah Javir terhenti saat tidak melihat Gea diantara mereka. Javir menolehbkekanan dan kekiri, bahkan kakinya berjinjin siapa tahu Gea sudah berjalan mendahului mereka, sejak tadi dia selalu menghindar dari menatap Gea menghindari kontak matanmereka bertemu.
Tepat saat Javir dengan cepat berbalik, Gea menundukkan kepala kembali melangkahkan kaki sambil mengacak-acak selemoangnya pura-pura mencari sesuatu.
Gea melirik kedepan dengan kepala masih menunduk, Javir masih ditempatnya tadi berdiri tepat didepan Gea membuat Gea melangkah kesamping agar mereka tidak terbentur.
Javir berjalan dibelakang Gea, dia memperhatikan Gea dari belakang, dia tidak suka situasi mereka sekarang, tidak ada pelukan, senyum, panggilan Jaber seakan mereka orang asing.
"Mereka kemana?" Gea menarik kopernya mencari Abra dan Zahra.
Pada akhirnya Javir menghentikan langkahnya disebelah Gea, "mereka udah jalan" Javir mengatakannya sambil menatap mobil Alaric.
Tangan Javir menarik koper Gea, merjalan menghampiri mobilnya, yang ternyata sudah ada Fani yang menunggu didalam mobil dengan salah satu supir pribadi Enzo.
"Kak Fani" panggil Gea lirih.
Fani duduk di samping pengemudi, Gea ingin memintanya pindah kebelakang duduk dengan Javir.
"Apa?" tanya Fani lirih.
Melihat Fani yang sepertinya jet lag Gea menggelengkan kepala kasihan, dia memilih duduk dengan Javir dibelakang.
Posisi duduk Gea begitu mepet kepintu mobil disebelahnya. Geram, ingin rasanya dia membentak gadis disampingnya agar bersikap biasa saja, tetapi dia tidak tega melihat Gea yang hanya menunduk sibuk dengan hpnya.
Hp Gea berdering, panggilan masuk dari Zahra.
"Gea gak ada barang yang tertinggalkan?" tanya Zahra.
"Gak ada" jawab Gea singkat.
"Ya udah, Bunda sama Ayah berangkat dulu gak nunggu Gea karena kasihan Bi dan Chaka takut kedinginan."
"Iya"
Tidak ada tanggapan dari Zahra beberapa saat, "Gea udah naik mobil sama Fani kan?"
"Udah"
Kembali hening, "Gea kenapa?" tanya Zahra lembut.
Gea memainkan jarinya tidak menjawab.
"Maaf Bunda dan Ayah lupa"
"...."
"Ada Javir disitu?."
"Ya"
Terdengar helaan nafas Zahra, "maaf ya Bunda benar-benar lupa."
"Ya Bun"
__ADS_1
"Ya udah, tahan aja dulu bentar. Bunda minta maaf"
"Ya"
Gea memutuskan panggilan telepon Zahra, dia menghela nafas, membuka kamera dan membuat Video singkat lalu kembali memainkan hpnya.
Tring ...
Ada notifikasi masuk dihp Javir, ternyata Gea baru saja update story dengan caption yang membuat Javir menatap Gea.
Gea_Angela Liburan Gue 😶
Rasa Nao Nao 😆
*-*
Emma duduk di bean bag dengan wajah merengut, memperhatikan Aslan dan Regan membereskan buku-buku dan peralatan main mereka didepan tv lantai dua tempat mereka biasanya duduk santai. Sejak dia, Enzo dan Hanna sampai Regan berbicara dengannya alakadarnya saja seperti kebiasaan Regan berbicara pada orang asing saat awal-awal mereka bertemu itu yang Emma rasakan sejak tadi.
Aslan membawa keresek yang telah penuh dengan sampah kebawah, saat itu juga Emma berjalan menghampiri Regan dan menyeretnya masuk kedalam kamar Regan.
"Emma" tegur Regan.
Emmah mengunci pintu dan menyimpannya didalam baju, "ada apa dengan kamu?" tanya Emma.
Regan duduk di kasurnya menatap Emma datar, "memangnya aku kenapa?."
"Kamu tidak begini Adam" ucap Emma nada manjanya.
"aku tidak mengerti."
"Apa?"
Mereka saling tatap satu sama lain, wajah Emma yang tadinya cemberut berubah datar menatap Regan.
"Kenapa kamu berubah?" tanya Emma akhirnya pertanyaan itu dapat dia lontarkan.
Regan melipat kedua tangannya didepan dada, kali ini menatap Emma dengan tatapan tajam namun serius. "Memangnya sebelumnya aku bagaimana?."
Pertanyaan balikan Regan kembali membuat Emma terdiam.
"Kenapa diam?, sebentar lagi orang tuaku datang aku harus menya ..."
"Aku tidak suka" sangat lirih, "aku merasa kamu berubah sejak malam itu. Apa kamu takut padaku?, kamu benci padaku?."
Regan menghela nafas menatap Emma yang berdiri didepannya, memangnya dia berubah seperti apa hingga Emma berfikir Regan takut dan benci padanya.
"Aku berubah apa?, kenapa disangkut pautkan dengan malam itu?." Regan kembali berdiri, "memangnya kamu mengharapkan apa?."
Perlahan Emma melangkah mendekati Regan dan memeluknya, "aku merasa kamu jaga jarak."
Tangan Regan terangkat tidak membalas pelukan Emma. "Bukannya kamu yang malah jaga jarak?, sejak malam itu tidak pernah kesini lagi?."
Mendengarnya Emma kembali terdiam, dia semakin erat memeluk Regan.
Tangan sebelah Regan mendorong kening Emma menjauh, Emma semakin mempererat pelukannya membuat Regan semakin risih.
"Emma jangan gini" protes Regan.
__ADS_1
Kedua tangan Regan menyentak tangan Emma dan berlari menjauh, Emma tersenyum kecil melirik pintu dibelakangnya.
Regan yang paham atas lirikan itu berdecak kesal, dia tidak bisa keluar melewati pintu itu karena kunci ada di dalam baju Emma, dia menarik selimut yang terlimat rapi dipojok kasurnya, berlari dengan cepat membuka pintu beranda, mengikat ujung selimut di pagar beranda dan meloncat sebelum Emma berhasil meraih tangannya.
"Hei!" seru Emma.
Tepat saat itu mobil Alaric baru berhenti didepan pagar rumah.
Zahra yang melihat Regan bergelantungan menyerahkan Chaka dalam gendongannya pada Abra keluar dengan panik menghampiri Regan.
Tangan Regan melepas genggaman tangannya dari selimut.
"Ah ..." Zahra berteriak semakin berlari kencang.
Semua orang didalam rumah berlari terburu-buru keluar saat mendengarkan jeritan Zahra.
Jantung Zahra hampir copot, Regan sendiri berhasil berdiri tegak diatas tanah menoleh pada Zahra dengan senyum lebar.
"Oh My God Adam ..." teriak Emma, bukan khawatir seperti Zahra. Tetapi Emma malah kegirangan menatap kagum Regan dari balkon kamar Regan.
Zahra menghentijan langkahnya menengok keatas dan terbelalak Emma yang menggunakan baju minim tepat dimana tadi Regan metoncat, Zahra yang tercengang sampai tidak merespon pelukan Regan.
"Akhirnya Ar bertemu Bunda" ungkap Regan begitu bahagia.
"Ar" panggil Zahra dengan suara lirih, "kamu ngapain sama perempuan itu?" tanya Zahra masih menatap Emma yang menatap Regan dengan senyum mengembang.
"Jangan hiraukan dia Bun, cewek itu gila" Aslan yang menjawab pertanyaan Zahra.
Aslan sendiri berjalan menghampiri Zahra dan memuknya, Zahra dipeluk oleh Aslan dan Regan bersamaan.
Didalam mobil Abra menggerutu, Gea yang mendengarnya mengambil Chaka dari tangan Abra, setelah itu Abra keluar dan menyerahkan Bilqis pada Javir sebelum melangkah lebar menarik kedua kerah belakang baju Aslan dan Regan menjauh dari Zahra.
"Ayah tidak suka kalian peluk-peluk istri Ayah, kalian sudah besar gak boleh peluk-peluk" omel Abra.
Regan dan Aslan saling tatap.
"Memangnya kami suka anda yang terlalu protective?" sahut Aslan.
"Ya, kami tidak suka anda melebihi rasa tidak suka anda pada kami" sambung Regan.
Mereka berdua kembali saling tatap dan menganggukkan kepala saling membenarkan perkataan masing-masing.
Tangan Abra melingkari pinggang Zahra, menatap Aslan dan Regan dengan sengit, Zahra sendiri malah tertawa bahagia melihatnya, dia merindukan Abra yang kesal menghadapi dua orang anak mereka.
"Hai bhundha merrthua and Ayah merrthua."
Semua perhatian teralih pada sumber suara itu, bahkan Enzo tercengang begitu pula dengan Hanna.
*-*
.
.
.
Unik Muaaa
__ADS_1