One More Chance

One More Chance
Demi Kebaikan Bunda


__ADS_3

"Mami kamu?"


Tenggorokan Gea sekaan tercekal, Zahra entah sejak kapan sudah berdiri disamping mereka. Gea tidak berani mengangkat wajah menatap Zahra, dia malah cemas menggigit bibirnya menundukkan kepala dalam.


"Preman itu suruhan Mami kamu?."


.


.


.


Semua karena Mami Gea, Regan dan Abra secara tidak langsung menyalahkan Vira dalam benak mereka.


Berawal dari gara-gara DM Vira yang membuat mereka berdebat dan tidak sadar jika Zahra sudah memasuki restauran dan langkahnya terhenti tidak jauh dari mereka saat mendengar Gea kangen pada Maminya tetapi tidak bisa dipungkiri jika dia kecewa padanya.


"Jawab, jangan pernah mencoba berniat bohong" desis Zahra lirih.


Gea dan Aslan gugup, mereka tidak tahu akan mengatakan apa karena penculikan Zahra harus dirahasiakan, sedangkan Regan malah dengan santainya kembali makan karena tidak ada yang bisa disembunyikan lagi dari Zahra.


"Kenapa diam?" suara Zahra semakin meninggi.


Bahkan Abra yang baru masuk kedalam restauran mendengar suara Zahra melangkahkan kakinya dengan cepat menghampiri mereka.


"Ada apa Ara?" tanya Abra menyentuh pundak Zahra lembut.


Zahra menepis tangan Abra dengan kasar membuat Abra sedikit tersinggung menaikkan kedua alisnya.


Tubuh Zahra menghadap Abra, menatap Abra dengan tatapan tajam menunjukkan amarahnya. "Apa dalang dari penculikanku adalah Vira?" tanya Zahra dengan suara mendesis bahkan dada Zahra sampai naik turun menahan amarahnya.


Abra memutuskan tatapan mata mereka, menatap Aslan, Regan dan Gea bergantian meminta penjelasan.


Bahu Aslan perlahan naik lalu turun sebelum memalingkan muka, sedangkan Regan masih saja makan dengan lahap, Gea balik menatap Abra dengan cemas.


"Abra!" Zahra tidak sabar menunggu jawaban Abra.


Perlahan Abra tersenyum meski sedikit dipaksa, menyelus lengan Zahra lembut. "Kita bahas nanti, kita makan dulu" Abra mencoba mengalihkan perhatian Zahra.


Tatapan mata Zahra semakin menyipit tajam. "Kalau kalian gak mau jawab aku akan tanya sendiri pada Vi...."


"Iya Bun" Regan bersuara memotong omelan Zahra yang akan panjang nantinya.


Dengan santai Regan meminum minumannya tanpa memperdulikan Gea dan Abra yang menatapnya kesal. Aslan menendang kaki Regan memberi osyarat agar Regan tidak membuka mulut.


"Kalau memang dia Bunda mau apa?" Regan malah bertanya seakan menantang Zahra.


Wajah Gea melemas pasrah, Aslan memelotinya dan semakin gencar menendang kaki Regan dari bawah meja. Abra sendiri menghela nafas menatap keatas langit-langit mal tidak habis pikir dengan Regan.


Tidak ada yang bisa disembunyikan dari Zahra bukan, lagi pula Zahra sudah mendengarnya langsung, dia hanya butuh memastikannya saja. Dari pada Zahra marah, mengomel dan meneriaki mereka lebih baik Regan mengatakannya.


Zahra tidak langsung menjawab, dia berfikir sejanak. "Bunda akan temui dan menyelesaikan apa yang jadi masalah dia."


"Masalah dia gak masuk akal Bun." Regan mengatakannya dengan tenang.


"Meskipun begitu Bunda juga harus tahu apa masalahnya sampai dia nyulik Bunda." Zahra menatap Gea. "Hubungi Mami kamu, Bunda tunggu disini." Ucap Zahra dengan nada memerintah.


"Vira dikurung tidak boleh keluar rumah." Abra memberi tahu Zahra mendapat lirikan tajam dari Zahra. "A ... Aku tahu karena Papa Vira menghubungiku saat dia minta maaf" Abra gelagapan. "Hpnya juga disita jadi ..." lirikan mata Zahra semakin menajam. "Beliau juga yang bilang, padahal aku tidak bertanya apapun sumpah."


Zahra berdecak lalu memutar bola matanya kesal. "Ya udah antar aku kesana" Zahra masih kekeh mau menemui Vira.


"Ya ... ya ... ya tapi kita makan dulu, terakhir kita makan saat sarapan tadi." Abra kembali mencoba beralasan.


"Aku gak laper."


"Tapi aku laper dan anak-anak juga masih makan."


"MAS!"


Ditengah-tengah perdebatan antara Abra dan Zahra Regan malah berteriak memanggil pelayan.


Kembali Aslan, Gea dan Abra menatap Regan penuh kekhawatiran.

__ADS_1


"Pesan seperti yang saya pesan tadi satu dan minumannya juga" Regan membat mereka bertiga menghela nafas. "Anda pesan apa?" Regan menoleh pada Abra.


"Samakan saja mas" ucap Abra sopan.


"Baik Pak, silahkan duduk."


Setelah pelayan pergi Abra menarik pergelangan tangan Zahra namun Zahra tepis. Zahra duduk disebelah Regan dengan wajah cemberut.


Regan mengangkat minuman yang dia pesan, menyodorkan sedotannya pada Zahra. "Minum Bun" ucap Regan.


Zahra melirik Regan dengan tatapan kesal sebelum meminum minuman Regan. Dia kesal ternyata Regan juga ikut menyembunyikan sesuatu padanya, dan malah lebih mendukung Abra dari pada dia.


Gea memakan makanannya sedikit demi sedikit tidak berselera, sesekali dia melirik pada Zahra takut. Abra yang menarik kursi duduk diantara Regan dan Gea menepuk pundak Gega menenangkannya.


Pesanan mereka datang, Abra mulai menyendok makannya begitu pula dengan Regan, tetapi Regan malah menyodorkan sendok yang menuh makanan pada Zahra. "Aaa ...." Regan bersuara sambil membuka mulut memberi isyarat agar Zahra membuka mulutnya.


"Enggak" tolok Zahra.


"Ya udah" Regan meletakkan sendok yang dia pegang diatas piring. "Mas tolong dibuang" seru Regan.


Abra menghentikan makannya menatap Regan.


"Kenapa dibuang?" tanya Zahra.


"Aku udah kenyang Bunda juga gak mau makan" jawab Regan santai.


"Bunda tadi sudah bilang kalau Bunda gak mau makan."


"Tapi Bunda lapar."


Ucapan Regan membuat Zahra menghela nafas menatap Regan dalam. "Bungkus aja."


"Gak enak, buang aja. Bunda juga mau mampir kerumah dia dan pasti lama, lebih baik dibuang saja."


"Bunda gak pernah ya ngajarin kamu buang makanan." Zahra mulai mengomel.


"Tempo hari Bunda ngelempar ikan" Regan memberi isyarat dengan dagunya menunjuk Abra.


Zahra menarik piring didepan Regan dan mulai memakannya dengan wajah cemberut. Regan tersebyum kecil melihatnya melirik pada Abra penuh kebanggapan.


*-*


setelah memastikan Zahra dan yang lainnya selesai makan Regan mengeluarkan hpnya, mengotak atiknya sebentar sebelum meletakkannya tepat didepan Zahra.


"Alasan Ar menyetujui ide Gea menghack database perusahaan Opa Gea karena penculikan itu, jangan kira Ar tidak marah." Regan mengatakannya tidak menatap Zahra tetapi fokus pada kentang yang tadi dipesan Gea dan mulai memakannya satu persatu. "Ar bahkan ingin membuat dia menderita, tetapi bagaimanapun dia masih Ibu dan keluarga Gea."


Abra menatap Regan dalam, dia tidak menyangkan jika Regan masih memikirkan perasaan Gea.


Padahal, pada hari itu Regan benar-benar marah besar padanya, seakan tidak menghormatinya sebagai seorang pria yang lebih tua dan seorang Ayah selama perjalan kerumah sakit. Sampai dirumah sakitpun Regan malah melarangnya ikut menemani dan mengusirnya dengan alasan Lebih baik anda tangani manta istri anda sebelum saya patahkan tangannya kata yang penuh amarah dan kesungguhan membuat Sam menarik Abra pergi membiarkan Regan menemani Zahra.


"Yang didepan Bunda itu bukti Ar memperbaiki keamanan database mereka, bahkan Ar juga memperbaiki sistem keamanan database mereka agar tidak mudah dibobol. Tapi untuk kerugian mereka itu adalah konsekuensi mereka."


Zahra hanya menatap layar hp Regan yang penuh dengan huruf dan angka-angka yang tidak dia mengerti.


"Kita menyembunyikannya demi kebaikan Bunda" Regan menoleh pada Zahra sejenak. "Kita tidak mau Bunda berurusan dengan dia lagi, dengan apa yang dilakukan Ar cukup menjadi pukulan pada mereka segingga mereka tidak akan berani macam-macam lagi. Demi kebaikan Bunda dan semuanya jangan temui dia, takutnya nanti tiba-tiba otaknya eror lagi." Regan melirik Gea "sorry."


Gea menahan nafas dan mengangguk paham kenapa Regan berkata seperti itu tentang Maminya.


Zahra pengelus belakang kepala Regan dengan sayang. "Tetapi Bunda harus menyelesaikan masalah Bunda sendiri, agar tidak berlarut-larut sayang."


Regan menghela nafas pasrah menatap Zahra dan mengatakan "Kita ikut, atau lupakan saja."


Kepala Zahra mengangguk. "Ikut tetapi tidak boleh ikut campur dan mengatakan apapun."


Setengah terpaksa Regan mengagguk menyetujui membuat Zahra tersenyum, karena tidak ada pilihan lagi, Regan tidak akan membiarkan Vira melukai Bundanya secara langsung atau verbal, dan dia akan pastikan itu.


Kembali Zahra menatap layar hp Regan didepannya. "Jika database sudah aman, uangnya kamu kemanakan?."


"Ar kembalikan ke Gea tujuh puluh lima juta" jawab Regan santai sambil mengambil hpnya.


Kening Zahra mengerut. "Bukannya uangnya tinggal dua puluh tiga juta?."

__ADS_1


"Iya tinggal dua puluh tiga juta, tapi Ar dapat untung dari main saham jadi uangnya Ar kembalikan lagi utuh ke Gea."


Abra melihat gelagat Regan yang mulai tidak tenang, sesekali mata Regan melirik padanya membuat Abra semakin paham apa yang ditakutkan oleh Regan.


Sepertinya akan seru jika Abra mengatakan sisa jumlah uang main saham Regan yang masuk kedalam rekeningnya.


Kali ini dia yang akan lembali mencari gara-gara dengan Regan, sekali lagi sepertinya tidak masalah jika membuat Regan kesal, dongkol dan marah padanya, Regam sudah berkali-kali membuatnya kesal, setidaknya bukan hanya dia yang terus menerus dibuat kebakaran jenggot oleh Regan.


"Kenapa tidak sekalian saja dua ratus tujuh puluh lima juta yang kamu kirim kerekening saya kamu kasihkan pada Gea, anggap sebagai konpensasi."


Regan langsung menatap Abra tajam, tidak habis pikir jika Abra membuka mulut setelah dia berhasil membantunya menenangkan Zahra.


Melihat senyum culas Abra membuat Regan kesal ingin memarahinya, Regan akan membuat perhitungan nanti dengan Abra pasti, karena ini yang kedua kalinya Abra berhasil menjebaknya dalam amarah Zahra sebentar lagi.


"Be ... berapa?" tanya Zahra terputus-putus.


"Dua ratus berapa Om?" Aslan saja bertanya dnegan wajah melongo.


"Oh My God" Seru Gea tersenyum menatap Regan kagum.


Abra semakin tersenyum lebar pada Regan, dia tidak memutuskan adu tatap mereka sejak tadi. "Dua. Ratus. Tujuh. Puluh. Lima. Juta. Rupiah." Abra dengan sengaja menekan setiap kata yang dia ucapkan.


Zahra, Gea dan Aslan terdiam hanya bisa terbelalak menatap Abra tidak percaya dengan jumlah uang yang Abra katakan barusan.


"Yang artinya uang Regan keseluruan yang ditransfer padaku dan Gea adalah tiga ratus lima puluh juta" senyum Abra semakin lebar. "Entah berapa rupiah yang berada direkeningnya sendiri."


Abra berhasil memanas-manasi Zahra saat ini, dan dia tidak siap mendengarkannya sekarang, Regan menghadap Zahra menatap Zahra dengan tatapan memelas, meminta pengertian agar tidak marah dan meledak-ledak ditempat umum.


Terlihat dari wajah Zahra yang tidak menunjukkan ekpresi apapun dia bisa tahu jika Zahra sedang shock. Regan tidak memperdulikan pertanyaan dan apapun yang dikatakan Aslan dan Gea, dia sedang berfikir keras bagaimana menenangkan Zahra saat ini.


"Waktun itu kamu bilang hanya seratus lebih, ini tiga ratus lima puluh juta bukan hanya lebih Ar" ucap Zahra lirih masih saja shock. "Kamu gak berhenti main setelah Bunda bilang berhenti?."


Kepala Regan menggeleng cepat. "Bukan gitu Bun" Regan kalang kabut dibuatnya. "Setelah Bunda marah Ar sibuk memperbaiki database perusahaan Gea, jadi lupa untuk keluar dan berhenti. Lalu setelah keamanan database selesai...." Suara Regan mengambang, menatap Zahra denga menahan nafas. "Main sebentar dari jam sembilan sampai sekitar setengah dua malam" Regan sangat cepat pengucapannya.


Zahra dapat menangkap perkataan cepat Regan, mata Zahra memelototi Regan marah. "Kenapa gak jujur dan cerita, kenapa Ar malah cerita dan mentransfernya pada dia bukan Bunda." Zahra menjuk Abra.


Regan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menangkap tangan Zahra yang menunjuk Abra menggenggamnya erat. "Karena ... karena Ar takut Bunda marah."


"Ya iyalah Bunda marah, tapi Bunda ...."


"Mangkanya semua kembali pada demi kebaikan Bunda dan kita semua."


Wajah Zahra semakin memerah mendengar ucapan Regan yang memotong ucapannya, dengan cepat dia menarik tangannya dari genggaman tangan Regan dan ...


Plak...


Zahra memukul lengan Regan dengan keras hingga tubuh Regan memiring dan hampir terjatuh andai saja Abra tidak menahannya.


*-*


.


Bab terpanjang 😊


Sebagai rasa terima kasih sudah


Baca πŸ“– kasih penilaian 🌟


πŸ’– FavoritπŸ‘Like and πŸ’¬ komen


One More Chance


Maaf jika banyak TYPO


Author akan perbaiki jika sudah tamat πŸ˜†


Mohon pengertiannya πŸ™


Love you 😘


.

__ADS_1


Unik_Muaaa


__ADS_2