
"Abra didalem?" tanya Malvin pada Sari tetapi terus melangkah menuju ruangan Abra.
"Sam sama Abra lagi meeting denga ..."
Brak ...
Pintu terbuka seakan dibanting begitu keras. Malvin menerobos ruangan Abra tanpa bisa dihalang oleh Sari padahal Sbra sedang meeting bersama para managernya.
"Lo nyekolain anak lo dimana?."
Tanya Malvin menggelengar penuh penekanan dalam setiap kata membuat semua perhatian didalam ruangan tertuju pada Malvin.
Melihat wajah Malvin yang menatapnya dengan serius penuh keyegangan membuat Abra melirik Sari untuk mengelurkan semua orang dari ruangannya.
"Kita lanjut dua jam lagi diruang meeting tiga."
Abra berdiri berjalan menuju meja direktur miliknya, duduk dikursi kerjanya dengan tenang menatap Malvin tanpa kata.
Semua orang keluar dari ruangan satu persatu, Sari menutup pintu rapat, meski Malvin dan Abra adalah temannya dan Sam, mereka tidak akan mengganggu privasi masing-masing.
"Lo udah gila nyekolain mereka dikandang harimau?" bentak Malvin.
Ini salah satu alasan kenapa saat mengantar Regan dan Aslan keluar negri Abra tidak memberi tahu kemana pada Malvin, karena bukan hanya negara itu, tetapi benua itu adalah benua yang tidak boleh Abra dan Malvin pijak.
Setelah Abra pulang ke Indonesia, Malvin masih disana menjadi seorang hacker Remanov sekaligus diam-diam membersihkan data Aase hingga mereka tidak bisa menemukan Adam (Abra), Avin (Malvin) dan Sea (Sam) kecuali Enzo yang namanya memang tidak bisa ditutupi.
"Lo guru karate Ar kan?" dengan santai Abra bertanya.
Mata Malvin semakin menghelap "tapi lo gak seharusnya nyekolain mereka disana, Ar memang jago bela diri tapi mereka semua mainnya pakai pistol, senapan, snaiper lo lupa mafia disana gimana?."
Tanpa menarik nafas Malvil berbicara dengan cepat dan Abra hanya menanggapinya dengan senyum dan santai.
"Mereka udah dewasa Ar gak sendiri, ada As yang matanya kayak elang ..."
"Dia juga hanya jago bela diri Abra!" kembali Malvin membentak Abra.
"Gue belum selesai bicara ba***st!" Abra balik membentak Malvin. "Ada dua anak Enzo Alaric dan Emma, mereka berdua sudah jago main pistol. Insting Emma dan As jangan ditanya, jadi Ar dan As akan baik-baik saja. Remanov sekarang sudah lebih besar, gue nguliahin mereka disana bukan tanpa alasan."
Tangan membuka laci, mengeluarkan amplop coklat dari dalam lacinya dan melemparnya keatas meja. "Mafia di Indonesia tidak begitu kejam, tetapi dunia bisnis?. Kekejamannya setara dunia mafia, gue hampir mati ditangan dia lima tahun lalu sebelum gue dan Sam mendirikan As Scurity."
Malvin menatap Abra tidak percaya, dia duduk didepan Abra mengambil map yang tadi Abra keluarkan.
Foto seorang pria, beberapa surat kabar, fleshdist dan beberapa kertas perjanjian dengan ... Malvin terbelalak.
"Dia suruhan Bumi Wiguna si Aslan?" tanya Malvin memastikan.
Kepala Abra mengangguk membenarkan.
__ADS_1
"Dia yang nyuruh pembunuh ini?" Malvin menunjuk foto seorang pria disurat kabar.
Kepala Abra kembali mengangguk.
"An***g, bapaknya mau bunuh lo kenapa lo malah ngaggep anaknya anak lo?, tunggu maksud gue ..."
"Gue ngerti" potong Abra. "Tapi gue yakin Aslan tidak akan sama seperti Bapaknya, dan gue sering peringatin dia sejak awal."
"Dia tahu siapa bapaknya?."
Kepala Abra menggelang dan bahunya terangkat.
"Gak naya sama lo?."
"Enggak, dia udah bahagia dengan kami."
Malvin menatap Abra tak mengerti, sejak dulu ada satu sisi Abra yang membuatnya kagum. Dia memang seorang Ganendra dengan gengsi segunung, tetapi jika dia salah dia kan meminta maaf dan selalu memiliki pemikiran terbuka.
"Lo yang bunuh pembunuh itu?" tanya Amlvin dengan nada serius melirik surat kabar didepannya.
Abra tersenyum dengan kepala miring, "gue masih waras Vin. Saat gue dan Sam ngejar dia ada truk yang nabrak dia hingga dia mati ditempat."
Malvin menghela nafas lega. "Gak ada guna dong gue hampir dua tahun ngehapus jejak tiga orang A.A.SE malah lo sendiri yang buka jalan." Malvin menyandarkan punggungnya kesandaran kursi. "Biarkan Javir bersama mereka, mereka bituh orang kayak gue buat mastiin keamanan."
Sebelah kening Abra terangkat "serius bukannya lo barusam marah gue nyekolain Ar dan As disana dan lo juga malah ikutan mau masukin anak loe kekandang singa?."
Posisi duduk Abra langsung tegak "kirim Javir sekarang."
"Enggak" tolak Malvin menggelengkan kepal. "Gue gak mau kejadian gie terulang dulu, tabiat Javir hampir sama dengan gue. Dia harus terikat dulu baru bisa pergi."
"Terikat?."
"Setidaknya tunangan."
"Dengan?."
Malvin berpikir sejenak "Bagaimana jika dengan Gea?."
*-*
Mobol Alaric berhenti didepan mansion keluarga Remanov, Regan dan Aslan turun terlebih dahulu.
"Adam!" panggil Emma dari dalam rumah.
Regan yang merasa dipanggil menoleh, sedangkan Aslan langsung siaga satu mendengan suara langgilan manja Emma.
Gadis itu berlari dari dalam rumah mendahului Enzo dan Hana yang akan menyambut kedatangan mereka.
__ADS_1
Masih kurang tiga langkah mendekati Regan Ema sudah melompat kearah Regan, mulutnya sudah siap mencium Regan tetapi lebih cepat tangan Aslan yang membungkam mulut Regan hingga bibir Emma mengenai telapak tangannys.
"Aslan kenapa selalu mengganggu?" tanya Emma kesal.
"Karena aku tidak mau Ar dewasa sebelum waktunya" jawa Aslan tegas.
"Aku sudah dewasa As" protes Regan.
Emma menatap Aslan garang "dia sudah masuk universitas berarti dia sudah dewasa."
"Dia masih empat belas tahun Emma" Aslan memberintahu umur Regan.
Tangan Regan mendorong lengan Asalan pelan "lima belas dua bulan lagi."
"Tetap saja masih empat belas Ar."
"Serius?" tanya Emma menatap wajah Regan dalam.
Aslan melirik Regan yang hanya diam tidak berniat menjawab.
"Berarti Regan anak yang berprestasi ya di sana?" Hana mendekati mereka bertiga.
"One-year kindergarten, five-year elementary school, two-year junior high school."
Emma tercengang, Hana tersenyum mengelus rambut Emma. Sedangkan tidak jauh dari situ Enzo berdiri memperhatikan mereka terutama Regan, dia menatap Regan dengan senyum segarisnya.
"Senior high school?" tanya Alaric yang baru saja menyerahkan kunci mobilnya pada salah satu bawahan Ayahnya.
"Tiga tahun, karena mau bersama ketiga temanku, dan di sekolah menengah atas aku selalu ikut lomba jadi sering gak masuk."
"Jadi" Aslan menatap Emma yang masih terdiam menatap Regan. "Emma jangan mengajarkan Regan hal-hal dewasa dia masih kecil ...."
"Aku sudah dewasa As" prostes Regan.
"Belum" dengan tegas Aslan memutuskannya sendiri. "Jika tahu kepolosannya tercemar diumurnya sekarang Bunda akan shock" Aslan menoleh pada Regan. "Bukan meremehkan atau menganggapmu anak kecil, tetapi kamu harus mempelajari dunia orang dewasa secara pertahap biar gak kebablasan. I know, sejak dulu keadaan menuntutmu menjadi dewasa, tapi tidak untuk pergaulan bebas."
Mendengar perkataan Aslan yang begitu tegas membuat Enzo semakin tersenyum lebar. Dua anak Abra bisa menjadi seseorang yang besar seperti mereka dulu, jika saja Abra tidak mewanti-wanti padanya dan seluruh bawahan Remanov agar tidak menyeret dua anak itu dalan dunia mafia.
*-*
.
.
.
Unik Muaaa
__ADS_1