One More Chance

One More Chance
Orang Tua


__ADS_3

Jangan ditanya bagaimana tangis perpisahan ketiga teman Regan dan keluarganya saat mengantar mereka kebandara, Abra yang tidak tega masuk terlebih dahulu kedalam pesawat.


Hpnya berbunyi, pesan dari Sam.


Semua ready, Good luck


Abra tersenyum tanpa sempat membalasnya cepat-cepat mengantongi hpnya kala Gea dan Zahra masuk.


Regan yang terakhir masuk menatap pada Abra, karena Gea duduk disamping Zahra dan Abra sendiri Regan menghela nafas berat sebelum duduk didepan Abra dengan wajah tidak iklas membuat Abra tersenyum kecil.


Abra kembali membuka hpnya mengecek schedule yang ternyata akan padat seminggu ini, melihat jam yang masih cukup lama Abra memilih memejamkan mata tidur selama perjalanan.


*-*


Wanita itu menatap penuh harap kearah pintu keluar, jemarinya saling bertautan terkadang juga mengepal berdiri tidak tenang.


Pria disampingnya sejak tadi memperkannya dalam diam, dia juga tidak tenang karena orang yang mereka tunggu belum juga datang, tetapi dia hanya diam bersikap tenang agar wanita itu tidak semakin gelisah.


"Zahra ...." Teriakan nyaring dari wanita itu menarik semua orang yang berada disekitar mereka.


Zahra menghentikan langkahnya berdiri mematung menatap Wanita paruh baya itu berlari tergesah-gesah kearahnya dengan air mata berlinang.


Wanita itu menubruk tubuh Zahra hingga oleng, beruntung tangan Abra menahan tubuhnya dari samping sehingga mereka tidak jatuh.


Isak tangis wanita itu menggema nyaring, disela-sela tangisnya mengucapkan syukur dan menyebut nama-Nya, memeluk tubuh Zahra dan mengecupi pelupusnya.


Air mata Zahra mengalir tak tertahan kala melihat sosok pria menatap kearahnya denganntatapan sendu dan air mata mengalir yang cepat-cepat beliau hapus, Ayah Zahra. Ini pertama kali Zahra melihat Ayahnya menangis, pria itu selalu terlihat tegar dan kuat menghadapi situasi apapun.


"Ayah" guma Zahra lirih.


Wanita itu Ibu Zahra, merenggangkan pelukannya, membingkai wajah Zahra menatapnya dalam. "Pergilah, dia mulai tadi menunggumu."


Zahra memgangguk, berlari menghampiri Ayahnya yang merentangkan tangan pada Zahra.


Langkahnya terhenti kala mengingat pertemuan terakhir mereka. Saat itu Zahra pamit untuk bekerja keluar negri tidak tahu kembali kapan, membuat Ayahnya marah besar karena meninggalkan Abra tanpa sepengetahuan Abra. Zahra tidak mengatakan alasan sesungguhnya pada mereka, Zahra tidak mau mereka kecewa dan khawatir, jadi dia berbohong dan memilih menerima amarah bahkan amukan orang tuanya.


"Tidak mau peluk Ayah?" tanya Ayah Zahra serak, air matanya mengalir bahkan tidak beliau hapus seperti tadi, beliau tetap merentangkan tangan menunggu Zahra memeluknya.


Air mata Zahra mengalir sekin deras. "Ayah" begituh lirih dan serak.


Tidak kunjung melangkah menghampirinya, Ayah Zahra melangkahkan kakinya lebar memeluk Zahra dengan erat. Zahra membalas pelukan beliau, membenamkan wajahnya dalam dada Ayahnya, menghirup aroma tubuh beliau yang sangat Zahra rindukan.


Pelukan yang selalu menenangkannya, elusan lembut dibelakang kepala dan bisikan-bisikan yang selalu beliau bisikkan saat mereka berpelukan kembali Zahra rasakan membuat terisak-isak seperti anak kecil.


"Terima kasih" Regan mengucapkannya dengan suara lirih.


Abra yang mendengarnya tersenyum, dia merangkul Regan dan Gea bersamaan. Gea berbalik dan memeluk tubuh Abra dari samping menyembunyikan harunya.


Tangan Abra menarik kepala Regan untuk bersandar padanya, perlahan dia berbisik "Maaf sudah membuatmu dan Bundamu menderita, Ayah janji kebahagiaan Bundamu akan Ayah kembalian seperti dulu meski tidak sesempurna sebelumnya."

__ADS_1


*-*


Mobil yang ditumpangi Regan, Abra dan Gea sampai terlebih dahulu. Abra membantu supir mengeluarkan barang-barang milik Zahra dan Regan tetapi tidak miliknya dan Gea membuat Regan mengerutkan keningnya.


"Barang-barang anda?" tanya Regan setelah Abra menutup pintu dan bagasi mobil.


Abra tersenyum sambil melirik Regan. "Bukannya kamu tidak mau saya dekat-dekat dengan Bundamu?" godanya.


Mulut Regan langsung cemberut. "Lalu anda tinggal dimana?."


"Tinggal dirumah"


Jawaban Abra membuat Regan memutar matanya jengkel.


Membuat Abra tertawa kecil. "Ini rumah Kakek Arya, sebelum meninggal dia memang tidak mau Bundamu menginjakkan kaki dirumah kita dulu dan itu adalah salah satu alasan kenapa beliau memberikan rumah ini pada Bundamu."


Regan menatap Abra dalam, Abra selalu menghormati keputusan Kakek Arya dan seharusnya dia juga, bagaimanapun Abra adalah orang tuanya jadi dia juga harus menghormati Abra, seperti Abra menghormati keputusannya dan Zahra.


Tepat saat itu mobil yang ditungpangi Zahra dan kedua orang tuanya sampai. Abra membukan pontu disamping Ayah Zahra dan menatap beliau dengan senyum sesopan mungkin.


Ayah Zahra menepuk pundak Abra dan berjalan melewatinya menghampiri Regan yang menatapnya dalam diam sejak tadi. Tanpa diperintah Regan meraih tangan Ayah Zahra bersalaman dengan sopan, Ayah Zahra menepuk punggung Regan, kebiasaan pada orang-orang tertentu membuat Zahra tersenyum.


Gea sendiri menundukkan kepala, dia merasah malu, sedih, ingin menangis tetapi dia tahan. Pelukan hangat menyelimutinya, Abra menenangkan Gea mengelus punggung Gea lembut.


"Cucu kakek yang gadis tidak mau salaman?" suara berat Ayah Zahra pada Gea.


Gea mendongakkan kepala menatap Abra takut, Abra tersenyum mengelus kepala Gea dan mengngguk pelan.


"Cantik dan tampan cucu kita" Ibu Zahra menyentuh wajah Gea dan Regan.


"Terima kasih" ucap Gea lirih dengan pipi bersemu.


Abra bersalam pada Ayah Zahra dan Ibunya, lalu berdiri disamping Gea. "Kami pamit pulang" ucap Abra membuat semua menatapnya dengan kening mengerut kecuali Regan.


"Pulang?, bukan ini rumah kalian?." Tanya Ayah Zahra.


Abra menggeleng dengan senyum segaris dibibirnya. "Tidak, ini rumah Opa diwariskan pada Zahra."


"Lalu kamu pulang kerumahmu yang mana?."


"Rumah milik saya dan Zahra dulu, saya tinggal disana dengan Gea."


"Kalian tidak satu rumah?" Ibu Zahra bertanya sambil menatap Abra dan Zahra bergantian.


Zahra menunduk dalam.


"Tidak" jawab Abra. "Kami permisi, jika ada sesuatu bisa meminta tolong pelayan untuk menghubungi saya."


Abra menarik tangan Gea kembali masuk kedalam mobil yang ditumpangi mereka dari bandara tadi.

__ADS_1


Ibu Zahra menatap Zahra yang masih terdiam menatap mobil Abra yang semakin menghilang keluar dari pekarangan rumah.


"Kamu tidak mau pergi saat dia memintamu pergi, tetapi kamu juga tidak menerimanya kembali?." perkataan Ayahnya membuat Zahra tersadar dari lamunannya. "Apa maumu nak?, jika memang hanya memaafkannya dan tidak mau kembali padanya katakan dengan jelas."


"Ayah kita baru bertemu, dan jangan ikut campur urusan mereka." Tegur Ibu Zahra.


"Sampai kapan kita akan tidak akan ikut campur urusan mereka?, kita tidak ikut campur urusan mereka kita kehilangan putri dan cucu kita belasan tahun."


Perkataan tehas dari Ayah Zahra membuat Zahra semakin bungkam.


"Bisa kita bahas didalam?" Regan membawa koper ditangannya masuk kedalam rumah.


Regan pahan perasaan Zahra, tetapi dia juga tidak bisa menyalahlan apa yang dikatakan Kakeknya, apa yang dikatakan beliau juga ada benarnya.


Beberapa pelayan menghampiri mereka dan membawa koper sertas tas-tas bawaan mereka. Regan duduk di sofo ruang tamu, di ikuti Zahra dan kedua orang tuanya.


"Beberapa hari lalu Abra kerumah, menjelaskan semua apa yang terjadi diantara kalian dan meminta maaf pada kami." Ayah Zahra membuka pembicaraan mereka. "Awal Ayah marah, kecewa dan mengusirnya pulang, dan Ayah marah dan sangat kecewa juga pada Zah. Ayah tidak mau bertemu denganmu seandainya Abra tidak kekeh mengikuti kemanapun Ayah pergi dan membujuk Ayah untuk bertemu denganmu. Zah tahu apa yang dia katakan?."


Ayah Zahra menyandarkan punggungnya kesandara sofa, tidak melihat Zahra yang diam menatapnya menunggu apa yang akan Ayahnya ceritakan lebih lanjut.


"Dia yang salah, jangan salahkan Zah. Ayah adalah Ayah Zahra, tolong temui Zahra dan cucu Ayah, saya kesini bukan untuk meminta anda menyerahkan Zahra kepada saya lagi, tetapi hanya meminta Ayah memaafkan Zahra, menemui Zahra dan cucu Ayah. Jika tidak percaya tanyakan pada Ibumu."


Ibu Zahra duduk di samping Zahra menggenggam tangannya. "Ayahmu mengatakan mengatakan akan memaafkan Abra jika kamu memaafkan Abra, dan dia dengan senyum dan percaya diri bilang jika kamu sudah memaafkannya."Ibu Zahra berserita dengan senyum yang mengembang.


"Dia cerita waktu kamu dan Regan dia suruh pulang tapi kamu gak mau, saat Ayah kamu bertanya untuk memastikan kalian sudah bersama atau belum dia malah menyengir bilang belum ya Ibu ketawa."


"Ayah sudah terlanjur janji, kalau tau kamu maafin dia rapi tidak mau kembali Ayah tidak mau kesini ketemu kamu dan Regan." Gerutu Ayah Zahra.


Ibu Zahra tertawa mengejek. "Alah gak mau, tapi tadi nangis."


Wajah Ayah Zahra bersemu. "Ibu" tegur beliau malah mendapat tawa lepas dari ibu Zahra. "Sudahlah, ingat Zah. Katakan yang jelas jika kamu memang hanya mau memaafkannya dan tidak mau kembali padanya agar dia tidak terus menerus berharap dan setatus kalian jelas, nikah ya nikah, cerai ya udah cerai." Ayah Zahra berdiri mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya. "Kalau mau cerai Ayah titip ini kasih ke Abra, passwordnya ulang tahun kamu. Ayah dan Ibu tidak pernah menggunakan uang yang Abra kirim setelah kamu berpamitan pergi keluar negri."


Zahra menerima kartu yang Ayahnya sodorkan pada Zahra, menatap kartu ditangannya dalam diam.


"Mungin sudah lebih dari seratus atau tiga ratus juta mungkin, Ayah tidak pernah mengeceknya hanya mengambil uang Ayah sendri, takut kalap kalau tahu saldonya. Kamar Ayah dimana?, Ayah ngantuk."


Melihat Zahra terdiam, Regan berdiri memanggil pelayan untuk mengantar Ayah dan Ibu Zahra beristirahan dikamar yang sudah mereka persiapkan.


"Ini memang urusan keluarga Zahra dan Abray tetapi kalau sudah keterlaluan kami sebagai orang tua punya hak untuk ikut campur." Ucap Ayahnya denga tegas dan oenuh penekanan.


*-*


.


Mohon bantuannya untuk memberi penilaian 🌟 ya πŸ˜‡


Jangan lupa πŸ’–πŸ‘and πŸ’¬


Love you 😘

__ADS_1


.


Unik_Muaaa


__ADS_2