One More Chance

One More Chance
Sentuhan


__ADS_3

Javir


Tante sudah sadar


^^^Abraham^^^


^^^Syukurlah^^^


^^^Langsug panggil dokter^^^


^^^Lkukan pmriksaan scra menyelurh^^^


^^^Bagaimana keadaannya?^^^


^^^Jangan tinggalkan sendiri^^^


^^^Siapa yang jaga Aslan?^^^


^^^Jgn biarka org asing mendekat^^^


^^^kcuali kalian Mengerti?^^^


Siap laksanakan


.


.


.


Dan apa yang dia lihat setelah tiba didi rumah sakit?.


Zahra masih belum sadarkan diri, terbaring diatas kasur dengan Regan yang duduk tertidur menggenggam tangan Zahra.


Abra ingin marah pada Javir, tetapi Javir sedang menunggu Aslan di kamar sebelah. Tangan Abra menyentuh kepala Regan mengelusnya sayang membuat Regan terjaga.


"Maaf membangunkanmu" Abra kembali menarik tangannya dari kepala Regan.


Regan mengerjabkan matanya. "Bunda bangun tetapi tidur lagi" suara Regan serak khas bangun tidur.

__ADS_1


Kepala Abra mengangguk. "kalau begitu tidurlah di sofa, biar saya yang menemani Bundamu."


Regan menganggukkan kepala dan berjalan kesofa merebahkan tubuhnya disofa panjang. "Urusan sama dia sudah?" tanya Regan menatap Atap kamar rumah sakit.


Merasa jika Regan berbicara padanya Abra menoleh "siapa?".


"Menurut anda siapa?" Regan balik bertanya dengan nada dingin andalannya. "Apa alasan yang dia katakan?, masalah takut Gea tidak terurus atau apa?."


Abra mulai mengerti siapa dan kemana arah pembicaraan Regan. "Bukan" Abra menatap Zahra lekat.


Diam-diam Regan tersenyum kecil. "Masalah perusahaannya lagi?, seperti belasan tahun lalu?."


Perkataan Regan mengalihkan perhatian Abra dari Zahra. "Apa maksudmu?."


Regan tersenyum kecil, kebali duduk membalas tatapan tajam Abra. "Belasan tahun lalu dia menemui anda bukan karena mau di usir jika Gea lahir tanpa nama Ayah di akte kelahirannya."


Dia tidak perna menceritakannya pada Regan. Se ingat Abra, dia tidak pernaah menceritaka masalah Vira yang akan di usir jika tidak meiliki nama Ayah di akte kelahiran Gea pada Zahra, lalu bagai mana Regan bisa tahu?.


"Meskipun Gea lahir dan mendapat nama Anda, dia tidak boleh menginjak rumah orang tuanya sebelum bisa memajukan perusahaan mereka. Intinya selain dia iri dengan Bunda, menginginkan nama anda di akte kelahiran Gea, dia juga membutuhkan anda untuk mengembangkan perusahaan orang tuanya, jika tidak begitu dia tidak memiliki masukan uang lebih.


Mendengarnya Abra merasa dibodohi, tetapi juga tidak mau menerimanya, dia tidak mau Regan meremehkannya, senyum sarkas Regan saja membuatnya kesal.


Keturunan Zahra, Regan tersenyum lebar namun tatap matanya dingin menatap Abra tajam. "Dapat dari komputer pak Malvin, dia menghack leptop saya untuk menghapus apa yang sudah saya kumpulkan tentang anda, dan saya mengambil sembarangan file darinya dan menemukan file keseluruhan cerita kalian diantaranya."


Akhirnya dia tahu kenapa awal Kakek Arya selalu menentangnya ikut membantu perusahaan Papa Vira, sampai-sampai dia diberi tanggung jawab besar di perusahaan GG com demi menyibukkan dirinya.


"Saya bisa saja menghack databese perusahaan milik mereka, tetapi perusahaan itu sudah atas milik nama Gea terlebih say ...."


"Tidak lagi" potong Abra menatap kosong kedepan. "Saya dan Gea akan memutuskan segala hubungan dengan keluarga mereka. Saya juga berencana mengangkat Gea sebagai anggota keluarga kita, saya harap kamu dan Bundamu setuju?."


Tidak ada respon dari Regan, Dia hanya diam menatap Abra dalam menela'ah setiap expresi yang Abra tunjukkan hingga membuat Abra menoleh balik menatapnya.


Tersadar, Regan mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Sejak kapan kita menjadi anggota keluarga, kalian belum menikah lagi."


Jawaban yang dikatakan Regan membuat Abra menghela nafas berat.


"Kita akan menikah sebelum kamu berangkat ke luar negri." Putus Abra membuat Regan tersenyum kecil.


"Memangnya Bunda mau?."

__ADS_1


"Pasti" jawab Abra penuh keyakinan.


Regan terkekeh. "Semoga saja."


Abra mengelus kepala Regan seperti tadi, seakan mau menyalurkan perasaan sayangnya pada Regan. "Maaf jika saya sedikit memaksa kamu untuk keluar negri, karena itu keinginan Kakek dan Bundamu. Hitung-hitung GG com berinvestasi untuk pemimpin masa depan."


Mereka saling tatap satu sama lain, terdiam selama beberapa detik larut dalam pikiran masing-masing.


"Jika ke inginan Anda?" tanya Regan polos.


Tangan Abra yang masih menyentuh rambut Regan malah berubah mengacak rambut Regan dengan tersenyum lebar.


"Kamu bisa menjadi anak yang lebih hebat lagi, sehingga saya bisa membanggakan diri mempunyai anggota keluarga yang hebat hee..." Abra terkekeh kecil. "Terima kasih sudah menjaga Bundamu selama kalian jauh. Terima kasih sudah hadir disaat kami berjauhan dan menjadi penguat untuknya. Dan ..." Abra menghela nafas. "Maaf jika tidak bisa menemanimu dari kecil."


Mata Abra berkaca-kaca menatap Regan, suasana menjadi canggung.


Regan menepis tangan Abra dan merebahkan tubuhnya. "Kalau perlu tisu didalam tas Bunda, jangan ngelap air mata terutama ingus anda pakai lengan jas."


Baiklah...


Regan kembali menjadi anak yang menjengkelkan bagi Abra. Sebenarnya dia ingin melanjutkan kata-katanya demi menunjukkan apa yang dia rasakan, menyentuh perasaan Regan perlahan agar mereka semakin dekat, tetapi Regan malah mengacaukannya.


"Dasar" gerutu Abra, melepas jasnya dan menutupi kaki Regan yang tiduk membekanginya dengan tubuh meringkuk. "Tidur"


"Hem ..."


Abra tidak beranjak, dia masih duduk disingle sofa didekat Regan, menatap punggung Regan yang membelakanginya. Dia mengakui jika Zahra memang wanita yang hebat, dia bisa mendidik Regan seorang diri hingga Regan menjadi anak jenius dan penuh preatasi.


Diatas kasur rumah sakit, Zahra masih memejamkan mata, tetapi bibirnya tersenyum lebar. Dia terbangun kala Abra berhenti menyentuh telapak tangannya dan berdiri berjalan kearah Regan dengan tidak sengaja menimbulkan bunyi dari kursi yang dia duduki.


*-*


.


.


.


Unik_Muaaa

__ADS_1


__ADS_2