
Abra selalu menghindari Vira, begitupun dengan Gea. Regan selalu membantu Zahra dan para pelayan mempersiapakan hidangan untuk tahlilan setiap malamnya.
Perusaan keamanan AG dan AS disatukan menjadi ASG - Absolute Security Guard (Penjaga keamanan mutlak) dengan Malvin dan Javir yang menangani.
Bersatunya dua perusahaan keamanan itu membuat Zahra dan Regan semakin sulit untuk Vira dekati. Terlebih Nanda dan Tofa tanpa disuru akan selalu mengikutinya kemanapun bahkan kedepan kamar mandi.
Hp Zahra berbunyi, ada panggilan masuk. Zahra menatap layar kacanya yang menampilkan nama As.
Regan mengambil hp Zahra tanpa permisi, sejak dua hari yang lalu Asland menghubunginya, mengirim banyak pedan, DM, chat dan voice note bahkan berkali-kali Video call dan telfon Aslan Tidak Regan angkat.
"Ya Allah Bun ak ...."
"Apaan sih?, anak kuliahaan emang kekurangan tugas ya sampai punya waktu untuk neror orang." sembur Regan memotong ucapan Asland.
Regan yang berbicara lebih dari lima kata dan ber intonasi membuat beberapa pelayan, Vira dan Sari yang juga membantu Zahra didapur melongo.
Selama beberapa hari ini Regan hanya mengatakan seperlunya saja
'*Mbak minta tolong boleh gak?'
'Tante kurang tepat'
'Mbak ini'
'Mbak itu'
'Mbak begini'
'Mbak begitu*'
Dan beberapa kata yang hanya simpel tidak lebih dari lima kata dan flet....
"Kurang ajar, apa jarimu patah sehingga tidak mau membalas semua pesan bahkan memencet layar hpmu mengangkat panggilanku?. Kasih hpnya pada Bunda, mana Bunda aku tidak mau berbicara denganmu." Aslan mengomel sambil berteriak-teriak kesal.
Mata Regan hanya menatap hp Zahra datar, sejak awal Aslan mengomel Regan sudah menjauhkan hp Zahra dari telingannya, tanpa di loadspeaker pun suara Asland terdengar.
"Ya Allah rumahnya besar banget Arz ..." seru Asland disebrang. "Itu Gea, Gea ... Gea ... Assalamu'alaikum ...."
Sontak Regan berlari cepat menggenggam hp Zahra erat keluar rumah.
Pak satpam baru membukakan pagar, Gea juga ada di depan pagar, Asland masuk kepekarangan rumah membungkukkan tubuhnya sedikit berterima kasih pada satpan.
Regan berdiri di teras rumah berkacak pinggang menatap Aslan dengan tatapan dingin mengintimidasi dari jauh. Aslan yang melihat Regan mengucapkan terimakasih pada Gea dan berjalan dengan langkan yang cool sambil melambaikan tangan membuat Regan berdecak kesal.
Dengan cepat Regan berjallan menghanpiri Aslan dan menariknya ketaman belakang rumah lewat sanping.
"Mau apa kesini?," Regan bertanya sambil berkacak pinggang.
Aslan menyengir dan dengan cepat menarik Regan dalam pelukannya membuat Regan memberontak.
"Cium tanah."
Mengerti apa yang dimaksud Regan mencium tanah, Aslan menggelengkan kepala. "Aku mau menggibur kamu karena Kakek dari Ayah Ayahmu meninggal."
Wajah Rwgan menatap Aslan dingin tanpa expresi. "Kamu sebenarnya mahasiswa enggak sih.?
Aslan tidak menjawab, dia hanya menggerak-gerakkan bahunya dan berjalan sambil mengendus-endus.
"Mau jadi babi?," tegur Regan menarik kerah belakang baju Aslan.
"Ini roti buatan Bunda Zahra, aku kelaparan karena memikirkan kamu dari dua hari lalu gak makan."
"Siapa suru?" Regan berjalan mendahului Aslan.
__ADS_1
"Kenapa gak bilang kalau Kakek Ayahmu meninggal?."
"Terus kamu mau ngapain?."
"Ya kita kan seperti keluarga, sapa tahu kamu butuh sandaran bahuku?."
"Kita?," Regan melirik Aslan sembari senyum sinis. "Kapan?."
"Aku kasih tahu Bunda ya ...."
Aslan berjalan terlebij dahulu mencari Zahra dengan mengandalkan penciumannya.
*-*
Didapur setelah kepergian Regan, Vira berusaha mendekati Zahra tetapi Nanda dan Tofa selalu menghalanginya. Berkali-kali mereka mencegat langkah Vira terang-terangan membuat Vira murka.
"Kalian gak ada kerjaan ya?," bentak Vira, tetapi tidak mengganggu konsentrasi Zahra membuat kue.
"Bang Abra dan Gea melarang anda mendekati Mbak Zahra." Dengan santai Tofa menarik tangan Vira menjauh dari Zahra.
Vira memberontak. "Aku tidak akan membunuh dia."
Nanda dan Tofa kembali menghadang langkah Vira.
"Kita keluarga, apa kamu tidak tahu hubungan saya Abra dan Zahra?."
"Kami tidak perlu tahu privasi klien dan bos kami," dengan tegas Tofa menjawab.
"Kita keluarga, tanyakan saja pada Abra."
"Kita?."
Abra ingin mengambil air minum didapur, dia memperhatikan Vira yang marah-marah meledak-ledak pada Tofa dan Nanda sejak tadi.
Penuh keyakinan Abra mendekati Zahra, memberi isyarat pada para pelayan, Tofa dan Nanda untuk pergi dari dapur.
Abra membantu Zahra dengan sigap kala Zahra akan mengambil kuning telur tetapi tangannya tidak sampai. "Kamu dan aku sudah bercerai Vira, jangan lupa." Tekan Abra disetiap kata yang dia ucapkan.
"Lalu Zahra?" tanya Vira.
"Kita belum bercerai."
Vira tertawa kecil mengejek. "Jangan lupa juga kalian sudah lama berpisah, dia sudah meninggalkanmu belasan tahun. Apa menurutmu kalian masih sah menjadi pasangan suami istri?."
"Kita akan memperbaharui pernikahan kita kalau begitu."
"Zahra ..." panggil Vira.
Zahra tidak menaggapi.
"Lo gak budek kan Zah?."
Pyar...
Zahra membanting loyang yang dia pegang kelantai tepat didekat kaki Vira hingga Vira terkejut melangkah mundur.
"Kalau aku budek," kaliamat Zahra mengambang menarap Vira dengan tajam. "Apa matamu buta tidak melihat aku sedang bekerja?."
Serelah mengataknnya Zahra kembali pada adonan kue diatas meja.
Abra melipat kedua tangannya didada menatap Zahra bangga dengan senyum dipipinya.
"Jangan tersenyum."
__ADS_1
Buk...
Kali ini Abra yang mendapat pukulan diperutnya dengan loyang yang Zahra pegang.
"Kenapa malah memukulku sih Ara?" keluh Abra.
"Jangan banyak bicara cepat bantu kerja."
Abra melongo. "Aku, kamu ngajakin aku bantu kamu buat kue?. Kamu yakin kita mau kerja ini se...."
Belum selesai berbicara Zahra berbalik badan dan penjitan kening Abra dengan telapak tangannya.
Plak ...
"Kita ... kita ... kita ... kerja."
"Brup ...," tawa Aslan menyembur tidak bisa ditahan lagi. "Maaf."
Regan tersenyum kecil pada Bundanya sambil melangkah kan kaki menghampiri Zahra.
Jika Zahra berada di daput dan sedang membuat adonan kue, jangan sesekali mengganggunya. Zahra akan mengamuk bahkan tidak segan-segan mengusir semua orang dan bekerja sendirian.
"Arz dan As yang bantu Bunda, yang lain suruh keluar saja Bun."
Entah sejak kapan Aslan sudah berdriri di belakang Abra. "Permisi," dia mendorong pelang bahu Abra, berdiri didepan Zahra, bersalaman dan memeluk Zahra.
Mata Abra memicing menatap Aslan tidak suka.
"Kenapa kemari tidak memberitahu Bunda?." Zahra membalas pelukan Aslan.
Aslan meregangkan pelukannya. "Arz gak ngangkat panggilan As, jadi As ngubungi Mila dan minta nomor Gea."
Mata Zahra memelototi Regan. "Arz selalu begitu" omel Zahra. "Ya sudah ayo bantu Bunda kerjakan ini, lebih baik kita kerja bertiga saja."
"Ok," Aslan menoleh pada Abra. "kita ... bertiga ...." Aslan menekan setiap kata.
"Ya lain silahkan keluar, karena kita tidak mau diganggu."
Abra kesal membanting loyang yang tadi mengenai perutnya keatas meja. Regan dan Aslan, sama sama selalu membuat Abra jengkel.
Bukan hanya sekedar jengkel, Abra juga iri pada mereka yang bebas memeluk dan selalu bersama Zahra tanpa kecanggungan.
Vira menatap kepergian Abra lalu beralih pada Regan dan Aslan yang membantu Zahra. "Zahra kita perlu bicara ka ...."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan," potong Regan tanpa melihat Vira. "Anda dan Bunda tidak akan pernah saya biarkan untuk berbicara berdua."
"Kita tidak akan membiarkannya" sambung Aslan.
Zahra menoleh pada Regan dan Aslan, mereka mengucapkannya dengan tenang namun penuh dengan tanda peringatan.
*-*
.
πHai semuaπ
Terima kasih sudah membaca One More Chance
Jangan lupa β€πand π¬
Maaf jika banyak TYPO π
Aku refisi kalau sudah tamat ya π
__ADS_1
Love youπ
Unik_Muaaa