One More Chance

One More Chance
Bukan Mafia


__ADS_3

Mereka baru saja turun dari pesawat berjalan menuju tempat pengambilan koper. Serelah memastikan barang bawaan mereka lengka.p dan tidak tertukar mereka berjalan menuju pintu keluar badara.


Aslan dan Regan yang pertama kali berjalan lebih dulu tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berjalan mundur beberapa langkah.


Beberapa orang berjas hitam dengan earphone di terlinga memblok jalan mereka. Seorang gadis **** berjalan lalu berhenti melangkah berdiri tepat di depan Aslan dan Regan, namun tatapan matanya tertuju pada Abra dan Sam dibelakang mereka.


"Hello snowmen!" sapa gadis itu melambaikan tangannya dengan anggun.


Abra mengerutkan kening sebentar lalu tertawa kecil berjalan melewati Regan dan Aslan menghampiri gadis itu yang langsung memeluk Abra dengan begitu erat.


"Ah... aku merindukanmu" ucap Abra.


Dibelakang mereka Regan menatap mereka dengan tatapan tidak suka.


"Aku juga merindukanmu, kanapa kesini tidak memberi kabar?."


Mata Regan masih mengawasi setiap gerak gerik mereka berdua, bahkan dia juga pasang telinga.


Koper dan bawaan mereka dibawah oleh pria berjas tadi, pada awalnya Regan tidak mengizinkan hingga Sam menepuk pundaknya menenangkannya.


"Diantara mereka ada yang dulu anak buah kami" Sam berjalan disamping Regan. "Gadis itu seumuran dengan teman-temanmu, Ibunya teman kami dan Malvin saat kuliah di negara ini dulu. Selebihnya biarkan Abra yang menjelaskan."


Sam masuk kedalam mobil setelah gadis itu dan Abra, karena Regan masih diam mematung tidak berniat masuk kedalam mobil, Aslan menarik tangannya.


Didalam perjalanan Aslan dan Regan tidak mengatakan apapun, yang terdengar hanya suara Sam, Abra dan gadis itu hingga mobil berhenti dedepan sebuah rumah.


"Bundamu yang meminta agar kalian tidak tinggal di apartment, tetapi tidak boleh juga tinggal dirumah yang mewah." Abra keluar dari mobil.


Semua mulai turun dan berjalan memasuki rumah yang masih gelap karena lampu belum dinyalakan.


Terdengar pintundibelakang mereka tertutup, Aslan dan Regan langsung mulai bersiap-siap akan menyerang karena merasaka suatu kejanggalan.


Lampu satu persatu menyala, terlihat beberpa orang berbadan kekar berdiri berbaris dihadapan mereka seperti tadi dibandara namun lebih banyak lagi.


"Welcome home sir."


Mereka membungkukkan badan sebentar dan kembali berdiri tegap, Regan melirik pada Abra yang menatapa mereka dengan tajam satu persatu.


"Wah ... siapa yang memerintahkan kalian masuk kerumah?" tanya Abra dengan suara mendesis penuh peringatan.


"Saya Pak!" teriakan terdengar dari lantai dua.


Pria itu tersenyum sambil melambaikan tangan dan berjalan menuruni tangga dengan cepat.


"Hai paman?, lama tidak menginjakkan kaki di negri ini."


Melihat pria didepannya Aslan memicingkan matanya, wajah pria itubtidak asing baginya, dia perna melihatnya disuatu tempat.

__ADS_1


"Pergilah, bawa mereka semua kami butuh istirahat" penuh ketegasan dan tak terbantahkan.


Pria itu mengangguk dan secara tidak sengaja tatapannya bertemu dengan Aslan. "Apa kita pernah bertemu?" tanyanpria itu.


"Jangan bicara bahasa inggris dengan cepat, mereka mungkin tidak mengerti apa...."


"Kami paham" potong Regan dingin menatap gadis yang menjemput mereka dengan tajam.


Gadis itu tersenyum sinis meremehkan Regan.


Sejak tadi Regan dan Aslan diam bukan berarti dia tidak mengerti dengan apa yang mereka semua bicarakan, tetapi Regan dan Aslan memilih diam untuk mengamati situasi.


"Tutup Mulutmu Emma" desis pria itu penuh peringatan. sebelum melangkahkan kaki mendekati Aslan namun Sam menghalanginya.


"Kita benar-benar butuh istirahat silahkan keluar."


Pria itu mengangguk paham, tatapan matanya dan Regan saling bertautan lama dan akhirnya tersenyum lebar. "Dia pasti anakmu" tunjuknya pada Regan melirik Abra. "Namamu?" tatapan mereka kembalo bertautan.


"Adam Regan" jawab Regan dingin.


Senyum pria itu semakin lebar. "Paman Adam" panggilnya beralih menatap Abra. "Apa dia Adam junior penggantimu?."


"Keluar!" desis Abra.


Suasana dalam rumah berubah mencekan, pria itu mengangguk melangkah pergi keluar dari rumah diikuti pria berjas dan gadis yang menjemputnya tadi.


"Kenapa mereka bisa tahu aku kesini?" keluh Abra.


"Sepertinya mereka memang menunggumu menginjakkan kaki di negara ini" Sam mengatakannya sambil tertawa kecil.


"Mereka siapa?" pertanyaan Regan menghentikan tawa Sam.


Diam-diam Sam melirik Abra. "Sepertinya aku harus cepat-cepat mandi dan tidur."


Sam langsung melangkahkan kaki cepat masuk kedalam salah satu kamar dilantai bawah dekat tangga.


Abra duduk dengan tegak memberi isyarat pada Regan dan Aslan untuk duduk didekatnya.


"Ayah dulu jago karate dan beberapa ilmu bela diri, kaya dan arogan. Suatu saat Ayah terlibat cekcok dengan salah satu anggota mafia, Ayah diburuh dan beberapa kali hampir dibunuh" Abra meringis mengingat kejadian semasa kuliah dulu. "Hingga akhirnya tidak sengaja menyelamatkan seorang gadis yang kecelakaan terjebak dalam mobil yang dia kendarai, yang ternyata anak dari pemimpin mafia yang mengejar Ayah dan anak itu juga teman kuliah ayah.


Singkat cerita Ayah dengat dengan keluarga mereka, mereka menggap Ayah sebagai keluarga mereka tetapi Ayah bukan salah satu anggota mafia mereka." Abta menceritakannya sambil menatap Regan mengamati setiap reaksi yang Regan berikan salama dia bercerita.


"Sebenarnya ini adalah rahasia, hanya Sam dan Malvin yang tahu. Tetapi setelah apa yang terjadi barusan mau tidak mau kalian harus tahu." Abra menatap Regan begitu dalam. "Jangan pernah mengatakan pada siapapun kelebihanmu tempo hari Jaya Gea." Abra menekan dua kata terakhir.


Regan mengangguk paham, Abra beralih menatap Aslan. "Kamu bisa menjaga rahasia dia?" tanya Abra memastikan.


"Ya" Aslan menganggukkan kepala yakin.

__ADS_1


"Jangan pernah katakan satu kata itu, Ayah akan pastikan kalian tidak terjerumus didalamnya. Tugas kalian disini belajar yang benar jangan mengecewakan kami sebagai orang tua."


Regan dan Aslan mengangguk mengiyakan membuat Abra tersenyum lega.


Dia hendak berdiri untuk pergi kelamarnya tetapi pertanyaan Regan membuatnya kembali duduk disofa.


"Tetapi bagaimanapun juga anda pernah menjadi seorang mafia."


"Tidak" Abra membantah kesimpulan Regan padanya.


"Orang yang berteman dengan penjual parfum akan terturan wangi parfum, tidak mungkin anda tidak...."


"Apa kamu pernah melihat Ayah melakukan kejahatan?" potong Abra tidak sabaran, dia tidak menerima jika di samakan dengan mafia. "Kita boleh berteman dengan siapapu, maling, copet, rentenir atau siapapun. Kita boleh mengambil ilmu dari mereka tapi bukan menirukan kejahatan mereka."


Regan tertegun sejenak mendengar apa yang dikatakan Abra. "Pantas otak anda licik" ucap Regan tersenyum seduktif pada Abra. "Menggunakan saya dan As kuliah keluar negri agar leluasa mendekati Bunda seandainya rencana anda membawa Kakek dan Nenek tidak berhasil membuat Bunda mau lembali pada anda."


Sontak Abra tertawa lepas mendengarnya, dia ternyata tidak bisa mengelabui otak Regan.


"Seandainya saat anda meminta Bunda pergi dan Bunda beneran pergi, kami tidak akan mau memberi anda kesempatan."


Tawa Abra benar-benar terhenti setalah Aslan selesai berbicara. Tatapan mata Abra mulai berubah mentap mereka demgan tatapan seriusnya. "Otak kalian tidak bisa diragukan lagi, aku tidak sabar menunggu bagaimana berkembangnya perusahaan GG kita ditangan kalian. Tudurlah besok kita akan mengurus semua, karena Ayah tidak bisa lama-lama berada dinegara ini."


Abra berdiri dari duduknya. "Chance" Abra tersenyum menatap mereka. "Kita tidak harus diam menunggu kesempatan datang pada kita. Jika kita sendiri bisa menciptakan kesempatan itu."


Abra meninggalkan mereka berdua setelah mengatakannya dengan penuh percaya diri. Membiarkan mereka duduk di ruang tamu mencoba memahami apa yang telah terjadi satu persatu.


"Gila" guma Aslan menatap Regan yang balik menatapnya dengan kening mengerut. "Otak pewaris perusahaan terkemuka di Indonesia memiliki otak seorang mafia" Aslan mengangkat telapak tangan kanannya. "Dipersatukan dengan otak Bunda Zahra yang cerdas" kali ini Aslan mengangkat tangan sebelah kirinya.


Plok ...


Aslan menyatukan kedua telapak tangannya. "Menyatu, dan terlahirlah otakmu."


Aslan mengatakannya tanpa ekpresi seakan meledek Regan, membuat Regan geram melempar bantal sofa kemuka Aslan sebelum pergi meninggalkannya sendirian


*-*


.


Mohon dukungannya πŸ™


Dengan cara meninggalkan jejak


πŸ”–Vote 🌟 Rate πŸ’– Favorit


πŸ‘Like and πŸ’¬ Comment


.

__ADS_1


Unik_Muaaa


__ADS_2