One More Chance

One More Chance
Menjaga


__ADS_3

"Kalian kembai bertugas menjaga dan mengantar jemput Gea mulai hari ini"


Abra memerintahkan Nanda dan Tofa sambil berjalan melewati mereka, langkahnya terhenti tepat di depan perempuan dengan jas hitam dan berearphone seperti Tofa dan Nanda, ditatapnya perempuan itu dari atas hingga bawah.


"Jangan sampai mengecewan" ancam Abra.


"Baik Pak" sahut perempuan itu tegas.


Abra kembali berjalan, "nama, pekerjaan sebelumnya dan kelebihanmu," Abra duduk diujung meja makan didekat Zahra. "Ara dia yang akan membantumu, mengawal dan menjaga kamu selama aku kekantor" ucap Abra pada Zahra sambil menunjuk perempuan tadi, "silahkah perkenalkan diri."


Perempuan itu dia tetap berdiri dengan tegak tidak jauh dari Nanda dan Tofa berdiri.


"Hei kenapa hanya diam?" tanya Abra dengan sedikit membentak.


Perempuan itu langsung berdiri menghadap Zahra dengan tegap.


"Ayah" tegur Zahra.


"Nama saya Fania ...."


Abra tidak menghiraukan teguran Zahra dan bagaimana Fani memperkenalkan diri. Abra kembali mengingat kejadian setelah berbelanja kemarin, setelah mengabtar Zahra dan Gea pulang Abra menemui Pak Jaya dan bertanya tentang maksud dari isi pesan yang dikirim padanya.


Flashback


Saat itu beberapa karyawan sudah pulang, Abra menang sengaja datang disaat sepi ke kantor Pak Jaya untuk menimaliris desas-desus nanti, Abra juga menolak untuk bertemu di luar apalagi di rumah Pak Jayayang jelas-jelas Vira berada disana.


"Luis terlilit hutang karena judi, lambat laun dia akan mencari Vira atau Gea." Pak Jaya menyodorkan hp Vira pada Abra yang duduk tepat didepannya. "Salah satu alasan Vira kembali sepertinya bukan karena bisnis mereka gagal tetapi karena Lius yang berjudi juga, tiga bulan terakhir rentenir dan Luis semakin gencar menghubungi ponsel ini dan DM Vira. Jadi saya diam-diam selalu memantau Gea karena takut Luis datang tanpa sepengetahuan kita."


Abra masih memperhatikan layar hp Vira, membaca setiap pesan yang masuk satu persatu.


Yang dikatakan Pak Jaya memang benar, beberapa pemilik akun IG meminta pelunasan hutang pada Vira, bahakan beberapa diantaranya ada yang mengancam. Satu pesan yang membuat wajah Abra berumah memerah menahan marah, '....jika kamu menghilang aku akan mencari Gea untuk ...' Abra tidak perduli kalimat sebelum dan sesuadahnya, karena empat kata 'aku akan mencari Gea' sudah membuatnya kesal bahkan harus.mengeratkan rahangnya agar bisa menahan diri tidak murka saati itu juga.


"Saya percaya kamu bisa menjaga Gea, keluargamu cukup kuat dan berpengaruh, Luis pasti berfikir dua kali untuk mengusik Gea yang berada disekitarmu." Pak Jaya menatap Abra dengan mata sendu.


Abra meletakkan hp yang dia pegang diatas meja, "Gea adalah anak kami jadi tidak perlu anda khawatir tentang keselamatannya."


Pak Jaya mengangguk dengan senyum segaris menandakan kelegaannya, "orang tua pasti akan berusaha melindungi anaknya."


Mereka terdiam sejenak sibuk denganpikiran masing-masing, bahkan Abra dapatbmelihat kantong mata Pak Jaya yang sepertinya kurang tidur.


"Apa saya boleh minta tolong satu?" Pak Jaya kembali mentap Abra.


"Jika saya mampu dan bisa"


Pak Jaya terdiam sebentar, "apa bisa Ganendra Grup mengakuisisi perusahaan Jaya Indah?."


Kening Abra mengerut, posisi duduk Abra mulai tegak menatap Pak Jaya dengan tatapan serius. "Apa rencana anda?" tanpa basa basi Abra langsung to the poin.


"Saya juga harus melindungi anak saya, saya berencana akan pindak ke kota lain dan memulai bisnis baru disana dari awal lagi. Saya tidak mau kembali kehilangan anak saya, sudah cukup kami memberinya kebebas ... meski sebenarnya terlambat."


Bukan senyum bahagia, tetapi senyum yang penuh kepedihan. Bertahun-tahun mengenal sosok Abdul Wijaya, ini pertama kali Abra melihat tatapan yang mengingatkannya pada diri sendiri mengetahui jika Regan adalah anaknya.


"Saya tidak bisa mengakuisisi perusahaan anda"


Pak Jaya mengangguk paham, Abra sudah mengatakan akan memutuskan segala hal yang berhubungan dengan mereka, seharusnya ....


"Tapi saya akan membantu, tapi tidak dengan mengakuisisi."

__ADS_1


Flashend


Melihat Gea yang bahagia kembali ditemani Tofa dan nanda membuat Abra tersenyum lega, karena jika seandainya Gea bertanya kenapa dia kembali dikawal Abra belum memiliki alasan yang masuk akan untuk menjawab pertanyaannya.


Kepala Abra menoleh pada Zahra, membuatnya menghela nafas menerima tatapan Zahra yang memancarkan petanyaan yang siap dia lontarkan, Abra tidak bisa menghindar dari yang satu itu sehingga dengan isyarat dia melirik Gea agar Zahra paham.


*-*


Gara-gara kecapeaan berkeliling-liling mol, Gea sampai lupa memasukkan buku pekerjaan rumah pelajaran Bahasa Inggrisnya, untung saja mobil mereka belum jauh sehingga masih sempat putar balik.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan?, apa kita akan menyekolahkan Gea keluar negri juga?."


Langkah kaki Gea terhenti di depan anak tangga yang memang dekat dengan meja makan, perlahan Gea berjalan perlahan mendekat.


Mendengar namanya disebut membuat Gea gugup, khawatir dan takut seketika, pemikiran negatif sudah mulai menguasai benaknya.


"Enggak Ara, seperti kata Pak Jaya aku masih sanggup melindungi Gea dari jangkauan Luis." Abra meyakinkan Zahra yang terlihat khawatir.


Abra baru saja menceritakan apa yang sedang terjadi sampai terlihat sangat mengganggunya, dan hingga kembali menugaskan Nanda dan Tofa untuk menjaga Gea.


"Lalu bagaimana dengan perusahaan Paman kalau kamu tidak mau mengakuisisi?, mereka akan pindah kemana?, Gea sudah tahu belum?."


Kepala Abra menggeleng dan mengelus puncak kepala Zahra, sebenarnya dia ingin menyembunyikannya dari Zahra, tetapi mereka sudah berjanji saling terbuka satu sama lain.


"Aku tidak mau Ara, tapi aku bisa membantu dengan menempatkan orang kepercayaanku memimpin perusahaan Jaya Indah, dan Pak Jaya juga harus ikut andil dalam menjalankannya meski hanya memonitori dari jauh. Aku tidak bertanya mereka akan pindah kemana, semua mereka lakukan untuk mempertahankan Vira."


Zahra menatap Abra masih dengan tatapan penuh kekhawatiran namun matanya mulai berkaca-kaca. "Gea sudah tahu?" tanya Zahra serak.


Tangan kanan Abra mengelus pipi Zahra, "tidak aku masih bingung mau mengatakannya bagaimana."


Terlihat Zahra mulai akan menangis membuat Abra mendekatkan dirinya merangkul pundak Zahra hingga kepala Zahra bersandar pada bahunya.


"Kalau itu keputusan Gea kita bisa apa?"


Zahra menyembunyikan wajahnya dipundak Abra dan mulai menangis, "Gea sekarang anak kita, tapi bagaimanapun mereka juga yang lebih berhak."


Gea keluar dari persembunyiannya berjalan menghampiri mereka, langkah Gea terhenti disamping Abra dan menyodorkan hpnya didepan Abra.


Melihat ada yang menodorkan hp tepat didepannya Abra menoleh kesamping, menghela nafas pasrah melihat Gea yang sudah berdiri dengan wajah tenang, Zahra perlahan mengangkat wajahnya menatap Gea dengan mimik wajah yang semakin sedih.


"Minta tolong telfon wali kelas Gea, bilang ada urusan keluarga."


Bukannya marah tetapi apa yang dikatakan Gea diluar bayangan Abra, Gea mebgatakannya dengan tenang dan mempermainkan hpnya karena Abra tidak cepat mengambilnya.


"Urusan keluarga apa?" tanya Abra.


"Kenapa pulang lagi sayang?" kali ini Zahra yang bertanya.


Mereka mengucapkannya hampir bersamaan.


Gea menatap Zahra, "buku PR Gea ketinggalan. Kali ini menoleh pada Abra, "Gea sudah mendengar meski tidak keseluruhan, kalau dipaksa sekolahpun pelajaran gak akan masuk."


Zahra berdiri menghampiri Gea, mengelus lengannya dengan sayang. "Ayah cepet telpon, kita tunggu di ruang tamu."


"Ara ... kenapa dukung dia gak sekolah" tegur Abra.


"Dari pada Gea kepikiran disekolah, terus nangis gimana?."

__ADS_1


"Gea udah besar Ara, bukan anak kecil yang punya masalah dikit-dikit nangis apalagi disekolah."


Kaki Zahra yang semula melangkah dengan Gea langsung terhenti, membuat Gea juga berhenti melangkah.


Zahra berbalik badan menatap Abra dengan nyalang, "jadi aku anak kecil?" tanya Zahra suaranya begitu lembut dan senyum lebar segarisnya.


Salah ... lagi-lagi Abra salah berbicara.


*-*


"Hai Beb"


Cup ...


Emma berhasil mencium pipi Regan, kening Regan langsung mengerut dan menjauh dari Emma.


Sedangkan Aslan melongo tidak sempat menghalangi kelakuan Emma yang diluar kontrol mereka semua. Dapur dan ruang tamu memang berjarak lima sampai tujuh meter, Regan sedang membaca diruang tamu sedangkan kaki Aslan baru saja hendak masuk kedalam dapur untuk mengambil air.


Jarak pintu yang lebih dekat dengan ruang tamu memudah Emma langsung berlari menuju Regan mengalahkan kecepatan Aslan.


"Kemapa kamu kesini lagi?" tanya Aslan dengan nada tidak suka.


Regan berdiri pindak kesofa lain karena Emma mencoba duduk dipangkuannya.


Emma tersenyum, menyilangkan kakinya membuka layar hpnya dengan santai. "Selama dirumah kalian tinggal berdua aku ditugaskan untuk menjaga kalian." Emma menunjukkan layar hpnya yang menampilkan chat Daddynya.


"Kami bukan anak kecil" ucap Regan tanpa menoleh pada Emma.


"Dan kamu juga perempuan" Aslan juga ikut protes.


Senyum Emma semakin lebar, "diluar masih ada beberapa orang suruhan Daddy, tapi hanya aku yang boleh masuk." Emma mengucapkannya penuh kebanggan, "dan jangan pernah meremehkan aku meskipun perempuan" Emma menatap Aslan dengan wajah angkuhnya dan membuka roknya.


"Astagfirullah ..."


Antara terkejut dan beristigfar, Aslan berseru hingga membuat Regan yang tadinya fokus dengan buku yang dipegangnya menoleh.


Emma mengangkat roknya bukan tanpa sebab, melainkan menunjukkan senjata api dikedua pahanya dan beberapa senjata tajam.


Melihat keterkejutan Aslan dan Regan Emma semakin tersenyum angkuh, "I am a beautiful shooter, siap menjaga kalian" mengucapkannya penuh keangkuhan, "aku ganti baju dulu, dada sayang ..."


Meski Emma sudah berjalan meninggalkan mereka, bahkan bunyi pintu yang Emma tutup dapat didengar dari ruang tamu, Aslan masih tak percay sengan apa yang dia lihat.


Perlahan Aslan menatap Regan yang juga terdiam menatap kearah tempat Emma duduk tadi.


"Benar-benar senjata" beo Aslan lirih.


*-*


.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya...


Please ..... 😢


Love you 😘


Unik Muaaa

__ADS_1


__ADS_2