One More Chance

One More Chance
Drama


__ADS_3

Dada Zahra mulai memanas, dia mengambil asbak rokok melangkahkan kakinya dengan cepat menyusul Abra yang keluar dari ruang kerja Kakek Arya.


.


.


.


Tetap setelah Zahra keluar, Zahra melemparkan asbak ditangannya mengenai punggung Abra membuat Abra menghentikan langkah namun tidak berbalik badan.


"Balik badan," perintah Zahra tegas. "Balik badan, tatap mataku dan katakan sekali lagi seperti apa yang kamu katakan di pemakaman tadi," ucap Zahra penuh tekanan disetiap katanya.


Vira yang mendengar suara Zahra mengerutkan kening. Dia masih belum mengingat suara milik siapa didepannya padahal suara itu tidak asing ditelinganya.


Zahra masih mengenakan masker, membuat Vira menajamkam penglihatannya menatap wajah Zahra.


"KATAKAN SEKALI LAGI!." Zahra berteriak lantang.


Abra masih tidak berbalik.


Zahra membuka maskernya membuat Vira terkejut menatapnya tidak percaya.


Kaki Zahra berjalan cepat, berdiri didepan Abra, mendorong tubuh Abra dengan kedua tangannya sekuat tenanga. "Lihat aku, tatap mataku dan katakan sekali lagi, ayo ...." Paksa Zahra.


Abra bungkam.


"Ini rumahku, Opa memberikan rumah ini untukku apa kamu tidak dengar?. Kamu saja yang pergi." Teriak Zahra.


Abra benar-benar melangkahkan kakinya hendak pergi.


Zahra kembali menghadang Abra menatapnya dengan mata memerah.


Abra membuang muka, membuat Zahra semakin kesal dan memukul dada Abra. Abra membiarkan dadanya terus dipukuli dan didorong Zahrahingga dia mundur beberapa kali dan tidak berniat melawan.


"Dasar pengecut," kali ini Zahra melempar masker yang dia pegang pada wajah Abra, mulai memukul-mukul dada Abra sembari meluapkan emosinya. "Gengsi setinggi langit, kurang ajar, sok tegar, bodoh, angkuh, egois, kepala batu, berengsek, bangsat ...."


Abra menarik Zahra dalam pelukannya, menghentikan cacian Zahra. Dia menangis menyembunyikan wajahnya dipindak kecil Zahra.


Zahra membalas pelukannya. "Aku membencimu, sangat membencimu."


"I know."


"Tidak kamu tidak tahu," Zahra memberontak ingin melepaskan pelukan Abra namun Abra semakin mengeratkan pelukannya.


"I know."

__ADS_1


"Kamu sudah terlanjur mengganggu kehidupan aku dan Regan, kenapa tidak dari awal kamu mendengar nama Adam Regan Zeroun kamu mengabaikannya. Tiga nama itu yang kita perdebatkan dulu, kenapa kamu malah mendatangi kami ... KENAPA ...."


Zahra meraung, melepas pelukan Abra memukul dada Abra dengan sekuat tenaga hingga Abra kesakitan.


"Mati saja sana menggantikan Opa, baru itu namanya tidak mengganggu kami selama-lamanya."


Abra tersenyum mendengarkan omelan Zahra, kembali menarik Zahra dalam pelukannya tetapi Zahra berhasil mendorong tubuh Abra.


"KENAPA SENYUM-SENYUM?," bentak Zahra meluapkan kekesalan.


Abra mengangkat bahu dan merentangkan tangan. "Hanya ya ...." Abra tidak bisa mengungkapkan kebahagiaan yang dia rasakan.


"Hanya apa?," gertak Zahra. "Apa kamu tidak mau membujukku dan Regan untuk tinggal?."


Kepala Abra menggeleng. "Tidak, karena aku sudah berjanji pada kalian."


"Tidak," Zahra berkacak pinggang. "Karena kamu terlalu gengsi untuk mengatakan jangan."


"Kalau aku meminta kaloan tinggal kamu akan tinggal?."


Penuh harap, Abra menatap Zahra penuh harap.


"Tidak," jawab Zahra mengangkat dagu dan menatap Abra dengan mata melotot.


Abra menghela nafas. "I Know."


"I know."


"Aku masih belum memutuskan mau kembali atau tidak denganmu."


"I know."


"Aku hanya kasih kamu baru ditinggal satu-satunya keluargamu."


"I know."


Zahra semakin kesal karena Abra menjawab dengan I Know berkali-kali. Zahra hendak kembali mengatakan sesuatu tetapi Regan sudah lebih dulu berdiri diantara mereka berdua.


Mata Rehan menatap Zahra dan Abra bergantian dengan tatapan malas. "Apa kalian tidak sadar sejak tadi jadi pusat tontonan?," ucap Regan dengan suara datarnya seperti biasa.


Zahra sontak menatap seluruh ruangan yang dipenuhi beberapa pelayan rumah Kakek Arya, Gea, keluaraga Sam, Vira, beberapa orang berjas hitam (para bodyguard yang bekerja pada kakek Arya dan Abra) dengar earphon ditelinga mereka serta Tari dan Ibnu yang berdiri menatapnya dengan senyum mengembang.


Wajah Zahra berubah merah menahan malu, dia benar-benar malu. Abra yang tidak menghiraukan hal itu terus menatap Zahra yang berdiri didepannya dengan senyum yang mengembang.


"Jangan senyum-senyum," tegur Regan menatap Abra tidak suka. "Bunda juga berhenti malu-malu, kalian memang malu-maluin." Regan mengomeli Zahra.

__ADS_1


"Lupa kalau Kakek Buyut Arya baru di makamkan malah buat drama-drama korea?." Regan menarik tangan Zahra hingga berdiri dibelakangnya. "Jangan main peluk, saya sudah bilang jangan main pegang-pegang."


Regan menarik tangan Zahra untuk pergi dari tempat itu sambil mendumel. "Ars dilarang mengumpat, sendirinya barusan tidak mengumpat panjang seperti kereta apa?."


Sadar jika sedang disindir, Zahra memukul keningnya tersadar kalau dia memang mengumpati Abra tadi.


tepat sebelum mereka melewati Vira yang sedang berdiri di dekat tangga menunju lantai dua, Vira menghadang langkah kaki Regan menghentikan langkah mereka berdua.


"Zah aku ...."


"Drama untuk hari ini berakhir, Bunda saya harus istirahan semalaman kurang tidur permisi."


Regan memotong kalimat Vira dan kembali menarik tangan Zahra menuju kamar yang dia tiduri kemarin malam saat menginab dirumah Kakek Arya.


Derama hari ini sudah lengkap, jangan ditambah lagi. Cukup dia melihat tadi semua sedih dan menagis, ditambah barusan Zahra dan Abra membuat Regan kesal sendiri.


*-*


"Biarkan mereka istirahat," Gea mencegah Vira menyusul Regan dan Zahra kelantai dua.


Vira menatap Gea penuh selidik. "Kamu tahu siapa mereka?," tanya Vira memastikan tebakannya.


Wajah Gea berubah datar. "Tahu" ucapnya dengan santai.


"Dan kamu tidak memberitahu Mami!."


Bentakan Vira membuat tatapan mata Gea memerah, ini pertama kali Gea mendapat bentakan dari Vira.


Malvin menarik Gea dan memberi isyarat Javir untuk mendekat. "Bawa Gea kekamarnya," perintahnya.


"Kamu juga tau Abra sudah menemukan Zahra?." Tanya Vira berang meluapkan amarah.


"Lalu?," Malvin malah balik bertanya dengan tatapan dingin penuh intimidasi. "Kamu akan kembali merusak hubungan mereka?."


"Apa maksudmu?," Vira mengerutkan kening tak mengerti.


"Kamu menolak Abra demi si bule, saat melihat Abra dan Zahra hidup bahagia kamu iri karena si Bule menghianatimu, terlebih kamu harus sibuk dengan perusahaan orang tuamu sehingga kamu tidak bisa hura-hura."


Malvin tersenyum sinis. "I know more then ...." Malvin mengangkat jari telunjuknya dan memutar-mutarnya. "Jangan lupa siapa aku."


Vira terpaku ditempat sambil mengepalkan tangannya menatap Malvil yang melangkahkan kaki mulai menjauh.


"Ah ... lupa," Malvin balim badan kembali menatap Vira dari tengah tangga. "Gea sudah mengetahui segalanya, bahkan apa yang tidak Abra ketahui dia tahu. Itu salah satu alasan kenapa dia tidak mau bertemu dengamu."


Malvin tersenyum lebar mengejek, memberi hormat pada Vira dan berbalik badan kebali menaiki tangga.

__ADS_1


*-*


__ADS_2