
Abra sedang melakukan Video call dengan Sam, Malvin dan Enzo diruang baca yang dia kunci karena berjaga-jaga Zahra takut masuk menerobos mencarinya.
Dia benar-benar butuh masukan ketigas sahabatnya setalah menerima surut dari Dorio tadi.
"Tumben anak buahmu kali ini bisa kecolongan?," tanya Sam pada Enzo.
"Kata Javir orang itu berpakaian olah raga jadi wajar jika mereka kecolongan" sahut Malvin membela anak buah Enzo.
Karena dia tahu Enzo akan mungkar sebentar lagi pada mereka, bahkan tatapan Enzo sekarang tidak tertuju pada layar hpnya, Enzo menatap kedepan dengan wajah garangnya mengetatkan rahang, yang dapat Malvin dan Abra yakini jika anak buah Enzo yang bertugas tadi pagi sekarang berada didepannya.
"Apa orang itu mengatakan sesuatu yang lain pada Zahra?" tanya Enzo dengan nada datarnya.
Abra menggeleng, "sepertinya tidak dan aku juga tidak berani bertanya pada Zahra."
"Jangan coba-coba Bra?, lo tahu Zahra seperti apa" celetuk Sam. "Sekali dia curiga mulai korek-korek, lo mau dia tahu masa lalu kita?."
"Tidak, karena gue gak mau bernasib seperti losaat Sari tahu."
Malvin mengulum senyumnya, sedangkan Sam berdecak sebal mengingat Sari tidak mau menyentuhnya karena terbayang darah, padahal mereka tidak pernah membunuh hanya memukul orang.
"Kalau begitu temui saja Dorio, jika kamu siap katakan padaku biar aku yang."
Malvin dan Sam langsung sahut-sahutan menentang usulan Enzo.
"Woy ..."
"Jangan bercanda zo."
"Ini Dorio A....g" maki Sam.
"Dia punya dendam dengan Abra" Malvin mengingatkan.
"Lo gak lupakan kejadia sepuluh tahun lalu?."
Enzo tersenyum segaris menatap mereka yang sedang protes tidak terima usulannya, "dia tidak akan macam-macam, pasti dia hanya akan vertanya dimana Clara."
"Jika hanya itu sih ok, kalau masalah gara-gara Abra kakak dia tertangkan Kakekmu dan kakinya lumpuh bagaimana?." Sam mengucapkannya dengan nada berteriak.
"Aku akan menemaninya, dia tidak akan berani melukaiku."
Semua terdiam hanyut dalam pemikiran masing-masing, antara menyetujui usulan Enzo atau tidak.
Kali ini Abra tidak bisa memutuskannya sendiri, karena dia tidak bisa membahayakan dirinya sendiri terutama keluarganya, tidka seperti dulu yang bisa mengambil keputusan seenak hari.
Kali ini dia hanya bisa pasrah pada saran dan rencana ketiga temannya, karena hanya mereka yang dapat membantunya dalam masalah ini.
"*Kalau begitu aku kesana"
"Ya aku juga ikut*" Sam ikut-ikutan menyahut setelah Malvin.
Abra menggelengkan kepala tidak setuju, ingin menyuarakannya tetapi Enzo lebih dulu tertawa senang.
"Kalau begitu ayo kita reunian"
Lagi-lagi Enzo memberi usul yang kembali membuat Abra semakin pusing jadinya.
"Tidak" tolak Abra.
"Ok" ucap Sam.
"Kita ajak Vira juga" timpal Malvi.
"No!" seru Abra, "gue tidak mau kalian kesini kenapa malah mau mengajak Vira?."
__ADS_1
Semua terdiam menunggu jawaban Malvin.
"Karena dia akan setres sebentar lagi."
Kening Abra mengerut tak mengerti, "kenapa?."
"Dia melakukan sesuatu dan Prabu akan murka sebentar lagi."
Bukan bersimpati seperti Abra dan Enzo, Sam malah tertawa ngakak mendengarnya.
"Sudah gue duga hahaahaha .... Prabu sok keren bisa nangani si ulah hahhaaahaa ..."
*-*
Makan malam
Tatapan Regan tertuju pada Zia dan sesekali beralih pada Aslan. Tadi saat waktu sholat Zahra memintanya membangunkan Aslan dikamar tetapi tidak boleh membangunkan Zia, karena kasih sepertinya Zia sedang sakit. Tetapi yang sempat membuat Regan terpaku di ambang pintu, dia melihat Aslan yang tidur memeluk Zia yang juga tertidur berbantalkan lengan Aslan.
Setelah sholatpun dia mencari Aslan kemana-mana ternyata Aslan kembali menemani Zia, meski hanya duduk menatap gadis itu tidak lagi tidur disampingnya.
"Kamu menatapku dengan tatapan begitu, aku akan memakan semua chicken wings kesukaanmu malam ini" ancam Aslan dan kembali memasukkan sesendok nasi kedalam mulutnya menatap Regan tajam.
Ancaman itu bukan hanya mempengaruhi Regan tetapi Abra juga, dia berhenti mengunyah menatap Aslan dan Regan bergantian lalu mengerutkan kening tidak mengerti apa yang terjadi diantara mereka.
Tatapan Regan beralih pada Zahra yang sedang menyuapi Bilqis, "kenapa Bunda tidak marah As dan Zia dikamar berdua?, mereka tidur bersama loh Bun, pelukan juga."
Aslan gelagapan melirik Zia dan melempar buah didepannya pada Regan.
"As!" tegur Zahra, "jangan lempar makanan Bunda tidak suka."
"Maaf Bun" Aslan mendelik pada Regan.
"Kenapa marah?, aku mengatakan hal yang benar, mau bukti?" Regan mengangkat hpnya dan Aslan dnegan cepat berdiri merampas hp Regan.
Melihat Aslan yang salah tingkah membuat Regan akhirnya tertawa ngakak melihatnya.
"Ar" tegur Abra.
Regan menyengir kembali menatap Zahra, "aku gak ngapa-ngapain sama Emma, Bunda marah loh Bun, kenapa pada mereka enggak?."
"Karena mereka keponakan dan paman."
Jawaban Zahra membuat Zia terpaku, padahal dia sempat tersenyum melihat interaksi Aslan dan Regan sejak tadi.
Terdengar dentingan sendok dan piring, menarik perhatian semua orang kecuali Zia yang masih termenung, ternyata Alaric dalangnya.
"Bukannya mereka mantan pacar?" tanyanya tak percaya menatap Zia dan Aslan bergantian lalu pada Regan yang menatap kelain arah. "Tapi kalian seperti mantap pacar yang belum move on?, bukannya dalam agama kalian tidak memperbolehkan paman dan keponakan menikah?."
"Mereka bukan keluarga kandung"
Sahutan Javir kali ini kembali menarik perhatian semua orang, tetapi tidak dnegan Zia yang masih terdiam menatap makanannya.
"Wah ... kamu membongkar rahasia" seru Regan.
Javir mengangkat kepalanya menatap Aslan, "kita semua tahu dan kalian menganggap Alaric sebagai saudara, jadi tidak masalahkan Alaric tahu?."
Aslan menatap Javir dengan rahang mengetat, "kamu tahu dari mana?" desisnya.
Mendengar suasana menjadi hening Javir menoleh menatap semua orang lalu pada Zahra dan Regan, "saat Kakek Arya meminta Papa untuk mengawasi mereka berdua dan ..." Javir menggantungkan nada bicaranya sambil menggerakkan kesepuluh jarinya.
"Kamu mengheack komputer Om Malvin?" tebak Regan.
Javir mengangkat bahu dan kembali memengang sendok dan garpunya, "semua data orang yang mendekati kalian harus dilaporkan pada Kakek Arya."
__ADS_1
"Javir juga heacker seperti Malvin dan Ar?" tanya Zahra dengan nada tak oercaya.
Mata Abra langsung melirik Alaric yang tidak tahu satu kelebihan Regan, dan ternyata Alaric tersenyum penuh kagum pada Regan membuat Abra menghela nafas pasrah.
"Saya masih dibawah Papa tetapi diatas Regan" jawab Javir dengan bangga melirik Gea.
"Dan dia juga yang mengajarkan Ar main saham" buka Regan.
Gea tersenyum, begitu pula dengan Regan. Melihat mereka bsrdua tersenyum Javir menjadi curiga.
"Setelah makan ada yang ingin tante bicarakan denganmu" ucap Zahra dengan tatapan tajam dan bernada serius.
Regan semakin tersenyum lebar dan tersenyum memiringkan kepalanya, "kamu membuka rahasia As, maka aku juga."
*-*
"Tulis nominal berapa harga saham yang akan anda jual"
Prabu menyodorkan selembar kertas putih pada pria separuh baya didepannya.
Dia benar-benar pusing sejak tadi pagi, beberapa investor Jaya Indah ingin menjual saham mereka pada sembarang orang, dan dia dengan cepat mendatangi mereka satu persatu untuk membeli saham mereka secara langsung saat itu juga sebelum jatuh ketangan orang lain.
Semua gara-gara Vira yang membuka identitasnya dan apalagi yang dikatakan wanita itu sehingha mereka berbondong-bondong ingin menjual saham mereka.
"Dimas kirim itu pada Pak Eko"
Dimas, orang kepercayaan Prabu langsung memfoto kertas yang disodorkan Prabu dan mengirimnya pada Pak Eko.
"Selasaikan" perintah Prabu pada Dimas lalu berdiri dari duduknya, "terima kasih atas kerja samanya selama ini dan saya harus pergi sekarang pernisi."
Prabu keluar dari ruangan itu, dia benar butuh sesuatunyang dapat melepas penatnya.
Ting ...
Ada pesan masuk, Prabu dengan cepat mengecek M-Bankingnya dan mengacak-acak rambutnya kesal melihat nomila yang tersisa direkeningnya.
Benar-benar kesal Prabu sampai menendang ban mobilnya dan merasakan kesakitan sendiri setelahnya.
"Dasar wanita gila" desis Prabu hingga mengetatkan rahangnya menahan diri agar tidak berteriak meluapkan amarahnya.
"Hehehehe ... sabar Bos"
Tiba-tiba Dimas sudah berdiri disamping Prabu.
"Sekarang bukan waktunya untuk senyum-senyum" omel Prabu.
Dimas tetap saja tersenyum, "ratusan jutah mah kecil untul Bos, masih ada properti kan diluar negri?, tinggal jual saja."
Dengan entengnya Dimas mebgatakan jual membuat Prabu semakin kesal dan menggeplak tengkuk Dimas sebelum berjalan masuk kedalam mobil.
"Yang pasrah dan Ikhlas Bos, nanti kalau Jaya Indah sukses uang Bos akan kembali lagi. Bos juga sudah menjadi pemilih saham terbesar, yang artinya Bos the real Bos Jaya Indah sekarang."
Kaki Prabu menendang-nendang sandsran kursi Dimas, semakin kesal rasanaya mendengar ceramahan Dimas.
*-*
.
🙏*Maaf baru Up 😭
Karena ada masalah jadi hp harus d restart, sempat lupa Email loginnya 😵 dan semua yang aku ketik hilang 😱
Sekali lagi maaf ya bagi* Readers yang sudah nunggu Up One More Chance *sejak pagi 😢
__ADS_1
Love you and Thanks You 😙*
Unil Muaaa