One More Chance

One More Chance
Diskusi


__ADS_3

"Kenapa ngambil duluan?."


"Karena Ayah juga suka chicken wings."


"Bunda masak banyak Arz."


Abra diam dia dekat tangga, mendengarkan obrolan Zahra, Gea, Aslan dan Regan sejak tadi.


Situasi seperti ini yang dia impikan sejak pertama memantapkan hati untuk menikah dengan Zahra, disambut kehangatan keluarga dipagi hari yang akan membuatnya bersemangat memulai akitifitas.


"Gea panggil Ayah ya?."


Terdengar suara langkah Gea yang mulai mendekat, Abra melangkahkan kakinya juga mendekati dapur.


"Ayah," Gea berlari kecil menghampirinya. "Sarapan dulu, semuanya Bunda yang masak."


Abra hanya mengangguk dan mengikuri Gea dari belakang.


Semua sudah duduk melingkari meja makan, hanya tersisa kursi di ujung meja tempat biasa Kakek Arya duduk.


"Aku mengajak Tofa dan Nanda juga, tidak apa-apa?," tanya Zahra menatap Abra.


Membuat Abra tersadar dari lamunannya, dia tersenyum dan mengangguk.


"Hari ini masih tidak kekantor kan?," tanya Zahra sembari mengambil piring Abra dan melayaninya seperti dulu. "Karena ada yang mau kita bicarakan sebelum makan."


Tidak ada tanggapan dari Abra, dia masih memperhatikan Zahra yang ngambil beberapa lauk dan meletakkannya diatas piring Abra.


Zahra meletakkan piring yang sudah berisi nasi dan beberapa macam lauk. "Kamu gak dengerin ya?," tanya Zahra melambaikan tangan didepan wajah Abra.


"Hah?, oh tidak." Abra gelagapan, dia menyembunyikannya dengan meminum air. "Aku masih bisa menyerahkan semua ke Sam, lagi pula sekalian besok juga libur."


"Ok, setelah makan kita bicara di ruang kerja Opa."


Abra memgulum senyumnya, dia tidak sabar menunggu apa yang akan mereka bicarakan nanti.


Sepertinya hari ini dia disambut dengan kebahagiaan.


*-*


Selesai makan Abra membuntuti Zahra keruang kerja Kakek Arya. Zahra membuka pintu dan membiarkan Abra masuk terlebih dahulu.


Zahra berjalan untuk duduk di sofa padahal pintu belum ditutup, Abra hendak berjalan menutup pintu tetapi Regan masuk dan berjalan begitu saja melewatinya duduk didekat Zahra, disusul Gea dan Aslan yangbterakhir dan menutup pintu.

__ADS_1


Kegirangan dan kebahagiaan tadi menghilang, dia kira dia akan berdua dengan Zahra, dia kita kita yang Zahra maksud .... Abra hanya bisa mendesah pasrah dan duduk di sofa bersama mereka.


"Kita akan membahas Arz akan melanjutkan pendidikan kemana," Zahra membuka pembicaraan apayang akan mereka bahas. "Semalaman aku, Arz, As dan bahkan dibantu Gea tidak bisa menemukan titik temu."


"Sudah ada, tapi Bunda yang selalu overthinking. Sesuai wasiat kakek dia yang akan mewakilkan Arz ...."


"Tapi Bra juga pegang perusahaan Gea dan ASG Security. Opa sudah menyerahkan perusahaan keamanan juga." Potong Zahra.


"As setuju dengan apa yang dikatakan Arz, Kakek Opa pasti sudah memikirkannya sebelum memutuskan ...."


"Kakek!," interuksi Gea. "Jangan Kakek Opa gak enak didenger."


Aslan melototi Gea. "Anak kecil diem."


"Gea bukan anak kecil, Kak Arz seumuran dengan Gea ya kak As."


Kepala Abra menjadi berdenyut, membahas Regan melanjutkan pendidikan dimana, pinda ke perusahaan, pinda ke Kakek Opa, sekarang dia tidak bisa membedakan antara panggilan As dan Arz untuk Aslan dan Regan yang hampir mirip.


"Bisakah kalian berhenti berdebat," pelan, penuh tekanan namun memancarkan kewibawaan membuat semua terdiam menatap Abra. "Pertama sebelum berbicara masalah pendidikan Regan selanjutnya, bisakah kalian memanggil Regan dengan panggilan Regan, Adam atau Ar saja?."


Merasa Zahra menatapnya dengan tajam Abra melirik Zahra. "Karena aku kebingungan antara Arz dan As, Ara."


Zahra akhirnya menghela nafas pasrah.


Semua mengangguk setuju.


"Gea sudah menentukan SMA dimana?," tanya Abra.


Kepala Gea mengangguk cepat. "Sudah Ayah."


Abra mengangguk lalu menatap Regan. "Ar mau kuliah dimana dan jurusan apa?," tanya Abra dengan suara bossynya.


"Kedokteran," penuh keyakinan Regan menjawabnya.


Abra menatap Regan dengan tajam, sosok kepemimpinannya kali ini dapat Regan lihat dengan jelas. "Kamu adalah ahli waris Kakek, Perusahaan kami bergerak di bisnis."


"Aku tahu."


"Lalu kenapa memilih jurusan kedokteran."


"Aku bisa mendapatkan dua ilmu sekaligus."


Semua yang ada disana saling pandang setelah mendengar perkataan Regan barusan.

__ADS_1


"Kamu langsung mau kuliah dua jurusan?," tanya Aslan.


Kepala Regan menggeleng.


"Ar," Zahra menyentuh telapak tangan Regan. "Kuliah gak main-main sayang."


Regan tersenyum menggenggam tangan Zagra. "Ar tau Bun"


"Lalu yang kamu maksud dua ilmu sekaligus?" tanya Abra mematap Regan tajam menunggu jawaban.


Regan menatap Aslan. "Aku kedokteran dan As kuliah bisnis, jika ada waktu luang As akan mengajarkanku."


"Hah!" Aslan tercengang.


"memangnya kamu bisa hanya mendengarkan penjelasan dari Aslan?," Abra meragukan jawaban Regan.


"Ya" jawab Regen penuh keyakinan. "Otak As bisa diandalkan begitu juga dengan otakku, aku pastikan suatu saat pasti mengambil alih perusahaan. Tetapi setelah aku menyelesaikan masa pemdidikan."


"Ar" panggil Zahra. "Mengambil kedokokteran membutuhkan bertahun-tahun sekolah, Abra sudah mengurus perusahaan Gea, ditambah perusahaan ASG security, masih mau kamu tambah perisahaan GG Com?."


Regan tersenyum lembut pada Zahra dan membalas tatapan Abra. "Anda yakin kan kalau saya bisa kuliah kedokteran sekaligus menejemen bisnis meski secara tidak langsung?."


"Ya" Abra menjawab dengan yakin.


Senyun Regan swmakin bergembang, dia kembali menatap Zahra lembut. "Jika dia percaya padaku, maka aku juga percaya padanya. Aku tidak akan mempunyai otak seperti sekarang ini kalau bukan keturunan orang dekan otak yang sama."


Meski Regan mengakuinya sebagai Ayah secara tidak langsung, Abra sudah puas.


Gea tersenyum juga menatap Abra yang menahan senyumnya menatap Zahra dan Regan bergantian.


"Selama ini sukses menjalankan tiga perusahaan, maka enam sampai sepuluh tahun lagi tidak akan masalah bukan?." Regan menatap Abra dengan senyum.


Abra menganggukkan kepala. "Ok.


*-*


.


.


.


Unik_Muaaa

__ADS_1


__ADS_2