
"Mau kemana?"
Emma berlari dari dalam kamarnya menuju Regan yang baru membuka pintu, Ema berjinjit melingkarkan keduantangannya di leher Regan sehingga Regan merasa keberatan merendahkan tubuhnya.
"Mau ke super market" Regan menatap mata Emma.
Ini pertama kali dia melihat warna mata Emma abu-abu, ditatap tajam untuk yang pertama kalinya oleh Regan Emma mengerjab-ngerjabkan mata.
"Kenapa natap aku gitu?" tanya Emma salah tingkah melepaskan rangkulan tangannya di leher Regan.
"Baru sekarang lihat mata kamu dari dekat"
"Kenapa cantik ya?"
Regan mendorong puncak kepala Emma sehingga Emma melangkah mundur beberapa langkah, "enggak biasa saja."
"Ih" rengek Emma manja.
Tidak menghiraukan rengekan Emma, Regan kembali melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Belum juga menghidupkan motor, Emma sudah lebih dulu naik dan memeluk Regan dari belakang.
Regan hanya bisa pasrah, dia menjalankan motornya ke super market terdekat.
Emma yang menoleh pada kaca spion motor, semakin mengeratkan pelukannya hingga mereka sampai dinparkiran super market tujuan Regan.
"Masuk duluan ya, nanti aku nyusul" ucap Emma dengan senyum lebarnya.
Regan yang tidak merasakan kecurigaan hanya mengangguk dan masuk lebih dulu.
Waja emah berubah datar, mengangkat dagu menatap mobil yang terparkir tidak jauh darinya berdiri. Dengan langkah pasti Emma berjalan kearah mobil itu, mengetuk mobilnya dengan senyum lebarnya.
Kaca pintu mobil mulai turun perlahan, tangan Emma dengan cepat menarik kerah baju salah satu diantara dua orany yang sedang duduk di dalam mobil itu.
*-*
Prabu berdiri untuk bersalaman dengan kliennya, malam ini kliennya dari Surabaya memintanya untuk menemani mereka makan malam, saat keluar dari ruangannya Fatim baru keluar dari lift dan Prabu langsung menarik lengan Vira untuk ikut dengannya, terlebih dia mempunyai urusan dengan wanita itu.
"Duduk" perintah Prabu dengan nada tegas.
Vira malah tersenyum lebar, "ini sudah malam saya harus segera pulang."
Prabu dengan santai duduk melirik jam tangannya. "Masih jam delapan, saya rasa belum malam untuk orang pecinta dunia malam seperti anda."
Kening Vira mengerut, tak mengerti dengan apa yang dikatakan Prabu.
"Bukannya anda sudah biasa dengan dunia malam hingga lupa diri, lupa jalan pulang, bahkan sampai lupa jika anda sekarang sudah bekerja."
Vira masih terdiam.
"Kenapa dua hari lalu anda tidak bekerja ?, tidak memberi kabar pada pihak HRD dan ..." Prabu melipat kedua tangannya didepan dada menatap Vira tajam, "dua hari ini menjaga jarak dari saya, bahkan tidak menghiraukan panggilan HRD."
Vira duduk dengan anggun, kedua tangannya di atas pangkuannya, tersenyum sesopan mungkin pada Prabu.
"Saya bagun kesiangan, lalu jam sebelas saya baru ingat jika saya sudah bekerja. Jadi karena sudah jam sebelas sekalian saya tidak masuk," jelas Vira dengan suara lembut. "Saya mohon maaf jika bapak merasa saya menjaga jarak dari bapak dan tidak menghadap HRD, karena saya sedang sibuk dengan tugas yang bapak berikan." Vira menggenggam kedua tangannya diatas meja dan memainkannya.
Prabu tersenyum lebar, Vira yang gugup juga ikut tersenyum lebar menahan diri. Perlahan tangan Prabu terangkat dan bertepuk tangan.
__ADS_1
"Bravo" seru Prabu, "kebohonganmu sangat detail."
Vira mengerutkan kening sambil tersenyum, "maaf?" bertingkah seolah tak mengerti dengan perkataan Prabu.
"Jika kamu berbohong dengan sempurna maka saya yang akan jujur sejujur-jujurnya," Prabu duduk degan tegap.
"Jam sepuluh, teman saya meminta saya untuk menemuinya di salah satu club malam, disana saya melihat seorang wanita" Prabu menekan kata Wanita. "Sedang dugem, mabuk dan hampir dimanfaatkan pria hidung belang." Prabu menghentikan ceritanya menunggu reaksi Vira.
Mata Vira melirik kekanan dan kekiri.
"Saya membantunya, dia lupa siapa saya, saya tanya alamatnya dia jawab tidak tahu lupa jalan kanan atau kiri. Saya peringatkan dia jika besok dia bekerja tetapi dia marah-marah dan mengatakan Gue anak pemilik perusahaan Jaya Indah gak butuh kerja."
Menunduk seketika Vira menunduk berdecak kesal, jika Dia yang Prabu maksud adalah dirinya, maka selesailah sudah karena pasti Prabu juga mengantarnya untuk menginap di hotel berbintang itu.
"Apa perlu saya selesaikan cerita versi saya?" tanya Prabu santai.
Vira menyengir menggeleng pelan, sedetik kemudian wajahnya berubah menatap Prabu judes membuat Prabu mengerutkan kening.
"Terus kalau lo tahu kenapa masih nanya?" tanya Vira dengan nada sedikit membentak.
Mata Prabu membulat mendengarnya, rahangnya mengetat mendengar Vira berbicara tidak formal padanya dengan nada tinggi.
"Mau lo apa?, mau dengar gue bilang terima kasih? padahal lo pasti ngapa-ngapain gue juga. Mau gue gantiin uang lo yang udah nyawa hotel berbintang?, atau memang ada masalah dengan gue?. Gue ..."
Krak ...
Kursi yang Vira duduki Prabu tarik hingga begitu dekat dengannya, Vira yang terkejut membulatkan mata dan spontan meletakkan kesua tangnya pada pundak Prabu menahan diri agar tidak terjatuh.
Mata Prabu memerah menatapnya, mata mereka saling tatap dari dekat, detak jantung Vira terhenti beberapa detik sebelum mulai berdetak kencang.
*-*
Emma tidak menyusulnya masuk ke super market sampai Regan selelsai belanja, di motor pun tidak ada Emma. Regan berjalan mencari Emma sambil mengeluarkan honya untuk menghubungi gadis itu, tetapi langkahnya terhenti kala mendengan suara yang dia yakini adalah milik Emma.
Penuh kekhawatiran Regan berlari semakin mendekati suara itu dan langkahnya terhenti tepat depan gang, kaki Regan seakan terpaku, dia terdiam menatap Emma yang sedang berkelahi dengan dua pria.
Dia pria itu berakhir dengan luka tusuk dipaha mereka, tatapan mata Emma begitu dingin, bengis dan tajam, tatapan mata yang tidak pernah Regan lihat sebelumnya dari Emma yang selalu bersikap manis dan manja didepannya. Regan seakan melihat sifat asli Emma, menggenggam kesua tangannya.
"Regan"
Regan tetap terpaku meski mendengar Emma memanggil namanya, hingga saat Emma berjalan mendekatinya Regan melangkah mundur.
"Aku selesai belanja ayo pulang" ucapnya berbalik badan dan pergi.
Regan takut padanya, Emma tersadar akan hal itu.
Tangan Emma mengerat dan tersadar jika dia masih memegang pisau ditangannya, Emma tersenyum dingin.
"Aku pulang dengan mereka" ucap Emma berjalan dengan langkah cepat melewati Regan menuju mobil bawahan Enzo yang selalu mengawasinya.
*-*
"Aku ada acara nanti malam, mau ikut?"
Jenifer pacar Aslan, seorang model yanh dia temui di studio Rebet satu bulan yang lalu.
__ADS_1
Tangan Jenifer merangkul lengan Aslan mesra, beberapa orang memperhatikan mereka berdua yang baru saja masuk kestudio.
"Kalau mabuk-mabukan aku tidak mau" Aslan berdiri menghadap Jenifer.
Senyum Jenifer terukir, tangnya membelai wajah Aslan. "Kali ini tidak beb, aku sudah tahu mana yang kamu suka dan hindari."
Alis Aslan naik sebelah menatap Jenifer tidak percaya, Jenifer tertawa kecil mengecup bibir Aslan.
"Aku juga tahu bahwa kamu menyukai the pack kiss then wet kiss."
Aslan tertawa kecil, "baik aku ikut sekarat waktumu untuk bersiap siap take shoot."
Jenifer memeluk Aslan sebentar sebelum meninggalkannya untuk bersiap sebelum pengambilan gambar.
Tatapan mata Aslan yang mengikuti Janifer terpaku pada sosok perempuan yang dia tidak percayai bisa bertemu dinegara ini.
Zia Valery berdiri menatap Aslan dengan tatapan kosongnya. Tidak ada yang saling mendekat dan menyepa hingga Unna menepuk pundak Zia menyadarkan Zia.
"Hai uncle" sapanya dengan suara yang jelas-jelas tercekat.
"Hai" balas Aslan seakan tidak merasakan apapun.
*-*
Semua barang sudah di keluarkan dari dalam mobil, Gea menatap kearah bandara dengan hati gundah. Mereka akan bertemu Regan, Aslan dan Javir.
Dari kemarin Gea lebih banyak diam dan berfikir bagaimana dia akan bersikap nanti?, pastinya bukan pada Aslan dan Regan.
"Gea ada yang ketinggalan?" tanya Abra yang melihat Gea masih berdiri didekat mobil.
"Tidak ada" jawab Gea dengan senyum.
"Kalu begitu ayo."
Gea mengangguk berjalan dibelakang Abra dan Zahra yang mendorong stroller bayi mereka. Dia harus siap, bagaimanapun tidak selamanya dia bisa menghindari masalah.
*-*
.
Hallo Readers ...
Terima kasih pada seluruh Readers *yang telah dukung karya Author yang jauh dari kata sempurna ini 😅
Semoga sejauh ini* One More Chance *bisa menghibur kalian 😊 Aamin ...😇
Mohon untuk tetap mendukung 🔖🎁👍 karya Author ya ...
Tinggalkan Comment 💬 juga agar Author bisa tahu gimana tanggapan kalian 😄 terkadang commen kalian sangat membantu juga untuk mendapatkan ide kelanjutan ceritanya loh 😄 hehehe ...
Terima kasih 🙏
Love you 😙*
Unik Muaaa
__ADS_1