
Adzan sebentar lagi berkumandang, Regan dan Mila sudah berdiri diluar rumah menunggu yang lainnya.
Gana yang pertama keluar, disusul Rio dan Gea baru mereka berjalan bersama keluar dari pekarangan rumah.
Abra berdiri didepan pagar menunggu Zahra yang menutup pintu dan pagar. Langkah Abra pelan membuntuti mereka dari belakang, kembali berandai-andai jika saja yang sedang dia tatap adalah keluarga besar mereka.
Tepat ketika adzan berkumandang Abra menghentikan langkah kakinya dan berdo'a semoga saja dia, Zahra, Regan dan Gea kembali bersama. Semoga Allah mempercepat meluluhkan hati Zahra dan Regan untuk menerima dirinya dan Gea.
"Kenapa berhenti, ayo cepat." Zahra memanggil sambil memberi isyarat dengan tangannya.
Zahra menghentikan langkah kakinya setelah sadar jika Abra tertinggal jauh dibelakang mereka.
Regan, Rio, Mila dan Gana sudah berlari terlebih dahulu berlomba-lomba siapa cepat sampai dimasjid.
Abra tersenyum kembali melangkahkan kakinya menghampiri Zahra dan Gea yang juga berhenti melangkahkan kakinya tidak jauh dari Zahra berdiri.
"Gak terbiasa ke masjid ya?, udah denger adzan bukannya keburu-buru malah diem, mau jadi patung?" Zahra mengomel sambil melangkahkan kakinya mendahului mereka.
Abra merangkul punda Gea sambil tertawa kecil. "Gak punya temen buat ke masjid, sholat aja bolong-bolong soalnya gak ada yang ngingetin apa lagi jadi makmum." Abra sengaja berteriak agar Zahra mendengar.
Zahra menoleh sejenak mengacungkan tinjungnya membuat Gea dan Abra tertawa bersama.
"Apa yang Ayah pikirkan tadi?" tanya Gea.
Abra menatap Gea dengan senyum lebarnya, mengelus puncak kepala Gea dengan sayang. "Berandai-andai sekaligus berdo'a, kita cepat menjadi keluarga dan mempunyai keluarga besar."
Gea menjauhkan tubuhnya dari Abra. "Memangnya Bunda mau punya banyak anak?."
Abra tertawa mendengarnya. "Aaminin sayang ...."
"Aamin ...."
*-*
Selesai dzikir satu persatu orang berdiri hendak pulang, Abra masih duduk menatap dedepan menenangkan hatinya sebelum berdiri dan berbalik badan hendak melihat wajah Zahra di shof wanita.
Dishof wanita Ibu-ibu mengelilingi Zahra dan Gea hingga Abra sulit melihat Zahra.
"Dia beneran itu suami kamu?."
Zahra hanya tersenyum menjawab pertanyaan uang kembali ibu-ibu ulang.
__ADS_1
"Kenapa awal-awal dia kesini tidak tidur dirumahmu?, ini anak kamu juga?, kenapa dia gak mirip kamu atau suami?."
Ibu Endang, wanita yang sudah berumur dan cerewet, bahkan satu desa pun juga tau bagaimana tabi'at beliau.
"Atau jangan-jangan dari istri kedua?." Salah satu Ibu ikut bertanya.
"Semalam kamian tidur satu rumah kan?, bilang sama pak RT?."
Regan melangkahkan kakinya dengan cepat mendekati Zahra, dia menerobos kerumunan Ibu-Ibu menarik Zahra untuk berdiri begitu pula dengan Gea.
Ibu-Ibu mulai memberi ruangan pada mereka, Regan mengambil sajadah Zahra dan Gea setelah itu menatap wajah ibu itu satu persatu.
"Ini masjid bukan pasar, jika ibu penasaran kami tunggu dirumah takmir masjid mau ngaji. Permisi."
Regan menarik tangan Zahra dan Gea keluar dari masjid.
Abra menghela nafas mengikuti langkah mereka dari belakang, hingga tidak jauh dari masjid Zahra seakan dicegah seseorang dan mereka digiring masuk kedalam rumah, Abra mempercepat langkahnya menyusul Zahra dan anak-anak.
"Selamat pagi pak silahkan masuk."
Sepertinya pemilik rumah yang menyambutnya, bahkan ada seorang bapak-bapak berumur sudah duduk diruang tamu bersama Zahra dan anak-anak.
Abra masuk duduk dikursi terdekat berpisah dari Zahra dan anak-anak yang duduk disofa panjang.
Mereka saling bersalaman dan duduk dikursi yang masih kosong diantara Abra dan bapak tadi.
"Begini bapak, Saya Eko sebagai ketua RT dan ini yang baru datang wakil saya pak Joni. Sedangkan beliau ketua RW pak Selamet." Pak Eko memperkenalkan diri dan yang lainnya.
"Saya Abra pak" Abra memperkenalkan dirinya juga.
Pak Eko tersenyum sopan. "Maaf sebelumnya karena saya juga melibatkan anak-anak. Sebenarnya keluhan warga ini sudah dari beberapa bulan yang lalu, tetapi kami tidak enak hati pada Zahra, terlebih anda juga tidak sampai menginap dirumah Zahra.
Tadi malam beberapa orang melapor jika anda tidak keluar dari rumah Zahra yang berarti anda menginap. Jadi kami sebagai ketua RT dan RW meminta kejelasan hubungan kalian dari anda dan Zahra secara langsung, karena selama ini kami hanya mendengar dari Rio, Mila dan Gana kalau sebenarnya anda Ayah Regan itupun bahkan ada yang menambah-nambahkan cerita."
Abra hanya diam mendengarkan Pak Eko berbicara sampai selesai lalu melirik Zahra yang hanya diam seakan pasrah, berbeda dengan Regan yang menatap kearahnya dengan tatapan tajam tanpa ekpresi.
"Saya suami Zahra" ucap Abra penuh keyakinan sambil menatap Regan sebelum kembali menatap para bapak-bapak didepannya. "Itu yang saya yakini dan pernikahan kami masih terdaftar tanpa ada penceraian. Ada malasah pribadi yang terjadi sehingga kami berpisah belasan tahun dan baru bertemu beberapa bulan ini."
"Jadi Regan bukan anak diluar nikah seperti yang digosipkan ibu-ibu selama ini Pak." Ratih, istri pak Eko berkomentar sambil duduk di samping Zahra.
Abra mengepalkan tangannya, setiap kata yang dikatakan Bu Ratih barusan menyulut amarahnya.
__ADS_1
Terlihat Zahra yaang menghela nafas dan rahan Regan yang mengetat menahan dirinya, meski perkataan itu berulang kali mereka dengar tetapi tidak selalu saja dapat menyulitkan api amarah.
"Pernikahan kami sah secara agama dan negara, ada surat nikah dan kartu keluarga." Suara Abra sedikit bergetar menahan amarahnya.
"Ya, di Kartu Keluarga Zahra sepertinya nama kepala keluarga Abraham Ganendra, apa nama Bapak Abraham Ganendra?." Pak Joni mencoba mengingat-ingat.
"Ya, nama saya Abraham Ganendra."
"Kalau kalian masih suami istri kenapa awal-awal anda datang tidak menginap dirumah Zahra?." Pak Selamet mulai angkat bicara.
Abra menoleh pada Regan sambil tersenyum kecil. "Karena saya menghormati mereka berdua," Zahra dan Regan menatap Abra bersamaan. "Mereka butuh waktu untuk menerima saya dikehidupan mereka" Abra memutuskan tatapan mereka. "Jadi saya mengalah. Terlebih ...." Abra mengulum senyumnya. "Anak saya melarang saya mendekati Bundanya sebelum kami menikah lagi meski setatus kami masih suami istri."
Bapak-bapak dan Ibu Ratih tertawa mendengarnya, sedangkan Regan menatap Abra dengan wajah cemberut.
Ketiga temannya mengulum bibir menahan tawa, tetapi takut membuat Regan marah nanti.
"Mungkin maksud Regan anda mengulang mengucapkan ijab qobul Pak, kalau di sini namanya memperbaharui pernikahan." Pak Joni mengucapkannya sambil tersenyum kecil.
"Kalau mau memperbaharui pernikahan sekarang, kebetulan Pak Salamet dulu seorang penghulu di KUA" celetuk Pak Eko.
Senyum lebar Abra perlahan menghilang, Zahra menyadari hal itu karena sejak tadi dia menatap Abra.
Teringat kembali janjinya yang tidak akan meminta kesempatan dan memaksa Zahra untuk menerima dan memaafkannya.
Jemari Abra saling bertautan. "Saya tidak akan memaksa mereka menerima saya, karena disini saya yang bersalah" ucap Abra lirih. "Kalau begitu kami permisi karena harus kembali berkemas dirumah." Abra berdiri terlebih dahulu. "Jika warga tidak percaya kami akan membawa surat nikah, kartu keluarga dan KTP saya."
"Tidak usah Pak, kartu keluarga Zahra sudah ada kok" tolak pak Eko.
Abra bersalaman pada satu persatu saat giliran pak Salamet, pria itu menggenggam tangannya erat dengan senyum yang tulus beliau berkata. "Semoga setelah pinda ke Jakarta kalian kembali rukun dan masalah diantara kalian selesai. Saya do'akan dari sini" Penuh ketulusan
"Terima kasih."
Abra kembali mengingat sosok Kakek Arya beberapa detik dalam diri Pak Selamet, setelah beliau mengatakannya penuh ketulusan.
*-*
.
.
.
__ADS_1
Unik_Muaaa