One More Chance

One More Chance
This Chance is End


__ADS_3

Berkas-berkas yang biasanya tersimpan dalam lemari hilang, bahkan buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) juga tidak ada dilemari si kembar maupun dilemarinya dan Abra.


Zahra mengelurkan baju si kembar satu-persatu tetapi tidak ada buku KIA si kembar, pada hal mereka harus imunisasi besok.


Fani dan Ayu masuk dengan membawa si kembar digendongan mereka, sejak tadi Zahra memasrahkan si kembar pada keduanya.


"Fani tahu gak buku si kembar dimana?" tanya Zahra sambil kembali memasukkan baju-baju si kembar kedalam lemari mereka.


"Tidak tahu Bun, terakhir Bunda simpan dimana?" Fani meletakkan Bilqis di baby box dan membantu Zahra mencari buku KIA si kembar.


Seingat Zahra dia meletakkannya di dalam tas bepergian si kembar tetapi dia mencarinya tidak ada.


Kepala Zahra menggeleng, "saya coba cari dikamar lagi ya," Zahra menggela nafas menatap si kembar. "Ayu minta tolong bantu Fani jaga si kembar ya?, karena besok mereka harus imunisasi dan bukunya gak ada."


"Iya Bun, saya senang jaga si kembar kok" ucap Ayu dengan senyum lebarnya.


"Terima kasih"


*-*


Pada hal Zahra sudah mencarinya dikamarnya dan Abra, dan sekarang dimana lagi dia harus mencarinya.


Zahra memgambil selimut dan menggelarnya dilantai, mengeluarkan seluruh baju dalam lemari hingga tidak tersisa tetapi tidak menemukannya juga. Langkah Zahra menuju lemari tasnya dan Abra, menurunkan tasnya dan milik Abra satu persatu mencari buku KIA juga tidak ada.


"Ada apa ini?" tanya Abra dengan suara baritonnya.


Semua baju berserakan, koper, tas juga berada dilantai. Tangan Abra mengepal mulai berfikir negatif, jika Zahra masih berniat meninggalkannya maka tanpa berfikir dua kali Abra akan benar-benar mengamuk kali ini.


"Hei, sukurlah sudah datang" ucap Zahra berjalan cepat menghampiri Abra. "Awal aku cari buku Kesehatan Ibu dan Anak milik Bilqis dan Chaka tapi gak ada dimanapun, bahkan berkas-berkas yang biasa disimpan dilemari juga ikut gak ada."


Zahra menjelaskannya sambil membantu Abra melepas jas dan mengambil tasnya.


"Buat apa?" tanya Abra sambil melonggarkan dasinya.


"Besok jadwal si kembar imunisasi" Zahra menghampiri Abra dan membantunya melepaskan dasi.


Abra menatap Zahra dalam, setelah Zahra melepaskan dasinya Abra baru melangkah mendekati nakas disamping tempat tidur mereka, mendorongnya kesamping yang ternyata ada brangkas di belakangnya.


Saat Abra menekan angka-angka untuk membuka brangkas, Zahra terdiam menatap punggung Abra dari belakang bukan pada angka-angka yang Abra tekan.


"Mencari ini?" tanya Abra sambil menunjukkan dua buku KIA pada Zahra.


Zahra langsung menghela nafas berjalan mendekati Abra dan mengambil buku KIA si kembar, "kenapa harus disimpan diberangkas?, apa berkas-berkas seperti Kartu keluarga, akta kelahiran semua kamu simpan di berangkas?."


Abra bukannya menjawab malah membuka bajunya dan berjalan menuju kamar mandi.


Zahra melempar buku ditangannya kekasur dan berjalan lebar menghadang langkah Abra. "Kita akan begini sampai kapan?" tanya Zahra menatap Abra tajam.


"Maksudmu?" tanya Abra.


"Aku merasa ada garis tipis yang kamu ciptakan, apa kamu masih tidak percaya aku tidak akan pergi?" tenang namun penuh penekanan.


Abra menatap kelain arah, "menjaga-jaga" ucap Abra santai.


Kaki Zahra melangkah kedepan sekamin mendekati Abra dan memeluk Abra erat, dia membenamkan wajahnya di dada Abra, menghirup aroma tuhuh Abra yang dia rindukan.


"Terserah kamu mau menyembunyikan segalanya terserah, kalau perlu uang dapur langsung kasih ke Bibi aku tidak mau pegang uang, kartu ATM, debit dan sebagainya. Belanja kebutuhan anak-anak nanti sama kamu biar kamu yang bayar. Dirumah tidak usah kasih mobil biar kemana-mana aku sama kamu. Kalau perlu Kartu Tanda Pendudukku juga kamu simpan di brangkas, asal jangan kunci aku dikamar kayak Enzo ngunci Hanna, cukup jadi tahanan rumah saja."


Diam-diam Abra mengulum senyum mendengas kata-kata yang keluar dari mulut Zahra sangat panjang, ini pertama kami mereka berdua didalam ruangan yang sama dan berbicara meski tanpa menatap wajah masing-masing.


"Sudah hampir seminggu kita balik dari liburan, kamu sibuk dengan kerjaan. Kamu datang aku sudah tidur, mau berangkat kerja hanya cium anak-anak." Suara Zahra semakin mencicit, "aku kangen" ucapnya serak.


Penuh keraguan tangan Abra melingkari pinggang Zahra membalas pelukannya, tangan Zahra semakin mengeratkan pelukannya.


Dapat Abra rasakan Zahra menarik nafas dan menghembuskannya berkali-kali, membuat Abra sedikit kurang nyaman, khawatir dan akhirnya merenggangkan pelukan mereka.


"Kenapa?" tanya Abra menangkup kedua pipi Zahra.


Zahra menahan nafas sambil menggeleng-gelangkan kepala, matanya memerah berkaca-kaca membuatnnya mengerjab-ngerjabkan kelopak mata berkali-kali, membuat Abra gemas melihatnya.


"Apa kamu menggodaku?" tanya Abra.

__ADS_1


Kepala Zahra langsung menggeleng kencang.


Abra terkekeh kecil, "lalu kenapa?."


Zahra menundukkan kepalanya dalam hingga puncak kepalanya menyentuh dada Abra, "ternyata benar" cicitnya. "Pada hal seminggu ini aku gak nangis kamu cuekin" suara Zahra semakin serak.


Abra ingin menjauhkan tubuh mereka tetapi Zahra malah semakin mempererat peluknnya.


"Ternyata benar apa Ara?"


Zahra semakin mengusel-usel kepalanya di dada Abra, "Kata As, beberapa wanita gampang ngambekan, gampang nangis dan tidak dewasa jika bersama dengan orang yang dia cintai. Tapi aku gak mau terlihat menye-menye, aku mau kelihatan tegar dan kuat buar terlihat keren."


Sontak jawaban Zahra membuat Abra tertawa lepas, dia sudah lama tidak tertawa seperti sekarang, apa lagi gemas pada tingkah Zahra.


Ternyata diamnya Zahra dia tidak perdulihan bukan karena Zahra pasrah dan akan pergi, pada hal sudah berhasil membaut kepala Abra nyut-nyutan dan kesal sendiri.


"Aku malah seneng kamu manja dan menye-menye padaku, tapi jangan pada yang lain apa lagi As dan Ar" Abra mengeratkan pelukannya.


"Aku kangen" ucap Zahra.


"Hemz ... me too Ara"


Zahra menciumi dada Regan dan menghirup bau tubuhnya, "aku kangen" ucapnya megulang pernyataannya lagi.


Abra kembali tertawa, dia menangkup kedua pipi Zahra memaksanya menatapnya, "aku juga kangen tapi siapa yang jaga Bilqis dan Chaka?."


"Fani dan Ayu" ucap Zahra dengan senyum lebarnya.


"Semalam kamu bilang apa ke Fani saat minta dia tidur di kamar si kembar?."


"Aku mau nemenin kamu kerja."


Abra tertawa lepas, mengambil hpnya dari saku celana, Zahra memeluk Abra dan menyandarkan kepalanya ke dada Abra menatap Abra dalam.


"Fani"


Kening Zahra mengerut mendengar suara serak Abra.


Setelah memastikan Abra memutus sambungan telfon dengan Fani, Zahra tertawa kecil menenggelamkan wajahnya didada Abra, "wahahahaa ... kamu bohong bilang pusing."


"Aku benar-benar pusing dan akan pingsan sebentar lagi"


"Aw!"


Abra membopong tubuh Zahra dan membaringkan Zahra ditengah-tengah kasur mereka. "Aku kangen, dan sekarang benar-benar pusing Ara" ucap Abra dengan suara serak menatap mata Zahra dalam.


😃 Skip ... Bip ... Bip ... 😃


*-*


Gea menghampiri kamar Bilqis dan Chaka, ternyata bukan Zahra yang memandikan mereka seperti biasa tetapi Fani.


"Bunda mana?" tanya Gea sambil menghampiri box bayi Bilqis.


"Pak Abra semalam pusing, jadi Bunda nemenin" jawab Fani tanpa mengalihkan perhatiannya pada Chaka.


Bilqis sudah berpakaian rapi didalam box bayi, Fani masih berkutat dengan Chaka yang susah untuk pakai baju.


"Bi aku bawa ya mbak" ucap Gea mengangkat Bilqis.


"Iya"


Gea membawa Bilqis keluar dari kamar mereka, duduk di ruang tamu dan menciumi pipinya yang semakin terlihat tembem membuat Bilqis terkekeh kegelian.


"Pagi sayang" sapa Abra menghampiri Gea dan mencium pipi Gea dan Bilqis.


"Pagi Ayah" balas Gea, "katanya Ayah sakit semalam.


Kedua alis Abra langsung terangkat, "ya" jawabnya singakat sambil mengalihkan pandangan sebelum berjalan kearah dapur.


"Bunda mana?" tanya Gea mengekori Abra.

__ADS_1


"Bunda ..." Abra berfikir sejenak, "sepertinya Bunda sekarang yang sakit."


"Oh ya?, Gea tengok Bunda Ayah pegang Bi dulu"


"Gak usah" larang Abra, "semalam Bunda jagain Ayah jadi sekarang lagi tidur, kasihan."


"Oh ... ok"


Diam-diam Abra menghela nafas lega, mulai tenang makan perlahan sambil melirik Gea yang masih menggendong Bilqis.


Dret ...


Hp Abra yang dalam saku bergetar, tanpa dia lihat siapa yang menelfon Abra sudah dapat menabaknya.


"Abra!" terdengar teriakan Zahra dari kamar.


Buru-buru Abra meminum airnya, "Bunda sepertinya bangun, sini Bi dengan Ayah dulu kamu makan sebentar lagi Ayah antar sekolah."


Tameng, dia membawa Bilqis dan Chaka meghampiri Zahra sebagai tameng dari amukan Zahra.


*-*


Zahra menatap Abra yang menggendong Bilqis dan Chaka didepannya.


Niat akan mengamuk karena sesuatu yang Abra buat semalam di lehernya menjadi lenyap saat melihat si kembar tersenyum bahkan Chaka merentangkan tangan ingin menggapainya.


Bukan mengambil Chaka, Zahra malah memeluk Abra yang menggendong si kembar anak mereka.


"Aku bahagia dan tidak menyesal memberikan kita satu kali kesempatan untuk bersama. Maaf ya sudah bersikap Childish" Zahra mendongak menatap Abra, "Menyesal tidak sudah meminta One More Chance?."


Abra tersenyum lebar, "aku bukan orang yang menyesali masa lalu Ara dan kamu tahu itu. Tidak pernah menyesal, sedikitpun tidak pernah menyesal memintamu memberikanku kesempatam. This is another One More Chance for us that God gave Ara, ayo kita gunakan kesempatan ini sebaik mungkin."


Zahra tersenyum, berjinjit dan mengecup bibir Abra.


"Ara ada anak-anak"


Mata Abra melotot menatap Bilqis dan Chaka bergantian, Bilqis mencium Abra dan menyengir. Sedangkan Chaka mengusek-ngusek wajahnya yang penuh bedak bayi pada jas hitam Abra.


"Ayo kita titipkan lagi mereka pada Fani dan Ayu" ucap Abra penuh keyakinan.


Plak ...


Zahra memukul lengan Abra sambil melotot, "Ayah!!!" tegurnya.


Dia masih kelelahan, semalam Abra seperti kesetanan. Sekali lagi mereka melakukannya Zahra yakin dia akan pingsan sebentar lagi.


.


.


.


The End


.


.


Author ucapkan banyak dan beribu-ribu terima kasih pada Reader yang telah memberikan ⭐ Rate 🔖 Vote 🎁 Hadiah 👍 Like and 💬 Comment untuk One More Chance


Terima kasih sudah menyambut baik karya pertama Author 😙


Semoga One More Chance dapat menghibur kalian para Reader kece semua 😙


Salam peluk hangat dari Author 😍


And maapkan diriku juga ya ... 😆


Dari pada gak lulus reviwe lebih baik Skip ... Bip ... Bip ...


Udah mau bye bye banyak-banyak tinggalkan 🔖🎁👍💬 ya ...

__ADS_1


Lop you 😙 Unik Muaaa


__ADS_2