One More Chance

One More Chance
Masalah Baru


__ADS_3

Masih pagi buta, namun Bandara sudah banyak orang. Bahkn dua orang gadis berhoddie, menjinjing tas berdiri menunggu antrian masuk ke dalam pesawat.


Setelah masuk dan duduk di dalam pesawat, Gea terdiam menatap pada langit yang masih abu-abu. Samalaman dia tidak bisa tidur, perasaan merasa bersalah terus menghantuinya meski dia mencoba menerka-nerka dan tidak mengetahui cerita sebenarnya yang terjadi.


Namun dari perkataan Kakek Arya dia menangkap jika dia dan Maminya sudah menjadi perusak rumah tangga Abra.


"Ge, gue ngantuk. gue tidur ya?". Yesi, anak Sam yang seumuran dengannya.


Gea hanya mengangguk mengiyakan.


"tidur, gak usah dipikirin".


Gea hanya tersenyum kecil dan kembali diam menarap keluar.


*-*


Sejak pagi pekerjaan Zahra baru selesai. Pesanan tiga ratus box kue baru saja diantar oleh Ika ke kota. Zahra meregangkan tubuhnya melepas penat, sejak tadi dini hari dia sudah mulai mempersiapkan adonan.


Melihat wajah Zahra yang begitu letih membuat Malvin menghela nafas. Dengan langkah penuh keyakinan dia mulai berjalan menghampiri Zahra.


Zahra memiringkan kepalanya melihat Malvin yang hanya tersenyum menatapnya. "ada yang bisa saya bantu pak?" tanyanya.


Dia mengenal Malvin sebagai Pak Avin pelatih karate Regan selama ini.


Malvin tersenyum. "Saya Yones Malvino" setelah menyebutkan namanya Malvin diam menunggu reaksi Zahra namun seperti Regan yang hanya diam menatapnya.


"reaksi yang sama" Malvin terkekeh kecil. "teman Abraham tapi bukan kaki tangannya".


Mata Zahra langsung membulat, menghrla nafas dan melangkah mundur seakan menjaga jarak.


Lagi-lagi Malvin terkekeh. "ah... kalian memang benar-benar Ibu dan anak".


"maaf...".


"bisa kita bicara di dalam" potong Malvin.


Zahra diam sejenak lalu berjalan terlebih dahulu masuk kedalam rumahnya. Isi kelapa Zahra seakan blank, dia diam menatap Malvin tanpa mengatakan apapun.


Bahkan Malvin menghela nafas. Mereka benar-benar serasi bahkan anak mereka tabiatnya sama, kenapa Si Pengecut itu tidak sadar. Malvin berguman sendiri dalam hati.


"Saya teman Abra, saat kalian menikah saya masib di luar Negri. Kita tidak sempat bertemu dulu".


Zahra tetap diam.


Malvin menghela nafas. "ah... gue gak bisa ngomong formal kalau sudah kenal" Malvin menyandarkam punggungbya kesandarn kursi.


"gak mau memintamu balik sama dia, gak mau membela dia atau apapun yang menguntungkan dia tujuan gue bukan itu".


Mata Zahra mengerjab-ngerjab mendengar perkataan Malvin yang terlewat santai.


"kalau lo mau balik sama dia gue bersukur gak balik juga gue malah bersukur biar dia tau rasa. Gue hanya mau bilang, bagaimanapun Regan anak Abra, keturunan Ganendra satu-satunya. meski sekarang Abra menjabat sebagai CEO tetapi yg akan menjadi ahli waris Regan".

__ADS_1


Malvin mengeluatkan amplop coklat dari tasnya dan menyerahkan kertas didalamnya pada Zahra. "itu wasiat Opa Arya kalau meninggal".


Zahra dengan ragu menerima dan membancanya kertas yang disodorkan Malvin.


"gue ngawasi kalian kurang lebih sejak tujuh tahun lalu, setelah lo kabur waktu Opa nemuin lo di Malang, dan gue kembali nemuin lo dalam waktu singkat" Malvin berdiri berjalan kearah rak tempat penyimpanan piala Regan. "gue baru pulang dari luar negri karena Abra minta tolong gue buat cari lo, tapi setelah Opa menceritakan semuanya gue malah gereget sama tuh anak dan balik mendukung Opa".


Zahra mulai menatap Malvin dengan temang.


"dia balik ke Jakarta pusing gak dapat info tentang lo dan Regan meski Opa sudah mempertemukan kalian. wahahaha... samapai akhirnya gue ngasih segala informasi yang dia butuhkan dan...." Malvin mengambil sesuatu di bawah salah satu piala. "memberikan rekaman saat kamu menceritakannya pada Regan, anak itu malah drop hahaha....." Malvin girang menceritakannya.


wajah Zahra kembali berubah tidak bersahabat. "kamu...".


"melanggar privasi" potong Malvin kembali berjalan dan duduk ditempatnya tadi. "aku tahu anakmu juga mengatakan hal yang sama tepo hari".


Malvin mengotak atik hpnya. "rekaman itu sangat berguna, gue berhasil membuatnya linglung, bertengkar dengan Opa dan dia drop dan tada... dia kembali gila kerja karena mau ketemu lo lagi. lo mau pergi lagi?".


Zahra diam tak menjawab.


"kalau lo mau kabur lagi gue gak mau bantu lagi, lagi pula Regan sebentar lagi ujian akhir, lo mau ngorbanin masa depan anak lo?. udahlah itu urusan kalian, gue kesini cuma mau ngambil ini" dia mengancungkan benda kecil yg dia ambil dibawah piala tadi. "beruntung Regan tidak menghancurkannya, karena ini mahal. Gue pulang Assalamu'alaikum...".


"wa'alaikumsalam".


Zahra menatap Malvin yang pergi begitu saja. Kepribadian Malvin dan saat dia menjadi pak Avin sangat berbeda.


Kembali Zahra menatap kertas ditangannya, bertanya-tanya bagaimana pria itu mendapat salinan surat wasiat Kakek Arya yang semestinya surat itu sangat dirahasiakan sampai beliau meninggal dunia.


*-*


jam sudah menunjukkan jam enam, Abra menatap tangga sejenak, biasanya Gea sudah turun duduk di meja makan dan membantu para pelayan menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


Namun pelayanpun tidak ada di dapur, Abra berjalan menaiki tangga, mengetuk pintu kamar Gea tetapi tidak ada jawaban. Perlahan dia membuka pintu takut membangunkan Gea, tetapi tempat tidur Gea sangat rapi seakan tak tersentuh.


Abra membuka hpnya mencari nama Gea, dan ternyata ada pesan beberapa hari lalu yang tidak sempat dia buka, Gea mengabarinya jika dia menginap bersama Yesi. Abra menghubungi Sam untuk memastikan karena tidak mungkin Gea menginap di sana sampai berhari-hari.


"apa?" tanya Sam dengan suara serak disebrang.


"kalau Gea sudah bangun tanyakan kapan mau pulang, dan bilang gue...".


"tunggu" sam memotong kalomat Abra. "bagaimana bisa gue tau Gea udah bangun ato belom?".


Abra mulai cemas, dia menghentikan langkahnya untuk turun dari lantai dua. "bukannya dia menginap dengan Yesi, nginep dirumah lo kan?".


"Yesi bilang dia yang ngineb dengan Gea, gue kira di rumah lo".


"mereka gak disini".


"jangan bercanda lo, Yesi izin sama gue dudah dua hari lalu".


Abra terdiam sejenak sebelum mematikan ponselnya dan berlari menuruni tangga.


Ponselnya berbunyi pesan dari Sam yang mengatakan akan menghubungi teman-teman mereka. Abra langsung masuk mobil dan menginjak pedal gas melajukan mobil secepat mungkin.

__ADS_1


Dia teringat waktu dia drop sesak untuk bernafas, Gea disana menenangkannya, dapat dipastikan anak itu juga mendengar apa yang dia dan Kakek Arya katakan.


Perasaan cemas menghantuinya, dia membunyikan kelakson mobil sesampainya didepan pagar markas AS, tanpa menutup pintu dia berlari mencari Nanda membuka satu persatu kamar dilntai bawah.


"NANDA!!!" teriaknya menggema sudah putus asa untuk membuka pintu satu persatu.


Beberapa pintu kamar terbuka, Nanda juga keluar berlari kecil, Abra melangkahkan kakinya menghampirinya.


"iya Bang?" tanya Nanda dengan suara serak bangun tidurnya.


Abra menarik kerah belakang baju Nanda memasuki kamarnya. "gue kasih waktu tiga menit untuk cuci muka".


Tofa yang sekamar dengan Nanda ikut terbirit-birit masuk kekamarmandi untuk mencuci mukanya. Teriakan yang menggelegar dan perintahbya barusan begitu serius tanda jika ada hal yang begitu serius yang harus mereka tangani.


Nanda dan Tofa berdiri tegap di depan Abra yang duduk di kursi ruang depan tempat rapat dengan meja panjang dan berpuluh-puluh kursi mengelilingi.


"cari Gea dan Yesi sekarang". perintahnya tegas dan dingin.


Nanda dengan sigap langsung membuka leptopnya duduk tidak jauh dari Abra berada.


"mereka menghilang sejak dua hari yang lalu".


"baik bang".


Ada perasaan sesal yang memenuhi dadanya. Dia tidak seharusnya mengabaikan Gea karena permasalahannya dengan Zahra. Bagaimanapun, Gea juga tanggung jawabnya meski dia bukan Ayah kandungnya.


Setelah melahirkan Gea, dia dan Vera sempat hidup seatap, namun kesibukan Abra mengurus perusahaan dan Zahra yang menghilang membuat Vera dengan terus terang meminta mereka berpisah dan akan menjtipkan Gea kepanti asuhan.


Setelah penceraiannya Vera kembali pergi keluar negri dan benar-benar menitipkan Gea di panti asuhan, Abra tidak tega kala melihat Gea yang masih memutuskan untuk membesarkan Gea dengan bantuan pengasuh.


Sampai saat ini Gea tidak tau cerita sebenarnya, dan seharusnya dia mengatakannya sebelum hal ini terjadi.


"belum ketemu?".


"Belum bang".


Abra berdiri tidak tenang "hubungi Malvin sekarang".


Nanda mengangguk mengiyakan.


Hanya Malvin satu-satunya harapannya kali ini, dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk menemukan Gea.


"Hai bro?" wajah Malvin muncul dilayar leptop Nanda.


"Gea dan Yesi menghilang sejak dua...".


"santai". Malvin memotong perkataan Abra. "dia disana".


*-*


Unique_Muaaa

__ADS_1


__ADS_2