
Regan berdiri di depan kampus menunggu Aslan yang tidak kunjung datang, dia bahkan mengirim pesan juga tidak Aslan balas. Apa dia harus pulang dengan taxi hari ini?.
Kembali Regan mengantongi hpnya, berjalan semakin dekat kejalan raya untuk bisa menyetop taxi. Belum juga tangannya terulur secara benar untuk menghentikan taxi, mobil sport merah berhenti tepat didepannya.
Cit ...
Si pengendara membuka atap mobilnya, tersenyum pada Regan sambil melambaikan tangannya.
Melihat si pengendara adalah Emma, Regan langsung menghela nafas lega akhirnya dia tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayr taxi, tanpa disuruh Regan membuka pintu dan masuk kedalam mobil Emma.
"Ada yang perlu saya bantu Sir?" goda Emma dengan senyum manisnya.
Regan menatap Emma datar, "mau beri tumpangan pulang tidak?."
Bukannya menjawab Emma malah tersenyum semakin lebar dan menghadap Regan dengan senyum yang masih terukir dibibirnya.
Kesal tidak mendapat jawaban tangan Regan kembali membuka pintu, dengan cepat Emma mencekal lengan Regan.
"Kamu tidak bisa diajak bercanda" gerutu Emma sambil menghidupkan mesin mobil. "Ini masih sore, mau jalan-jalan dulu?" tanya Emma melirik pada Regan dan mengedipkan mata.
Regan menyandarkan punggungnya kesandaran kursi penumpang, "terserah yang penting jangan terlalu malam pulang."
"Siap Bos."
Tangan Regan kembali mengeluarkan hpnya mengirim pesan pada Aslan jika dia pulang bersama Emma.
Atap mobil Emma yang terbuka membuat Regan mengantuk, Regan membuka dashbord Emma mencari kaca mata dan memakainya, perlahan mata Regan semakin berat membuat Regan yang kelelahan seharian kuliah akhirnya tertidur.
*-*
Terlihat lingkaran hitam di sekitar mata Zahra, tetapi Abra tidak melihat Zahra sedang kelelahan, wanita itu begitu bahagia berbicara dengan kedua bayi mereka.
Fani yang menyadari keberadaan Abra mundur memberi ruang untuk Abra, Zahra dan kedua anak mereka. Datang dari kantor Abra tidak langsung kekamar si kembar, dia mandi dan makan malam dulu.
"Gak capek?" tanya Abra menghampiri Zahra.
Zahra menoleh sejenak tertawa kecil, "capek tapi mereka masih belum tidur."
"Seharian mereka rewel gak?"
"Rewel" wajah Zahra berubah cemberut, "Be baru sekarang mau ditaruh dikasur gini, mulai tadi minta gendong terus, Chaka minum ASInya banter seperti Ar aku gak bisa ganti Fani gendong Be, jadi kasihan sama Fani."
Abra mencium kening Zahra dan mengelusnya, "gimana satu hari gak ada Ibu yang bantu kamu dan Fani kira-kira kewalahan enggak?."
Zahra tertawa menoleh pada Fani, "kewalahan gak Fan?" Zahra malah bertanya pada Fani.
Fabi hanya tersenyum simpul.
"Tadi Ayu juga bantuin aku kalau sudah beres didapur, dia telaten juga loh orangnya. Jadi aku bisa minta bantuan dia nemenin anak-anak dan Fani kalau kamu butuh bantuan aku."
Abra mengacak rambut Zahra, "aku bukan anak kecil yang gak bisa ngurus diri aku sendiri."
"Tadi yang cari aku minta carikan kaos kaki siapa?"
"Itu karena kamu yang mindahin" Abra menarik lengan Zahra hingga kepala Zahra menyandar pada pundak Abra. "Yakin gak perlu bantuan babysitter tambahan?."
Kepala Zahra menggelang, "enggak Ayah, aku masih mampu. Pagi sampai sore ada Fani, malam ada kamu yang bantu."
"Ok, tapi kalau sudah merasa butuh bantuan langsung bilang, aku tidak mau kamu sampai nangis, sakit, apa lagi sampai drop."
"Iya"
Tangan Abra mengelus rambut Zahra dengan penuh kelegaan yang dia pancarkan diwajahnya. Tadi Tari memberi tahunya untuk selalu siaga disamping Zahra, karena ibu yang baru saja melahirkan sering kali mengalami Baby blues sehingga Abra mencari tahu tentang sindrom tersebut.
*-*
Party, Regan sedang berada diparty teman Emma, disuatu Bar yang selalu menjadi perbincangan teman-teman kuliahnya.
Emma sudah banyak minum bir hingga mabuk, Regan yang melihatnya berdecak tidak suka, dia sudah memperingatkan Emma tadi untuk jangan terlalu banyak minum karena jika Emma mabuk siapa yang akan menyetir mobil?, Regan masih belum tahu, dia sendiri tidak meminum apapun sejak datang tadi tapi merasa pusing melihat banyak orang yang mabuk.
"Ah ... kamu menyusahkan" gerutu Regan.
__ADS_1
Tas milik Emma Regan masukkan kedalam tasnya, membantu Emma berdiri dan membawanya keluar dari bar dengan penuh perjuangan melewati lautan manusia.
Regan terheran-heran bagaimana bisa Emma memiliki banyak teman, sedangkan keluarganya adalah Mafia.
Tepat disamping bar, Regan mendudukkan Emma. "Tunggu sini aku panggil taxi" ucap Regan.
Kelapa Emma hanya mengangguk, Regan berlari kecil berdiri dinpinggir jalan menunggu taxi yang akan lewat, dan sesekali mencari mobil bawahan Enzo yang biasanya mengikuti Emma.
"You look so sexy"
Regan melirik pada Emma memastikan sesuatu, dan nyatanya memang sesuai dugaannya tiga orang mendekati Emma dan mengelilinginya.
"Don't touch her" larang Regan melangkahkan kakinya kembali mendekati Emma.
"Hai dude, we can share her."
"Please go!"
"Oh come on ... who are you?" tanya pria yang lainnya.
"That is none of your business" desis Regan.
"If you want her too" tangannya melakukan gerakanbyang tidak Regan mengerti, "we can share her."
Regan hanya mengerutkan kening tak mengerti apa yang pria itu maksud, sedangkan Emma hanya tersenyum lebar duduk dengan santai. "You better go" suara Regan mulai rendah penuh penekanan.
"Are you threatening us?" bentak salah satu dari mereka yang mulai terpancing emosi.
Regan mendongak menatap mereka bertiga dengan tatapan dinginnya, "leave her and go" kembali Regan mengatakan kata pergi.
Pria yang sudah terpancing emosinya mulai menyerang, Regan dengan reflek mundur.
Tiga pria itu tersenyum meremehkan Regan, bukan merasa takut Regan malah tersenyum lebar membuat mereka bertiga tersinggung dan mulai bergantian meyerang pada Regan.
Merasa gerakan mereka tidak main-main, Regan meregankan ototnya sebentar karena sudah hampir setahun dia tidak pernah latihan karate apa lagi mempraktekkannya, melawan mereka membuat Regan malah kesenanga.
Mobil berwarna putih berhenti ditepi jalan, Javir keluar dari Mobil bukan membantu malah memperhatikan Regan yang melawan mereka.
"Ah ... cemen, udah luntur gelar juaramu" ledek Aslan yang memunggungi Regan. "Perlu bantuan?" tanya Aslan tetap dengan nada mengejek.
Regan tertawa sebelum menerjang mereka, "gak butuh bantuan kamu."
Dengan santai Javir merogoh sakunya, mengeluarkan hpnya menghubungi polisi, berjalan dengan santai menepuk salah satu pria yang terjatuh memperlihatkan hpnya jika dia sedang menghubungi polisi.
Pria itu langsung berteriak pada temannya dan berlari pergi membuat Regan dan Aslan mengeluh melihatnya.
"Ya ... mereka pergi" keluh Aslan.
Javir berdecak menatap Aslan tidak suka, "ini sudah malam besok kalian kuliah" ucap Javir, "bawa Emma kemobil."
"Ok" seru Aslan.
Regan hanya diam ditempatnya menatap Aslan yang membantu Emma berdiri tanpa berniat membantu Aslan. "Kenapa tahu aku disini?" tanya Regan.
"Jam tanganmu" jawab Aslan singkat.
*-*
"Capek" keluh Vira, "kapan selesainya?."
Vira meletakkan kepalanya diatas meja, mengangkat tangannya melihat jamnya sebentar lagi jam delapan kurang sepuluh menit.
Sekretaris Prabu sudah pulang sejak tadi karena tugasnya sudah selesai, Vira yang sebagai Asistent personal Prabu belum juga menyelesaikan tugas yang Prabu berikan.
Prabu memintanya untuk membuat laporan hasil dari tiga rapat tadi yang mereka hadiri.
Terdengar suara pintu ruangan Prabu terbuka, bukannya berdiri dan takut ditegur seperti karyawan biasanya Vira tetap meletakkan kepalanya diatas meja, dia benar-benar lelah mengikuti Prabu rapat ditiga tempat yang berbeda dan sekarang harus membuat laporan.
Tok ...
Tok ...
__ADS_1
Tok ...
Tangan Prabu mengetok meja Vira, bukannya bangun duduk dnegan tegak Vira malah menepis tangan Prabu menjauh dari mejanya.
"Jangan ganggu, istirahat sebentar" pinta Vira lirih.
"Bagaimana bisa pekerjaan kamu belum selesai" Prabu berjalan berdiri disamping Vira memperhatikan layar komputer Vira yang masih menyala.
Vira mengangkat kepalanya sedikit dari meja menoleh pada Prabu menatapnya sinis, "jangan banya omong ini hari pertama gue kerja, masih penyesuaian."
"Penyesuaian sih boleh, tapi tidak selelet ini juga kamu membuat laporan sejak jam empat sore belum selesai."
Kesal Vira menegakkan posisi duduknya, memutar kursinya menghadap Prabu sepenuhnya, kepalanya mendongak menatap Prabunyang berdiri disampingnya dengan tubuh tinggi menjulang.
"Gue udah lama gak pernah ngetik, mangkanya gak selesai-selesai" ucap Vira sewot.
Tangan Prabu terlipat didepan dadanya mencondongkan tubuhnya mentap Vira lekat. "Kamu memakai Lo Gue?, jangan lupa saya atasan kamu, dan posisi kamu hanya sebagai PA disini."
Vira mendorong pundak Prabu menjauh, "ini sudah lewat jam kantor, gak masalah dong gue ..."
"Tapi kita masih dikantor, dan kamu hanya sebagai PA" ucap Prabu dengan suara baritonnya.
Kesal, Vira yang memang sudah biasa hidup bebas tanpa aturan tidak suka mendengar perkataan Prabu. Kata PA yang penuh penekanan sejak tadi seakan memperjelas posisinya membuat Vira kesal.
Sabar, Vira menghela nafas kembali menghadap layar komputernya mengesave dokumen yang dia kerjakan, membuka laci mencari-cari sesuatu.
Prabu yang masih berada disebelahnya menatap Vira dengan kening mengkerut, "cari apa?" tanya Prabu penasaran.
"Saya mencari fleshdist Pak" jawab Vira dengan nada datar tanpa menatap Prabu.
"Perlu bantuan saya mencari fleshdistmu?."
"Tidak" tolak Vira.
"Memangnya kamu taruh fleshdust kamu dimana?."
Vira menoleh menatap Prabu dengan tatapan kesalnya, "kenapa bapak tanya saya?" gerutu Vira, "biasanya fleshdist perusahaan diletaklan dimana?."
Kening Prabu mengkerut mendengarnya, dia tidak mengerti dengan fleshdist perusahaan yang Vira maksud.
"Ah ... sudah lah lanjut besok saja, seharusnya tadi tanya Fatim fleshdist perusahaan biasanya ada dimana" gerutu Vira.
"Perusahaan tidak punya flesdish" ucap Prabu mulai mengerti apa yang Vira maksud.
Vira menoleh kembali menatap Prabu, "lalu kalau ada data yang mau dibawa pulang dikerjakan dirumah bagaimana?."
"Tidak boleh dikerjakan dirumah, semua harus dikerjakan dikantor."
Kepala Vira mengangguk, dia mematikan layar komputernya, memasukkan semua oeralatan kedalam tasnya dan berdiri tiba-tiba penuh semangat membuat Prabu reflek melangkah mundur.
"Mau kemana?" tanya Prabu.
"Pulang"
"Memangnay pekerjaanmu sudah selesai?"
Kepala Vira menggeleng.
"Lalu?"
"Lanjut besok, sekarang sudah malam waktunya istirahat dan besok kerja lagi." Vira mendorong tubuh Prabu menjauh agar dia bisa keluar dari mejanya. "Saya duluan Pak, selamat malam."
Adakah karyawan seperti Vira?, selama Prabu bekerja dibeberapa perusahaan sebelumnya hanya Vira seorang personal asistent yang pulang lebih dulu dari CEO, dengan santainya mengatakan pekerjaannyang belum selesai akan dilanjutkan besok?, yang benar saja!.
*-*
.
Lop you Readers 😙
Unik Muaaa
__ADS_1