
Tumpukan map menggunung diatas meja kerja Abra, ditambah lagi email yang seharusnya sudah dia baca tidak dia sentuh.
Kali ini dia dan Sam diawasi oleh mata Sari yang siap memelototi mereka jika tidak fokus menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk. Berdiri untuk melenturkan punggung saja Sari akan memelototi mereka bahkan mengomel.
Sam bertugas menyelesaikan pekerjaan inter perusahaan, sedangkan Abra menyelesaikan proyek, tender dan segala hal yang berurusan dengan klien besar. Sari sendiri hanya bertugas mengejek keuangan perusahaan.
Gara-gara ke Madura berhari-hari pekerjaan mereka menumpuk. Sari dan Ibnu sudah sebisa mungkin membantu sejak mereka berdua tidak ada. Semua memang harus selesai minggu ini, bahkan rapat dengan klain yang tertunda dan harus dirinya yang menangani juga harus diselesaikan minggu ini.
"Hai semua ....".
Pintu ruangan Abra terbuka, Vira berdiri dengan menjinjing kantong makanan di tangan kanannya.
Mata Sari langsung meliriknya tajam. Abra mengangkat bahu, Sam mengangkat kedua tangannya.
Vira sendiri dengab cueknya berjalan masuk kedalam ruangan Abra yang ternyata di ikuti OB yang membawakan minuman dan segala macam cemilan.
"Lo mau kemping?," semprot Sari melipat kedua tangannya disepan dada.
Bukannya tersinggung, Vita malah meletakkan semua yang dia bawa diatas meja sofa tempat duduk Sam. Membuat Sam harus menyingkirkan beberapa dokumen penting dengan cepat sebelum Vira mengotorinya.
"Kerja boleh, tapi harus inget makan dong." Vira menjulurkan sepotong pizza pada Sam.
Sari menatap Vira tajam, memukul lengan Vira hingga pizza yang dipegangnya terjatuh ke kotak pizza yang dia bawah.
"Lo gak liat diatas meja banyak berkas pentig?." Sari memelototi Vira kesal.
"Gue cuma nawarin makan," bela Vira sambil tersenyum.
"Masih kurang satu jam empet puluh menit untuk jam istirahat dan makan. Mendingan lo keluar deh, kita banyak kerjaan dan gak sempet buat ladenin lo."
"Apa salahnya makan duluan lalu kerja lagi."
"Salah, karena bawahan belum jam istirahat." Sari begitu tegas, dia berdiri menuju meja Abra dan memencet tombol interkom untuk memanggil OB. "Resepsionis dan OB yang membantu tamu naik kelantai pimpinan menghadap sekarang!," perintah Sari tegas.
"Kita gak punya waktu santai-santi dan enak-enakan seperti lo." Sari berbalik menghadap Vira. "Saat lo masuk, lo sudah melihat berkas di meja. Lo seharusnya sudah tahu kita gak bisa di ganggu. Gue tahu niat lo baik, tapi setidaknya lo tau waktu dan tempat. Lo punya perusahaan kan?, ya ... meski lo tidak memperdulikan perusahaan lo. Pastinya lo tahu jam berapa istirahat seluruh karyawan perusahaan, yang pestinya sama."
Vira tersenyum sinis, menyilangkan kakinya balas menatap Sari tak suka. "Jangan sok sibuk dan sok deh lo, Abra aja yag pimpinan nyantai kok."
Kali ini Sari tertawa angkuh. "Lo pikir Abra gak berani ngusir lo?, dia diem karena gue undah ngewakilin." Sari melirik Abra, "Atasi dia gue mau ngatasi dua orang yang gak becus itu diluar."
Tok ...
__ADS_1
Sari berjalan kearah pintu. "GAK USAH MASUK DILUAR!." Teraknya menggelegar.
Padahal baru saja Resepsionis dan OB mengetuk pintu sekali Sari sudah menyemproti mereka dari dalam ruangan.
Sepeninggal Sari, Abra yang sejak tadi menunduk mengerjakan pekerjaannya tanpa memperdulikan Sari dan Vira mengangkat wajah menatap Vira dengan tatapan mengintimidasi. "Keluar atau duduk tanpa membuat suara apapun."
Vira mengerutkan kening tak percaya. "Bra, gue kesini ...."
"hanya itu pilihan lo." Sergah Abra memotong ucapat Viara.
Vira berdiri berjalan menghampiri Abra dengan langkah yang cepat namun anggun. "Gue kesini ada perlu sama lo, gue mau nanya dimana Gea."
"Gea baik-baik saja, dan dia gak mau ketemu lo."
"Gak mungkin." Vira tersenyum dengan penuh percaya diri.
Abra menghela nafas. "Vir, Gue benar-benar banyak kerjaan jadi tolong jangan ganggu." Suara Abra rendah menahan amarah yang mulai tersulut.
"Gue mau ketemu Gea bentar, Gue ibunya Bra. Mana mungkin dia gak mau ketemu gue, kita lama gak ketemu jadi ...."
"MAKA DARI ITU!." Abra mulai naik pitam.
"Lo aja sering menghilang bertahun-tahun dateng hanya beberapa hari sudah itu pergi lagi. Jangan lupa loe juga hampir masukin dia ke panti waktu bayi, lo masih ngaku jadi Ibunya?. Lo hanya wanita yang ngelahirin dia gak lebih, gue yang lebih ngerti perasaan dia, karena gue yang ngerawat dan selalu ada buat dia. Jadi gue tahu kalau dia sekarang ini belum mau ketemu sama lo."
Vira terpaku diam, ini pertama kali Abra berbicara panjang padanya, ini pertama kali Abra membentaknya dengan tatapan tajam memerah menahan marah. Dia yakin jika orang lain yang tidak bisa mengendalika emosi sebaik dan sepintar Abra, orang itu akan mengamuk.
"Pergi!."
"Tapi Bra ....".
"GUE MASIH PUNYA KERJAAN!". Lagi, Abra membentak Vira lagi. "Gue hanrus menyelesaiin ini semua, lalu keperusahaan orang tua lo. Gue hanya minta lo diam atau keluar, kalau lo ingin cepat gue punya waktu ngeladenin lo. Atau loe bantu gue nyelesain pekerjaan lo di perusahaan orang tua lo biar beban gue semakin ringan".
Vira menatapnya tajam tak mengatakan apapun.
"Gue demi Gea bisa ngelakuin apapun, gue bantu perusahaan lo bukan untuk ngasih loe uang bisa jalan-jalan, tapi untuk masa depan Gea."
Saat itu juga pintu ruangan Abra terbuka, Sari baru selesai mengomeli resepsionis dan mennemukan Gea yang duduk bersembunyi dibawah mejanya.
Vira keluar tanpa mengatakan apapun. Sari melirik ke arah mejanya, Gea masih bersembunyi disana.
*-*
__ADS_1
Saat Sari keluar dari ruang Abra seorang Resepsionis dan OB sudah berdiri didepannya dengan menundukkan kepala.
"Bukannya saya sudah bilang, kalau kita tidak bisa diganggu sampai dua hari kedepan?." Sari menetap Resepsionis tajam.
"Maaf bu, Ibu tadi bilang Ibu dari Gea. tadi Gea sudah naik keatas, jadi saya pikir gak papa." Bela sang resepsionis.
Sari mengerutkan kening. "gak ada Gea kok."
"Hai Tan ...."
Perhatian mereka beralih pada meja kerja sari, Gea mengeluarkan kepalanya dari balik meja, tersenyum menatap Sari.
Sari hanya menghela nafas dan berjalan menghampirinya. "Kenapa sembunyi?." tangan sari membersihkan rok sekolah Gea dari debu.
"Kata mbak didepan Daddy sibuk, aku nunggu di meja tante. kebelet pipis balik dari toilet liat Mami jadi ngumpet."
Jawaban Gea yang polos membuat senyum Sari terbit. "Gak mau ketemu Mami?."
Kepala Gea menggeleng dengan wajah sedih.
"MAKA DARI ITU".
Suara bentakan Abra terdengar hingga keluar, pintu ruangan memang sedikit terbuka.
"Sepertinya sebentar lagi dia keluar, kamu sembunyi lagi aja dulu. Nanti kalau masuk ada perlu dengan Daddymu tunggu jam istirahat baru bisa ngobrol ya, gara-gara sering ke Madura pekerjaannya menumpuk".
Gea mengangguk tersenyum.
"Kalian lembali bekerja, jangan sembarangan membiarkan orang naik kelantai ini tanpa se izin dari kami. Mengerti?."
"Baik Bu," jawab mereka bersamaan lalu pergi.
*-*
.
.
.
Unik_Muaaa
__ADS_1