
Aslan berlari keluar rumah, dia menyeka rambutnya dengan jemarinya, dia masih belum terbiasa menyetir mobil juga belum hafal jalan. Tangan Aslan mengeluarkan hpnya mencoba mencari nama Alaric dikontak dan menghubunginya.
"Ada apa?" tanya Alaric disebrang dengan berteriak.
"Ada dimana?" tanya Asalan dengan nada panik.
"Aku mau ke club yang biasa kamu dan Javir pergi, tapi tidak tahu alamatnya, aku juga tidak hafal jalan dinegara ini, aku ..."
"Hei!" bentak Alaric, "jangan panik dan dengarkan aku, apa di sekitarmu ada mobil hitam dikacanya ada stiker keluargaku?"
Aslan menoleh kekanan dan kekiri, matanya memicing melihat sesuatu dikaca depan mobil hitam yang terparkir dua rumah dari rumah kereka, seperti gambar tato kecil di bahu sebelah kanan Alaric.
"Ada" seru Aslan merlari kearah mobil itu.
"Berikan ponselmu pada mereka"
Tangan Aslan mengetuk pintu kaca sebelah pengemudi, kaca pintu perlahan turun, Aslan menjulurkan hpnya yang diterima pengemudi itu.
"Three sir ... ya ... ok ..."
Si pengemudi mengembalikan hp Aslan, salah satu dari mereka bertiga turun.
"Mereka akan mengantarmu."
Tanpa disuruh Aslan masuk kedalam mobil, "terima kasih" ucap Aslan sebelum mematikan sambungan.
Aslan menatap layar ponselnya, foto pertama Zia sebagai model yang dia ambil menjadi wallpaper hpnya. Gadis yang tidak dia sangkah bisa masuk kedalam club, dia tidak habis pikir dengan apa yang difikirkan gadis itu.
Dia bukan paman Zia yang sebenarnya, dia hanya anak keponakan Nenek Zia yang disembunyikan dari keluarga besarnya dan dititipkan pada Nenek Zia yang dia panggil Ibu. Aslan mengetahui itu akhir semester dua kelas tiga Sekolah Menengah Atas, Ayah Zia yang memberi tahunya dan memintanya menjauh dari keluarga mereka terutama Zia, dengan dalil karena Aslan sudah dewasan dan bisa mengurus diri sendiri.
Zia yang merasa Aslan berubah akhirnya berdebat, dan saat itu dia mengetahui ternyata Zia lebih dulu tahu statusnya sebelum Aslan Sekolah Menengah Atas, tetapi gadis itu tidak mau memberi tahunya. Tanpa beban Zia mencintainya, sedangkan dirinya harus bersusah payah dan menekan perasaan yang mulai tumbuh diantara mereka.
"Sudah sampai sir" kata salah satu anak buah Enzo.
Dengan terburu-buru Aslan keluar dari mobil, bertepatan dengan Alaric yang baru datang dan mengikuti Aslan masuk keladlam club.
Javir yang melihat mereka melambaikan tangan, sebelum akhirnya kepalanya terkulai diatas meja bar.
"Zia mana?" tanya Aslan.
Javir tersenyum menunjuk Zia yang menari dengan beberapa pria, dipepet bahkan ada yang mencoba mengambil kesempatan dengan memeluk Zia.
Aslan melangkah cepet menghampiri Zia, menarik gadis itu dalam pelukannya, menatap pria-pria yang yang mencoba mengambil kesempatan pada Zia dengan tatapan tajam. Dua bawahan Alaric langsung berdiri dengan tegap di depan Aslan memudahkan Aslan menggendong Zia dan membawanya pergi dari sama.
"My uncle datang ..." seru Zia bahagia dia benar-benar mabuk, Aslan mencium bau alkohol dari mulutnya.
"Jangan gerak-gerak atau aku lempar kamu kejalan" ancam Aslan dengan suara baritonnya.
__ADS_1
Wajah Zia cemberut melingkarkan kedua tangannya pada leher Aslan, menyandarkan kepalanya didada Aslan.
"Ini benar-benar As kan? ... bau badannya samaaa ... kenapa hayalan saja sama ..." Zia mulai menceracau terputus-putus. "Aku ... aku rindu As ... Asss ..." Zia berteriak memanggil Aslan, sayangnya dia sedang kesusahan untuk membungkam mulut Zia.
Alaric yang lebih dulu membawa Javir kedalam mobilnya membuka pintu belakang agar memudahkan Aslan masuk.
"Kunci mobil dia" pinta Alaric pada Aslan.
Tangan Aslan membuka tas Ziau dia terdiam melihat gelang yang dia temukan didalam tas Zia sebelum dia mengambil kunci mobil Zia dan menyerahkannya pada Alaric.
Mata Zia kembali terbuka, mematap Aslan dengan senyum, lalu duduk dipangkuan Aslan dan memeluknya erat. "Aku merindukanmu, aku benar-benar merindukanmu" guma Zia lirih.
Aslan sadar jika Zia sekarang sedang mabuk, tetapi kenapa dia juga menangis?, pundak Aslan basah. Tangan Zia yang melingkari leher Aslan terlepas, dengan sigap Aslan menangkap tubuh Zia yang akan terjatuh, Zia tertidur.
"Kita akan bawa dia kemana?" tanya Alaric.
"Tidak tahu" jawab Aslan, dia benar-benar tidak tahu dimana Zia tinggal dinegara ini.
"Kita bawa kerumah dulu, besok kamu antar"
Aslan tidak memberi tanggapan, dia memilih membuang muka menatap keluar jendela dengan Zia yang masih tertidur diatas pangkuannya.
*-*
Aslan membawa Zia kekamarnya, melihat Aslan datang Gea keluar dari kamar Regan tanpa pamit.
Perlahan Gea menuruni tangga memperhatikan Alaric yang memapah Javir membantunya berjalan, langkah Gea terhenti di anak terakhir tangga, dia berdiri disana menatap mereka dalam diam.
"Aku selalu memikirkanmu ..." gumamnya lirih, "aku selalu menunggu kamu menghubungiku ... aku selalu menunggu kamu menjelaskan apa yang membuatmu menjauh dariku ... aku ... hehehe ... aku ... aku merindukanmu." Kening Javir menyandar pada pundak Gea.
Gea sendiri terdiam, dia menatap kosong kedepan tanpa membalas pelukan erat Javir. Dia tidak bisa membuka mulut untuk mengatakan dia merindukan Javir juga.
"Alaric, bawa dia kekamarmu."
Suara bariton Abra yang begitu tegas membuat Gea menoleh padanya, ternyata sejak tadi Abra duduk di ruang tamu dengan lampu temaram membuat mereka tidak sadar kehadirin Abra sejak tadi.
Tangan Alaric menarik tubuh Javir tetapi Javir semain erat memerluk Gea.
"Kamu tiba-tiba mengusik ketenangan hidupku, tetapi setelah itu kamu pergi ... kamu tidak mau bertemu denganku ... kamu ..."
Buk ...
Abra menghentikan celotehan Javir dengan memukul tengkuknya hingga Javir pingsan. Dengan tatapan matanya Abra meminta Alaric membawa Javir pergi.
"Kamu naik keatas" perintah Abra tegas pada Gea.
Dengan patuhnya Gea naik kelantai dua diikuti Abra yang juga ikut naik mengikuti Gea dari belakang.
__ADS_1
Melewati kamar Regan dan berhenti didepan kamar Aslan yang terbuka. Aslan menutup mulit Zia yang terus menggerak-gerakkan kepalanya ingin mencium Aslan.
"Keluar" perintah Abra tegas.
Aslan hanya menoleh, Abra menyentak tangan Zia hingga Zia terlentang terjatuh kekasur, lalu tertidur.
"Ayah" tegur Aslan.
Abra tidak mengubrisnya, "kamu tidur dengan Regan, Gea tidur disini gantikan bajunya. besok setelah sarapan ada yang harus kalian semua jelaskan pada Ayah, jadi sekarang cepat kalian tidur."
Abra menyeret Aslan keluar kamar, tadi Zahra membangunkannya menceritakan secara singkat dan memintanya keluar menunggu anak-anak dan ternyata dia melihat Aslan membopong perempuan yang sedang mabuk, disusul Alaric yang memapah Javir yang juga pulang dengan kondisi mabuk.
Untung saja Zahra tidak keluar kamar dam melihat semuanya, jika tidak wanita itu akan mengomeli mereka seharian besok.
*-*
Abra masuk kedalam kamarnya memeluk Zahra dari belakang yang baru saja meletakkan Chaka dalam box bayinya.
"Memperhatikan mereka aku merindukan saat-saat kita masih muda" ucap Abra lirih.
Zahra menyandarkan kepalanya didada Abra tetap dengan tatapan mata tertuju pada kedua anak kembar mereka. "Kenapa?, apa mereka bertengkar?."
Abra berdecak melepas pelukannya dan duduk dipinggir kasuk menatap Zahra dengan wajah cemberut, "apa kamu hanya ingat saat-saat kita bertengkar dulu?."
Zahra tertawa kecil berjalan menghampuri Abra, berdiri didepannya memudahkan Abra memeluk pinggang Zahra. "Karena kita dulu banyak bertengkarnya sayang" ucap Zahra.
Mata Abra mengedip-ngedip, "kamu sadar gak sih barusan manggil aku sayang?."
"Ya udah aku panggil kamu Abra aja" Tangan Zahra hendak melepas tangan Abra yang semakin erat memeluknya, "lepas."
Bukannya melepas Abra malah menarik tubuh Zahra hingga Zahra terjatuh diatas tubuh Abra dan membaliknya menjadikan Zahra berada dalam kungkungan tubuh Abra.
"Aku merindukanmu yang hanya memperhatikanku dan melayaniku, sekarang kita sudah menjadi orang tua dan aku harus dengan ikhlas membagimu dengan lima anak kita."
"Tetapi aku tidak pernah tidak memperhatikanmu bukan?" tanya Zahra menyentuh pipi Abra.
Abra tersenyum mencium kening Zahra, "tidak pernah" jawabnya lirih, "terima kasih."
Zahra tertawa, menarik Abra dan memeluknya.
*-*
.
Hello ...
Hutang double up Author pada kalian 😆 udah lunas 😥 akhirnya ...
__ADS_1
Lope you 😙 jangan lupa tinggalkan jejak 😉
Unik Muaaa