One More Chance

One More Chance
Perhatian


__ADS_3

Jika biasanya Aslan dan Regan yang pertama kali bangun, karena sekarang liburan sesudah sholat mereka kembali tidur. Sedangkan Zahra dan Abra masih tidur karena jam tiga sikembar bangun dan baru tidur setelah mereka sholat subuh.


Jadi hanya Gea yang bangun berada didapur menyiapkan makanan untuk mereka semua, dari telur mata sapi, roti pangganga, buah-buahan, jus jeruk madu dan semangkok sereal serta susu.


Langkah Gea terhenti dan kembali menatap meja makan, "kenapa malah nyiapin apa yang disaranin mbah googel?", gerutunya pada diri sendiri baru saja tersadar jika dia menyiapkan makanan dan minuman pereda mabuk.


"Uwek ..."


Gea menoleh kesumber suarah, pintu kamar Javir yang dekat dengan dapur terbuka dan Javir keluar berlari kearah dapur menuju kitchen sink dan muntah disana. Gea berjalan mundur mengambil gelas dan mengisinya dengan air, mengambil kotak tisu dan kembali mendelati Javir.


Barang-barang yang dipegang Gea tadi dia letakkan dia samping Javir, tangannya dengan ragu memijat tengkuk Javir.


Merasa hanya mual tidak ada yang keluar dari mulutnya Javir berkumur-kumur, Gra mengambil tisu saat Javir berbalik dia mengusap dagu dan area mulut Javir yang basah.


Mata Javir tidak lepas dari wajah Gea, dia menarik tubuh Gea yang berdiri didepannya mendekat dan menyandarkan keningnya pada pundak Gea.


Lama mereka terdiam, kedua tangan Gea mengambang diudari tidak membalas pelukan Javir yang perlahan semakin mengerat memeluknya.


"Minum dulu" ucap Gea melangkah mundur untuk melepas tangan Javir yang melingkari pinggangnya.


Tangan Javir semakin menarik tubuh Gea mendekat dan dia berdiri tegak, tinggi badan Gea yang hanya sebahu Javir memudahkan Javir merengkuh tubuh gea dalam pelukannya.


"Maaf" bisik Javir lirih.


Dan hanya satu kata yang diucapkan Gea, "minum."


Membuat Javir menghela nafas dan akhirnya melepaskan pelukannya, Gea mengambil gelas dia samping Javir dan menjulirkannya pada Javir, tangan kiri Jabir mengambil gelas itu dafi tangan Gea sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan Gea erat menghentikan Gea yang akan berbalik pergi.


Tatapan mereka bertautan meski Javir sedang minum, setelah meminum habis airnya Javir masih menggenggam tangan Gea, dia menunduk menatap tangan Gea dan menggenggamnya dengan kedua tangannya.


"Akhirnya bisa lagi menyentuh tangan kamu meski aku yang menggenggamnya, bisa merasakan kamu dalam pelukanku meski aku yang harus memulai memelukmu tanpa balasan." Javir menghela nafas kembali menatap Gea, "apa kamu tidak merindukanku?" tanyanya.


Gea hanya diam menatap Javir, mendengar kata rindu semalam saja Gea susah tidur, dan kali ini dia kembali mendengarnya.


Tidak Gea tidak akan tertipu lagi oleh kata-kata Javir, dia hanya menatap mata Javir mencari kebohongan, tetapi pria didepannya terlalu pintar bersandiwara dan menutupinya.


"Dulu kamu yang lebih dulu memelukku, merangkul lenganku dan menggenggam tanganku, kamu satu-satunya cewek yang tidak mem ..."


Gea mencoba menulikan telinganya, dia menarik tangannya dari genggaman tangan Javir, menarik kursi didekatnya dan berjalan menjauh mengambil jus jeruk, semangkok sereal dan susu meletakkannya di depan kursi tadi sebelum akhirnya Gea memilih duduk di ruang tamu dengan segelas jeruk dan roti panggang yang dia bawa.


"Pagi" sapa Aslan yang baru saja turun dari lantai dua bersama Regan langsung berjalan menuju dapur.


"Siapa yang nyiapin?" tanya Regan.


Javir tidak menjawab hanya menatap kearah Gea diruang tamu.

__ADS_1


*-*


Mata dengan bulu mata lentik itu perlahan terbuka, mengerjab-ngerjabkan matanya menfokuskan penglihatannya. Kepalanya menoleh mencari tahu dimana dia sekarang.


Tatapan matanya terhenti pada foto empat orang pria di atas meja belajar, Zia langsung duduk dengan cepat meski kepalanya sedikit pusing karena hangover, bahkan memaksakan diri untuk berjalan mendekati foto itu, foto Aslan, Regan dan dua orang yang tidak dia kenal.


Kaki Zia melangkah keluar kamar, menoleh kekanan kiri dan berlari mencari Aslan hingga menuruni tangga.


"As!" panggilnya.


Langkah kakinya terhenti saat dia menghadap dapur, menemukan Aslan yang berdiri baru saja meminum jus jeruk ditangannya.


Melihat Aslan saja dia tidak percaya, apa lagi melihat pria itu berjalan mendekatinya sambil membuka hoodie jaketnya.


Ya, Aslan berjalan sambil membuka hoodie jaketnya dan mengikatnya dipingganga Zia karena separuh pahanya terlihat, setelah itu kembali berbalik badan berjalan kemeja makan.


"As" panggil Zia lirih.


"Hemz ..." jawab Aslan dengan gumaman.


Gea yang duduk diruang tamu mendekati Zia, "ayo sarapan" ajak Gea.


Zia tersenyum kecil mengangguk, mengikuti Gea dari belakang dan duduk dikursi yang masih kosong.


"Minum air putih dulu, baru jus jeruknya sebelum makan sereal atau roti biar meredakan hangover kamu" Gea meletakkan segelas air putih dan jus jeruk didepan Zia.


Tangan Gea membawa sereal dan sepiring roti panggang, tetapi Aslan malah merebut piring roti panggangnya.


"As" tegur Gea.


"Dia tidak suka roti" ucap Aslan tanpa menatap Gea.


"Kalau sereal?" tanya Gea.


Akhirnya Aslan menoleh menatap Gea, "kamu tahu profesi dia apa?."


Gea mengangguk, "lalu dia makan apa?."


"Itu" Aslan menunjuk buah-buahaan dengan dagunya.


Mengerti dengan isyarat Aslan, Gea mengambil piring buah yang telah dia kuoas mendekat pada Zia.


"Regan juga tidak suka susu putih, aku buatkan susu coklat mau?" tanya Emma pada Regan.


Kepala Regan langsung menggeleng menbuat Emma cemberut.

__ADS_1


Alaric menghela nafas, "ada apa dengan tiga pasangan yangbsaling pengertian pagi ini?" gerutu Alaric, "apa aku harus meminta Demi untuk melayaniku makan juga?."


Regan yang mendengarnya tertawa ngakak, "Emma layani kakakmu."


"Gak mau" tolok Emma, "apa kamu anak kecil yang harus dilayani seperto Chaka?."


"Kenapa kamu marah padaku?, aku tidak memintamu melayaniku. Regan juga bukannanak kecil kenapa kamu me ..."


"Terserah aku!" teriak Emma memotong omelan Alaric.


Aslan dan Regan tertawa mendengarnya, akhirnya mereka saling bercanda dan mengejek satu sama lain hingga tawa mereka terdengar sampai kamar Abra dan Zahra.


Zahra dan Abra sebenarnya sudah bangun, tetapi mereka sibuk memandikan Chaka dan Bilqis bergantian.


Mendengar tawa canda dari luar membuat Zahra tersenyum menatap kedua anak kembarnya yang juga sedang tertawa bersama Abra.


"Bahagia rasanya bangun tidur mendengar tawa anak-anak kita" ucap Zahra menatap si kembar.


Abra menoleh menatap Zahra dan menariknya untuk tiduran disebelah anaka mereka. "Impian kita memiliki anak banyak tercapai" ucap Abra lalu tertawa kecil.


"Ya, semoga kita selalu bahagia bersama mereka"


"Aamin sayang ..."


Abra duduk menghampiri Zahra dan mencium keningnya, "aku harus mandi dan menyidang semua anak-anak diluar itu."


"Kenapa?" tanya Zahra.


"Membuat bisnis dengan mereka" Abra tersenyum sarkas penuh rahasia, "Fani yang akan membantumu mengurus Chaka dan Bilqis, setelah aku selesai dengan mereka kita bisa jalan-jalan bersama."


Zahra mengangguk mengiyakan.


Abra berjalan masuk kedalam kamar mandi, satu-satunya kamar dirumah ini yang memiliki kamar mandi didalam kamar.


Didepan westafel Abra menatap wajahnya dan mengjela nafas lega, hampir saja dia mengatakan apa yang terjadi hingga harus mengumpulkan semua anak-anak itu, jika sampai terjadi dia bingung bagaimana meredakan amarah dan omelan Zahra nantinya.


*-*


.


Don't forget to 👍like and 💬comment ya Readers...


*Yang baca ratusan yang 👍 like kurang dari 20% dari yang baca 😭 sedih jadinya 😭


Love you 😙*

__ADS_1


Unik Muaaa


__ADS_2