One More Chance

One More Chance
Seorang Ganendra


__ADS_3

"Selama ini sukses menjalankan tiga perusahaan, maka enam sampai sepuluh tahun lagi tidak akan masalah bukan?." Regan menatap Abra dengan senyum.


Abra menganggukkan kepala. "Ok.


.


.


.


"Dengan syarat kalian kuliah diluar negri."


Kalimat lanjutan Abra mendapat pelototan dari Regan dan yang lain. Regan serasa diterbangkan daan dibanting begitu saja ketanah.


Melihat Regan terdiam otak Abra berputar lebih cepat, dengan berpura-pura santai Abra mengirim pesan pada Ibnu untuk masuk ke ruang kerja.


"Kenapa harus keluar negri?." Aslan yang pertama kali membuka suara.


"Saya tidak akan meninggalkan Bunda sendirian." Regan mengucapkannya dengan penuh keyakinan.


Dua orang yang selalu ada didekat Zahra dan selalu membuat Abra jengkel. Abra tersenyum, menyilangkan kakinya dan menautkan jemarinya duduk menyandar pada sandaran kursi. "Ara, pendapatmu." Dia bertanya pada Zahra tidak menghiraukan Aslan dan Regan.


"Kemauanku juga begitu, dia bisa kuliah keluar negri ta ...."


"Bunda!." Tegur Aslan dan Regan bersamaan memotong ucapan Zahra.


"Ar sudah janji gak akan meninggalkan Bunda sendirian." Regan yang tak mendapat tanggapan dari Zahra menatap Abra sinis. "Diwasiat Kakek anda akan memimpin perusahaan selama saya ..."


Tepat saat itu pintu ruang kerja terbuka, Ibnu datang membawa surat wasiat Kakek Arya, berdiri disamping Abra dan menyerahkan suarai itu pada Abra.


Abra meletakkan surat itu diatas meja ditengah-tengah mereka berlima. "Di situ tertulis menggantikan memimpin perusahaan selama Adam Regan Zeroun Ganendra menuntut ilmu, bukan wajib menggantikan. Jadi saya tidak punya kewajiban menggantikan."


"Sa...."


Abra mengangkat telapak tangannya menghentikan Regan mengatakan sesuatu. "Seorang Ganendra harus mempunyai pendidikan tinggi, itu keinginan Kakek Arya." Abra melirik pada Zahra. "Dulu Bundamu juga bercita-cita ingin kuliah di luar negri, bahkan sekarang Bundamu juga menginginkanmu melanjutkan studimu keluar negri, bukankan kewajiban seorang anak taat pada orang tua?."

__ADS_1


Regan menatap Abra tajam. "Saya tetap tidak mau meninggalkan Bunda sendiri apapun alasanya."


"Dia tidak akan sendiri" ucap Abra dengan penuh keyakinan menegakkan posisi duduknya menatap Zahra tajam. "Ada saya sebagai suaminya."


Regan berdecak, Aslan mendengus, Gea terkekeh kecil sedangkan Zahra menghela nafas memalingkan muka seakan tak berminat dengan pembahasan yang akan kembali keluar dari topik.


"Tidak!" dengan tegas Regan mengucapkannya.


Ibnu yang sejak tadi hanya menunjukkan wajah datarnya mengulum senyum. Regan selalu menjadi orang yang bisa menentanga Abra selain Kakek Arya, itu yang dia lihat sejak seminggu mereka tinggal bersama.


"Saya harus apa agar kamu mau mengakui saya sebagai suami Bundamu?, kecuali memimpin perusaan GG dan kamu tidak kuliah diluar negri." Abra menoleh dengan cepat pada Zahra saat Zahra akan mengatakan sesuatu. "Aku tidak akan mengizinkan kamu ikut Ara, selain aku dan Opa mau Regan mendapatkan ilmu dan pendidikan yang tinggi, aku juga mau dia mandiri." Abra mengucapkannya dengan tegas. "Aku tidak memaksamu untuk menikah denganku, aku hanya memberi solusi pada Regan."


"Tapi solusinya ya gak gitu juga" seru Aslan.


"Apa yang salah?" Abra menatap Asalan dengan dagu terangkat menunjukkan keangkuhan.


Aslan terdiam sejenak. "Kalau Regan kuliah didalam negri mengambil jurusan Menejemen dan bisnis apa anda akan mau memimpin?."


Abra tersenyum simpul. "Kuliah didalam negri, jurusan menejemen bisnis. Saya mau memimpin asal kamu mau mengikuti metode pendidikan Kakek Arya."


"No...." Gea berseru dengan keras. "Menurut pengalamanku, lebih baik keluar negri saja."


Zahra meringis mengingat dulu dia juga pernah belajar dengan Kakek Arya, dan dia benar-benar kurang tidur hingga Abra mengomeli Kakek Arya.


"Kalau keluar negri dia yang menang banyak Ge" otak Aslan yang mulai berputar membuat Ibnu mengulum senyum.


Melihat Regan dan Asalan mulai berfikir keras, Abra seakan berada diatas awal. Akhirnya dia mengalahkan Regan dan Aslan.


Sebenarnya dia mau memimpin GG com dengan senang hati menggantikan Regan, tetapi keinginan Kakek Arya, Zahra dan dirinya ingin Regan keluar negri. Selain dia seorang Ganendra, uang mendukung, Regan mempunyai otak yang akan bisa terus berkembang dan sayang jika hanya dibiarkan.


Mengambil dua jurusan sekaligus dia yakin Regan mampu, tetapi Regan memilih jurusan kedokteran yang sepertinya memang menjadi minatnya, Abra bisa mengetahui dari cara Regan yang selalu bersama Tari membicarakan hal-hal medis dan istilah-istilah medis yang tidak akan orang awam ketahui.


Abra berdiri. "Pilihanmu hanya dua, take it or leave it. Dalam bisnis ada untung dan rugi, meski merugi diawal tetapi untungnya banyak dikemudian hari, kenapa tidak mencoba untuk menjalani?." Abra tersenyum pada Aslan dan Regan bergantian. "Anggap ini pelajaran pertama tentang bisnis untuk kalian."


Abra akan keluar dari ruang kerja tetapi dia kembali berbalik badan. "Oh ya saya lupa" Abra menatap Aslan tajam mengintimidasi. "Saya akan mengizinkan dan membiayai kamu seperti para mahasiswa yang menerima beasiswa dari GG com pada umumnya. Kami membiayai, setelah lulus mereka harus bekerja diperusahaan kami selama tiga sampai empat tahun.

__ADS_1


Sepertinya keluar negri adalah solusi yang terbaik untukmu sekarang, dan jangan berfikir saya akan sepenuhnya mempercayaimu karena saya tahu who you are dan saya berharap kamu berbeda. Gea selesaikan tugas bulanan kamu, atau Ayah juga akan angkat tangan."


Gea langsung cemberut. "Baik"


"Saya tunggu jawaban kalian lusa," akhirnya Abra keluar dari ruang kerja.


Regan mengacak-acak rambutnya, Aslan hanya menghela nafas memikirkan kata-kata terakhir Abra yang membingungkannya.


Gea berdiri dengan lesuh. "Aku kekamar dulu, gara-gara ikut kalian Ayah jadi ingat tugasku." Keluh Gea.


Zahra, Aslan dan Regan menatap kearah Gea tak mengerti.


"Kenapa gara-gara kami?," Aslan tak terima.


"Memangnya tugas apa?, bisa kami bantu?." Zahra melihat ekpresi Gea yang biasa ceria dan sellau tersenyum dapat menangkap tugas yang diberikan Abra pasti sangat berat.


Kepala Gea menggeleng. "Dari awal aku kelas tiga SMP Ayah memberiku tugas mengecek laporan accounting perusahaanku setiap bulan."


Sontak jawaban yang diberikan Gea membuat Zahra, Aslan dan Regan terkejut. Anak SMP sudah terjun dalam perusahaan secara tidak langsung?.


"Mangkanya Gea dari semalem mendukung untuk kuliah diluar negri. Selain kak Regan akan mendapat metode pembelajaran yang selalu di terapkan Kakek Arya pada seorang Ganendra, Ayah pasti akan memberikan pekerjaan pada Kakak seperti aku."


Setelah mengatakannya Gea pergi dengan lesuh, seharusnya pekerjaanya sudah selesai minggunlalu, tetapi karena Kakek Arya meninggal Abra memberinya waktu lebih.


Aslan menatap Regan tak percaya dengan apa yang abrusan dia dengar dari Gea. "Menjadi seorang Ganendra sepertinya akan sangat berat deh Ar."


Regan tidak suka hal yang ribet, selalu melakukan segala hal satu persatu dan sempurna. Dan jika dia harus sekolah serta ikut andil dalam perusahaan Regan tidak akan mau, bukan tidak akan bisa.


*-*


.


.


.

__ADS_1


Unik_Muaaa


__ADS_2