
Setelah Regan menutup Video call mereka, Gana, Rio dan Mila langsung menghubungi Zahra detik itu juga.
Zahra yang sedih menyerahkan hpnya pad Abra untuk menjawab panggilan mereka. Zahra tidak langsung menghubungi Regan lagi, dia sudah tahu karakter anaknya itu, Regan tidak mau diajak bicara jika sedang banyak pikiran, marah tau kecewan.
Seprti saat dia diam-diam menyelidiki hubungannya dan Abra, Regan lebih banyak diam dari pada biasanya, tepat merangkul atau memeluknya tetapi menghindari kontak mata.
Regan hanya butuh waktu untuk menerima kabar yang baru saja dia terima. Sejak tiga minggu lalu setelah pulang dari Bali, hp Aslan dan Regan susuaah untuk dihubungi, Abra sudah meminta bantuan pada Alaric atau siapapun untuk menyampaikan pada Regan jika Zahra ingin berbicara dengannya, tetapi mereka selalu mengatakan.
"Aku tidak dengan Regan atau Aslan."
"Regan kuliah tidak dirumah."
"Aslan belajar, Regan juga."
Dan selalu begitu membuat Zahra menyerah memahami jika kedua anaknya sedang belajar sungguh-sunggu tidak bisa diganggu.
Abra menghampiri Zahra, naik keatas kasur berbaring dibelakang Zahra memeluknya dari belakang.
"Ar pasti akan menerima mereka" tangan Abra mengelus perut Zahra yang mulai membuncit.
Kepala Zahra mengangguk "ya, dia perlu waktu sebentar lagi pasti menelfon."
"Dia pasti terkejut mempunyai adik diusia dia sekarang."
"Ya"
"Apa lagi dia sekarang sudah kuliah."
Zahra berbalik badan meringsek semakin mendekati tubuh Abra dan memeluk Abra, membenamkan wajahnya dalam dada Abra.
"Beri dia waktu Ara."
Zahra mengangguk lemah, tangan Abra mengelus kepala Zahra seperti biasanya, dia sangat suka jika jemarinya membelai rambut panjang Zahra.
Terdengar deru nafas Zahra yang begitu lirih. Abra merenggangkan pelukan mereka menundukkan kepala, ternyata Zahra sudah tertidur padahal baru saja jam setengah tujuh malam.
Sejak hamil Zahra selalu cepat lelah, cepat tertidur dan selalu memeluknya dimanapun tanpa canggung seperti awal mereka kembali bersama, Zahra sekarang terlihat manja dan Abra sangat suka itu.
*-*
Mobil mewah hitam berhenti tidak jauh dari rumahnyang ditinggali Aslan dan Regan. Didalamnya seorang paruhbaya menatap kerumah Regan dengan tatapan dingin dibalik kacamata hitamnya.
Mereka adalah geng Cossmos musuh geng keluarga Alaric puluhan tahun.
"Daren, apa benar itu rumahnya?" tanya pria berjanggut bertanya pada dua pria didepannya.
Pria berjanggut itu adalah James Dorio yang dikenal sebagai Jorio, pemimpin dari Cossmos.
"Benar Sir Jorio, saat itu Adam selalu keluar masuk rumah ini." Daren menoleh kerumah yang James maksud. "Saya dan Niel bisa memastikan jika dua anak yang tinggal disana adalah anak Adam."
"Kami berhasil merekam saat Adam memperkenalkan kedua anaknya pada Enzo." Niel memencet tombol play di hpnya.
"kenalkan dia paman Enzo suami dari Hana, Ayah Emma dan Alaric. Regan dan itu Aslan mereka anakku."
Terdengar suara Abra pagi itu saat memperkenalkan Regan dan Aslan meski sedikit kurang jelas.
Daren dan Niel dua orang yang ditugaskan memantau gereka kelompok Remoree Geng keluarga Remanov yang sekarang dipimpin oleh Miguel Lorenzo Remanov, yang Abra panggil Enzo ayah dari Lorenzo Alaric Remanov.
__ADS_1
Saat mengikuti Alaric yang keluar dengan dua mobil dibelakangnya membuat Daren dan Niel curiga mereka akan melakukan suatu transaksi, ternyata lebih berharga dari sebuh transaksi, mereka menemukan Adam yang selama ini James cari.
Malam itu juga mereka berhasil meletakkan penyadap meski di luar jendela dekat dapur. Menemukan Adam suatu ke untungan besar bagi mereka agar semakin dihormati dalam geng Cosmos.
"Kalian membawaku kesini hanya mau menunjukkan rumah anak Adam?, atau kalian sudah mempunyai seluruh informasik tentang mereka?." Jorio menatap bawahannya dengan tatapan dingin.
Daren dan Niel saling lirik, mereka tidak mempunyai apapun selain informasi tempat tinggal kedua anak Abra.
Brak ...
Buk ...
Begitu cepat, Jorio menendang belakang kursi Niel hingga kepala Niel terbentur kesetir mobil lalu beralih pad Daren.
Bruk ...
Tangan Jorio menbenturkan kepala Daren pada kaca pintu mobil disampingnya.
Tidak ada suara keluhan kesakitan dari Daren atau Niel, mereka tidak berani mengeluh bahkan mengelurkan suara sedikitpun.
*-*
"You want to be a *****!."
Tanpa bisa dikontrol kalimat itu keluar dari mulut Regan dan dengan cepat Regan berdiri berbalik badan.
Dia yakin jika sampai Zahra mendengar apa yang dia katakan barusan, wanita itu akan marah dan menceramahinya.
Bagaimana tidak terkejut, Emma masuk kedalam kamarnya tanpa permisi menggunakan tenktop dan hot pants, memeluk Regan yang sedang duduk membaca buku diatas ranjangnya.
"Jika menjadi bitchmu aku mau saja" dangan santai Emma mengatakannya.
Pintu kamar Regan diketuk dari luar, sebelum Regan melarang Aslan untuk membuka pintu, Aslan sudah membuka pintu dengan lebih dulu, tercengang sedetik kemudian ....
"Astagfirullah hal azim ..." Aslan malah berteriak melengking menyakiti gendang telinga Regan dan Emma.
Aslan langsung ikut membalikkan badannya, berjalan mundur berdiri disamping Regan berbicara menggunakan bahasa indonesia dia bertanya "dia mau ngapain?."
Regan hanya mengangkat bahunya meraup wajahnya sendiri.
"Emma pakai bajumu" tanpa berbalik Aslan mengucapkannya dengan kalimat tegas.
"Tidak" tolak Emma. "Kenapa kamu masuk?, aku hanya mau bermain dengan Adam junior."
Aslan tergagap melirik Regan yang hanya diam berkacak pinggang seakan biasa saja mendengarkan aoa yang dikatan Emma barusan, lalu melirik kearah selangkang Regan dan menggelengkan kepala pelan.
"Be ... bermain apa maksudmu?" Aslan tergagap.
Regan meliruk Aslan yang ternya masik melirik kearah selangkanya membuatnya kesal dan memukul tengkuk Aslan keras.
"Dia anak Mr Adam, pasti dia gagah dan perkasa sepertinya. Bukannya like father like son?."
Mata Regan menggelap mendengarnya "darimana kamu Ayahku gagah dan perkasa?" desis Regan.
Emma berdiri menatap punggung dua pria didepannya. "Tante Cla memiliki foto Mr Adam shirtless and make me horny."
"Ya Allah..." Aslan beristigfar.
__ADS_1
Regan hanya melongo tidak mengerti menatap Aslan yang terus beristigfar berkali-kali sambil mengelus dadanya.
"Dia memang anak kandung Mr Abra atau Adam yang kamu maksud, tetapi dia masih anak kecil ..."
"Hei" Regan tidak suka dikatakan anak kecil oleh Aslan.
"Dia tidak gagah atau perkasa."
"Oh ya?, lalu kalau kamu?."
Deg...
Lembut..
"Astagfirullah hal adzim Ya Allah..."
Aslan melepaskan diri dari pelukan Emma, tanpa menoleh dia mendorong pundak Emma hingga terjatuh keatas kasur.
Emma memeluknya dari belakang membuatnya merasakan sesuatu yang tidak seharusnya dipunggungnya.
Aslan dengan cepat mendorong Regan keluar, mencabut kunci pintu kamar Regan dan mengunci Emma di dalam kamar Regan.
"Kenapa mengunciku didalam sini" Emma berteriak dari dalam kamar.
Aslan masih saja beristigfar mengelus dadanya, Regan yang tidak mengerti apa yang terjadi hanya menatap Aslan aneh.
Dengan langkah lebar Aslan mengambil hpnya diatas meja ruang tamu menghubungi Alaric.
"Bawa adikmu, dia mau meracuni otak Regan. Jemput dia sekarang."
*-*
.
Hai Reader πππ
Author mulai projek baru
Menceritakan para remaja lope-lope kita di One More Chance
πtapi ceritanya berseries π
Ayo buruan kenalan sama si
ReQi : Raja Series
Mohon dukungannya π
Diusahakan tiap hari OMC dan ReQi dua-duanya bisa up π Aamin... π
Jangan lupa ...
Selalu tinggalkan jejak π
πLike and π¬Comment
Demi mendukung karya Author dan menyemangati Author π
__ADS_1
Love You π
Unik Muaaa