
"Hentikan mobilnya!" seru Regan.
Sam yang mengendarai mobil perlahan menepikan mobil yang mereka tumpangi, Abra yang duduk di belakang menatap Regan penuh tanya.
"Bunda semakin kedinginan, mungkin karena ASInya tidak keluar semalaman" ucap Regan sebelum keluar dari mobil dan berlari masuk kedalam apotik terdekat.
Abra menatap Zahra yang bergerak gelisah dalam pelukannya, sebelah tangan Zahra menutupi ***********, sedangkan tangan yang lainnya mencengram baju Abra menahan sakit..
"Sakit" ucap Zahra begitu lirih.
Perlahan Abra membuka selimut yang menutupi tubuh Zahra, Asi Zahra sudah membasahi bajunya bahkan selimut yang menyelimutinya.
Zahra membuka matanya menatap Abra, "sakit" ucapnya lagi lirih dan serak menahan kesakitan, "dingin".
Abra mencium kening Zahra, menarik tubuh Zahra semakin merapat padanya, menatap kearah apotik tadi Regan masuk berharap agar Regan cepat keluar dari sana.
"Turun semua" ucap Abra lirih, saat melihat Regan keluar berlari kearah mobil mereka.
Regan membuka pintu mobil disamping Abra dan menjulurkan breastpump dan kantong ASIP. Regan menatap Zahra sejenak sebelum akhirnya menutup pintu mobil.
Perlahan Regan melangkahkan kakinya duduk di pinggir trotoar menatap kosong kedepan.
Aslan keluar dari mobil yang lain berjalan menghampiri Regan dan duduk disampingnya, merangkul pundak Regan. "Bunda baik-baik saja kan?" tanya Aslan.
Regan mengangguk pelan, "semoga saja setelah di pumping baik-baik saja."
"Pumping?" Emma duduk disebelah Regan, "apa pumping?" tanyanya.
Sebenarnya Aslan juga tidak tahu apa itu pumping tapi dia yang sudah mengerti Regan merasa jika sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertanya.
Melihat Emma yang duduk disamping Regan membuat Sam mengerutkan keningnya, "bukannya kamu tadi dengan Enzo?."
Emma ganya mengangkat bahunya cuek menanggapi pertanyaan Sam.
Dan Regan terus diam tidak menjawab pertanyaan Emma tadi, dia masih belum bisa tenang sebelum Zahra baik-baik saja. Regan menundukkan wajahnya dalam.
*-*
Zahra menatap Abra begitu dalam menyentuh pipi Abra membuat Abra mendongak membalas tatapan mata Zahra.
"Maaf" ucap Abra lirih.
Zahra tersenyum, mengangguk lemah.
Perlahan Zahra duduk tegak agar memudahkan Abra yang sedang membantunya mengeluarkan ASI menggunakan pumping, begitu telaten dan sesekali menyentuh kening Zahra.
"Bagaimana masih sakit?" tanya Abra.
Kepala Zahra mengangguk pelan.
"Tapi kenapa ..."
"Gak papa aku sudah merasa mendingan kok, hanya masih sedikit terasa nyeri"
__ADS_1
Abra membenarkan baju Zahra, kerudungnya hingga dia terdiam saat tatapan mereka bertautan.
Tangan Abra membingkai wajah Zahra, "aku minta maaf, aku benar-benar ti ..."
"Sekarang bukan waktunya menjelaskan apa yang terjadi" potong Zahra, kembali menyandarkan kepalanya dipundak Abra. "Masih terasa nyeri, aku mengantuk ingin tidur juga."
Abra menggeser tubuhnya kembali memeluk Zahra dalam dekapannya, mencium puncak kepala Zahra beberapa kali, "tidurlah."
Sebelah tangan Abra mengirim pesan pada Sam untuk kembali masuk kedalam mobil dan melanjutkan perjalanan pulang mereka.
*-*
Si kembar sudah mandi, Hanna dan Fani membawa mereka keruang tamu, membiarkan mereka berdua bersama Gea, sedangkan mereka mulai sibuk didapur.
Vira baru membuka pintunkamar dengan handuk di pundaknya bersiap akan mandi, dia tersenyum melihat Gea bermain bersama dua bayi dikasur yang tergelar diruang tamu.
"Siapa nama mereka?" tanya Vira menghampiri Gea.
"Bilqis dan Chaka" jawab Gea tanpa mengalihkan perhatiannya pada si kembar.
Vira duduk disamping Gea memperhatikan si kembar dan melihat Gea yang begitu bahagia berbicara dengan mereka meski Vira yankin si kembar meski tertawa dan mengoceh mereka tidak mengerti apa yang dibicarakan Gea.
Tetapi melihat Gea yang bagitu bahagia mendapat respon dari mereka membuat Vira ikut tersenyum, dan tiba-tiba terdiam tangannya menyentuh perut ratanya.
Andai dia tidak mengikuti saran Luis, dia pasti memiliki tiga orang anak, dapat melihat senyum Gea seperti sekarang.
"Bahagia ya punya adik?" tanya Vira pelan mengelus rambut Gea.
Kepala Gea mengangguk, "mereka lucu dan menggemaskan. Meski punya masalah saat lihat mereka Gea jadi gemes, kata Bunda anak adalah berkah yang harus disyukuri."
Empat kata terakhir berhasil menghentikan tangan Vira mengelus rambut Gea.
Perlahan tangannya turun menggepal erat, memalingkan muka kelain arah dan tiba-tiba keningnya mengerut. Dengan cepat Vira berdiri membuka pintu dnegan lebar.
"Kenapa anda disini?" tanya Vira menatap Prabu tajam.
Melihat Vira berdiri didepannya membuat Prabu tertegun, terakhir dia bertemu Vira saat ada Malvin dikantornya, lalu kapan Vira berangkat?.
"Kamu sendiri kenapa disini?, bukannya disini rumah Abraham Ganendra?" mata Prabu memicing penuh curiga.
Tak menjawab Vira malah hendak menutup pintu rumah tetapi dengan cepat Prabu menahan daun pintundan menarik lengan Vira hingga tubuh Vira ikut tertarik keluar dari dalam rumah.
"Apa kamu simpanan Pak Abra?"
Mendengar tuduhan Prabu, bukan merasa tersinggung Vira malah tersenyum lebar.
"Wah ... sulit dipercaya" Prabu tersenyum sarkas mengejek Vira, "jika pelakor tetap saja plakor, jika pecinta hidup bebas maka tetap saja tidak bisa berubah."
Bibir memang tetap tersenyum tetapi rahang Vira mengetat menatap Prabu dalam lalu menghela nafas setelah bisa mengontrol dirinya.
Tersinggung pasti, dan jangan ditanyakan lagi bagaimana sakitnya hati Vira, tetapi dengan tenang dia mengucapkan, "terima kasih, saya eit ... lupa gue udah dipecat. Terima kasih gue sangat tersanjung sama apa yang lo katakan."
Rahang Prabu mengetat menatap Vira nyalang, melangkah satu langkah kedepan membuat jarak tubuh diantara mereka begitu dekat.
__ADS_1
Kepala Prabu bahkan harus menunduk agar tatapan maya mereka saling bertautan dan dia bisa mengintimidasi Vira.
"Apa lo merasa bangga sudah menjadi simpanan pria beristri?" tanya Prabu dengan suara mendesisi.
"Gak ada urusannya dengan lo, urus saja perusahaan lo dengan benar."
"Jangan salah sangka, gue gak perduli urusan lo, gue perduli sama keluarga Ganendra. Kasihan saja dengan masa depan anak mereka jika Pak Abra malah memilih wanita kayak lo."
Bibir Vira bergetar hingga dia harus mengulum bibirnya, sekuat tenanga Vira tidak menunjukkan batapa tersinggung dan sakit hatindirinya mendengar ucaoan Prabu, kepalanya bahkanntetap mendongak sehingga tatapan mereka masih bertautan.
Vira mendorong tubuh Prabu dengan sekuat tenanga hingga berhasil membuat Prabu mundur. "Terserah, sekarang bukan waktu yang tepat buat gue ngeladenin lo."
"Mami si ..."
Gea tidak melanjutkan kalimatnya, dia diam menatap Prabu dan Vira bergantian yang saling tatap seperti musu bebuyutan yang baru bertemu saling angkat senjata siap perang.
Tepat ketika itu dua mobil berhenti didepan pekarangan rumah, Sam keluar dari mobil membuka pintu belakang agar memudahkan Abra keluar dengan membopong tubuh Zahra.
Prabu yang melihatnya langsung menarik lengan Vira agar memberi mereka jalan. Bukah mengutarakan apa yang ada dibenaknya saat pertama kali melihat Zahra dalam gendongan Abra, Vira malah menatap lengannya dan menyentaknya melepaskan diri dan masuk begitu saja kedalam rumah.
"Ayah jangan langsung tidur" ucap Regan yang mengekori Abra, "mandikan Bunda pakai air hangat dulu."
"Iya, tadi Bunda kedinginan" sambung Aslan.
Abra langsung berbalik menuju kamar mandi bawab yang terdapat bathupnya.
"Gea ambilin baju dan handuk" ucap Gea.
Alaric ingin berjalan kekamarnya tetapi Javir menarik kerah belakang baju Alaric dan menariknya naik.keatas tangga kelantai dua.
"Mandi dulu" teriak Hanna yang baru saja keluar dari dapur, "semua mandi dulu, makan baru tidur."
Semua mengangguk mengiakan berjalan dengan lemas duduk dilantai bahkan Sam langsung merebahkan dirinya bagitu saja.
"Bunda tidak apa-apa kan?" tanya Gea duduk di anak tangga disamping Regan.
"ya"
"Tetapi kenapa Bunda pingsan?"
Tangan Regan menepuk puncak kepala Gea menenangkan Gea. "Bukan, waktu diperjalanan pulang Bunda tertidur, sepertinya semalaman Bunda menangis."
Gea menatap Bilqis dan Chaka yang tertidur di kasur bawah, "mereka juga sejak tadi nangis terus baru tidur."
"aku juga mengantuk" keluh Regan mengucek-ngucek matanya yang memerah.
Regan berjalan menghampiri sikembar dan merebahkan tubuhnya disamping Bilqis diikuti Aslan yang pada akhirnya mereka tertidur juga.
Gea yang menatap mereka berempat yang tidur berjejeran membuat Gea menghela nafas lega dan memilih ikut tidur disamping Chaka.
*-*
*Sepi ... 😑
__ADS_1
Hayu ... mana dukungannya jangan lupa tinggalkan jejak⭐🔖💖🎁👍💬
Love you 😙* Unik Muaaa