One More Chance

One More Chance
Dulu dan Sekarang


__ADS_3

"Bunda."


Mendengar panggilan itu tangan Abra mengepal. Bunda? yang benar saja?. Siapa anak didepannya?, apa Zahra sudah menikah lagi?, siapa suaminya?, kapan mereka menikah?, KENAPA ?, TIDAK...


"Mesuk kamar," perintah Zahra datar, namun penuh tekanan.


Mendengar nada suara Bundanya yang menandakan dirinya tidak boleh ikut campur, Regan hanya diam dan patuh masuk kedalam rumah. Dia tidak akan membantah atau mengatakan apapun jika Bundanya sudah dalam mood serius.


Sesampai didalam kamar, Regan menatap lekat kearah pintu kamar yang baru saja dia tutup. Tatapannya tidak memancarkan apa yang dia rasakan kali ini. Lalu beralih menatap pada buku diatas mejanya, buku yang beberapa minggu ini menjadi tempat menggabungkan segala hal yang terpendam hingga menguak sesuatu yang seharusnya tidak dia ketahui kecuali dari Bundanya.


*-*


Di teras depan, di kursi tempat pelanggannya biasa duduk untuk menikmati roti pesanan mereka. Abra dan Zahra duduk terdiam sibuk dengan pikiran masing-masih, bahkan Zahra mengeratkan rahangnya demi menutupi perasaannya sendiri.


"a...aku...."


"Pulanglah," potong Zahra lirih, tanpa menatap Abra, sedangkan sejak tadi tatapan Abra hanya tertuju padanya.


Mereka kembali terdiam.


Wajah Zahra tirus, pipinya tidak lagi tembem seperti empat belas Tahun lalu. Rambut panjang, lembut dan hitam pekat yang dulu selalu Abra elus tertutup oleh kerudung yang sekarang Zahra kenakan. Abra yakin rambut Zahra tetap panjang karenah terlihat sanggulan kerudung dibelakang kepala Zahra yang menonjol.


"Cantik," Guma Abra lirih namun dia yakin Zahra mendengarnya, karena wanita itu menghela nafas dan menatap kelangit.


Abra terkekeh. "Pakai kerudung dan melihat cara dudukmu sekarang cukup anggun, dewasa dan tidak terlihat seperti dulu, sangat tomboy "


Zahra tetap diam.


Namun tidak memuat Abra tenang akan diamnya wanita didepannya. Meski penampilan dan sikap Zahra berubah dia tau kepribadian dan watak seseorang sulit untuk berubah meski empat belas tahun adalah waktu yang lama menurut Abra.


"Anak tadi...." Zahra diam-diam menggenggam tangannya hingga memutih mendengarkan Abra akan membahas masalah Regan. "Dia siapa?" Suara Abra mulai memberat kali ini sesak karena pikiran negatifnya, sejak tadi satu persatu mulai mundul tidak bisa dia tepis.


Sikap Zahra yang bungkam sejak tadi membuatnya cemas akan segala hal.


"anakku" jawab Zahra tiba-tiba dengan suara datar.


"Anak angkat?."


Zahra kembali diam.


Abra menghela nafas sebelum bertanyau "anak tiri?." Suaranya penuh akan tekanan menahan perasaan yang sedang berkecamuk.


Namun wanita itu tetap saja diam.


"Jangan ... jangan bilang kalau kamu menikah lagi?. Dan dia ... dia anak suami kamu ... Ara ... kita ... kamu masih menyandang status istri aku ... aku ... kita ...." Abra terbatah-batah mengatakannya dia sendiri bingun mau mengakatan apa dan bagaimana.


Zahra tersenyum dengan tatapan datanya.


Tangan Abra mengerat melihatnya. Diam, tatapan datar dan senyum Zahra yang hanya segaris selalu menghantuinya sejak empat belah tahun, dan kali ini dia kembali melihatnya, membuat tubuhnya kaku.

__ADS_1


"Kenapa jika aku menikah lagi?."


Buk...


Pertanyaan Zahra seakan berhasil menghantam dadanya dengan tepat.


"Kita sudah lama berpisah."


"Tetapi kita tidak bercerai Ara, lebih tepatnya kamu yang menunggalkan aku!." Abra mendesis.


Bukanya terintimidasi Zahra malah tertawa. "Aku sudah mengajukan surat cerai."


"Aku tidak mentandatanganinya."


Kepala Zahra terangguk-angguk tetap dengan senyum segaris yang dipertahankannya. "Fi janji pranikah poin satu tertulis jika aku akan menjadi satu-satunya, dan di bawah aku menulis kamu siap menerima konsekuensi apapun yang akan aku berikan jika kamu melanggar pion pertama." Senyum Sahra menghilang. "Kamu mentanda tanganinya dan bahkan memberi cap tiga jarimu?. apa kamu kembali akan melanggar janjimu sendiri?."


Abra terdiam membuat Zahra tertawa lalu menghela nafas sebelum tatapannya kembali datar dan dingin menatap kearah langit. "Dulu aku sudah peringatkan jangan berlebihan, karena aku tau cinta pertamamu itu diatas segalanya mungkin melabihi kedudukan Tuhan dihatimu."


Abra bungkam, mereka kembali terdiam lagi.


Semua kembali berputar dalam benak Zahra, kejadian yang sudah beberapa tahun ini mulai memudar seakan kembali jelas terlihat didepan manya seakan baru beberapa detik lalu dia melihatnya.


Cukup lama mereka terdiam hingga Zahra yang lebih dulu mengeluarkan suara membuat Abra kembali menatap wanita didepannya. "pulanglah aku banyak kerjaan" ucap Zahra sambil berdiri hendak meninggalkan Abra.


Sebelum Zahra sempat melangkah, Abra menghalangi langkahnya. "Detidaknya jawab satu pertanyaanku, apa kamu benar-benar sudah menikah lagi?." Mata Abra mulai memerah. "Dulu kamu mengakatan hanya ingin menikah satu kali, kamu ...."


"Tapi kamu masih istriku Ara!."


"Lalu."


"Kamu istriku, jadi tidak seharusnya kamu menikah lagi disaat statusmu ...."


"Apa kamu tidak sadar diri?."


Abra menghela nafas. "Setidaknya aku laki-laku, kamu ...."


"Oh ya... aku lupa, laki-laki boleh menikah sampai empat kali sedangkan perempuan tidak. Tetapi...." Mata Zahra memicing menatap tajam pada bola mata Abra. "Apa sebutan untuk seorang laki-laki beristri menikah diam-diam dibelakang itrinya?, apa sebutan seorang laki-laki yang mengingkari janji pranikah yang dia buat sediri tanpa si wanita inginkan hanya demi meyakinkan wanita itu, mempermainkan dan ... aku tidak tau untuk mengatakan apa lagi." Zahra menghela nafas. "Pergilah jangan mengganggu hidupku, aku tidak mengganggu hidup kalian bukan?."


Zahra melangkahkan kakinya.


"Aku kesini mau bertemu anak itu untuk membahas biasiswa."


Berhasil, langkah Zahra berhasi dia tahan . Abra masih merindukan Aranya, dia mengakui itu. Meski Zahra bersikap dingin padanya, Abra masih ingin menatap wanita itu, wanita yang dia cari selama bertahun-tahun.


"Dia tidak mau."


Suara Zahra kembali berubah, Abra yang sadar akan hal itu melangkahakan kaki mendekati Zahra yang masih memunggunginya.


"Jangan membatasi anak kamu hanya ibu sambung, setidaknya nanti jika dia sukses kamu juga yang mendapat imbasnya. Dia penuh potensi, kamu gak berhak menentukan masa depan dia ...."

__ADS_1


"Dia sendiri yang tidak mau!." Bentak Zahra berbalik badan dan tercekat melihat Abra sudah berdiri tiga langkah didepannya.


Melihat itu Abra tersenyum seakan memiliki harapan menatap wajah Zahra lebih lama. "Tidak mungkin, mana ada anak yang menyia-nyiakan kesempatan kuliah diluar negri."


Zahra berdecak. "ABANG ...."


Teriakan Zahra membuat Abra ketar-ketir. Abang?, Suami Ara ada dirumah?.


Regan berdiri di samping Zahra, melihat yang datang ternyata Regan, Abra sedikit lega namun merasa kesal juga.


"Ternyata dia ada perlu dengan Arz." Zahra merangkul lengan Regan.


Abra melirik lengan Regan kesal. "Masalah beasiswa ...."


"Saya tidak mau," potong Rega membuat Abra ternganga.


"Coba pikir ulang."


"Saya sudah berkali-kali memikirkannya."


"Apa dia yang melarangmu."


Regan menepis tangan Abra yang menunjuk Bundanya. "Tidak, saya yang memutuskan sendiri." Regan melirik Bundanya. "Bunda hanya tau saya dapat tawaran beasiswa, selebihnya keputusan ada ditanyan saya."


Rahang Abra mengerat mendengarnya, bahkan senyum Zahra dan tingkahnya berubah manja merangkul pinggang Regan dari samping membuatnya kesal.


"Saya kesini bukan keinginan saya sendiri, beliau sudah seminggu masuk rumah sakit karena drop." Abra melirik Zahra. "Opa saya, yang kamu panggil kakek Arya." Abra kembali menatap Regan dengan serius. "Sepertinya beliau benar-benar mengharapkanmu untuk menerima beasiswa itu, dia memaksa saya untuk menemuimu bahakan mengancam akan menemuimu sendiri jika saya menolak."


Regan diam menatap Abra dengan tatapan datarnya.


"Jika kamu... tidak lebih tepatnya BUNDA" Abra menekan kata Bunda sambil melirik Zahra. "... kamu mengizinkan, kamu bisa ikut saya dan mengatakanya sendiri pada beliau keputusanmu."


Pelukan Zahra langsung mengerat. "Tidak," larang Zahra tegas.


"Why?."


Zahra gelagapan "Telfon saja."


Mata Abra melotot. "Kamu mau Opa nekat kesini, atau bahkan serangan jantung lalu mati."


Reflek Zahra memukul mulut Abra sambil berseru, "Astagfirullah."


Abra mingkem seketika, matanya tidak luput menatap raut wajah Zahra, bahagia yang begitu membuncahkan dadanya karena sentuhan Zahra yang hanya sekilas meski menyakiti bibirnya seakan menulikan telinganya dari omelan Zahra.


"Kalau begitu sepertinya saya harus menginab agar kita mempunyai solusi yang baik untuk memberi tahu beliau atas penolakanmu."


*-*


Unique_Muaaa

__ADS_1


__ADS_2