
Jam dua malam, Chaka tiba-tiba nangis, Zahra yang tidur disebelahnya dengan cepat bangun menepuk-nepuk pelan agar Chaka tenang dan tidak membuat Bilqis terbangun.
"Iya, iya Bunda disini" ucap Zahra lembut mengangkat tubuh Chaka menimangnya.
Gerakan yang ditimbulkan Zahra membuat Abra terbangun, dia menatap Zahra yang begitu telaten menimang Chaka, hingga akhirnya Abra duduk bersandar pada headboard kasur.
"Kebangun ya?" tanya Zahra mendekati Abra.
Kepala Abra mengangguk, menarik Zahra untuk kembali naik kekasur dan bersandar padanya sambil menyusui Chaka.
"Sepertinya dia bangun dari tadi, tapi aku gak sadar mangkanya dia nangis." Zahra mengusap kening Chaka, "maaf ya kamu jadi kebangun."
Abra mengelus kepala Zahra dan menciumnya, "kenapa harus minta maaf?, aku justru merasa bahagia kebangun melihat kamu dengan telaten nenangin Chaka pada hal kamu juga ngantuk."
Kepala Zahra mengangguk dan menyandarkan kepalanya didada Abra, "iya masih ngantuk."
"Chaka masih *****?"
Dilihatnya Chaka yang menyusu sambil memaninkan rambut Zahra, tiba-tiba berhenti menyusu dan tertawa kecil menatap Abra.
"Lah dia malah ketawa, gak ngantuk Chak?, ini masih malem loh" Abra mengelus pipi Chaka.
"Sepertinya dia hobi begadang kayak kamu" Zahra mendongak.
Abra tersenyum kecil, "tapi begadangnya bukan lapar kayak dia, bayi laki-laki nyusunya lebih sering dan lama dari bayi perempuan ya."
"Wah ... satu hari sama-sama mereka terus sudah hebat ya, udah paham."
Tangan Abra memeluk Zahra dan Chaka dari belakang, "karena ini adalah suatu kesempatan berharga yang gak akan terulang kedua kalinya."
"Ya kesempatan yang harus kita pergunakan dengan baik, selama mereka masih butuh kita dan bisa kita peluk-peluk. Kalau sudah seperti Gea, Ar dan As dipeluk-peluk di cium-cium pasti protes."
Mereka tertawa kecil bersama.
"Ya dan aku sudah kehilangan satu kesempatan ikut andil dalam memperhatikan masa kecil Ar, jadi kali ini aku tidak mau ketinggalan lagi."
"Hemz ..." sahut Zahra begitu lirih.
"Tidur ya, sini Chaka biar aku yang nemenin."
Abra mengambil Chaka dari gendongan Zahra, perlahan Zahra meringsut dan kembali tertidur disamping Bilqis.
Abra melangkah keluar dari kamarnya membuka pintu perlahan, masuk kekamar si kembar untuk mengambil baby wrap dan menggendong Chaka didepan dadanya.
Ini pertama kali dia menghabiskan waktu liburnya dengan menggendong bayi, dulu saat Gea dia masih takut, apa lagi saat itu dia workaholic jadi jarang bisa mengendong dan menghabiskan waktu dengan Gea seperti sekarang.
Abra membawa selimut keruang keluarga, didepan tv ada kasur dan Abra tiduran disana dengan Chaka mengoceh.
"Kamu ngomong apa Ayah gak ngerti?" tanya Abra terkikik gemas.
Chaka mengusel-usel wajahnya didada Abra membuat Abra tertawa, kelakuannya seperti Zahra yang selalu mengusel-usel kepanya sebelum tidur.
"Pasti udah ngantu ya?."
__ADS_1
Abra menyalakan tv, tangannya memukul pelan pantat kecil Chaka agar cepat tertidur, dan pada akhirnya bukah hanya Chaka yang tertidur, tetapi Abra juga.
*-*
Susah bergerak, Regan kesulitan menarik lengan tangannya, dengan malas Regan akhirnya membuka matanya melirik kesamping, ternyata Emma tidur disampingnya berbantal lengannya.
Regan tidak tahu kapan Emma masuk kedalam kamarnya, mungkin karena dia tidur terlalu malam hingga lupa mengunci pintu kamar seperti biasa.
Tangan Regan menyingkap selimutnya, ternyata Emma hanya mengenakan hotpant dan tanktop seperti biasanya.
Perlahan Regan menarik tangannya, turun dari kasur dan mengguling-gulingkan tubuh Emma pelan hingga terbungkus selumut seperti kepong-pong dan menggendong Emma seperti layaknya karung beras keluar kamar.
Javir dan Alaric baru datang duduk disofa ruang tamu malas untuk kekamar masing-masing.
"Siapa?" tanya Javir yang melihat Regan turun tangga.
Alaric melirik kearah Regan yang berjalan kekamar Emma tidak menjawab pertanyaan Javir, sontak Alaric tertawa ngakak setelah sadar ternyata Emma yang dipanggul Regan.
"Kenapa bisa tidur gak bangun digendong gitu?, kepalanya kan goyang-goyang" Javir menatap kearah kamar Emma.
"Dia kalau kelelahan tidur memang begitu" sahut Alaric disela-sela tawanya.
Javir kali ini menoleh pada Alaric, "memangnya ngapain sampai kelelahan?, kerja jadi kuli bangunan."
Alaric menggelengkan kepala, "latihan sama anak buah Daddy, badannya pasti sakit semua sampai susah tidur, dan biadanya minum obat tidur dia."
"Kebiasaan adikmu kenapa selalu menyelinap kekamarku bukan kekamar yang lain?" tanya Regan sambil berjalan melewati mereka.
"Dia tertarik sama kamu, memangnya kamu enggak?" seru Javir
"Ya, semalam gak kunci pintu kamar aku malam ini dia tidur di mension kalian."
Regan kembali naik kekamarnya tidaknlagi menghiraukan Alaric dan Javir yang tertawa meledeknya.
Emma memang cantik, baik, meski terkesan terlalu buka-bukaan, tetapi dia salah satu wanita yang terlihat seperti Bundanya. Wanita yang tidak menunjukkan takut pada apapun, ceria, jujur dan kuat, meski sebenarnya dia wanita lemah yang butuh diperhatikan dan manja.
"Tertarik?" guma Regan setelah merebahkan diri dikasurnya?, "tertarik apa?."
*-*
Pagi hari, Zahra sibuk memandikan Bilqis dan Chaka bergantian dengan bantuan Abra, setelah itu meminta Fani dan Ayu untuk membantunya menjaga anak mereka berdua, sedangakan Zahra sibuk mengurus baby besarnya Abra, dari menyiapkan baju kerja, sepatu dan tas lalu menemaninya sarapan.
Gea mengunyah sarapannya dengan oelan sambil membaca buku pelajaran, Zahra yang melihatnya menghampiri Gea dan mengambil buku dari tangan Gea lalu menutupnya.
"Jangan makan sambil belajar" larang Zahra tegas.
Gea menyengir mengangguk patuh dan mulai menghabisi sarapannya.
"sekarang hari terakhir ujian?" tanya Abra.
Kepala Gea mengangguk, "iya Yah nanti pulang sekolah Gea langsung tidur gak bantu Bunda jaga si kembar ya Bun?, Gea ingin tidur lama setelah seminggu kurang tidur."
Zahra tertawa kecil mengelus rambut Gea sayang, "iya sayang."
__ADS_1
"Jika Gea peringkatnya masuk sepuluh besar kita libur gimana?" tanya Abra, "usia si kembar juga sudah aman untuk dibawa jalan-jalan."
Gea dan Zahra tersenyum, menoleh pada Abra dengan mata mereka yang berbinar-binar.
"Beneran ya Ayah gak boleh bohong, kita liburan keluar negri"
"Memangnya kamu yakin masuk sepuluh besar?" Abra bertanya dengan lirikan matanya.
Kapala Gea mengangguk.
"Kita jenguk Ar dan As sekalian libur gimana?, udah setahun mereka gak pulang Bunda kangen, mereka juga belum pernah lihat si kembar secara langsung" Zahra memberi usulan.
Gea dan Abra sama-sama terdiam tidak langsung menanggapi sibuk dengan pikiran masing-masing.
Abra mengkhawatirkan keselamatan Zahra dan anak-anak, jika Gea ... ada Javir yang juga tinggal satu rumah dengan As dan Ar, bagaimana nasib hatinya nanti?.
"Kejahuan ya?" suara bertanya Zahra menyiratkan kesedihan.
Gea menoleh pada Abra penasaran apa yang akan Abra katakan, tangannya mengepal gugup. Dia juga kangen As dan Ar, tapi ... jika harus bertemu Javir siapkah dia?.
"Kita konsultasi dengan dokter dulu, karena perjalanannya belasan jam kesana."
Diam-diam Gea bernafas lega mendengarnya."
*-*
Ini bukan kamarnya
Dengan cepat Vira bangun dari tidurnya meski kepalanya terasa pening. Hal yang oertama dia cek adalah dirinya sendiri, dari bajunyang masih semalam dia pakai, meraba sesuatu tidak merasa sakit dan mencurigakan.
"Jaman sekarang ada orang yang melewatkan kesempatan emas dengan tubuh gue?" tanya Vira oada dirinya sendiri.
Vira mulai berdiri meski oleang mencari sesuatu yang bisa memberi petunjuk dimana dia sekarang atau dengan siapa.
Kepalanya menoleh pada meja disamping jendela, Hotel Our Season Vira membekap mulutnya, berjalan kearah jendela dan melihat keluar, entah dia berada dilantai berapa yang pasti dilantai atas dengan fasilitas suit room dan yang terpenting hotel yang dia tempati sekarang hotel termewah.
"Gila gue udah lama gak tidur di hotel beginian, kesempatan mana boleh dilewatkan, satu kali gak ngantor gak masalah lah."
Vira berlari-kecil kegirangan menuju kamar mandi, tidak sabar untuk berendam setelah semalaman dia tepar mabuk tak sadarkan diri.
*-*
.
.
.
Unik Muaaa
jalan-jalan keluar negri
cerita Aslan
__ADS_1
kegilaan Emma