One More Chance

One More Chance
Putri


__ADS_3

Barang-barang Pak Jaya satu persatu sudah dibawa keluar kota menggunakan truck, hanya beberapa barang yang tertinggal.


Malam ini adalah malam penyerahan perusahaan Jaya Indah pada pemilik barunya, Vira memaksa ikut ingin mengetahui siap yang sudah mengakuisisi perusahaan keluarga mereka. Pada awalnya pak Jaya tidak mengizinkan hingga Vira berjanji tidak akan membuat masalah atau seumur hidup benar-benar tidak akan keluar dari rumah mereka selangkahpun.


Disituasi mereka sekarang Papanya malah hadir, sejak mereka datang tadi tidak berhenti tersenyum dan menyapa para kolega seakan tidak merasa malu perusahaannya telah diakuisisi oleh orang lain membuat Vira gendek melihatnya.


Vira menatap pantulan dirinya di kaca toilet sambil menghela nafas, dia harus bisa keluar dengan anggun, elegan dan setanang mungkin, sudah lebih dari sepuluh tahun sejak terakhir dia hadir dalam pesta orang kaya membuatnya sedikit nerves.


"Oke Savira, lo pasti bisa dulu lo sudah biasa berbaur dengan orang-orang berkelas."


Vira seakan menghipnotis dirinya sendiri sambil menghela nafas beberapa kali lalu melangkahkan kakinya keluar dari toilet.


Baru satu kali melangkah, langkahnya terhenti tepat didepan pintu toilet, matanya tidak sengaja bersitatap dengan sepasang mata bernetra gelap yang menatap Vira begitu dalam membuat Vira akhirnya risih dan yanga pertaman memutuskan tautan tatapan mereka.


"Nona Savira" suara bariton menghentikan langkah Vira.


Perlahan Vira berbalik menghadap pria yang tadi menatapnya, dia yakin jika pria itu yang sedang memanggilnya.


Terlihat senyum kecil diwajah pria itu, berjalan mendekati Vira tanpa memutuskan tatapan mata mereka hingga hanya tersisa jarak tiga langkah pria itu menghentikan langkahnya.


"Ternyata benar, anda Savira putri satu-satunya Pak Jaya" dengan senyum penuh kebanggan dan kembali melangkahkan kakinya melewati Vira begitu saja.


Kening Vira mengerut menatap pria barusan keheranan, pria itu memanggilnya hanya untuk memastikan namanya saja?. Dasar gila ingin sadanya Vira menjerit mengatainya tetapi dia harus sabar kali ini.


Perata ternyata sudah dimulai, Pak Jaya dan istrinya berbaur dengan beberapa klien mereka entah apa yang mereka bicarakan Vira tidak perduli.


"Mohon perhatiannya" seorang Mc berdiri ditenga-tengah panggung mengintruksi semua perhatian pata tamu untuk tertuju keatas panggung.


"Tadi pesta telah dibuka oleh penyerahan berkas dari Pak Jaya kepada pemilik Jaya Indah yang baru, sekarang waktu yang tepat untuk mempersilahkan pada pemilik Perusahaan Jaya Indah yang baru untuk memberikan sepatah dua kata. Pada Pak Prabu waktu dan tempat kami persilahkan."


Prabu, batin Vira memusatkan perhatiannya pada panggun.


Pria dengan setelan jas yang Vira yakini itu adalah jas Armani berdiri ditengah panggung dengan menyapu pandangannya pada seluruh tamu dan berhenti pada dirinya.


"Hai ..." sapa Prabu tetap terpaku pada satu titik, "selamat malam salam hormat saya ...."


Merasa harus mengeluarkan wibawangan Prabu mengalihkan perhatiaannya pada beberapa orang lainnya.


Sejak malam dia menerima map dari Malvin, Prabu terheran-heran pada sosok Savira Aruna mengapa menjadi salah satu orang yang harus dia hindari dari beberapa orang lainnya yang ada di dalam map itu.


Dari foto di profilnya saja wanita itu tampak cantik, bahkan saat mereka tadi berpapasan tidak ada yang salah dari putri Bapak Jaya itu, dia terlihat anggun dan berkelas, hanya wajahnya yang terlihat tirus. Lalu kenapa Malvin memasukkannya dalan list orang yang harus dihindarinya?.


"Terima kasih atas ..." suara Prabu mengambang.


Vira tidak ada ditempat tadi saat dia awal naik keatas panggung.


"Waktunya telah menghadiri pesta yang sederhana ini, silahkan untuk menikmati pestanya."


*-*


Zahra tidur di kasur yang telah disediakan dikamar bayi mereka, Abra baru saja dari dapur mengambilkan segelas susu untuk Zahra karena terlihat Zahra begitu kelelahan mengurus kedua bayi kembar mereka.


"Dia baru saja tertidur" ucap Ibu Zahra sambil meletakkan bayi laki-lakinya kedalam box bayi.


Abra meletakkan gelas ditangannya di meja lalu menghampiri ibu mertunya, berdiri di samping box bayi perempuannya yang sedikit rewel sejak tadi sore.


"Setelah Ar dan As keluar negri rumah tiba-tiba sepi, Gea sibuk dengan tugas sekolah dan saya hanya berdua dengan Zahra" Abra memperbaiki gulung kecil dalam box bayi. "Tiga hari ada mereka rumah jadi kembali ramai" Abra tertawa kecil, "meski sebenarnya kasihan pada Zahra yang kebingungan tapi dia terlihat bahagia."

__ADS_1


"Ya, putrimu itu kalau menangis menjadi profokator" Ibu Zahra mengatakannya disela-sela tawanya.


"Tangisannya kenceng, sampai kedengeran kekamar" Gea ternyata sudah berdiri disamping Abra.


Abra mengelus rambut Gea, apa yang dilakukan Abra tidak luput dari perhatian Ibu Zahra.


"Gea ingin turun tapi tigas Gea tadi belum selesai" ucap Gea dengan wajah cemberut, "harus dikumpulin malam ini terakhir, besok Gea libur seharian mau nemenin Bunda jagain mereka."


Bibir Ibu Zahra mulai terukir senyum yang begitu lebar, dia tidak perlu khawatir ternyata. Saat Ibu dan Ayah Zahra sampai dirumah sakit, mereka baru tahu jika Zahra hamil anak kembar, Ibu Zahra mulai khawatir siapa yang akan membantu Zahra nantinya, menyewa babysitter tidak akan dalam satu hari dapat yang kompeten dan telaten.


Tapi setelah melihat Abra dan Gea yang sejak bayi mereka sampai dirumah begitu antusias membuat perasaan Ibu Zahra lega.


"Kalau begitu Ibu kekamar dulu, jika perlu bantuan panggil saja" ucap Ibu Zahra.


"Iya Bu, terima kasih" ucap Abra sopan.


Abra dan Gea kembali memperhatikan dua bayi yang sedang tidur dengan pulasnya.


Tangan Gea terulur menyentuh tangan kecil bayi perempuan Abra dengan telunjuknya, bayi itu bergerak pelan lalu menggenggam jari Gea membuat Gea tersenyum.


Perlahan wajah Gea berubah sedih, dia melirik pada Abra yang mulai menutup gorden jendela dan mengecilkan suhu Ac.


"Ayah" panggil Gea kembali memperhatikan tangannya yang sedang digenggam.


"Apa sayang" sahut Abra sambil menghampiri Zahra menurupi tubuhnya dengan selimut.


Gea mengulum bibirnya ragu untuk mengatakannya.


Tidak mendengar apa yang ingin Gea katakan Abra kembali mengkampiri Gea berdiri di sebrang Gea menatap wajah ketiga anaknya bergantian.


"Boleh gak Gea bertemu dia?, atau lihat langsung dari jauh?."


"Jika ingin meninggalkan Ayah" kalimat Abra menggantung menatap Gea dalam, "Ayah tidak mengizinkan" lanjut Abra tegas.


Kepala Gea mendongak menatap Abra.


"Karena kehidupan yang baik untuk Gea saat ini disisi Ayah, Bunda, Ar, As dan si kembar" penuh penekanan.


Pancaran tatapan mata Abra bahkan begitu tegas, Gea tersenyum lebar.


"Hanya inget bertemu atau lihat dia dari jauh, bukan pergi dari Ayah, satu jam atau setengah jam saja, tidak untuk selamaya" Gea perlahan melepaskan genggaman tangan si kecil dari jarinya, berjalan menghampiri Abra. "Karena Gea tahu hanya Bunda dan Ayah yang mengerti, peduli dan sayang sama Gea."


Abra menarik Gea dalam pelukannya, "kamu tetap putri Ayah dan Bunda, apapun yang terjadi selalu ingat kamu putri kami."


Gea mengangguk menatap bayi perempuan yang mulai bergerak-gerak, "ya aku putri Ayah dan Bunda, dan si kecil itu tuan putri kita, dia sebentar lagi pasti akan mu ...."


"Owek ..."


Abra melepas pelukannya dari Gea melangkah lebar menghampiri putri kecilnya, mengangkat dia perlahan dan menggendongnya sambil menepuk-nepuk pantat kecilnya pelan meski masih terlihat kaku.


Gea tertawa kecil melihat Abra yang mencoba menenangkannya agar Zahra tidak terganggu.


*-*


Malam semakin pekat, lalu lalang mobil juga semakin sedikit. Perlahan Vira keluar dari taxi, sekarang dia berdiri di sebrang jalan pagar perusahaan Jaya Indah, menatap perusahaan itu dengan dalam.


Teringat saat pertama kali Papanya menunjukkan bangunan perkantoran perusahaan keluarga mereka dengan penuh kebanggaan, kejadian itu kurang lebih dua puluh lima tahun lalu saat Vira masih Sekolah Menengah Pertama.

__ADS_1


Perlahan Vira melangkah menyebrangi jalan semakin menghamiri pagar perusahaan, terlihat banyak lampu dan ada beberpa yang berubah. Kapan terakhir kali dia mengunjungi perusahaan Papanya?, mungkin saat awal dia baru kembali dari luar negri, setelahnya dia tidak pernah lagi kemari.


"Maaf ada perlu apa ya bu?" seorang satpan menghampiri Vira.


Vira tersenyum segaris, "itu ... saya ... saya hanya melihat-lihat."


"Oh ..." kepala satpam itu mengangguk-angguk, "kirain ada perlu sama salah satu karyawan karena jam segini sudah pada pulang, apa lagi ada pesta penyambutan bos baru."


Vira masih tersenyum kecil memalingkan wajah menyembunyikan kepedihannya.


Tit ...


Bunyi kelakson membuat Vira dan pak Satpam menoleh, seseorang keluar dari dalam mobil, sosok yang tadi berdiri di atas panggung, Prabu.


Ngapain dia kesini?, batin Vira menatap Prabu dengan mata memicing.


"Bisa tolong buka pagarnya pak?, tadi saat berkunjung ada berkas yang tertinggal di meja ruangan saya." Suara Prabu begitu lembut dan sopan.


Vira yang mendengarnya mengerutkan kening tak suka, tidak seharusnya pemimpin bersikap seperti Prabu.


"Oh ... Pak Prabu yaa?, baik pak siap."


Dengan sigap Satpam itu membukakan pagar, Vira menatap satpam itu melongo tak percaya, bagaimana bisa Prabu yang baru mengakuisisi dapat dikenali oleh satpam, sedangkan dia selaku putri pemilik perusahaan Jaya Indah sebelumnya malah tidak dikenali sama sekali.


Prabu melangkah masuk, baru beberapa langkah dia menoleh menatap Vira yang masih berdiri di depan pagar menatap kearahnya. Senyum segaris Prabu terbit, pria itu memasukkan sebelah tangannya pada saku celananya dan memberi isyarat pada Vira untuk ikut masuk kedalam kantor.


Dengan penuh ragu Vira ikut masuk, Satpam yang akan melarangnya mendapatkan isyarat dari Prabu akhirnya menunduk mempersilahkan.


"Bagaimana bisa putri seorang pendiri perusahaan tidak dikenali satpam perusahan miliknya." Prabu mengucapkannya dengan nada menyindir.


Vira yang mendengarnya ingin rasanya memukul kepala Prabu yang arogan dengan tas jinjingnya, lagi pula siapa yang akan melihat.


Pintu lift terbuka, Prabu yang pertama kali melangkahkan kakinya masuk lalu Vira juga ikut memasuki lift.


"Saya siap menjadi guide anda mengelilingi perusahaan ini untuk yang terakhir kalianya" ucap Prabu menatap Vira melalui pantulan pintu lift. "Meski baru tadi siang Ayah anda menjadi guide saya."


Vira menatap Prabu dengan nyalang melalui pantulan dipintu lift juga, dia benar-benar benci pria arogan, angkuh dan sombong seperti Prabu, jadi saat pintu lift terbuka dilantai yang Prabu tuju dan pria itu keluar, Vira masih berdiri didalam lift masih menatap Prabu dengan tatapan penuh amarahnya.


"Kenapa tidak turun?" tanya Prabu berbalik badan mentatap Vira balik.


"Kareba saya tidak sudi menjadikan anda guide saya, sebagai putri pemilik perusahaan ini saya bersumpah akan menjadikan perusahaan ini milik saya kembali."


Penuh kesungguhan dan ketegasan disetiap perkataan yang Vira ucapka.


Pintu lift tertutup kembali membawa Vira kelantai satu, Prabu menghela nafas lega.


"Apa kamu gila?" terdengar suarateruakan di eaephonenya "sudah saya katakan jangan mendekati putri Pak Jaya."


Prabu melepas earphonenya dan menjauhkan telinganya, suara Malvin begitu melengking hampir membuat gendang telinganya pecah.


*-*


.


.


.

__ADS_1


Unik Muaaa


__ADS_2