
Semua sedang bahagia, mereka mengelilingi mal mengajak Gana, Rio dan Mila berkeliling. Karena Abra tidka bia menemani mereka, jadi Zahra boleh ikut menemani anak-anak dengan syarat Tofa dan Nanda harus ikut.
Sejak setelah malam pesta selesai Aslan kebanyakan diam menyendiri, tidak banyak bicara dan menghindar dari perdebatan dengan siapapun. Regan yang paham kenapa Aslan begitu, meminta ketiga temannya dan Gea untuk memberi waktu pada Aslan sendiri.
Melihat Javir datang menghampiri mereka, Gea menyerahkan tas belanjaannya pada Javir, mereka berdiri agak jauh dari mereka semua membuat Aslan kembali teringat pada malam itu.
Flas back
"Kalau seandainya aku gak diundang, kamu akan pergi tanpa pamit?." Suara Zia terdengar serak dia menatap Aslan dengan tajam.
Aslan hanya diam menatap pantulan dirinya di air kolam, dia tidak mau menatap Zia karena gadis itu pasti akan langsung menangis.
Terdengar helaan hafas berat Zia, gadis itu benar-benar menahan tangisnya, Aslan paham betul apa kebiasaan Zia karena mereka selalu bersama sejak Kecil.
"Aku sudah menganggap kamu sebagai Uncle" suara Zia seakan tercekat diakhir kalimat. "Setidaknya kamu harus pamit pada keponakan kamu."
'Tidak kamu masih belum menganggapku sebagai paman.' Batin Aslan tanpa mengeluarkan suara.
Dari pantulan air kolam dia dapat melihat Zia yang berjalan mendekat berdiri tidak jauh darinya, menatap Aslan dengan senyum segaris menunjukkan kepiluhan membuat Aslan mengepalkan tangan menahan diri untuk tidak berbalik menatapnya.
"Ini pesta Uncle" kembali terdengar suara lembut Zia. "Tapi aku datang dan sepertinya merusak suasana hati uncel" Zia tertawa kecil diakhir kalimat. "Kalau begitu aku pergi saja."
Zia tidak langsung pergi setelah mengatakannya dia masih diam menatap Aslan menunggu respoin Aslan yang nyatanya dia hanya mendapatkan apa yang dia ekpektasikan sebelumnya.
"Tidak mau peluk?" suara Zia semakin berat menandakan jika dia mulai menangis.
Aslan tetap diam, memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana menahan diri untuk tidak berbalik, mengikuti apa yang dikatakan gadis itu dan menenagkannya dalam pelukannya seperti sebelumnya jika gadis itu sedang sedih.
Air mata Zia semakin mengalir deras, tetapi tidak terdengar isak tangisnya. Aslan memejamkan mata semakin menahan diri, gadis disampingnya pasti sedang kesusahan bernafas karena menahan isak tangisnya.
"Aku tidak akan mengejar kamu" Zia mengatakannya dengan kepala menggeleng berulang kali. "Aku tahu kamu akan kuliah di negara mana, tapi aku janji tidak akan menemuimu karena aku tidak mau kamu semakin menjauh dan menghilang."
Zia mengatakannya dengan tersendat-sendat. "Aku janji tidak akan menemuimu lebih dulu sebelum aku kembali menganggapmu Uncle seperti kemauanmu, aku janji."
Terdapat kesungguhan didalam kalimat yang Zia ucapkan meski tersendat-sendat.
Aslan tersenyak kala Zia meraih lengan kanannya mengeluarkannya dari dalam saku membuatnya melangkan munduk selangkah dan secara tidak sengaja tatapan mata mereka bertautan.
Zia tersenyum lebar bahagia sekaligus sedih. Zia bahagia Aslan menatapnya, sedih karena Aslan bersikap defensif terhadapnya.
Tangan Zia mengarahkan telapak tangan Aslan pada dahinya, dia bersalaman pada Aslan dan tatapan mata mereka kembali bertautan.
Dengan senyum yang Zia ukir dibibirnya gadis itu mencoba menyembunyikan perasaan sesunggunya. "Selamat tinggal Uncle" ucapnya begitu lirih.
__ADS_1
Zia mengambil sesuatu dari dalam tasnya, sebuah jam tangan dan meletakkanbya di telapak tangan Aslan. "Hadiah ualang tahun Uncle bulan depan, sekaligus hadiah perpisahan. Semoga bahagia."
Perlahan tangan Aslan Zia lepas, gadis itu mundur beberapa langkah sebelum balik badan meninggalkan Aslan sendiri.
Flash end
Langkah kaki Aslan terhenti di depan toko U'r style toko milik Una, desainer kenalannya di Malang yang menggunakan Zia sebagai Brand Ambasador mereknya.
Foto cantik Zia terpampang cukup besar didepan toko, gadis itu tersenyum lebar memancarkan kebahagiaan.
Foto didepannya, foto yang dia ambil enam bulan lalu, sebelum semua terjadi.
"Hasil jepretanmu ya" Regan sudah berdiri disamping Aslan dengan memegang es krim vanila ditangannya. "Nama inisialmu jelek" Regan menunjuk pojokan foto. "Abi Putra, kenapa tidak As_Land?, biar kamu bisa terkenal menyaingi Disney Land."
Kata-kata Regan membuat Aslan emosi menatapnya dengan mata melotot tidak terima. "Kamu mau aku tonjok?" ancamnya kesal.
Regan hanya mengangkat bahunya dengan santai tanpa merasa bersalah. "Apa seorang perempuan bisa membuat orang cerewet menjadi pendiam?" Regan beralih menatap kearah Bundanya. "Seorang bos menjadi anak kecil yang manja."
Tidak jauh dari mereka berdiri, Abra datang berlari kecil menghampiri Zahra. Padahal jelas-jelas saat sarapan dia bilang tidak bisa menemani mereka, tetapi baru empat jam setelahnya dia sudah disini.
"Memang hebat" guma Regan. "Pengaruh betina luar biasa, sepertinya kamu juga akan seperti dia."
Regan kembali menatap Aslan. "Sifat bossymu berubah menjadi pengecut yang kabur dari masalah dan entah kapan kamu akan berubah sepertinya, manja dan kekanakan."
*-*
Ruang tamu bagaikan baru di terpa tsunami, beberpa pakaian dan koper bergeletakan dimana-mana.
Sejak tadi semua sibuk membereskan barang-barang yang harus dibawa dan tidak oleh Regan dan Aslan.
Kali ini koper Aslan kembali Zahra obrak-abrik, Regan menatap Aslan dengan tatapan mengejek, dia sudah mengatakan jangan packing sendiri tanpa Zahra, tetapi Aslan malah tidak mendengarkannya.
"Ini gak usah dibawa, ini juga kata Ayah kalian bisa beli disana." Zahra mengeluarkan beberapa barang dari koper Aslan.
"Ini udah dibawa Ar gak usah bawa ini." Gea mengeluarkan obat-obatan.
"Bunda jaket hangat As mana disini yang ada hanya punya Ar dan Ayah." Mila berteriak sambil berjalan menghampiri Zahra.
Zahra melirik pada Aslan. "Tuhkan, sudah Bunda bilang jaket hangatnya jangan dimasukin semua" omel Zahra.
Aslan menggaruk-garuk pengkuknya dan akhirnya memilih berjalan duduk disofa bersama dengan Regan, Gana dan Rio.
"Jika hewan, jantan yang menakutkan. Tapi kenapa manusia betina yang menakutkan?" celetukan Gana menarik perhatian mereka semua.
__ADS_1
"Bukan menakutkan, tetapi mereka cerewet dan kita malas mendengarnya" koreksi Rio mendapat anggukan dari yang lain.
"Bahkan pejantan yang menakutkan dikalangannya malah seperti anak kecil takut dipatok ayam" ucap Gana menyindir Abra yang akhirnya memilih duduk didekat mereka.
"Ayah bukan takut" kilah Abra. "Tapi lebih menghargai mereka."
Keempat anak laki-laki itu mencibir kearah Abra bersamaan membuat Abra tergelak.
"Suatu saat kalian akan tahu bagaimana mereka patut untuk dihargai, bukan untuk ditakuti, karena bagaimanapun entah itu hewan atau manusia male is the leader of the territory."
Abra menatap setiap gerak gerik Zahra dan Gea dengan senyum lebar dibibirnya.
"Ar" bisik Gana pelan.
Regan menoleh.
"Artinya apa?."
Regan tersenyum tidak langsung menjawab, otak Gana memang tidak pintar dan sedikit lamban, tetapi Gana selalu ingin tahu hal yang tidak mengerti tanpa malu.
"Male itu laki-laki, penjantan. Dan pejantan adalah pemimpin, bukan betina."
Kepala Gana mengangguk paham. "Kalau betina bahasa inggrisnya apa?."
Aslan melirik Gana "female."
Regan menendang kaki Aslan.
"Mila" panggil Gana melengking. "Aku tidak akan memanggilmu betina lagi, aku ganti ke female biar kamu tamba keren."
"Gana!" jerit Mila nyaring.
Zahra menatap Mila tidak suka, tangan Mila menunjuk Gana dengan wajah memerah. "Mila disamain sama hewan Bun" adu Mila.
*-*
.
.
.
Unik_Muaaa
__ADS_1