One More Chance

One More Chance
Takut


__ADS_3

"Dari pada kamu ngelamu karena Zia semalem sudah di jemput managernya, mendingan kamu jaga mereka, Ayah dan Bunda ngantuk mau lanjut tidur. Semaleman mereka gantian bangunnya"


Abra berjalan menghampiri Aslan yang duduk di kasur yang telah disulap jadi tempat mereka kumpul dengan menggendong sikembar dilengan kanan dan krinya.


Aslan menatap Abra dengan wajah cemberut tidak suka, "As bentar kagi berangkat ke studio loh Ayah."


Bukannya berhenti Abra malah melambaykan tangan tak perduli meninggalkan Bilqis dan Chaka di kasur dekat Aslan duduk.


"hauf ..." Bilqis menyembur.


Sedangkan Chaka mengocek dan tertawa kecil, Aslan tersenyum menatap mereka melihat sikembar dia jadi teringat Zia dan Sean. Diusel-uselnya pipi mereka berdua, tangan Chaka langsung meraih rambut Aslan dan menariknya kuat.


"Ah ... sakit sakit sakit ... Cha ... lepas Cha ..." pekik Aslan mencoba melepaskan rambutnya dari genggaman tangan Chaka.


"Berisik As" tegur Gea sambil membawa segelas jus dari dapur, "ditari Chaka malah teriak-teriak gimana kalau aku yang narik?."


Tangan Gea terulur mencoba meraih rambut Aslan tetapi buru-buru Aslan menghindar dan menepisnya.


"Mau aku gigit?" ancamnya.


Gea yang hanya menakut-nakuti Aslam tertawa kecil, duduk di dekat Aslan dan memberikan jus yang dia pegang tadi padanya.


"Kalian belum mandi ya?" tanya Gea dengan suara di buat-buat membuarkan Chaka menggenggam telunjuknya.


"Kenapa gak pakek baju hanya pakai popok?"


Terdengar teriakan Regan yang kegirangan dari lantai atas, dia berlarai cepat menuruni tanga.


"Jatuh Ar ..." teriak Gea.


"Suttt ..." Aslan menghentikan keributan mereka berdua. "Jangan berisik Bunda dan Ayah masih tidur, si kembar semaleman bangun gantian katanya."


Regan yang barusaja duduk menciumi pipi Bilqis dan Chaka bergantian.


"Kalian belum mandi, masih bau acem"


Regan mengatakan jika mereka bau tetapi dia terus menciumi pipi gembul Bilqis bertubi-tubi dan mencubit-cubit gemas perut Bilqis.


"Perut kamu kenapa lebih besar dari Chaka sih Bi?" kali ini giliran Chaka yang menjadi sasaran cubit gemes Regan, "cewek itu harus sexy Bi gak gemes gini."


Aslan tertawa.mendengarnya, Regan akhirnya tahu juga cewek sexy.


"Ar pipinya jangan di toel-toel mulu, nanti tambah embem dianya" tegur Gea.


Regan mencibir, "gak ada kayak gituan di ilmu kedokteran Ge."


Mendengarnya Gea jadi berdecak, dia tahu kan dari nenek Regan dulu saat awal-awal mereka lahir dia juga sering seperti Regan menoel-noel pipi si kembar.


"Dulu ngambek tahu Bunda hamil, sekarang gemes liat mereka" sindir Aslan.


Tidak mengubris sindiran Aslan, Regan malah membuat bunyi kentut dengan meniup perut Chaka dan Bilqis bergantian membuat mereka tertawa girang.


"Hello A B C ..." seru Emma.


Kala membuka pintu rumah dan pandangan matanya langsung tertuju pada Regan yang sedang bermain dengan Bilqis dan Chaka.


Dengan cepat Emma menghampiri mereka Regan dan mencium pipinya tanpa cisa Aslan cegah.


Gea yang melihatnya terperangah, menatap Aslan yang hanya menghela nafas melihat kelakuan Emma, dengan lirikkan matanya Gea memberi isyarat apakah Emma memang seagresif itu dan Aslan mengangguk pelan.


"Do you miss me Adam?" tanya Emma melingkarkan tangannya di leher Regan.


"No ..." seru Regan tegas sambil melepaskan belitan tangan Emma.


Teriakan Regan, tawa Aslan dan Gea terdengar sampai kedalam kamar Abra dan Zahra.


Abra menarik Zahra semakin mendekat dan memeluknya erat, "mengapa mereka tambah ramai?" gerutu Abra.


Zahra yang mendengarnya tertawa kecil, "mendengar tawa mereka aku merasa sangat bahagia."


Abra membuka matanya dan kembali menutupnya, "hem ... aku juga bahagia, dan semakin bahagia bisa begini lagi dengan kamu?"


Zahra mendongak menatap Abra tak mengerti.


Tidak mendengar suara Zahra akhirnya Abra membuka mata, tangannya merapikan rambut berantakan Zahra sambil menatap mata Zahra dalam.

__ADS_1


"Sejak si kembar lahir kita gak pernah lagi bagun tidur aku masih peluk kamu, manja-manjaan gini, mumpung si kembar ada yang jaga kita bangun siang saja gak masalah."


Mendengarnya Zahra tertawa kecil membalas pelukan Abra, menyandarkan kepalanya kedada Abra.


"Kamu ini, Bi dan Chaka belum mandi Ayah."


"Ada Fani yang mandiin, mendingan kamu tidur lagi, kaman lagi bisa begini."


Bahagia?, sudah Abra katakan jika dia benar-benar amat sangat bahagia dengan keadaannya sekarang.


Dan kebahagiaannya hari ini seakan masih terasa kurang sempurna meski Zahra dalam pelukannya dan mereka mendengar tawa anak-anak mereka, selam masa lalu masih belum selesai tuntas.


Ya, entah mengapa saat Zahra mengatakan kata bahagia kembali terbesit surat Dorio dan pertanyaan Enzo tentang kapan kesiapannya bertemu Dorio.


Jujur Abra takut, entahlah meski Enzo menjamin keselamatannya dan keluargannya Abra tetap merasa takut, bukan takut bertemu Dorio, tetapi ketakutan terbesarnya jika Zahra tahu masa lalunya.


*-*


"Belum pulang ?" tanya Prabu yang tiba-tiba muncul berdiri didepan meja Vira.


Kepala Vira yang sejak tadi menunduk mendongak menatap Prabu dan tersenyum segaris.


Prabu kelihat berkas yang pernah dia berikan pada Vira dan pandangan matanya tertuju pada berkas yang dipegang Vira ditangan kirinya, berkas perceraian.


"Tadi orang yang membeli rumah menelfon ke Papa, dan saya menjemputnya mangkanya saya bawa kekantor" ucap Vira menjelaskan setelah sadar arah pandangan Prabu.


Kepala Prabu mengangguk, "lalu kamu malam-malam disini bukan untuk lembur tetapi mau menyesali penceraianmu?."


Vira tersenyum menundukkan kepala dan menggeleng pelan, dia meletakkan berkas penceraiannya dan menjulurkan berkas yang pernah Prabu berikan padanya.


"Berkas yang pernah anda berikan"


"Bukti kegilaanmu?" tanya prabu dengan nada dingin penuh sindiran.


Kembali Vira tersenyum segaris, "ya" menaggapi sindiran Prabu.


"Apa kamu berubah pikiran lagi?" Prabu menatap Vira tajam, "dari niat untuk kembali merebut Jaya Indah, berubah pikiran menghancurkannya lalu setelah itu apa lagi?."


Tidak menjawab, Vira menatap Prabu dengan tatapan sendu tetapi tidak Prabu gubris.


Wajah Vira menatap Prabu dengan tatapan tak percaya.


"Selamat kamu sudah berhasil" Prabu menjulurkan tangannya pada Vira, "dan ucapkan selamat juga untuk saya yang benar-benar telah mengakuisisi perusahaan Jaya Indah."


Benar-benar telah mengakuisisi perusahaan Jaya Indah, Vira terus saja mengulang kata-kata itu dalam benaknya, lalu dia menatap tangan Prabu yang masih terjulur. "Apa maksumu?" tanya Vira lirih.


Prabu menarik kembali tangannya dan memasukkannya kedalam saku celana, "tanyakan saja kebenarannya pada Pak Jaya, dan cepatlah pulang kekosanmu karena sepertinya dia menunggumu."


Tangan Prabu menepuk pundak Vira pelan, "dan mulai hari ini kamu dipecat."


Prabu hendak melangkah pergi, tetapi Vira menggenggam tangannya erat menghentikan langkah Prabu. Perlahan Vira mengangkat kepalanya sehingga tatapan mata mereka saling bertautan.


Seperti biasa, tidak ada perasaan takut yang dipancarkan oleh mata Vira membuat Prabu tersenyum, tetapi kali ini tidak seperti biasa yang akan tersenyum kagum melainkan meremehkan.


"Apa ada yang kalian tutupi?"


Mendengarnya membuat Prabu tertawa kecil, meraih kedua tangan Vira dan menggenggamnya. "Bereskan barang-barangmu" hanya kata itu yang Prabu ucapkan sebelum pergi dari hadapan Vira.


*-*


Gea yang akan menaiki tangga menghentikan langkahnya saat mendengar petikan gitar dari arah kamar Javir, perlahan dia melangkah mendekatinya, mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat.


Ternyata Alaric yang sedang bermain gitar, jadi Gea tidak segan-segan membuka pintu kamarnya lebar.


Alaric menghentikan tangannya yang sedang memtik gitar, melihat pada Gea yang berdiri diambang pintu. "Hai Gea, masuk" Alaric memberi isyarat agar Gea masuk.


Gea membuka pintu kamar lebar-lebar dan berjalan mengjampiri Alaric, duduk di sampingnya. "Bisa main gitar ya?" tanya Gea dengan denyum lebarnya.


"Yup ... tetapi tidak begitu mahir" jawab Alaric, mata Alaric melirik pada layar hpnya. "No, she is my sister" ucap Alaric membuat Gea ikut menoleh kearah Alarik meletakkan hpnya.


Mata Gea membulat, "kamu live?."


"No no no" cegah Alaric yang melihat pergerakan Gea yang akan pergi, "gak masalah Gea disini aja, lagi pula bingung mau ngapain tapi ingin live."


Gea tertawa kecil mendengarnya kembali duduk di kasur dekat Alaric, "mainin gitarnya dong."

__ADS_1


"Kamu bisa nyanyi gak?"


Gea menggelengkan kepala.


"Mereka tanya tuh, gimana kalau aku main gitar kamu yang nyanyi?."


Gea mengulum senyumnya malu, "no."


"Suara kamu bagus kok, aku sering mendengar kamu nyanyiin Bi dan cha. Em ... tadi kamu nyanyi ... Easy on me, let's we try it."


Alaric mulai memainkan gitarnya, Gea masih dia tidak langsung bernyanyi mengontrol kegugupannya karena tidak pernah bernyanyi didepan orang sebelumnya.


"There ain't no gold in this river" akhirnya Gea mulai mengeluarkan suara meski terdengar gugup dan suaranya begitu lirih.


Alaric tersenyum mengangguk-anggukkan kepala, membuat Gea ikut tersenyum dan kembali melanjutkan nyanyiannya.


"That I've been washin'


my hands in forever


I know there is hope in these waters


But I can't bring myself to swim


When I am drowning in this silence


Baby, let me in"


Baru saja Javir membuka pintu dia mendengar suara Gea bernyanyi membuatnya tersenyum dan melangkahkan kaki dengan cepat menuju sumber suara.


Tetapi langkah kakinya memelan dan pada akhirnya berhenti, keningnya menerut menatap kearah pintu kemarnya yang terbuka, dia meliaht Gea duduk disamping Alaric yang sedang memainkan gitar.


Tangan Javir terkepal melihatnya, Gea tersenyum sambil terus bernyanyi sesekali melirik Alaric dan mereka tersenyum lebar.


"Go easy on me, baby


I was still a child


Didn't get the chance to


Feel the world around me


I had no time to choose


What I chose to do


So go easy on me"


Javir benar-benar kesal sangat amat kesal melihatnya, ingin menerobos masuk tetapi dia yakin Gea tidak akan suka, jadi akhirnya Javir memilih duduk dianak tangga perakhir menyandarkan punggungnya di dinding dan mendengarkan nyanyian Gea.


"Gak cemburu?" Regan ternya sudah duduk di tangga teratas, tersenyum sambil menaik turunkan alisnya mengejek Javir. "Gak takut Gea nanti ditikung Alaric?" kembali Regan menggoda Javir.


"I'm her first love, jadi apa yang aku khawatirka" ucap Javir pernuh percaya diri dan memilih pergi.


Jika dia masih disana, yakin seratus persen Regan akan menjadi kompor yang semakin membuatnya kesal.


Takut?, Javir tidak takut.


Cemburu?


Mungkin saja, Javir tidak mau mengakuinya karena dia juga tidak mengerti apa kemauan hatinya.


*-*


.


*Pagi ...


Jangan sampai ketinggalan ya untuk klik jempolnya 👍


Jika sudah terima kasih 🙏


Semoga terhibur 😍


Love you 😙*

__ADS_1


Unik Muaaa


__ADS_2