
"Jujur perut kamu kemapa?, kalau masih tidak mau jujur jangan pernah menemui Bunda sampai kamu berangkat ke luar negri Bunda tidak mau melihat wajahmu."
Mendengar ancaman Zahra kepala Aslan langsung menunduk dalam.
Setelah Zahra sadar dia bisak pulang lebih dulu, semua orang awalnya merahasiakan tentang Aslan hingga, hingga akhirnya setelah sampai di bandara Aslan datang bersama Jakvir.
Zahra memberondonginya dengan berbagai pertanyaan kemana saja?, kenapa tidak menjenguknya dirumah sakit hingga dia pulang?, bagaimana berkas keberangkatannya sudah diurus tidak?, dan segala hal hingga saat Zahra memeluk Aslan sebelum berangkat ke Madura Zahra merasakan sesuatu dan dengan paksa menyingkap baju Aslan.
"Kamu juga" Zahra menatap Regan tajam
Kali ini giliranku batin Regan menggerutu.
"Berani-beraninya bohong sama Bunda bilang kalau Aslan sibuk ngurus berkas untuk keberangkatan kuliah keluar negri, meski awal Bunda gak percaya karena Regan Bunda jadi percaya."
"Aku gak bilang apa-apa Bun" keluh Regan. "Yang jawab kan Om Ibnu dan kak Javir, aku cuma manggut-manggut."
"Manggut-manggut berarti membenarkan yang mereka katakan dong".
"Enggak" kepala Regan menggeleng. "Regan masih berfikir antara mau jujur apa enggak tapi Bunda lebih dulu percaya ya udah Regan diam." Regan yang masih mencoba membela diri mendapat pelototan dari Zahra.
"Karena nyelamatin Bunda ?."
"No"
"Enggak"
Secara bersamaan Aslan dan Regan membantah tuduhan Zahra membuat mata Zahra memicing meragukan jawaban mereka.
"Dia ketusuk sebelum Bunda diculuk pereman itu, karena sok keren orang." Regan membuka mulut.
Zahra tidak tahu siapa yang menculiknya, yang dia tahu hanya beberapa pereman yang menginginkan uang tebusan.
"What?, kamu ditusuk?, ditusuk pakek apa?, pakai pisau?, sama siapa?, mau nyelameti siapa? ...."
Dan banyak lagi pertanyaan yang Zahra ajukan padanya Aslan sambil melirik perut bagian kiri Aslan dengan khawatir.
Aslan hanya bisa pasrah. "Bunda" rengek Aslan sambil memegangi perutnya bagian kirinya yang terluka.
Menghentikan rentetan pertanyaan yang akan Zahra lontarkan dan mengalihkan perhatiannya pada perut Aslan.
"Apa sakit?" Zahra mengelus perut Aslan.
"Enggak, Bunda jangan khawatir yang penting As sekarang baik-baik saja. As sudah nyangka Regan dan Bunda pasti akan khawatir dan mengomel panjang, As sudah dengerin omelan Ar yang panjanggg... banget dirumah sakit."
Kepala Zahra mengangguk. "Tapi siapa yang tusuk dan kenapa?, Bunda gak akan tanya lagi."
Aslan tersenyum kecil. "Ditusuk orang tidak dikenal karena kesalah pahaman, sekarang Bunda dan Regan lebih baik masuk takut ketinggalan pesawat."
Zahra memeluk Aslan dengan erat. "Jaga diri baik-baik, kita ketemu seminggu lagi. Kamu anak Bunda meski bukan anak kandung, jangan sungkan cerita apapun."
Tetap disaat itu Gea menghentikan langkahnya, dia mendengar perkataan tulus Zahra pada Aslan.
Langkah kaki Abra yang berhenti disamping Gea membuat Zahra merenggangkan pelukannya pada Gea.
"Hai sayang" Zahra melepaskan pelukannya pada Aslan.
Gea melangkah lebar dan memeluk Zahra. "Ge mau kayak kak As juga."
Zahra menatap Abra yang diam menatapnya dengan kedua tangan didalam saku celana, tidak ada senyum hanya expresi datar menekan kegugupannya menunggu jawaban Zahra.
Zahra melirik Aslan dan Regan. "Sini anak Bunda pelukan."
__ADS_1
"Enggak" Regan dan Aslan menolak bersamaan.
Gea dan Zahra tertawa mendengarnya.
Abra tersenyum lebar, dia bahagia jika Gea sudah bisa Zahra terima.
Akankah Zahra juga menerima dirinya bagian dari hidupnya sehingga mereka kembali menjadi keluarga?. Pasti suatu saat, dirinya harus bersabar bukan.
*-*
Abra baru saja turun dari mobil, ada pesan masuk dari nomor tidak dikenalnya.
0823.......
Udah tidak perdulikan?
Arz.G
Membaca nama ini sial dibawah Abra sudha tahu dari siapa, pesan itu dari Regan tetapi apa maksud dari isi pesannya.
Drett...
Panggilan masuk dari Papa Vira.
"Ya"
"Beberapa data perusahaan menghilang, bahkan lawan kita memiliki proposal yang kamu rancang. Apa maksud dari ini semu?, kamu tiba-tiba mengundurkan diri dan proposal kamu tiba-tiba ada dipihak lawan?. Apa..."
"Om" Abra mengeluarkan suara beratnya menghentikan orang disebrang yang terus berbicara sekan tanpa titik. "Saya tidak akan melakukan hal itu, apa untungnya buat saya memberikan proposal itu pada lawan perusahaan Om?."
"Ya ... mungkin karena kamu dendam."
Mendengar jawaban itu Abra menghentikan langkahnya tepat ditengah-tengah lobby perusahaan. "Anda sudah tahu apa yang anak anda lakukan?."
"Bukan saya yang membocorkan apapun, mungkin itu sudah menjadi karma untuk Om."
Abra mematikan komunikasi antara mereka.
Tangannya menscroll layar hpnya mencari pesan yang tadi masuk dan menghubunginya dia yakin apa yang terjadi pada perusahaan Papa Vira ada hubungannya dengan pesan yang Regan.
"Ya siapa?" suara Zahra.
"Hai Ara" sapa Abra gugup. "Ini Abra, bisa bicara dengan Regan?."
Sejenak tak ada tanggapan. "Sepertinya dia sudah selesai tunggu sebentar."
Abra menenangkan dirinya agar tidak membentak Regan jika benar yang menyebabkan bocornya proposalnya pada perusahaan lawan adalah Regan.
"Kamu ini hp ditinggal sembarangan" sayup-sayup terdengar omelan Zahra pada Regan.
"Ya" suara malas Regan terdengar.
Tidak ada waktu lagi untuk sekedsr basa basi jadi Abra langsung to the pont "Apa maksud dari pesanmu barusan bersangkutan dengan bocornya ...."
"Yupz" potong Regan.
Abra mengacak-acak rambutnya menahan diri agar tidak meneriaki Regan. "Memangnya apa apa untungnya buat...."
"Bisa membantu anak yatim."
Regan memotong perkataannya dengan kalimat membingungkan.
__ADS_1
"Saya meminta perusahaan itu untuk meletakkan uang disuatu tempat, setelah memastikannya saya kirim proposal anda dan uang itu seharusnya sekarang sudah sampai pada anak yatim."
Abra terdiam mendengarnya, bahkan tidak ada rasa penyesalan, kepuasan atau perasaan bahagia yang terdengar olehnya dari nada suara Regan.
"Dengan siapa kamu bekerja sama?" tanya Abra memastikan sesuatu yang terlintas dibenaknya.
Terdengar kekehan kecil Regan. "Anda bertanya yang mana?, membocorkan proposal anda atau cara saya memberikan uang itu ke anak yatim padahal saya di Madura?."
"Dua-duanya"
"Untuk yang pertama saya melakukan sendiri" Abra tidak terkejut dengan jawaban Regan karena dia sudah mencurigai Regan seorang Hacker sejak lama. "*Yang kedua dia yang membantu saya."
"Ar ... Gea mau bicara*" terdengar suara Zahra memanggil Regan.
Abra semakin gusar.
"Sepertinya dia sudah selesai bagi-bagi, saya tutup Assalamu'alaikum."
Gea, Gea yang membantu Regan?, apa Gea sudah tahu jika Vira dibalik penculikan Zahra beberapa hari lalu, jika iya itu membuktikan kenapa akhir-akhir ini Gea lebih banyak diam dan bangun dengan mata bengkak beralasan jika belajar semalaman agar diterima di sekolah favoritnya.
Ting ...
Pesan masuk.
Abra kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam lift eklusif sebelum membuka pesan yang dikirim Regan.
Dua foto screenshot percakapam antara Regan dan Gea yang membuatnya terdiam tidak dapat berkata-kata.
*-*
"Ada dimana otak kamu!" bentakan Papa Vira membuat Vira tersentak. "Meski Pak Arya sudah meminggal, apa otak kamu juga ikut mati?. Pak Arya memilik banyak kaki tangan dan orang kepercayaan yang hebat, lagi pula apa untungnya kamu menculik Zahra?."
Vira menunduk dalam sambil menjawab dengan suara terputus-putus. "Vi ... Vira hanya mau berbicara dengan Zahra. Minta tolong meski ... mereka kembali Abra tetap mau ... mengurus perusahaan kita."
"BODOH! TOLOL!" bentak Papa Vira menggelegar. "Tidak ada untungnya kamu menculik Zahra, tanpa kamu meminta Abra pasti membantu kita, karena mau bagaimanapun perusahaan ini akan jatuh ketangan Gea nantinya.
Apa otakmu hanya bekerja jika berada di selangkang laki-laki bule itu?, kapan kamu akan menjadi anak yang berguna dan bisa diandalkan selamanya untuk Papa dan perusahaan?.
Tidak ada uang untukmu lagi jika kamu kembali pada bule itu, lebih baik kamu mati ditangan Pada dari pada mati karena harus berkali-kali menggugurkan kandungan."
Mata Vira terbelalak. "Vira gak mau Pa" bantah Vira.
"Ini keputusan akhir Papa, semua kartu akan Papa bekukan, kamu tidak akan bisa keluar kota bahkan keluar negri sekalipun."
"Pa"
Masuk kamar sekarang!."
Begitu menggelegar, Vira emlangkah mundur ketakuatan, melirik Mamanya yang hanya diam tidak berani membalas tatapan matanya. Padahal dia memiliki pemikiran menculik Zahra karena ucapan Mamanya tempo hari.
*-*
.
Tolong tinggalkan jejak ya 🙏
Agar semakin semangat nulisnya 😉
Love you 😘
.
__ADS_1
Unik_Muaaa