One More Chance

One More Chance
Abra's Chance


__ADS_3

Abra prov


Aku mencintai teman sebangkuku saat SMA, kami sangat dekat, kami kuliah diluar negri dan hingga dia memiliki seseorang kekasih, meski telah lulus kuliah dan dia mendirikan restauran di Indonesia dia selalu pergi keluar negri membuatku kesal.


Suatu hari aku menemuinya saat tahu dia sudah pulang ke indonesia dan disana untuk pertama kalinya aku bertemu Zahra Renata.


Setiap aku kerestauran Vira kami selalu bertemu, dia tidak pernah memdekatiku atau mekakukan sesuatu yang sengaja untuk menarik perhatianku, dia begitu pendiam suatu ide terlintas untuk memintanya menjadi temanku dengan niat tersembunyi, dan dia tidak menghiraukannya.


Hingga suatu hari setelah berminggu-minggu Vira menghilang lagi, aku uring-uringa sendiri meluapkan apa yang aku rasakan meski dia tidak merespon apapun. Hingga suatu hari sepertinya dia jenuh, berbalik badan, menatapku dengan tatapan yang membuatku terdiam. Dia menatapku dengan tajam, tidak suka, merasa terganggu tetapi bukan itu yang membuatku terdiam.


Matanya gelapnya, seakan menarikku tenggelam. Bahkan nada suara dingin, wajahnya yang tanpa ekpresi semakin membuatku menahan nafas.


Dia satu-satunya wanita yang berani menatapku langsung tanpa gentar, bakhan tidak merasa terintimidasi membuatku sedikit terganggu.


Tanpa sadar aku keluar dari niat awalku, ikatan perteman untuk semakin dekat dengan Vira menenggelamkanku dalam perasaan yang membuatku frustasi.


Akhirnya aku mengalah dan memantapkan hati mengutarakan perasaanku padanya, menyewa sebuah caffe dan sudah didekor dengan romantis dan apa kalian tahu apa jawaban dia saat aku mengutarakan perasaanku?.


"Sewa caffe berapa?."


Membuatku tercengang tidak percaya, tidakkah dia merasa tersentuh dengan apa yang aku lakukan, dia malah mengatakan akan membayar separuh harga dari sewa caffe.


Dia tidak menerimaku, tetapi dengan tidak tahu dirinya aku selalu mengajaknya jalan, bukan mengajak lebih tepatnya memaksanya jalan, berkencan dan segalahal yang aku yakini bisa membuatnya jatuh cinta.


Setelah cukup yakin dengan perasaanku dan juga percaya dia juga memiliki perasaan yang sama denganku, aku melamarnya. Aku benar-benar mencintai kesederhanaannya, cukup nyaman dengan perdebatan yang selalu tercipta diantara kami membuatku sadar jika dia pintar, tatapan matanya dan segala hal yang dia lakukan meski bukan untuk menarik perhatianku.


"Seandainya kita nikah dan Savira kembali, memangnya ada yang jamin hati kamu gak berpaling lagi?."


Pertanyaan itu membuatku tersiam bukan kembali ragu pada hatiku, aku hanya tidak habis pikir jika selama ini dia tidak bisa melihat ketulusanku.


Malam itu dia benar-benar menolakku dengan tegas. Aku, Abraham Ganendra menemui orang tuanya, meminta restu secara langsung, dia marah besar padaku, aku tidak kekurangan akal memberikannya surat Pra-nikah dia tidak mau. Dia benar-benar sempat membuatku frustasi, dan terbang seketika saat dia menyetujui surat pranikah yang aku berikan.


Sebelum kami menikah dia terus menerus mengulan pertanyaan yang sama.


"Sudah yakin mau menikah denganku?."


Dia seakan takut tersakiti, membuatku memeluknya begitu erat setiap kali dia bertanya.


Menikah dengannya membuatnya membuka satu persatu pintu yang dia tutup rapat. Dia ternyata wanita yang pengertian, peduli pada orang disekitarnya, baik, sabar bahkan dia mahasiswa berprestasi, terkadang dia membantuku mengontrol laporan keuangan prusahaan, membuatku merasa bahagia, berutung dan bersyukur memilikinya.


Semua berubah saat Vira kembali hadir, bukan ... hatiku tidak kembali berpaling, tetapi perasaan kasihan pada teman sekaligus cinta pertama membuatku kehilangannya.


Dia memergoki kami di rumah sakit. saat itu tatapannya begitu tenang, dia tersenyum, bertanya tanpa emosi membuatku ketakutan dan detik itu juga dia menghilang.

__ADS_1


Aku mencarinya kemanapun, meminta Malvin mencarinya, aku sepeti layangan putus kehilangannya, hingga sempat jatuh sakit Opa membawaku ke rumah sakit, dadaku semakin sesak mencium bau obat-obatan.


Semua yang terjadi didepan rumah sakit terbayang, menyesakkan dadaku, leherku seakan dicekik, aku fobia rumah sakit.


Opa marah besar saat mengetahui apa yang terjadi, dia melepaskan perusahaan untuk aku kelola, tidak memberiku kesempatan mencari Zahra hingga membuatku menjadi seornag yang gila kerja.


Awal Opa memintaku menjadi penopang beasiswa seorang anak berprestasi aku sudah pernah beberapa kali bertemu dengannya diberbagai lomba, olimpiade bahkan kompetisi karate dan sains.


Mata kelamnya membuatku tenggelam teringan pada Zahra, Araku. Dia anakku, anakku dan Ara.


Dia yang membuatku kembali bertemu dengan Araku.


Meski kami sekarang bersama kembali, pesan yang Ar kirimkan padaku kembali membuatku berfikir, Bagaimana cara menggunakan kesempatan kedua ini agar mengikatnya selamanya disisiku?.


Aku tidak masalah jika dia sudah tidak mencintaiku, kembali memberiku kesempatan bersamanya hanya karena dendam atau kasihan aku benar-benar tidak masalah asal dia disini, disisiku.


Mungkin ini adalah karma yang harus aku terima karena telah menyakitinya, aku sadar.


Aku yang memenawarkan pertemanan


Aku yang tenggelam


Aku yang memaksanya berpacaran


Dan Aku....


Aku yang mengecewakannya hingga membuatnya pergi.


Sedangkan dia tidak pernah menuntut apapun, jadi aku akan terima jika dia hanya merasa kasihan atau dendam padaku. Aku akan terima...


Tapi akan aku gunakan My chance sebaik mungkin membuatnya terikat denganku, dan jatuh cinta padaku.


"Aku mencintaimu Ara, sangat."


Kurengkuh tubuhnya, mengujami puncak kepalanya dengan ciuman, aku benar-benar mencintainya.


"Nagis?" tanyanya mendongakkan kepala menatapku.


Aku tersenyum kembali memeluknya, mengenggelamkan kepalanya di dadaku. "Ya, aku menangis" akuku. "Setiap aku membuka mata, melihatku dipelukanku seperti ini bagaikan mimpi Ara. Jangan pergi lagi, aku minta maaf."


Dia membalas pelukanku tertawa kecil. "Kamu terlalu banyak berfikir" ucapnya.


Ya, ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang lebih dulu disadari Ar yang ternyata lebih memahaminya dari pada aku.

__ADS_1


"Jika suatu saat aku khilaf dan tidak sadar melakukan kesalah kamu boleh menegurku, marah juga boleh, tapi setelah itu kita harus bicara baik-baik jangan langsung pergi Ara."


Dia melinggarkan pelukannya, kembali mendongakkan kepala menatapku dengan tatapan dalamnya, dingin, wajah tanpa ekpresi yang selalu suksek menyeretku pada kenangan belasan tahun lalu dan membuatku ketakutan.


"Apa yang akan terjadi kalau aku pergi?" tanyanya dengan nada datar.


Leherku serasa tercekik, dadaku sesak seakan fobiaku kembali aku rasakan dengan menatap matanya.


"Aku pasti gila."


Tatapan kami semakin bertautan, apa yang aku katakan memang lebay dan terkesan mengada-ngada, tapi itu yang akan terjadi karena tidak ada lagi yang menjadi tanggunganku.


Prusahaan dan Gea ada Regan dan Abra yang akan mengurusnya, ASG Security ada Sam. tidak ada yang perlu dikhawatirkan, bahkan matipun tidak masalah.


"Kalau aku pergi, kamu gila gimana dengan anak-anakmu?."


"Mereka bisa jaga diri mereka sendiri, mereka sudah besar" aku memutuskan tautan tatapan kami.


Terlentang menatap kelain arah menormalkan detakan jantung yang semakin menggila. Dadaku sesak, sakit benar-benar ingin berteriak melamoiaskan semua. Dia berniat pergi lagi, aku harus apa?, apa kesempatan ini telah selesai?, apa semua benar-benar selesai?, aku harus apa?.


"Anak-anak memang sudah besar dan bisa jaga diri mereka sendiri, tapi mereka sekolah." suara mengambang membuatku mengepakan tangan.


Dia meraih sebelah tanganku yang tidak dia jadikan bantak, meletakkannya diatas perutnya, aku masih diam tidak bisa menatapnya lagi.


"Siapa yang mau bantu aku jaga mereka kalau kamu gila?."


Mereka sudah besa**r, Mereka sudah bisa jaga diri, mereka sekolah, siapa yang bantu mereka?.


Aku menoleh padanya, dia menunduk menatap tanganku, menggerakkan tanganku mengelur-elus perutnya.


"Kalau aku pergi buat belanja, masak atau kembali buka toko siapa yang bantu aku jaga mereka. Aku gak maunya dibantu babysiter."


Dia mendongak menatapku dengan mata berbinar, tersenyum lebar.


*-*


.


.


.


Unik_Muaaa

__ADS_1


__ADS_2