One More Chance

One More Chance
Melacak


__ADS_3

Zahra masih tertidur, Abra perlahan turun dari kasur, dan melangkah keluar diam-diam agar tidak membangunkan Zahra.


Regan dan Aslan sudah tidak ada di ruang tamu, hanya ada Gea yang menemani Fani dan Vira menjaga si kembar.


"Hei, gimana Zahra?" tanya Vira, dia sedang menggendong Chaka dipangkuannya dan menyandar pada Vira.


"Baik, dia sedang tidur" Jawab Abra mengambil Chaka dari Vira, "yang lain mana?" tanyanya menatap Gea.


"As sama Ar baru mandi, Javir dan Alaric tidur diatas" jawab Gea.


Abra mengangguk dan berjalan menghampiri Sam dan Malvin yang duduk di dapur sengan Prabu.


"Zahra ok?" tanya Malvin.


"Ya" jawab Abra, "dia tidur."


"Lo sendiri gak tidur?" Sam bertanya sambil mengunyah makanannya.


Kepala Abra menggeleng pelan, "gue gak bisa tidur pusing mikirin gimana mau jawab rentetan pertanyaan Zahra setelah dia bangun."


"Jawab saja diandiculik karena penculiknya butuh uang" Prabu sangat percayabdiri mengucapkannya.


"Kalau sesederhana ini gue gak akan pusing" keluh Abra, "tadi gue juga sempet keceplosan mereka gak akan berani membunuh dia."


"Lo juga ngapain malah ngomong gitu.


Abra berdecak menunduk menatap Chaka yang sedang mengoceh tidak jelas diatas pangkuannya. "Karena dia bicara kalau dia mati, kalau dia bunuh dan itu memancing emosiku."


Sam dan Malvin saling tatap, tdak tahu akan berkomentar apa karena mereka berdua yakin apa yang akan terjadi setelahnya.


"Lalu gak jawab, dan dia tidur gitu aja?" tanya Prabu.


Abra melirik Prabu dengan malas, "dia bertanya berulang-ulang kenapa gue tahu, apa gue kenal mereka enggak dan gue memutar otak untuk mencari topik lain dan tidak berhasil." Abra menghela nafas menatap Sam, "gue bilang mengantuk dan akan membahasnya nanti baru dia diam dan akhirnya tertidur, jadi sekarang gue pusing mau jawab gimana."


Malvin menggeleng tidak tahu, sedangkan Sam hanya menyengir tidak bisa memberikan masukan karena otak Zahra dan Sari seperti angka sebelas dua belas, sama-sama pintar dan keras kepala semoga saja apa yang terjadi padanya tidak terjadi pada Abra, karena puasa seminggu saja tidak betah apa lagi berminggu-minggu.


Sedangkan Malvin dia mah tenang-tenang saja karena Bella wanita kalem dan tidak mementingkan masa lalu.


"Enzo lagi dimana?" tanya Abra pada Malvin.


"Sudah pulang" Prabu yang menjawab, "barusan mampir hanya jemput kak Hanna dan Emma, katanya Dorio lagi menunggu dimarkas."


Abra menatap Sam dan Malvin bergantian lalu berdiri, "katakan pada Enzo gue kesana tahan Dorio" ucapnya tegas sambil berjalan menghampiri Gea.


Abra menyerahkan Chaka pad Gea, membuka pintu kamar perlahan mengambil mantel dan hpnya, melirik Zahra sejenak sebelum akhirnya keluar.


Sam dan Malvin sudah menunggunya didekat pintu, Abra menoleh pada Prabu yang masih duduk di meja makan dekat dapur "Prabu pulang."


"Gue nunggu Alaric ada urusan" Prabu mengucapkannya sambil mengangkat sebelah tangannya.


Abra melangkah dengan lebar menghampiri Prabu dan menarik lengan bajunya dengan kuat, "pulang karena gue gak mau lo buat keributan disini."


"Gue pulang setelah urusan gue selesai dengan Alaric."


"Alaric nanti juga pulang."


*-*


Kekanan dan kekiri bahkan Zahra menggunakan kakinya menandang kekanan dan kekiri tetapi tidak ada Abra, dia benar-benar tidur sendiri di kasur tanpa Abra disampingnya pada hal tadi dia ingat betul Abra sedang memeluknya dan mengatakan sangat mengantu ingin tidur.


Zahra bangun, menatap keseluruh kamar mencari keberadaan Abra sebelum akhirnya dia turun perlahan dari kasur.


"Ayah mana?" tanya Zahra pada Gea yang sedang menemani Fani menjaga si kembar.


"Bunda" Gea berjalan menghampiri Gea, "Bunda baik-baik saja kan?."


Kepala Zahra mengangguk dan tersenyum meski hanya segaris, tangannya mengelus rambut Gea.

__ADS_1


"Abra keluar dengan Malvin, Sam dan Prabu"


Vira baru datang dari arah dapur, duduk di samping Fani memberikan botol ASIP padanya.


"Kemana?" tanya Zahra.


Kepala Vira menggeleng menatap Zahra sambil memangku Bilqis.


Mata Zahra melirik kelain arah, menebak-nebak kemana kira-kira mereka. Tadi Abra berjanji akan menjelaskan sesuatu, tetapi dia tiba-tiba menghilang tanpa mengucapkan apapun atau mengirim pesan.


"Ar dan Javir mana?" tanya Zahra pada Gea.


"Mereka diatas" Gea menunjuk lantai atas.


"Terima kasih"


Meski badannya masih terasa kurang fit, Zahra tetap melangkahkan kaki menaiki tangga.


Regan sedang duduk dimeja belajar dengan kedua leptop didepannya, sedangkan Javir dan Aslan sedang tidur dikasur Regan, kasur Aslan sedang dikuasai Alaric jadi Regan yang mengalah.


"Abang" panggil Zahra.


Mendengar suara Zahra, Regan langsung berdiri menghadap Zahra hingga lupa menutup kedua leptopnya yang terbuka.


"Abang lagi apa?" tanya Zahra.


Akhir-akhir ini Zahra akan memanggilnya Abang jika sedang ingin berbicara serius.


"Gak ada Bun, Bunda gimana udah enakan?" tanya Regan sambil berjalan mendekat.


"Ya" jawab Zahra singkat lalu menoleh pada dua leptop dibelakang Regan.


"Ar terpaksa karena khawatir sama Bunda, kalau yang cari Bunda banyak besar kemungkinan Bunda cepat ditemukan. Jadi ... jadi terpaksa Ar jadi ..."


Regan tidak melanjutkan penjelasannya, dia menunduk dalam.


"Bangun kakn Javir" perintah Zahra tanpa menoleh pada Regan.


Tanpa bertanya Regan membanguankan Javir yang baru setengah jam tertidur setelah sejak tadi tidak bisa tidur meski matanya mengantuk.


"Apa ... gue baru tidur ..." keluh Javir malah tengkurap membenamkan wajahnya di bantal.


"Bunda ada perlu"


Regan menggoncang-goncang tubuh Javir hingga Aslan merasa terganggu dan membuka matanya.


"Bunda" panggil Aslan pelan lalu duduk menatap Zahra dengan mata berkedip-kedip.


Zahra menghampiri Aslan mengelus rambutnya yang acak-acakan.


"Javir" panggil Zahra.


Sontak Javir langsung duduk diatas kasur menoleh kekanan dan kekiri mencari keberadaan Zahra.


"Ya Bun?, eh Tan" Javi meringis karena linglung dia jadi pusing sendiri memanggil Zahra bagaimana.


Zahra yang mendemgarnya hanya terssnyum simpul.


"Cara lacak keberadaan orang bagaimana?"


Pertanyaan Zahra mampu membuat mata Javir terbuka lebar.


Zahra yang mereka tahu tidak suka heacker bertanya tentang melacak seseorang? yang benar saja.


Javir menoleh pada Regan, sedanhkan Regan malah melirik Javir, lain halnya dengan Aslan yang masih menguap menggaruk kepalanya.


"Ngelacak seseorang mah gampang Bun, mereka mah ahlinya" ucap Aslan.

__ADS_1


Regan mendengus pelan pada Aslan, ingin rasanya menjitak kepala Aslan.


Sejujur-jujurnya Regan, dia masih bisa mengerem mulutnya jika berbicara pada Zahra. Tapi jika Aslan dia akan menceritakan segala hal dengan terbuka pada Zahra tanpa ditanya sekali pun.


"Kalau begitu bagaimana caranya?" tanya Zahra dengan nada serius.


Dada Regan langsung ketar-ketir begitunjuga dengan Javir, perlahan Javir berdiri disamping Regan bersiap-siap jika Regan kabur maka dia akan juga ikut kabur.


"Yang paling gampang jika orang itu membawa hp, Bunda tahu email dan passwordnya itu sangat mudah."


Javir mengerutkan kening pada Regan.


"Berapa lama?" tanya Zahra sambil berbalik badan kembali berjalan mendekati leptop Regan.


Siku Javir menyukut Regan, "kenapa malah kasih tahu?" tanya Javir dengan nada berbisik pelan.


"Bunda tidak bisa diajak nego sekarang" Regan balik berbisik.


Karena tidak ada jawaban dari Regan Zahra berbalik badan kembali menghadap mereka berdua. "Abang berapa lama?" tanya Zahra lagi.


"Tidak sampai sepulu menit" ucap Regan lalu meraup wajahnya sambil melirik Javir, "Bunda memanggilku Abang" bisik Regan.


Zahra menilik kelain arah mencoba mengingat-ingat sesuatu, "dia membawa hpnya" ucap Zahra dengan yakin, "bisa bantu Bunda?."


Javir dan Regan langsung berjalan menghampiri Zahra, Regan emndorong Javir untuk duduk dikursi dan menarik salah satu leptipnya mendekat pada Javir.


"Kenapa gue?" tanya Javir mendongak bertanya pada Regan.


"Karena sudahnpro dan aku tidak mau melanggar janjiku lagi pada Bunda" jawab Regan.


Javir menghela nafas lalu mendengus sebelum jemarinya mulai bermain diatas keyboard Regan.


Wajah Zahra begitu lekat menatap layar leptop didepan Javir, rahangnya mengetat dan Regan sadar jika ada sesuatu yang mengganggu pikiran Zahra.


"Emailnya Bun?" tanya Javir.


"abrahamg3 ...."


Regan dan Aslan langsung menoleg pada Zahra, sedangkan jari Javir terdiam diatas keyboard.


Melihat tatapan Zahra yang terarah pada jari Javir, Regan mencolek lengan Javir agar dia melanjutkan pekerjaannya.


"Ok, password Bun"


"Kamudimana"


Kali ini semua menoleh menatap pada Zahra dengan kening mengerut.


"Apa?" tanya Zahrabtak mengerti.


"Javir tanya password Bun" ucap Aslan.


"Ya passwordnya kamudimana tanpa sepasi"


Mereka bertiga kembali tercengang, Javir mengangguk mengiyakan dan memencet setiap huruf memasukkan password email Abra meski terdengar sedikit aneh.


"Sejak Bunda menghilang password semua akun Ayah jadi kamudimana kecuali yang memakai pin"


*-*


Hai you ... para Readers ku yang aku cinta dan sayangi 😙


Marilah berbaik hati untuk klik si jempol



Kalu sudah terima kasih😉

__ADS_1


Love you 😙 Unik Muaaa


__ADS_2