
Flash back
Tangan Zahra sejak tadi menatap amplop putih bertulisan nama rumah sakit diatasnya.
Setelah pergi dari rumah Zahra tinggal dikontrakan sederhana. Berhari-hari tidak keluar kamar tubuhnya serasa semakin lemas dari sebelumnya, mungkin karena banyak fikiran hingga dia sempat demam dan mual susah makan Zahra perfikir jika dia sakit.
Perutnya sakit terasa lapar, Zahra memutuskan untuk keluar membeli makanan*.
Wajahnya yang pucat dan tidak bersemangat menarik perhatian ibu warung. Awal dia tidak percaya dengan perkataan Ibu warung tad. "lagi hamil ya neng?".
Dia terus berfikir perkataan ibu itu, sampai ke kosannya Zahra menyentu perutnya yang sedikit membuncit. "apa karena sering makan-tidur makan-tidur?". pikirnya.
Tetapi dia melihat mukenah dilipat rapih membuatnya kembali ragu menghitung hari menstruasinya. Dadanya tiba-tiba berdebar, Zahra menghela nafas menenagkan diri dia mondar-mandir bingung mau ke rumah sakit atau beli tespek, dan memutuskan untuk ke rumah sakit agar lebih pasti.
"beneran saya hamil dok?"
Dokter yang memeriksanya tersenyum. "anda sendiri merasa perubahan dari diri anda tidak?".
Kepala Zahra menggeleng.
"lemas, demam, mual atau bahkan kamu juga telat menstruasi masih belum sadar selama ini hamil?".
Kali ini kepala Zahra mengangguk.
"Dasar ibu muda, bagaimana bisa baru cek sekarang?" Zahra menyengir. "Kehamilan kamu itu sudah lima belas minggu, hampir memasuki empat bulan. ini kehamilan pertama?".
Wajah Zahra bersemu "iya".
Lagi-lagi dokter itu tersenyum sambil menggelengkan kepala. "biasanya ibu muda selalu antusias cak kehamilan paling tidak satu bulan sekali".
Kepala Zahra tertunduk, wajahnya berubah sendu mengingat kejadian dirumah sakit waktu itu.
Zahra baru turun dari taxi, dia kembali menatap amplop ditangannya. Menatap rumahnya dan Abra dengan mata berbinar tidak sabar meemberi kabar kehamilannya, namun itu hanya beberapa detik saja.
Abra keluar bersama Vira, membuat Zahra menyembunyikan diri dibalik pohon. Tampak Abra sedang mengelus kepala Vira yang sedang mengucek mata dengan wajah manjanya. Abra tesenyum lalu terkekeh, tangannya mengelus perut Vira, reflek tangan Zahta juga mengelus perutnya dengannsenyum masam dibibirnya.
Abra membukakan pintu untuk Vira, sepertinya hari ini mereka keluar bersama.
Setelah mobil Abra keluar dari pekarangan rumah, Zahra melangkahkan kaki dengan berat melewati pos satpam. Menatap lama kearah rumah yang cukup megah dan mewah.
"Mbak Zahra" sapa Salah satu satpam.
Zahra memaksakan diri tersenyum. "jangan bilang-bilang Abra ya pak" yang tekeluar dari mulitnya suara serak.
Kembali Zahra berjalan tidak menghiraukan satpam berbicara apa padana. Sembari menghela nafas beberapa kali sebelum membuka pintu rumah perlahan.
sudah tiga minggu lebih dia meninggalkan rumah ini, tidak banyak yang berubah namuan ada beberapa barang tambahan seperi kursi pijat dan tambahan rak sepatu.
"mbak Zahra belum ketemu mak?".
"gak tau".
"bagaimana kalau mbak Zahra tau, mas Abra bawa mbak Vira kesini?. Kasihan mbak Zahra mak".
Terdengar suara percakapan Mak isa dan mbak Rini dari dapur, membuat Zahra mengurungkan niatnya untuk menaiki tangga dan memilih menguping pembicaraan mereka.
"*M*as Abra kenapa bisa bawa mbak Vira setelah bulan madu langsung kesini, kalau mbak Zahra datang bagaimana?" Rini mengomel sambil mencuci piring, mungkin bekas sarapan Vira dan Abra pikir Zahra.
__ADS_1
"ya gak tau juga mas Abra, meskipin istri pertama menghilang setidaknya kan harus menjaga perasaannya jika mbak Zahra tiba-tiba pulang gimana?" Mak Isa meletakkan beberapa sayur dalam kulkas.
"jadi kesel saya sama mas Abra, ingin negur tapi kita punya hak apa....".
Telinga Zahra mulai memanas, dia memutuskan tidak mendengarkan percakapan mereka lebih lanjut.
Berarti Abra dan Vira memang sudah menikah, bahkan mereka juga baru bulan madu. Jika perjanjian sudah dilanggar, maka dia harus pergi bukan?, lagi pula sudah ada nyonya rumah.
Dia baru pergi tiga minggu, baru tiga minggu apa yang dia bayangkan dulu terjadi. Cinta pertamanya memang lebih penting dari seorang Istri. Dia sudah memperingatkan dan mewanti-wanti Abra sebelum mereka menikah, tetapi dia menyakinkannya dengan perjanjian pranikah dan segalahal janji busuknya.
Flash end
"Mbak pesanan Ibu sudah?".
Panggilan pembeli menarik Zahra dari memori masa lalu. Dia tersenyum Pada Gea dan berbalik badan kembali melayani pembeli itu.
Regan yang sejak tadi melihat Bunda yang termenung menatap Gea hanya bisa menghela nafas, Bundanya akan kembali memasang topeng yang Regan benci.
Regan membuka kulkas mengambil sepotol minuman, membukanya dan meletakkannya diatas meja didekat Gea. Dia hanya memberikan isyarat pada Gea untuk duduk tanpa mengatakan apapun.
"Ge... loe kok tinggalin gue sih?, udah hp lo mati seenaknya aja ninggalin gue. Lo udah ngajak gue kesini harus tanggung jawab dong, gue harus kembali utuh pulang nanti" Yesi mengomel sambil berjalan setelah turun dari motor dan duduk di depan Gea.
Tanpa babibu dia meminum botol yang tadi Regan letakkan di meja.
Gea memukul tangannya dan merebut botol dari tangan Yesi sambil mendelik membuat Yesi mengerucutkan mulutnya diam demgan wajah cemberut. "gue kan haus" gerutunya.
"jauh-jauh kesini pasti capek". Zahra menghampiri mereka berdua.
"iya tan, capek".
"Assalamu'alaikum Bunda...".
"Wa'alaikumsalam..." Regan dan Zahra menjawab bersamaan.
Ketiga teman Regan berdiri disamping Zahra dan bersalaman bergiliran.
"ayo istirahan dulu" kata Zahra menatap Gea dan Yesi bergantian. "tapi kasurnya bukan latex tapi kapuk, masih layak dipakai dan agak empuk kok. Mau?".
*-*
Abra kembali menginjakkan kaki di Madura.
Angin berhenbus pelan, segar tanpa terkontaminasi polusi. Turun dari pesawat terbang mereka harus berjalan beberapa meter, Sam membuka dua kancing kemeja atasnya merasa gerah.
"baru keluar dari pesawat langsung terasa panas" komentarnya.
Abra tidak menaggapinya toh dia sudah bertanya pada Sam tadi. Dia sudah menghubungi karyawan bandara yang dulu membantunya. Hari ini dia kembali menyewa mobil beliau selama beberapa hari.
Sam menatap keluar jendela dia tidak berkomentar tetapi beberapa kali Abra mendengarnya menghela nafas.
Mobil berhenti di depan rumah Zahra. wajah Sam meliriknya dan kembali menatap rumah Zahra tercengang.
Abra tersenyum masam. "kalau jadi gue, lo merasa berasalah gak?".
"kalau gue malu mau nunjukin batang hidung gue" guma Sam lirih tetap memperhatikan rumah Zahra. "dia tinggal dirumah begini sama anak lo, dan lo malah enak enakan tinggal di rumah mewah".
Mendengar kalimat yang di ucapkan Sam, Abra hanya menghela nafas ikut memperhatikan rumah Zahra. Terlihat beberapa pelanggan Zahra yang datang mungkin untuk membeli kue.
__ADS_1
Zahra keluar menemui mereka, sedangkan Regan ada didalam toko mengeluarkan kue yang ditunjuk pembeli. Mata Regan tidak lepas dari Zahra, anak itu tersenyum ramah begitupun dengan Zahra.
Sesekali diam-diam Zahra mengelap keningnya dengan ujuk kerudung atau lengan, seketika dada Abra seakan terhantam sesuatu.
Abra mengepalkan tangannya hinga memutih, dulu sebelum mereka menikah Zahra memang pekerja keras. Namun, melihatnya sekarang yang seharusnya diam dirumah menikmati hasil kerja Abra membuat Abra menyesal menyeslkan dada.
"turun" ucapnya setelah membuka pintu mobil.
Abra berjalan dengan langkah lebar menghampiri Zahra yang telah mengantar pembeli hingga keliar pagar.
Tatapan mereka bertemu, namun menyiratkan perasaan yang berbeda. Perlahan senyum Zahra memudar, dia menghela nafas pergi tidak menghiraukan tatapan Abra yang membuatnya kesal.
Kembali Zahra masuk kepekarangan rumah. "ngapain lagi?".
Abra tetap diam menatapnya dari belakang.
Zahra kembali berbalik balas menatapnya tajam. "jangan menatapku dengan tatapan seperti itu" hardiknya dengan suara menggelegar.
Abra memejamkan mata sejenak. "maaf". gumanya lirih.
"jangan sesekali menatapku dengan tatapan seakan kamu menyesal, itu memuakkan".
Kata memuakkan yang Zahra tekan membuat langkah Sam terhenti tidak jauh dari posisi mereka berdua berdiri.
"jika aku benar-benar menyesal apa kamu...".
Zahra tertawa namun tatapan matanya begitu dingin "sudah terlambat".
"maaf membuatmu menderita dan banting tulang demi anak kita".
"anakku".
"dia anakku juga".
Zahra hanya tersenyum sinis.
"seandainya kamu mendengarkan penjelasanku waktu itu, kamu tidak akan hidup seperti ini. Hidup di..." Abra tidak sanggup pengatan apa yang ada dibenaknya. "setidaknya kita bisa merawat anak kita bersama, tinggal di rumah layak dan... Ara, melihat kalian seperti ini membuatku..."
"maaf" Regan memotong perkataan Abra, dia berjalan menghampiri mereka. "apa anda akan menjemput anak anda?".
Sangat sopan tetapi seakan menghantam dada Abra.
Tangan Regan merangkul bahu Zahra. "rumah kami hanya mempunyai dua kamar, harap maklum rumahnya kecil tetepi masih layak untuk di tinggali. kasurnya dari kapuk nanti anak anda tidak nyaman, karena sederhana kami pasti berbeda dengan keserhanan anda dan anak anda".
Sam menatap Abra dan Regan bergantian, wajah Abra dan Regan hampir mirib, bahkan Sam teringat wajah Abra kala masih duduk di banggu SMP. Dia buta apa hilang akal?, anak semirip dia gini malah gak sadar anak sendiri. Guma Sam dalam hati
"saya akan panggilkan anak anda, mohon untuk membawa anak anda pulang demi kenyamanan anak anda. anda tidak mungkin membiarkan anak anda tinggal di rumah kami bukan ?, silahkan duduk saya akan memanggil anak anda".
Berkali-kali Regan mengatakan anak anda, bekali-kali juga Abra merasa sindiran Regan sangat tepat sasaran dan Abra hanya bisa diam menatap Regan sendu.
Anak Anda
Baru pertama kali dua kata itu mampu menyesakkan dadanya.
*-*
Unique_Muaaa
__ADS_1