
Ibnu tersenyum menyambut mereka semua masuk kekamar Kakek Arya bersama, lalu wajahnya berubah tercengang melihat Abra yang juga masuk berjalan dibelakang Zahra sambil menggenggam tangannya.
"Opa," Zahra melepas tangan Abra dan berjalan menghampiri Kakek Arya.
.
.
.
Sejak masuk Abra hanya memejamkan mata dan membukanya sesekali saja demi memastikan Zahra masih didepannya menggenggam tangannya, bahkan dia tidak bernafas dari hidung, karena takut menghirup aroma rumah sakit.
Kepanikan menyerangnya seketika, padahal baru beberapa detik tangan Zahra terlepas dari genggamannya. Saat dia melihat punggun Zahra mulai berjalan menjahuinya, memori punggung Zahra yang semakin menjahu belasan tahun yang lalu, seakan saling bertimpah tindih dengan sekarang, berganti dengan cepat dalam pandangan Abra membuat kepala Abra pusing.
Wajah Abra seketika memucat, lehernya seakan tercekik susah bernafas, tetapi jantungnya berdetak dengan kencang. Mata Abra mulai tidak fokus, dadanya nyeri, mulut Abra mangap-mangap mencoba memasukkan udara melalui mulut sebanyak mungkin tetapi tidak bisa.
Hingga akhirnya kaki Abra tidak kuat untuk berdiri dan terjatuh di lantai. Ibnu yang sejak tadi memperhatikannya menghampiri Abra dengan cepat.
Semua panik, Zahra yang berada di dekat kasur Kakek Arya terdiam memperhatikan Abra yang tergelepar kesakitan memukul dadanya, begitupun dengam Regan.
"Abra tenang ... tenang ...," Ibnu mengelus punggung Abra.
"Om ... Om Abra ...," Javir memanggil nama Abra mencoba menyadarkan Abra.
"Tarik nafas Abra ... tarik nafas," saran Malvin mencegah tangan Abra yang terus memukul dadanya.
Tidak bisa, Abra tidak bisa tenang apalagi bernafas dengan teratur, dada Abra semakin sakit. Abra hanya bisa memejamkan mata dengan air mata yang terus mengalir.
Malvin mendudukkan Abra dan menyandarkan punggung Abra di dinding. "Tarik nafas, tenang ... Zahra disini Bra."
kepala Abra menggeleng? kali ini kakinya menendang-nendang, dia ingin keluar, dia benar-benar tidak bisa bernafas tetapi semua orang tidak mengerti, membuatnya pasrah saja larut dalam kesakitan.
"Abra tenang."
"buka mata dan lihat Zahra disini."
"Abra ...."
Regan yang tak mengerti kenapa nama Bundanya juga disebut-sebuh menatap mereka dengan kening mengerut.
Perlahan kaki Zahra melangkah menghampiri Abra yang duduk di lantai disamping pintu. Ibnu, Malvin dan Javir mundur memberikan ruang untuk Zahra dan Abra.
Zahra duduk disebelah Abra. "Bernafas Abra, tenang ... tarik nafas perlahan."
Mata Abra mulai terbuka menatap Zahra dengan tatapan lemah, matanya memerah, air matanya mulai menetes.
__ADS_1
"Buang nafas, tarik nafas."
Kepala Abra menggeleng lemah, dia sudah berusaha sejak tadi, tetapi tidak bisa, dada malah semakin terasa menghimpit.
Zahra semakin mendekat memeluk tubuh Abra, tidak tega melihat Abra yang kesakitan.
Abra merasakan pelukan Zahra, dia dengan kepanikan yang menguasahinya sejak tadi langsung memeluk tubuh Zahta erat, wajah Abra terbenam didada Zahra, menangis sambil menggelenggkan kepala beberapa kali karena susah bernafas.
"Tidak apa-apa, tenang, bernafaslah perlahan."
Kata-kata Zahra dan elusan tangannya menenangkan Abra perlahan.
"Jangan panik ok, tidak apa-apa."
Zahra terus mengucapkan kata-kata yang menenangkan Abra, hingga dua kata yang keluar dari mulut Zahra membuat Abra terdiam sejenak.
"Aku disini."
Udara memang kembali bisa dia hirup meski hanya sedikit demi sedikit, tetapi sesaknya dada tergantikan sakit, seakan ada yang mencengkram dadanya.
Abra malah menangis menumpahkan segala tangisnya selama ini. Emosi yang terpendam selama belasan tahun keluar.
Perlahan kesadarannya mulai kembali, Zahra disini, tetapi dia akan kembali pergi. Lalu bagaimana dengannya?, apakah setiap kali mendengar rumah sakit dia akan panikan?, melihat rumah sakit tubunya akan bergetar dan berkeringat lagi?, bahkan susah bernafas serasa akan mati seperti barusan?.
Pintu kamar inap Kakek Arya terbuka sedikit.
Gea baru datang bersama Nanda dan Tofa. nafas Gea masih ngos-ngosan, dia berlari setelah turun dari mobil, tidak menghiraukan teguran orang-orang dan perawat yang memintanya untuk berhenti berlari.
Rasa khawatir Gea menghilang, dia tersenyum melihat Abra menangis di pelukan Zahra, bahkan perlahan senyumnya menjadi tawa kecil, membuatnya meneteskan air mata dan cepqt-cepat dia hapus.
Dia baru pertama kali melihat Abra menangis, dia tidak tahu mengapa Abra menangis, tetapi dia lega karena Abra selalu bersikap kuat dan tegar di depan semua orang, padahal dia menyimpan permasalahan yang begitu besar.
"Kenapa malah tertawa?."
Pluk...
Kepala Gea menjadi tumpuan lengan Regan. Tubuh Gea yang kecil memudahkan Regan untuk menjadikannya tumpuan.
Gea tidak keberatan dengan lengan Regan dikepalanya, dia malah mendongak menatap Regan dengan senyum lebarnya.
*-*
Dari tadi siang Vira menunggu Gea seperti biasa di depan rumah Kakek Arya, tetapi saat keluar Gea malah bersama dua bodyguardnya.
Dia mengukutinya hingga kebrumah sakit mencari celah untuk berbicara pada Gea.
__ADS_1
Kali ini dia duduk tidak jauh dari Gea di kantin rumah sakit. Gea duduk dengan anak laki-laki dan kedua bodyguardnya juga duduk tidak jauh dari mereka.
Gea sendiri tidak sadar jika Vira membuntutinya sejak tadi, karena dia hanya fokus pada Regan yang duduk di depannya.
"Kamu biasa diikuti mereka?," tanya Regan merasa terganggu dengan dua orang bodygoard Gea.
"Enggak kok, baru tiga atau empat minggu ini."
"kenapa?."
Gea mengangkat bahunya "gak tau."
Jawaban yang diberikan Rea membuat Regan menghela nafas. "Kalau dia kenapa?."
Tidak pahan dengan dia yang Regan maksud Gea mengerutkan kening.
"Pak Abra," ucap Regan dengan nada lirih, seakan keberatan mengucapkannya.
Gea terkekeh kecil, "Ayah fobia sama rumah sakit?."
Aneh Regan merasah aneh "Sejak kapan?"
"Gak tau, tapi waktu Gea lahir Ayah tidak menemani Mami dirumah sakit."
Otak Regan mulai berputar.
'buka mata dan lihat Zahra disini," kembali Regan mengingat perkataan Malvin saat menenangkan Abra tadi.
'Aku disini,' tadi Zahra juga mengatakan itu.
Fobia rumah sakit.
Kenapa Abra bisa fobia dengan rumah sakit?, apa Abra fobia keramaian?. Tidak mungkin, Abra tidak terlihat mengalami enochlophobia.
Kenapa nama Bundanya disebut-sebut?, kenapa dia merasa tenang saat mendapat pelukan Bundanya?.
Semua pertanyaan berputar dalam benak Rega.
*-*
.
.
.
__ADS_1
Unik_Muaaa