
Mata Zahra memerah karena kurang tidur, sejak tadi dia hanya menjawab pertanyaan anak-anak yang bertanya tentang Regan dan Abra dengan jawaban yang terkesan ngelantur.
Zahra menatap layar hpnya menunggu balasan pesan dari Abra yang sejak sejam lalu belum juga dibalas.
Semua keresahan yang dirasakan Zahra dapat anak-anak sadari, jadi dengan dipimpin Gana mereka mendekati Zahra yang sedang duduk diruang tamu.
"Bunda kenapa?" tanya Gana duduk disebelah kanan Zahra.
Mereka semua duduk mengelilingi Zahra, Aslan duduk disebelah kiri Zahra sedangkan yang lain duduk di bawah didepan Zahra beralasan karpet menatap kearah Zahra penuh tanda tanya.
Kepala Zahra menggeleng pelan.
Ayah dan Ibu Zahra tersenyum melihat mereka mengelilingi Zahra dari arah dapur. Meski Zahra jauh dari mereka selama ini, tetapi masih ada yang peduli dan sayang pada anak mereka.
"Kita tahu kok bunda lagi memikirkan sesuatu, kenapa asa masalah apa sama Ar dan Ayah?" tanya Gea dengan wajah khawatirnya.
Zahra menghela nafas. "Tadi malam ada yang menelfon Ayah, katanya ada beberpaa hacker yang mencoba membobol perusahaan Opa kamu."
"Terus apa yang membuat Bunda gini?, sejak tadi kita tanya apa Bunda jawab apa." Gerutu Gana blak-blakan.
"Bunda khawatir karena sampai sekarang mereka gak ada kabar, mereka sudah makan belum?, hacker itu kan jahat mereka berhasil tidak melawan mereka." Zahra mengungkapkan seluruh keresahan yang memehuni benaknya.
Gea duduk semakin mendekati Zahra. "Bunda yang jahat itu bukan Hacker tapi Cracker, yang mereka lawan itu sekarang Cracker. Ar gak kerja sendiri tapi ada Om Malvin yang membantu mereka."
Ucapan Gea menarik perhatian mereka semua, tatapan penuh pertanyaan beralih pada Gea sekarang.
"Sampai sekarang mereka belum bisa diganggu, bahkan para karyawan juga belum boleh masuk kedalam kantor. Om Malvin dan Ar baru selesai membereskan para craker itu, setelah tahap pengujian sistem keamanan yang dibuat Ar selesai mereka pasti langsung pulang."
Mila melongo menatap Gea "Kamu tahu sedetail itu dari siapa?."
"Dia kan cucu pemilik prusahaan, kamu gimana sih" Rio mengingatkan.
Semua mengangguk membenarkan, diam-diam Gea mengulum bibirnya.
Boleh dibilang Gana memang lebih lemot dalam urusan otak, tetapi dia orang terpeka diantara semua. "Karyawan saja tidak boleh masuk" Gana mulai mengintrogasi. "Tetapi kenapa bisa kamu tahu sampai sedetail itu?, kamuntahu dari siapa?."
Blus....
Pipi Gea bersemu merah, dia tersenyum lebar mencoba menutupi kegugupannya.
"Ayahmu sepertinya juga sibuk disana sampai tidak membalas pesan Bunda" Zahra ikut bersuara. "Kamu tahu dari siapa sayang?."
Semua menatap tajam kepada Gea penasaran membuat Gea menggaruk keningnya yang tidak gatal.
"Dari Kak Javir" ucapnya lirih.
__ADS_1
Sontak seperti paduan suara tanpa dikomando semua bersorak bersahutan.
"Hah?."
"Wuh..."
"Cie ... Gea ...."
"Serius JABER?" suara Mila melengking.
Gea memukul lengan Mila pelan. "Javir Kak Mil" Gea mengoreksi.
Semua tertawa, Zahra tersenyum kecil hanya mengelus kepala Gea lembut. Gea menatap Zahra sejenak dan mengelamkan wajahnya dalam pangkuan Zahra.
"Kita gak ada hubungan apa-apa kok Bun" ucap Gea.
"Gak ada hubungan tapi kok malu-malu?" goda Aslan.
"Ya apalagi" Mila menepuk-nepuk punggung Gea. "Gea pasti suka sama kak Jaber!" seru Mia lantang.
Semua kembali bersorak bersahut-sahutan menggoda Gea yang malau semakin menenggelamkan wajahnya dipangkuan Zahra.
*-*
"Ok, benar juga kalau Jamping dari komputer disini mereka tidak akan lagi mencoba mencari gara-gara."
Malvin berdiri dari kursi kerja Wawan, meregangkan otot tangan dan lehernya sebelum berjalan menghampiri Regan. "Biar saya sempurnakan sistem yang kamu buat."
"Ada di leptop Gea didalam tas."
Sejak setengah jam terakhir Malvin dan Regan mulai mengeluarkan suara, tetapi orang-orang yang berada didalam ruangan itu masih saja diam tidak mengatakan apapun.
Lagi pula mereka juga tidak mengerti istilah-istilah yang Malvin dan Regan katakan, sepertinya hanya dua orang itu yang mengertin.
"Ada Firewall-nya gak Pa?." Javir duduk disamping Malvin.
"Sudah ada" Malvin melirik Regan sejenak. "Otak anak itu jangan diragukan."
"Kalau gitu Jav bantu Pentesting." Javir mengeluarkan leptop dari dalam tas yang tadi dia bawa.
Sejak tadi Javir hanya tidur dan bermain hp, Abra pikir dia tidak mengerti tantang hacker seperti dirinya. Ternyata Javir juga seperti Malvin dan Regan terlihat dari nyambungkanya pembicaraan mereka dan kelihayan jemari Javir diatas keybord.
"Ok selesai" seru Malvin penuh kelegaan menyandarkan punggungnya kesandaran sofa menatap layar leptop didepannya.
"Saya juga sudah selesai" Regan mendorong leptopnya menjauh dan berdiri melakukan peregangan sebentar. "Saya mendapatkan sesuatu, mau di show off atau tidak?" Regan memberi isyarat dengan lirikan matanya pada leptop yang tadi dia gunakan.
__ADS_1
Malvin mengambil leptop Regan.
"Sudah selesai?" Abra menyodorkan sebotol air mineral pada Regan.
Regan mengangguk meminum air yang diberikan Abra. "Terima kasih" ucapnya dan kembali duduk lagi.
Malvin masih mengecek apa yang Regan temukan lalu menatap Regan dengan senyum kecilnya. "Jangan di Show off, tapi kamu mau jadi Elit gak?, saya siap ngajarin."
Tanpa pikir panjang Regan langsung menggeleng. "Bunda tidak mengizinkan" tolak Regan.
"Kamu kan jago membujuk Bundamu."
"Tidak, lagi pula saya harus fokus meraih cita-cita saya. Saya tidak mau mengecewakan Bunda."
Abra menatap Regan dan Malvin bergantian tidak mengerti kenapa membawa Bunda yang berarti Zahra, istrinya dalam pembicaraan mereka.
"Dia menawarkan saya menjadi Hacker pro, saya tidak mau." Regan menjelaskannya tanpa Abra bertanya.
"Ya, Ayah berjanji ini terakhir kali kamu menjadi Hacker." Abra menatap Malvin dan menggeleng tanda tidak mengizinkan. "Kalau selesai kita pulang, empat jam lagi kita harus berangkat kebandara."
Abra mulai membantu Regan memasukkan semua peralatan yang Regan bawa kedalam tas. Begitu juga dengan Malvin dan Javir.
Abra berjalan menghampiri Pak Jaya yang sejak tadi berdiri dengan Wawan di pojok ruangan. Setelah bentakan Malvin pria itu terdiam tidak mengatakan apapun hanya memperhatikan mereka dari pojok ruangan dengan Wawan.
"Sepertinya tidak ada file yang hilang" Abra menyodorkan hp Wawan yang tadi sempat dipinjan Regan.
"Sistem keamanan sudah kami perbaiki" Malvin berdiri disamping Abra. "Cobalah menjalankan bisnis dengan jujur dan jangan mengusik orang" bukan menyindir, Malvin langsung mengatakannya secara terang-terangan
Tatapan yang Malvin berikan pada Pak Jaya benar-benar tidak bersahabat, membuat Pak Jaya berderham dan berdiri tegap menunjukkan bahwa dia tidak bisa diintimindasi.
"Untung yang meretes perusahaan anda anak itu, dan dia juga yang memberi sistem keamanan pada prusahaan anda secara cuma-cuma setelah apa yang dilakukan Vira pada Bunda dan temannya" Malvin melirik pada Regan. "Jika itu saya, saya akan menghancurkan perusahaan anda tanpa sisa."
Ucapan Malvin membuat Pak Jaya terbelalak kali ini tidak bisa menutupi perasaan kekahawatirannya.
Malvin kembali menatap Pak Jaya tajam. "Intinya anda harus berterima kasih pada anak itu, jika kalian masih menggunakan sistem keamanan yang dulu, hari ini juga perusahaan kalian guling tikar. Saya tunggu pembayaran jasa saya, dan lo jangan coba-coba bayar gue." Malvin menepuk pundak Abra sebelum melangkah pergi "pulang Jav!."
*-*
.
.
.
Unik_Muaaa
__ADS_1