
Tanpa salam Malvin langsung membuka pintu rumah Abra dengan membawa leptop ditangannya, meninggalkan Sam dan Vira yang sibuk mengeluarkan koper mereka masing-masing dan miliknya juga dari taxi.
Abra dan Enzo langsung berdiri memberikan Malvin tempat untuk duduk di sofa dekat Javir.
"Regan ambil leptopmu" perintah Malvin tegas.
Regan melirik pada Abra, "tetapi saya sudah berjanji pada Bunda tidak ..."
"Apa menurutmu sekarang waktu yang tepat untuk menepati janji itu?" potong Malvin dengan suara baritonnya menatap Regan dengan tatapan tajam.
Tangan Abra menyentuh pundak Regan menepuknya pelan, membuat Regan dengan cepat berlari menaiki tangga mengambil loptopnya.
Semua mulai menyingkir menjauh dari sofa, memberi ruang untuk mereka berkerja.
Regan datang dengan dua leptop di kedua tanganya, dia meletakkan leptop didekat Malvin dam membuka semua leptopnya, menggerak-gerakkan jemarinya membuat peregangan dengan tidak sabaran.
Enzo menatap ketiganya dengan tatapan excited, pantas saja jika bertahun-tahun dia tidak bisa menemukan Abra, tiga heacker sekaligus bersamanya.
"Apa tidak bisa Bunda langsung ditemun Pa?" tanya Javir.
Kepala Malvin menggeleng, "alat yang Papa gunakan bukan versi baru, itu versi lama sekitar satu setengah tahun lalu, jadi harus berada diradius lima kilo meter baru bisa terdeteksi."
"Tumben Papa kudet"
Malvin berdecak dan menghentikan jemarinya yang sedang menari diatas keyboard melirik Javir sejenak dengan tatapan tajamnya, "Papa tidak mungkin bilang pada Zahra mau meminjam cincinnya Jav."
Javir menarik sebelah bibirnya menahan senyum, Malvin kembali fokus pada layar leptonya.
"Papa kirim kekalian, kerja cepat" perintah Mavin.
"Ya"
"Siap"
Jawab Javir dan Regan bersamaan.
"Keahlianmu masih bisa kerja langsung dengan dua leptop gitu?" tanya Malvin pada Regan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar leptopnya sedikitpun.
"Bisa" jawab Regan lirih.
"Pada hal sudah lama vakum"
"Hem ..." sahut Regan.
Meski bukan anak sendiri, Malvin merasa bangga dengan kemampuan Regan kemampuan heackernya yang otodidak membuatnya salut.
"Setelah menemukan Bundamu, tiga hari belajar denganku untuk menaikkan levelmu" ucap Malvin tegas.
"Aku juga geregetan melihatnya" sambung Javir
"Tidak mau, saya sudah berjanji pada Bunda" Regan menolaknya mentah-mentah.
Malvin berdecak kesal mendengarnya, sudah beberapa kali dia menawarkan diri degan tulus tanpa mau meminta imbalan selalu saja berakhir dengan penolakan tak terbantahkan dari Regan.
Mereka berbicara dengan tangan terus bergerak diatas keybord masing-masing, menunjukkan seberapa handalnya mereka.
Enzo tersenyum lebar melihat mereka bertigau lalu melirik Abra yang berdiri tepat disampingnya.
"Aku tetap tidak mau" ucap Abra tegas tanpa menoleh dia tahu bahka Enzo sedang menatapnya dan apa yang tersirat dari tatapannya itu.
Terdengar tawa kecil Enzo, "ah ... it's not like a tiger father begets a tiger son, but beget a lion's son."
Abra langsung melirik Enzo tidak terima, "dia anak kandungku Enzo."
"I know, tapi dia lebih hebat darimu, bahkan melebihi ekpektasiku."
__ADS_1
Ingin rasanya Abra menggeplak kepala Enzo tetapi dia kali ini tidak bisa melakukannya, karena malas meladeni Enzo, dan Zahra lebih penting.
"Kita pisah"
Malvin yang pertama kali berdiri, diikuti Regan dan Javir setelahnya.
Regan berjalan menghampiri anak buah Enzo yang tadi ikut masuk kerumah mereka, "kamu Remove's Shield kan?" tanya Regan mengeluarkan leptop pria iu dari tasnya.
Pria itu melirik Enzo tidak berani menjawab pertanyaan Regan, tetapi Enzo malah menatap Regan dengan tenang.
"Yang tujuh bulan lalu kehilangan akun gamemu yang sudah lever sembilan." Regan kembali mengembalikan leptop pria itu, "cari Bunda dan aku akan mengembalikan akunmu," ucapnya sambil berjalan mengambil salah leptopnya di atas meja.
"Kamu mencari masalah dengan orang yang salah" ucap Abra pada anak buah Enzo itu, lalu berjalan keluar rumah lebih dulu.
Enzo tertawa ngakak mendengarnya, tujuh bulan lalu dia memang memerintahkan Jhone heacker mereka untuk mencari data tentang Adam Regan Zeroun Ganendra.
"Aase is back" seru Sam.
"Tidak!" teriak Abra tegas.
Sam langsung manyun mengikuti langkah Malvin dan Abra yang melangkah keluar lebih dulu.
Dengan leptop ditanyan Regan berjalan menghampiri Enzo dan menjulurkan leptopnya. "Berikan pada anak buah anda yang lain, lebih banyak yang mencari Bunda lebih baik."
Nada bicara Regan bagaikan bos yang sedang memerintahkan anak buahnya membuat Alaric dan Emma melongo tak percaya.
"Aku dan As butuh Alaric untuk menunjukkan jalan, dan Emma ..." nada suara Regan menggantung dan berbalik badan menghadap Emma, "kamu dengan Javir, karena aku benar-benar tidak mau diganggu."
Tetapan mata Regan membuat Emma seakan meleleh mengulumkan senyum. Tegas, seolah aura seorang Alpha menguap dengan penuh wibawanya.
Regan mengambil leptopnya berjalan keluar bersama Alaric dan Aslan.
Javir mengambil leptopnya hendak berjalan keluar tetapi menghentikan langkahnya didepan Vira.
"Gea dikamar itu" Javir menunjuk kamarnya, "istirahatlah disana" ucap Javi lalu kembali melangkahkan kakinya.
*-*
Mata Zahra perlahan terbuka, matanya menatap sekeliling ruangan dan tersentak hingga terduduk saat sadar dia bukan dirumah mereka.
Abra dan si kembar tidak ada disampingnya, Zahra turun dari kasur berjalan mengelilingi ruangan tertutup yang tidak dia kenali, hanya ada jendela kecil sebagai vantilasi udara.
"Ini dimana?" Zahra menyentuh kepalanya yang masih terbalut kerudung.
Terakhir dia ingat sedang ditoilet reataurant, mencuci tangannya di depan westafel, tersenyum pada seorang cleaning servis yang baru saja masuk untuk membersihkan toilet dengan Janitor trolleynya, setelah itu Zahra tidak mengingat apapun.
"Ya Tuhan sebenarnya apa salahku?, kenapa sejak kembali dengan dia aku di culik terus?. Awas saja kalau kali ini aku diculik gara-gara dia lagi, aku akan membuat perhitungan denganya" Zahra mengucapkannya dengan mata berkaca-kaca.
Payudara Zahra membengkak terasa nyeri, dia menunduk memperhatikannya dalam diam diam *********** dan akhirnya menangis teringat Bilqis dan Chaka.
"Mereka gimana?, stok asinya semoga masih cukup" guma Zahra sambil menangis. "Abra ..." panggil Zahra, "temukan aku, kasihan si kembar".
Dia duduk diatas kasur dengan kaki meringkuk, membenamkan wajahnya menangis. Nyeri *********** semakin membuatnya teringat pada si kembar dan akhirnya Zahra menangis tak tertahan.
*-*
"Masih belum ada tanda-tanda Vin?" tanya Abra entah yang kesekina kalinya membuat ketiga pria di dalam mobil itu yang mendengarnya kesal.
Hampir sekitar sepuluh menit Abra bertanya dengan kata yang sama, dan mereka baru satu jam lima belas menit berkeliling mencari Zahra, jadinkalian bayangkan berapa kali Abra bertanya.
"Apa sebenarnya motif mereka?" tanya Sam pada Enzo yang sedang mengendarai mobil.
"Menurut kalian siapa musuh terbesar Adam?" Enzo malah balik tanya.
"Dario Cossmos" jawab Sam penuh keyakinan.
__ADS_1
Tidak ada yang menanggapi, baik Abra maupun Enzo hanya terdiam.
"Serius mereka?, benaran rambut nasi Cossmos?" seru Sam tak percaya. "Wah ... untung Abra tidak mengikuti saran Enzo untuk bertemu dengannya."
"Justru dia menculik Zahra karena gue tidak mau bertemu dengannya," ucap Abra menatap keluar jendela. "Sebenarnya bukan tidak mau, gue hanya menunggu kalian."
Sam melirik pada Malvin yang ternyata sudah mengalihkan perhatiaannya pada layar leptopnya.
"Gue perlu rencana yang matang, tidak mau terkecoh sedikitpun olehnya" lanjut Abra, "gue mau menyelamatkan hidup gue demi Zahra dan anak-anak, sekarang malah gue membahayakan Zahra."
Malvin san Sam sudah pernah menjadi saksi atas keterpurukan Abra karena diliputi rasa bersalah pada Zahra, bahkan kepergian Zahra menjadi pukulan terberat dalam hidup Abra.
Tit ...
Tit ...
Tit ...
Semua menoleh pada Malvin, dengan cepat tangan Malvin memencet keyboard mencoba memastikan jika singnal yang dia tangkap benar dan ...
Dret ...
Dret ...
Secara bersamaan hp Malvin dan Abra bergetar, paggilan masuk dari anak-anak mereka.
"Aku akan sharelock"
"Lokasih sudah Jav kirim"
Abra melirk Malvin menunggu apa jawaban Malvin pada Javir.
"Baru saja dipastikan singnal itu dari alat dicincin Zahra, sama dengan yang kamu kirim" ucap Malvin.
"Ar kirim pada Malvin"
Tangan Malvin kembali memencet tombol keyboar, "sama" seru Mavin melirik Abra sebentar, "Enzo lurus seratus meter lalu belok kiri."
Meski lokasi sudah bisa dilacak, tetapi tidak ada suara apapun yang terdengar di headphone Malvin, hingga akhirnya beberapa detik setelahnya ...
"Zahra sadar" ucap Malvi.
Dia melepas headphonenya.
"Ya Tuhan sebenarnya apa salahku?, kenapa sejak kembali dengan dia aku di culik terus?. Awas saja kalau kali ini aku diculik gara-gara dia lagi, aku akan membuat perhitungan denganya."
Mata Abra berkaca-kaca dan tersenyum kecil mendengarnya, sedikit lega mendengar Zahra masih sempat mengancamnya.
"Mereka gimana?, stok asinya semoga masih cukup" kembali terdengar suara Zahra. "Abra ..." panggil Zahra, "temukan aku, kasihan si kembar".
Kali ini berhasil membuat Abra meneteakan air matanya. Abra meraup wajahnya menghapus air matanya.
Terdengar tangis Zahra, membuat kepala Abra semakin pening mendengarnya. "Matikan" ucap Abra lirih tidak sangup mendengar tangisan Zahra lagi.
Malvin memencet keyboard leptopnya mengentikan menyadap suara sehingga tidak lagi terdengar suara tangis Zahra.
*-*
.
Jedak jeduk Booom ... 💥
Eit ... hei You ... jangan lupa 👍🎁💬
Udah ???
__ADS_1
Love you 😙*
Unik Muaaa