One More Chance

One More Chance
Bersama


__ADS_3

Seharian dia duduk didepan rumah Zahra, tetapi belum juga bertemu dengan Zahra maupun Regan.


Pintu rumah terkunci, toko rotinya juga tutup. Apa mungkin Zahra menghindarinya?, pergi lagi?. Pertanyaan itu terus berputar dibenaknya, bahkan sudah berkali-kali menelfon Malvin memastikan keberadaan Regan di sekolah, yang artinya Zahra tidak kembali pergi meninggalkannya.


Suara motor menarik Abra dari pikiran negatifnya. Regan batu saja turun dari motor temannya, tatapan mereka bahkan bertemu sejenak.


"mau kita temenin?" tanya Gana dengan tatapan tidak suka pada Abra.


"enggak pulang aja".


Regan langsung berbalik membuka pagar rumah.


Mereka berdiri berhadapan, tatapan yang sama-sama datar dan tidak ada yang mengalah. Hinggah Abra menjulurkan tangan kananya pada Regan, membuat Regan melirik pada tangan Abra dengan kening mengerut.


Dengan isyarat mata dia abertanya apa maksud dari juluran tangan Abra.


"katanya pintar?, apa harus dijelasin pulang sekolah harus apa pada orang tua?".


"ada merasa tua?" tanya datar.


Abra hanya menghela nafas membuang perasaan jengkelnya pada Regan. Kembali dia memasukkan tangannya kedalam celana. "Bundamu kemana?, Sama siapa?, kenapa tokonya sampai tutup?. Dia gak sakit kan?, atau menghindari saya mungkin?. dia gak mungkin menghilang lagi meninggalkan kamu kan?". Abra mengakatan serentetan pertanyaan dalam otaknya.


Regan diam mematung menatap Abra.


"kenapa diam?" tanya Abra gelisa melihat ketenangan yang Regan tunjukkan.


"anda kenapa?".


Abra tercengang mendengar dua kata yang keluar dari mulut Regan. "ya.. ya..." dia gugup seketika. "saya suaminya, saya khawatir dia menghilang lagi".


Kepala Regan menangguk-angguk melirik kelain arah sambil mengerutkan kening. "Bunda sudah menikah lagi?" ucapnya sarkas. "kenapa saya tidak tahu?".


Ah... Abra benar-benar kesal menghkadapi Regan yang memang sifat keras kepala, tenang tapi mengahanyutkan kombinasi dirinya dan Zahra menjadi satu. Buah tidak akan jatub jauh dari pohonnya.


"Saya suami Bundamu, kami belum bercerai" kata Abra tegas.


Regan menghela nafas. "benar juga". dua taka yang diucapkan Regan menerbitkan senyum Abra beberapa detik sebelum Regan melanjutkannya. "jika anda menceraikan Bunda anda harus membayar kata nafkah selama Bunda ditingbalkan, kira-kira berapa ratus atau milyaran juta ya?, apalagi Bunda harus menghidupi saya sendirian".


"saya tidak meninggalkan Bundamu, dia yang meninggalkan saya".


"siapa yang salah sampai Bunda meninggalkan anda?".


"say..." Abra hampir terjerumus karena Regan berhasil memancing dirinya.


Mereka terdiam, saling menatap satu sama lain. Tatapan datar tajam Regan sangat mengganggu Abra, tatapan yang Zahra selalu berika jika sedang kesal, kecewa atau marah.


Tangan Regan memutar kunci pintu, memberi isyarat dengan kepalanya agar Abra, yang diberi isyarat hanya diam tak mengerti.


Regan berdecak. "masuk" Regan masuk terlebih dulu.


Dibelakangnya Abra tersenyum bahagia penuh kelegaan.

__ADS_1


"sudah makan?" tanya Regan datang.


Abra yang akan duduk kembali berdiri tegak. "hah?". dia tidak percaya dengan pendengarannya.


Regan menghela nafas melempar tasnya kesofa dna berjalan masuk.


"belum... saya belum makan..." seru Abra penuh kebahagiaan.


Meski Regan tidak mau menyentuh tangannya untuk bersalaman, setidaknya anak itu sudah membukakan pintu rumahnya dan bertanya dia sudah makan atau tidakm


Matanya berkaca-kaca. "maaf" ucapnya begitu lirih.


Dia tau jika dia salah, tetapi semua telah terjadi, tidak ada yang bisa di sesali. Disetiap kejadian pasti ada kebahagiian dan pengorbanan.


"mau makan tidak!" Regan berteriak dari dalam.


"iya...".


Abra tertegun sejenak, dia akan masuk lebih dalam kerumah Zahra dan anaknya. Dia menghela nafas sejenak sebelum melangkahkan kaki semakin masuk kedalam rumah Zahra.


Tangannya mengepal, pertama kali yang dia lihat kamar Regan yang hanya berukuran tiga kali empat meter, hanya terdapat kasur berukuran standart, lemari dua pintu dan meja belajar kecil.


Abra memakingkan muka, dia tidak sanggup melihatnya. namun yang terpampang di depannya malas semakin membuatnya tertegun. TV tanbung berukuran tiga puluh dua inci dengan kasur lipat yang begitu tipis didepannya.


Tidak ada meja makan atau semacamnya, hanya ruangan dengan pintu tertutup, mungkin kamar Zahra.


"kalau mau makan bantu saya bawa piring ke depan".


"kedepan mana?".


"Ruang tamu, kita tidak mempunyai meja makan, kalau makan biasa diruang tamu atau lesehan di sini, didepan tv".


Abra mencoba mempertahankan senyumnya. mengambil alih piring ditangan Regan. Dia duduk menunggu Regan, memejamkan mata menghena nafas berkali-kali agar menenagkan dirinya untuk tidak menangis.


"Bunda masak cukup banyak karena ada Aslan, biasanya kalau ada Ayam bunda hanya buat soup sayur atau oseng-oseng. Pasti karena ada Aslan bunda masak ikan pindang sarden".


Abra hanya mendengarkan dan akan mengambil Ayam kecap pedas manis. tetapi Regan lebih dulu mengambil sendiknya dan mendapatkan sayap ayam satu-satunya yang ada.


Regan melihat Abra yang terpaku menatapi piring Ayam kecap pedas manis. "kenapa mau ini?" Regan menenteng sayap ayam dengan jemarinya.


Kepala Abra menggeleng.


"ini kesukaanku, ambil yang lain, lebih banyak dagingnya" Regan kembali mencuci tangannya yang sudah kering. "lebih lemak yang ada tulangnya" ucap Regan menggerutu lirih.


Abra tersenyum kecil. "yang banyak dagingnya sering nyangkut digigi" bathin Abra.


"allahummah.....".


Abra ikut mengangkat kedua tangan dan mengucapkan Aamin saja.


Regan makan menggunakan tangan terlihat nikmat. Abra menatap tangannya yang memegang sendok, meletakkan sendok dan mencuci tangannya ditempat cucian tangan yang disediakan Regan.

__ADS_1


*-*


"Bunda gak mau pulang?" tanya Aslan pada Zahra yang sedang keliling-keliling pasar tradisional Sumenep.


Aslan sampai bingung dimana mereka masuk dan memarkirkan motor tadi. Sudah lebih dari se jam Zahra berkeliling membeli segala hal, padahal sebelum kepasar mereka sudah membeli baju Regan di toko pinggir jalan.


Kakinya sudah sakit, perutnya kembali lamar meski mereka baru saja makan bakso.


"Bunda..." rengek Aslan.


Zahra menghela nafas sambil mengedipkan matanya. Aslan yang ingin pulang hanya menghela nafas pasrah menemai Zahra kembali berkeliling.


"cari apa lagi sih Bun?".


"cari baju dalam Arz".


"ditoko tadi kan ada Bun".


"ditoko tadi mahal gak bisa ditawar padahal bahan dan kualitasnya sama dengan disini".


"terus kenapa beli baju, kaos dan hem Arz di toko tadi".


"kalau begituan bisa dinilai orang, semua orang bisa lihat merek bahan dan sebagainya, kalau dalaman kan enggak".


Ribet, kenapa setiap perempuan selalu saja ribet.


Dari tadi pagi mereka keluar jalan-jalan ke pantai, lalu duduk ditaman, keluar masuk toko beli baju dan segala hal untuk Regan dan terdampar di pasar tradisional pada akhirnya.


jika sudah selesai Zahra belanja, Aslan tidak akan bertanya lagi kemana mereka akan pergi setelahnya. Karena sepertinya Zahra bukan menghiburnya tetapi malah membutnya menderita sakit betis sebentar lagi.


"beneran dua puluh tiga ya buk, ini uangnya minta keresek nanti disangka mencuri saya" Zahra akhirnya selesai tawar menawar.


"pulang kan Bun?" Aslan memastikan.


Zahra menjulurkan sebagian keresek pada Aslan. "biasanya tuh cowok yang pegang belanjaan".


"iya iya As bawakan asal sudahnya ini pulang".


"ok".Zahra berbalik berjalan didepan lalu berhenti lagi. "lupa gak beli centong buat ngaduk bahan kue, balik lagi tokonya udah kelewat".


Bahu Aslan langsung lemas.


*-*


.


.


.


Unique_Muaaa

__ADS_1


__ADS_2