One More Chance

One More Chance
Seberapa


__ADS_3

"Assalamu'alaikum...".


Gana menghela nafas. "ada tamu tak diundang lagi...".


.


.


.


Yang datang ternyata Malvin dan Istrinya.


"Wa'alaikumsalam..." jawab mereka bersamaan.


"Hai pelatih..." sapa Aslan melambikan tangan.


"Hai Aslan".


Abra menatap Malvin dengan mata menyipit.


"Ayo makan pak buk" seru Gana yang sudah tidak bisa menahan diri untuk makan.


Malvin tersenyum. "saya sudah makan, kalian lanjut".


"ok, kita makan dulu pak" Gana kegirangan memperbaiki duduknya. "bis...".


"stop... yang minpin do'an giliran Rio" cegah Mila.


"Regan pimpin do'a". Rio malah menutup mata dengan tangan menegadah tidak memperdulikan tatapan melotot Mila.


Gea dan Yesi saling lirik, bahkan Abra juga, akhirnya mereka kembali meletakkan sendok dan ikut mengangkat tangan.


Malvin dan Bela tersenyum melihat mereka. "kesederhanaan yang hangat" guma Bela.


*-*


Rumah Zahra hanya memiliki dua kamar tidur dan satu kamar mandi, Aslan sudah terlebih dulu pamit ke kamar mandi dan berakhir tidur dikamar Regan.


Melihat Regan dan ketiga temannya menguasai ruang tamu yang lainnya tetap duduk dihalaman.


"mampir kerumah kami dulu, apa langsung kehotel?" tawar Bela memecahkan keheningan.


Sejak Regan dan teman-temannya masuk kedalam rumah untuk belajar mereka hanya duduk sibuk dengan pikiran masing-masing.


Kepala Abra menggeleng. "kenapa kalau si Aslan boleh menginab disini, aku enggak?" tanyanya dengan dengan tatapan menunjukkan kesedihan.


Zahra memutar matanya muak. "karena lebih baik nampung Aslan dari pada kamu".


"wah...". Abra berseru tak percaya. "Aslan itu siapa sih?, aku suami kamu loh Ara".


memutar mata dan membuang muka, dia malas meladeni Abra.


"kamu suka sama berondong?".


Pertanyaan Abra kembali menarik perhatian Zahra. "Aamin... semoga aja ada brondong ngelamar aku...".


"ARA!!!" bentak Abra menggelegar.


Zahra berdiri menatap Abra sengit. "terserah kalian semua mau tidur dimana, aku gak perduli" suara Zahra juga naik dari sebelumnya. "setidaknya kamu sadar diri, seberapa tinggi dan pantasnya diri kamu atas sesuatu" penuh tekanan dan tatapan yang tajam menghujam balik tatapan mengintimidasi Abra.


Zahra pergi masuk kedalam rumah setelah mengatakannya. Dia malas meladeni Abra dan kegilaannya.


Yesi melirik Gea yang diam menatap Abra. Tidak ada yang berani membentak balik Abra, tidak ada yang berani membantah Abra, tidak ada yang berani berdiri menatap tajam menantang Abra. Selama ini, tidak ada yang berani pada Abraham Ganendra.


Abra menoleh pada Malvin. " kamar dirumah lo ada berapa?".

__ADS_1


Wajah Malvin langsung berubah masam. "mau ngapain?" tanyanya sambil mengangkat dagu.


"jawab aja apa susahnya sih?". Abra mendelik.


"ada tiga" jawab Bela dengan senyum hangatnya.


"ok, kalau gitu gue ngineb di rumah lo kalau gitu, Sam dan anak-anak dihotel" putus Abra.


"Gak mau" sahut Gea.


"siapa yang nawarin?".


Malvin dan Gea mengatakannya bersamaan.


Mulailah mereka sahut menyahut. Malvun, Gea, Abra dan Sam yang ikut nimbrung. Bela hanya menghela nafas pasrah.


*-*


Keputusan akhir kereka semua tidur di rumah Malvin, dengan gerutuan dari Malvin.


"gak tidur?" tegur Malvin pada Abra yang masih saja duduk menatap keluuar jendela.


"lo sendiri kenapa gak tidur?, kangen tidur bertiga sama kita?" goda Abra.


Malvin pura-pura bergidik. "mendingan gie tidur sama istri gue dari pana nemenin pria kesepian kayak lo".


"kurang ajar".


Malvin duduk di atas karpet berbulu di samping Abra. Sam sudah tidur setelah selesai mandi.


"Javir kemana?".


"kembali Jakarta, kuliah".


"...".


Merasa tidak ada jawaban dari Malvin, Abra menoleh, ternyata Malvin sedang menatapnya.


"lo udah hilang ingatan?".


Abra tertawa kecil paham kenapa Malvinenhadi sewot seketika.


"gara-gara kesalahan yang gue lakukan, meski ngedepak gue bertahun-tahun tetep aja dia gak mau maafin kesalahn gue. Dari pada nanti gue kena damprat mulu, mendingan bantu lo dan Opa lo ngurus sistem keamanan Perusagaan GG dan Zahra. Hidup tenang, dapat jodoh dan keluarga terutama dapat uang dari Opa hahaaha...." Malvin tertawa, naik keatas kasur merebahkan tubuhnya di samping Sam.


Ingin bertanya tetapi gengsi, jika tidak bertanya dia tidak akan bisa tidur semalaman. Hanya satu orang ini yang bisa menjawab beban pikirannya.


Abra menghela nafas, dia yakin jika Malvin akan tertawa setelah mendengar pertanyaannya, tetapi dari pda dia tidak bisa tidur dan besok malh sakit lagi tidak bisa bertemuh Zahra, lebih baik dia mendapat olokan Malvin.


"vin..." panggil Abra sedikit ragu."


"Hemz...".


"Aslan siapa?" tanya Abra lirih.


Malvin menjadikan lengan kanannya sebagai bantal menatap lurus keatas kamar anaknya. "Tahu Bumi Wiguna?" Malvin balik bertanya dengan nada serius.


Kening Abra mengerut, respon Malvin diluar expektasiya. "kenal" jawabnya.


"apa hubungannya dengan Aslan?".


"berhubungan tetapi rumit mencerita detailnya gak mungkin penting juga buat lo, intinya mereka dulu bertetangga saat di Malang. Kembali bertemu dua tahun lalu saat kompetisi Karate se Jawa Timur". Malvin melirik Abra. "Aslan kuliah di Bandung, dia sudah beberapa kali menginab di sini sebelum lulus SMA dulu. Di Malang tinggal dalam keluarga Nenek dan saudara sepupu Ibunya".


"hanya karena dulu bertetangga, dia sampai berani cium, rangkul dan peluk Zahra?".


Malvin tertawa mendengar Abra cemburu pada Asland. "hahaha.... lo cemburu?" Malvin mulai meledek Abra. "lo udah lupa apa yang dikatakan Zahra?, lo harus sadar diri seberapa pantas".

__ADS_1


"gue sadar tapi..." Abra kesal pada diri sendiri. "gue masih mencintai dia, terlebih kita sudah memiliki anak, gue udah nyusahin dia banyakhal. Dia sekarang terlihat lebih dewasa, lebih sabar jadi gue yakin gue bisa buat dia kembali sama gue".


"anak lo aja umur empat belas tahun sudah pintar, dewasa, bijak dan wawa... gue gak bisa berkata-kata. Apa lagi otak yang mendidiknya, lo yakin bisa ngadepin dua otak itu".


Abra ikut membaringkan tubuhnya. "gue harus bisa, gue kembali jatuh cinta. Kali ini pada sikap keibuanya".


*-*


"Kenapa Bunda disini?".


Regan yang baru masuk kedalam kamarnya melihat Zahra yang sedang duduk dipinggir kasur menatapi Aslan yang sedang tidur.


"kenapa dia bisa kesini?" tanya Zahra dengan suara lirih. "pasti masalahnya berat, dari Jakarta gak mungkin kesini hanya kangen Bunda. sekarang dia semester berapa?".


Regan duduk di kursi belajarnya. "semester empat".


"semester empat pasti banyak tugas, kenapa dia sempat kesini?. dia gak cerita sesuatu sama Arz?".


Kepala Regan menggeleng. "terakhir hanya cerita tugasnya yang menumpuk, dua bulan lalu".


Zahra menghela nafas. "kasihan, seandainya dia tetap di Malang sesekali ke sini seperti sebelumnya Bunda gak akan kepikiran. Ini Jakarta - Madura, perjalannya jauh, Ongkosnya besar".


"Bunda tidur, besok pagi-pagi ajak dia jalan-jalan. sekalian nenangin diri Bunda juga, biar Arz yg ngubungi mbak Ika toko besok tutup".


"nunggu Ar pulang sekolah saja".


"Bunda lupa tiga curut nanti ikut".


Zahra tertawa. "biar saja nanti tambah rame".


"enggak" tolak Regan tegas. "Bunda jalan dengan As, udah sana tidur Arz besok sekolah".


Wajah Zahra langsung berumah muram. "ya udah Bunda tidur janga....".


"jangan lupa baca do'a, iya tau".


Zahra tersenyum, mencium kening Regan dan keluar dari kamar.


Regan merebahkan diri disamping Aslan. Tiba-tiba Aslan berbalik menghadapnya dan memeluk Regan dari samping.


Tubuh Regan langsung mencoba melepas belitan Aslan. "As lepas...".


"kalian memang selalu ngertiin aku, gak sia-sia ngabisin waktu dan uang buat ketemu kalian. terima kasih".


Mendengar ucapan Aslan yang tulus Regan berhenti memberontak dan malah balik badan memunggungi Aslan.


"tidur, aku besok sekolah".


"Hemz...".


Pasti ada sesuatu yang belum Aslan ceritakan padanya dan Bunda. Meski mereka sempat berpisah enam tahun didunia nyata, Aslan tetap bercerita segala hal pada mereka melalui telpon.


Bahkan setelah bertemu, Aslan seakan lebih menempatkan diri sebagai salah satu dari keluarga mereka.


Seberapa sayang Zahra pada Aslan?, jangan ditanyakan karena salah satu yang tidak Regan sukai dari Aslan, dia juga mendapat kasih sayang yang sama dari Bundanya.


*-*


.


.


.


Unique_Muaaa

__ADS_1


__ADS_2