One More Chance

One More Chance
Dia


__ADS_3

Sebuah mobil sport memasuki area rumah yang cukup luas dan elegan, dengan halaman luas membentang. Disetiap sudut terdapat beberapa orang sedang mengobrol, bermain kartu atau bahkan sibuk bermain hp.


Sang pengendara adalah Abra, dia keluar dari dalam mobil, seseorang melihat kedatangannya berteriak dengan lantang. "Bang Abra datang...".


Semua berkumpul didepannya, Abra menghela nafas karenanya dan hanya membalas sapaan mereka dengan mengangkkat tangan. Ini salah satu alasan kenapa dia jarang datang mengunjungi tempat usaha undergroundnya, dia tidak suka terlalu di hormati.


Bukan berbisnis narkoba, senjata atau manusia. Dia dan Sam menampung beberapa pereman dan anak jalan yang bisa ikut dalam aturan yang mereka tetapkan, untuk membangun perusahaan keamanan Absolut Security yang terkenal dengan AS singkatan nama perusahaan atau nama Abraham dan Samuel.


"Abang udah beberapa tahun gak kemari, kata Bang Sam sibuk sama perusahaan GG ya?". Tofa berjalan disisi sebelah kanan Abra.


"sesekali main kemari Bang" celetuk Nanda.


Tofa dan Nanda masih berumur dua puluhan, direkrut sembilan tahun lalu saat mereka masih remaja berkeliaran di pasar dan mol tanpa tujuan melanjutkan hidup dengan mencopet. Anggota paling dekat dengan Abra dan selalu menjadi bulan-bulanan Sam jika sedang kesal.


"Gimana Sam sudah memberi tahu apa yang harus kalian kerjakan?" tanya Abra to the poin.


Tofa menarik kursi untuk Abra duduk, dia dan Nanda berdiri didepan meja Abra, Nands memegang Tablet.


Keahlian mereka berbeda, namun mereka selalu bekerja bersama. Nanda yang diajari teknologi mulai tertarik dunia hacker, dan Tofa yang terjun dalam lapangan.


"tidak seperti sebelumnya, semua informasi mudah didapat. setiap ada waktu saya selalu mencoba mencari istri abang tetapi selalu nihil, tetapi sekarang seakan terpang-pang jelas bang" Nanda menyerahkan Tabletnya pada Abra.


Abra membaca satu persatu data yang Nanda dapatkan.


"maaf sebelumnya Bang" Nanda mengambil tabletnya sebentar dan kembali meletakkannya di atas meja Abra. "Abang kenal dengan orang ini?".


Melihat foto di layar tablet, seorang pria mengajungkan jari peace dengan tulisan


Hello bro...


Masih ingat gue


Mata Abra terbelalak seketikan.


"Anjing!" serunya menggeprak meja membuat Tofa dan Nanda terkejut.


Abra berdiri menyeka rambutnya, menendang tempat sampah hingga menghantam dinding menghasilkan bunyi yang cukup nyaring.


"wahahhaa...".


Terdengar tawa Sam dari lantai atas namun Abra tidak menghiraukannya.


Dia sangat marah kali ini, seandainya orang didalam foto itu ada di depannya ingin rasanya dia menghajarnya hingga babak belur. Malvin, yang akrab di panggil Avin, teman semasa SMP hingga SMA, pencinta IT dan sudah menjadi Hacker sejak SMP.

__ADS_1


Sam turun dari lantai atas, duduk di kursi kerja yang tadi diduduki Abra dan berputar-putar. "gue juga speechless awal tau dia yang ngeblok jalan kita bertahun-tahun, mangkanya gue minta lo kesini dengerin dari Nanda sendiri" sambil terkekeh kecil Sam mengacak-acak rambutnya juga.


"pantas saja sampai jaman purba mana bisa si Nanda nemuin istri lo".


Abra menatap Sam kesal "dia tau gue tersiksa, menderita, pontang panting cari Zahra tapi... dimana dia sekarang?" tangan Abra berkacak pinggang menatap Nanda.


"di Madura bang".


"what???" Abra berteriak marah. "kurang ajar...".


Brak....


Pyar....


Abra kembali membanting segala hal yang dapat dia raih karena emosi yang tidak bisa dia lampiaskan pada orangnya langsung.


Nanda berjalan pelan menghampiri Sam dan berbisik "pria itu siapa bos".


"Malvin, teman kita".


"Oh... terus nasib saya gimana bos?, saya takut juga kena damprat bang Abra, tolongi".


Sam mencibir menggoda Nanda dan menepuk pundak Nanda. "Dia sudah gila jika menyangkut teknologi sejak SD, jadi bukan salah lo gak bisa menemukan istri Abra selam ini. Tanang, Abra tau seberapa jauh level lo sama Malvin".


Nanda gelagapan. "anu... saat saya coba... itu... dia... tiba-tiba saya dapat pesan saya klik yg muncul foto itu lalu informasi keberadaan istri abang muncul gitu aja".


"Hubungi dia sekarang...!!!".


"siap bang...." Nanda menyalakan komputer mengotak atikanya.


Sam berdiri menepuk pundak Abra menenangkan dirinya.


Dapat terlihat dari mata Abra yang memerah, rahan yang tegang dan kepalan tangannya yang memutih, bahwa Abra benar-benar marah kali ini.


Siapapun akan marah jika dihianati oleh sahabat sendiri. Malvin menghilang setelah menyelesaikan sistem keamanan perusahaan GG, meski sistem keamanan harus di upgrade pertahun, Abra dan segala pihak tidak tau kapan telah di upgrande tiba-tiba dia dan bendahara perusahaan sudah mendapat informasi dan tagihan upgrade sistem. Malvin seakan hilang di telan bumi begitu saja.


"Assalamu'alaikum, werohmatullahi we beroka....tu". Suara Malvin yang menggema seakan sedang membuka salam untuk berceramah mengalihkan perhatian Abra.


"gak usah salam-salam" bentak Abra.


"gak jawab gue matiin nih VCnya" ancamnya.


Abra mendengus dan membalas salamnya lirih "lo mau mati di tangan gue?".

__ADS_1


Malvin terkekeh kecil dan menggelengkan kepala. "enggak, mangkanya gue gak mau ketemu lo saat lo kesini. Gue masih sayang hidup" Malvin tersenyum sambil memutar-mutar kursinya.


"Bangsat!!!".


"hehhe.... sabar bro, tenang gue bisa jelasin nanti kalau kita ketemu".


Mata Abra masih menatap layar komputer nyalang, Sam memberinya segelas air minum dan memaksanya untuk duduk.


"sebelumnya gue minta maaf, dan sebenarnya gue gak mau ngungkapi semua sekarang, tetapi kasihan aja sama dia harus denger omongan lo yang sering lo ulang-ulang. dia masih kecil bro meski dia sudah kelas akhir".


Sejanak Abra mengerutkan kening lalu kembali menatap layar komputer setelah mengerti siapa yang di bicarakan Malvin.


"gue ngelindungi mereka, gue akui gue bertugas ngeblok semua usaha lo didunia maya setiap mencari dia. sebelum gue ngeexpose semua yang ingin lo tahu, nyesel gak?, lo sadar gak sih lo salah dan lo selalu sok membenarkan diri?".


Abra diam, mereka saling tatap dengan tatapan dingin mengintimidasi.


"Opa loe ngubungi gue dan gue di gaji tiap bulan hehhehe...".


Mendengar tawa Malvin kepalan tangan Abra terangkat.


"untung kita berjauhan kalau enggak gue pasti bakal babak belur" disebrang Malvin masih saja tertawa kecil. "ok kita kembali kepertanyaan gue sebelumnya karena gue harus menjalankan tugas negara. informasi yang akan gue sampaikan sesuai dengan apa jawaban lo".


Wajah mereka kembali serius, Malvin menyandarkan punggungnya di sandaran kursi menatap Abra tajam, begitupun sebaliknya.


"gue gak nyesel" duara Abra datar namun tegas. "karena itu sudah terjadi, sadar gue salah" Abra menatap kalain arah. "dan lo sudah tau itu".


"tapi lo gak mau mengakui karena lo gengsi, dari jaman SD watak lo gak berubah. Bener gak Sam?".


Sam hanya tersenyum menangkat bahunya.


Tak...


Tak...


Tak....


Terdenggar bunyi keybord komputer dari sebrang tempat Malvin.


"kasihan dia gak lo akuin, He is needed you. Meski gue selalu ada buat ngebantuin mereka tetapi gue gak bisa selalu stay 24, dan menjadi sosok seorang Ayah gantiin lo" Abra tercekat. "gue sekarang juga punya keluaraga. gue tunggu di Madura, ikut Sam nanti bantu pegangi dia jangan sampai gue babak belur. Dia anak lo bro, Assalamu'alaiku...".


*-*


Unique_Muaaa

__ADS_1


__ADS_2