One More Chance

One More Chance
Panik


__ADS_3

Benar-benar kacau, Abra hampir saja membentak Zahra, istrinya pasti sedih saat ini bagaimana jika Zahra nangis?, tapi jika dia masih disatu ruangan dengan Zahra dia pasti akan lepas kontrol.


Abra merebahkan dirinya dikursi santai dipinggir kolam sambil menghisap rokoknya, sudah lama dia tidak merekok. Setelah menikah dengan Zahra dia berhenti merokok secara bertahap, kembali merokok setelah wanita itu menghilang, lalu berhenti lagi setalah tahu jika Kakek Arya mempunyai penyakit jantung, dan sekarang kembali merokok lagi. Kalian tahu bukan, bagaimana Wanita dapat memutar balikkan segala hal.


"Hai Ayah" panggilan itu tidak begitu jelas tetapi Abra dapat mendengarnya karena malam ini benar-benar sunyi.


Abra mendongak kearah balkon kamar Gea, teryanta benar gadis itu yang memanggilnya sambil melambaikan tangan sengan senyum cerianya.


Cepat-cepat Abra mematikan rokoknya, "hai dear, kenapa belum tidur?" tanya Abra.


"Tadi Gea tidur, Ar tiba-tiba nelfon" jawab Gea dengan senyum cerianya.


"Ya udah sana tidur lagi, besok sekolah"


"Ok, dada Ayah" Gea melambaikan tangannya, "cepat masuk nanti dicari Bunda."


"Iya"


Hanya satu kata, setelah menjawabnya Abra kembali menyalakan rokoknya yang masih tersisa. Setelah ini dia kan masuk, setelah menenangkan dirinya dan Zahra sudah tidur.


*-*


Mata Zahra menatap kearah pintu kamar, belum juga terbuka sejak Abra keluar, pada hal sudah tiga jam pria itu meninggalkan Zahra.


Zahra tidak bisa tidur, kali ini bukan karena punggungnya sakit atau perutnya yang kram, tetapi kepalanya yang sakit memikirkan kemarahan Abra tadi.


Tangan Zahra membuka laci disampingnya, mengambil headphone mencoba menenangkan diri agar bisa tertidur sambil mendengarkan lagu Zahra mulai memejamkan mata.


Tepat kala itu pintu kamar terbuka pelan, Zahra sempat melihat tetapi dengan cepat dia memejamkan mata.


Tangan Abra membetulkan guling diantara paha Zahra, membuat Zahra mengeluarkan air mata tanpa suara. Abra mengelus perutnya, mencium perutnya lama sebelum menutup tubuh Zahra dengan selimut, membuka headphonenya dan menyingkirkan rambut Zahra yang menutupi wajahnya.


Zahra masih menunggu sesuatu dengan dada berdebar, tetap tidak ada pergerakan lagi dari Abra, bahkan kasur disebelahnyapun tidak ada pergerakan menandakan Abra tidak tidur disebelahnya.


Cukup lama, akhirnya Zahra membuka mata, mengangkat kepalanya mencari keberadaan Abra, dan menemukan Abra tidur disofa panjang yang teradapat di kamar mereka, kakinya menggantung karena tubuh Abra yang panjang.


Zahra menangis dalam diam, sebegitu marah dan kecewanyakah Abra padanya hingga tidak mau tidur disebelah Zahra?.


Dia sepertinya tidak akan bisa tidur malam ini, kembali teringat saat dia hamil Regan dan tidak bisa tidur, dia akan menangis sendiri seperti sekarang.


*-*


Abra melirik jam dinding sudah jam setengah lima, tumben Zahra tidak membangunkannya, biasanya wanita itu akan membangun kannya jam empat sebelum adzan subuh. Apa Zahra masih tidur?.


"Ara" panggil Abra melirik kearah kasur.

__ADS_1


Zahra tidak ada, perlahan Abra bangun mendekati kasurnya untuk memastikan jika Zahra benar-benar tidak ada, kening Abra mengerut berjalan keluar kamar dengan langkah lebarnya mencoba masih berfikir positif mencari Zahra ke dapur.


"Ara" kali ini Abra memanggilnya dengan suara lantang.


Tidak ada, Zahra tidak ada didapur, Abra mulai panik dan pikiran negatifnya tidak dapat dikontrol lagi, kembali teringat saat belasan tahun lalu Zahra pergi, dia juga tidak menemukan Zahra di rumah mereka dulu seperti sekarang ini.


Abra berlari kehalaman belakang, Zahra juga tidak ada disana memuatnya semakin panik meremas rambutnya.


"Ara!" teriaknya.


Kembali Abra masuk kedalam rumah membuka pintu kamar satu persatu sambil memanggil nama Zahra, bahkan dikamar Gea dan Regan pun Zahra tidak ada.


"Apa aku berbicara terlalu kasar padanya?" guma Abra panik, benar-benar panik.


Tanpa menggunakan sandal Abra berlari keluar rumah menuju stan satpam yang menjaga didepan rumahnya.


"Pak lihat Zahra gak?" tanya Abra dengan nafas ngos-ngosan.


"Enggak pak" jawab Satpam rumahnya.


"Bapak dari tadi gak tidur kan?"


"Enggak pak, saya dari tadi nonton bola sama pak Ujang, dia baru saja masuk kamar."


Dia kembali berlari masuk kedalam rumah, dengan langkah lebarnya Abra masuk kedalam kamar membuka lemarinya, tidak sengaja melihat brangkas, dia membuka berangkasnya memastikan jika surat-surat penting Zahra masih ada.


Surat-surat masih ada, baju-baju Zahra juga masih ada, dulu saat Zahra pergi wanita itu memang tidak membawa banyak baju, tetapi semua surat-surat, ijasah dan segala hal yang penting dia bawa.


Hanya satu yang ada didalam otaknya kali ini, menghubungi Malvin dan Sam meminta bantuan mereka mencari Zahra sebelum wanita itu pergi semakin jauh.


Setidaknya dia sholat dulu, baru menghubingi Malvin dan Sam lal ....


Abra terdiam, air matanya tak tertahan mengalir, tangan Abra mengusap wajahnya menghela nafas lega dan mendekati jacuzzi. Zahra tertidur dengan telinga ditutup headphone, tampa perduli jika bajunya akan basah Abra masuk kedalam jacuzzi, membuka headphone yg Zahra pakai mengusik tidur Zahra.


Perlahan kelopak mata Zahra terbuka, Abra tersenyum padanya, melihat Abra disampingnya Zahta memalingkan muka kelain arah.


Tangan Abra meraih kedua tangan Zahra, "berapa lama berendam?, tangan kamu sampai mengerut begini sayang."


Zahra tidak menjawab.


Abra mencium tangan Zahra, "kamu bikin panik aku Ara, kamu gak ada dikamar, didapur, dikamar lain juga gak ada. Aku keliling-keliling cari kamu gak ada, aku udah berfikir kamu pergi lagi. Aku hampir minta tolong Malvin, Sam dan anak-anak ASG untuk mencari kamu."


Zahra tetap saja diam.


Tidak mendapat respon dari Zahra, Abra duduk disamping Zahra menarik tubuh Zahra untuk bersandar padanya seperti kebiasaan Zahra sejak hamil. Kedua tangan Abra menyentuh perut Zahra, kepalanya bersandar dipundak Zahra.

__ADS_1


"Aku benar-benar panik, aku takut" bisik Abra lirih.


Tubuh Zahra mulai melemas menyandarkan seluruh tubuhnya pada Abra. "Aku tahu aku salah" ucap Zahra, "aku belum terbisa mengeluh pada seseorang, belum terbisa merepotkan seseorang, belum terbiasa mempunyai tempat untuk bercerita dan berbagi segala hal. Aku hidup hanya berdua dengan Ar, kamu kembali masuk kehidupanku sekarang dan aku harus kembali menyesuaikan diri."


Zahra menjauhkan tubuhnya dari Abra, menoleh menatap mata Abra secara langsung. "Aku bukan sok kuat, aku gak kuat harus menyimpan segalanya sendiri" mata Zahra berkaca-kaca. "Melihat kamu bahagia seperti aku melihat Ar bahagia, aku gak bisa bilang aku takut."


Air mata Zahra mulai mengalir, "kamu marah dan pergi padahal aku belum selesai bicara" suara Zahra serak. "Kamu marah, gak mau tidur disebelahku. AKU GAK BISA TIDUR!" tangis Zahra pecah.


Tanpa bisa dikontrol air mata Abra ikut mengalir terharu Zahra masih membutuhkannya, dia tersenyum melihat Zahra yang menangis dengan pipi yang mulai tembem membuatnya gemas.


"Jangan senyum-senyum" omel Zahra, "Aku gak bisa tidur, mereka gerak-gerak gantian, punggung aku sakit, kadang perutku kram, kamu enak bisa tidur" Zahra mengakatannya dengan nada marah.


Tangan Abra mengelus puncak kepala Zahra, "maaf, aku kira kamu udah tidur."


"Aku belum tidur, kamu juga gak cium-cium aku hehe ... aku minta maaf, udahan marahnya hehe ... aku janji akan cerita semuanya, aku akan ngeluh, akan marah, aku akan bilang semuanya, janji."


Kali ini Abra tidak bisa menahan tawanya, dia menarik tubuh Zahra kembali bersandar padanya sehingga bisa memeluk Zahra dari belakang. "Ya udah ayo ambil wudhu, sholat nanti aku temani tidur."


"Beneran ya"


"iya"


"Tapi tidurnya yang lama"


"Iya"


Zahra menoleh sambil menyentuh kelopak matanya, "mataku bengkak karena mangis semalaman dan kurang tidur."


"iya"


"tangan aku juga keriput karena dari jam tiga tidur sambil berendam" ucapnya manja.


Gemas Abra mencium Zahra, "mau ngeluh apa lagi?, ayo ambil wudhu waktu subuh sebentar."


Kepala Zahra mengangguk dengan pipi bersemu merahnya.


*-*


.


.


.


Unik Muaaa

__ADS_1


__ADS_2