One More Chance

One More Chance
Mengerti


__ADS_3

"Ara jalan pelan"


Abra berjalan beberapa kali menarik tangan Zahra meminta wanita itu tidak jalan terburu-buru tetapi Zahra tetap saja Zahra, dia menepis tangan Abra dan kembali berlari kecil.


Semua yang sedang duduk di ruang tamu berdiri menatap mereka berdua, Zahra berjalan cepat kearah mereka dan Abra yang mengejarnya dibelakang.


"Mereka bertengkar" ucap Malvin menatap Abra sambil menghela nafas.


"Zahra sepertinya maunpergi" sahut Sam.


"Semoga saja Abra mengikuti caraku mengunci Hanna di kamar"


Yang terakhir adalah Enzo, yang berhasil menarik perhatian Regan dan Aslan, bahkan Sam dan Malvin yang sudah tahu menatap Enzo.


"Semua demi memilik orang yang kita cintai kenapa tidak" lanjut Enzo dengan santai.


Zahra mengentikan langkahnya didepan Regan dan Aslan, menatap mereka dengan wajah penuh amarah.


Regan yang mendapat tatapan itu melirik kelain arah, sejak tadi Zahra sudah tidak bisa diganggu, dan Regan tidah tahu apa yang dilakukan Abra sehingga Zahra sepertinya tidak bisa menahan emosinya.


"Kalian tahu kalau Ayah kalian pernya menjadi mafia sejak kapan?" tanya Zahra dengan nada rendah.


"Sejak awal kita sampai sini" jawab Aslan.


"Kenapa tidak memberitahu Bunda?"


"Karena Bunda tidak bertanya" sahut Regan sebelum Aslan menyahut.


Zahra berdecak menatap Regan tajam, "memangnya Bunda mau tanya bagaimana?, mau tanya apa Ayahmu mafia?. Bunda kan gak tahu Ar, seharusnya Ar yang bilang ke Bunda."


"Terus kalau Bunda tahu memangnya Bunda mau ngapain?"


"Kalian gak akan Bunda kuliahin dinegara ini"


Mendengar perkataan Zahra yang begitu sungguh-sungguh membuat Regan balas menatap mata Zahra langsung.


"Enggak, meski pun Ayah dulu mafia atau sekarangpun tetap seorang mafia, Ar tetap akan kuliah disini" bantah Regan. "Sejak impian Bunda ingin Ar kuliah diluar negeri, universitas yang sangat Ar impikan adalah universitas tempat As sekarang kuliah."


Mata Zahra berkaca-kaca, "apa Ar tidak kasihan sama Bunda nanti yang selalu ngawatirin keadaan Ar dan As disini?" suara Zahra mulai serak menahan tangis.


"Ar dan As akan baik-baik saja disi Bunda"


Air mata Zahra akhirnya mengalir, Regan yang melihatnya merasa bersalah, ini pertama kali Regan berdebat panjang dengan Zahra hingga Zahra menangis.


Tangan Regan hendak menarik Zahra dalam pelukannya tetapi Zahra menepisnya. Abra juga begitu, Zahra menepis tangan Abra.


"Ar sama Ayah sama saja, semua dianggap enteng, tenang tenang Bunda gak bisa tenang" seru Zahra. "Bunda yang melahirkan dan membesarkan kamu setengah mati, As yang selalu menemani Bunda waktu mengandung kamu saat Bunda sedih. Bahkan saat Bunda diculik yang Bunda pikirkan hanya anak-anak Bunda, bagaimana kalau Bunda mati nasib anak-anak Bunda bagaimana. KENAPA KALIAN TIDAK BISA MENGERTI PERASAAN SEORANG IBU."


Zahra menjerit sebelum tangisnya pecah, Aslan menarik Zahra dalam pelukannya, mengelus-elus punggu Zahra menenangkan.


Regan menatap Zahra yang membiarkan Aslan memeluknya membuat Regan murung. Regan merasa bersalah, tetapi Zahra juga harus memgerti dia bukan.


"As, Ar, Ayah kami semua mengerti dan paham kekhawatiran Bunda" ucap Aslan dengan pelan. "Tapi anak juga butuh pengalaman yang yang menantang untuk bisa menghadapi dunia kita, kita sebagai anak ingin melihat Bunda dan Ayah bangga pada kita karena kita mampu mencapai kesuksesan kita dengan tangan kita sendiri. Meski Ayah seorang mafia mau bagaimana lagi?, Ar tetap akan menjadi anak Ayah. Kita sebagai anak harus menjalani apa yang sudah menjadi takdir atau bahkan karma dari orang tua kita. Kita sebagai anak tidak bisa memilih mau dilahirkan menjadi anak siapa."


Aslan Merenggangkan pelukannya, Zahra mendongak menatap Aslan yang tersenyum segaris. "Bahkan jika seandainya As diberi pilihan As tidak mau menjadi anak yang tidak jelas siapa Ibu dan Ayah kandung As."


Tangis Zahra berhenti, dia menggelengkan kepala dan menangkup pipi Aslan.


Aslan tersenyum, menggengham tangan Zahra yang menyentuh pipinya dnegan erat. "Begitu pun sebaliknya, Ar pasti tidak akan mau dilahirkan sebagai anak seorang pengusaha yang mengharuskan dia mau tidak mau harus menjadi seorang pengusaha, karena Bunda tahu sendiri bukan, cita-cita Ar ingin menjadi dokter sejak kecil." Aslan mengucapkannya dengan senyum diakhir kalimatnya.


"Tapi Bunda khawatir" ucap Zaahra begitu lirih.


"Ini jalan yang memang harus Ar jalani, memangnya apa yang Bunda khawatirkan, dua anak Bunda ini seorang atlit karate nasional dua tahun berturt-turut. Seandainya kita fokus pada karate mungkin kita akan menjadi atlit internasional."


Saat Aslan membanggakan dirinya dan Regan pada Zahra, mata Abra langsung melirik Enzo yang tersenyum lebar kearahnya.


"Mereka akan baik-baik saja disini, ada Javir dan Enzo yang menjaga mereka" ucap Malvin.


Zahra menoleh pada Enzo yang tersenyum menganggukkan kepalanya.


Merasa jika Zahra sudah tenang, Regan melangkahkan kaki mendekati Zahra. "Udahan peluk As" ucapnya lirih, "Bunda gak mau disentuh Ar tapi malah meluk As."


Zahra menatap Regan dalam, tidak menjauhkan dirinya dari Aslan, membiarkan Regan menatanya dengan tatapan memelas.

__ADS_1


"Maaf" cicit Regan, "maaf Ar ngebantah Bunda."


Pada akhirnya Zahra tetap saja tidak bisa marah lama-lama pada Regan, dia merentangkan tangan dan Regan langsung memeluk Zahra erat.


"Maaf, Ar hanya ingin Bunda mengerti Ar."


Zahra tidak bisa mengatakan apapun, dia hanya membalas pelukan Regan yang memeluknya erat.


Abra tersenyum merasa lega semua selesai tanpa ada drama Zahra akan kabur atau memintanya bercerai. Abra berdiri dibelakang Regan emnunggu giliran untuk dipeluk.


Tatapan mata Zahra langsung memicing, melepas pelukannya dari Regan. Abra yang melihatnya hendak melangkahkan kakinya tetapi mengurungkan niatnya saat mendengar ucapan Zahra.


"Ayo pulang"


Zahra merangkul lengan Regan dan Aslan lalu melangkah pergi begitu saja.


Abra tertegun diam ditempanya menatap mereka yang mulai berjalan menjauh disusuk Javir dan Alaric dibelakangnya.


Setelah memastikan Zahra benar-benar pergi, Sam tertawa ngakak menatap Abra. Meski Zahra tidak meminta cerai, sepertinya Abra akan merasakan apa yang dia rasakan.


*-*


Bilqis tiba-tibaa bagun tetapi tidak menangis, dia hanya membuka mata lalu tengkurap meski kesulitan.


Gea yang merasa ada pergerakan mengalihakan perhatiannya dari hpnya, melihat Bilqis bisa tengkurap sontak Gea kegirangan hingga pula jika Chaka masih tidur.


"Bi tengkurap Mbak Fani!" teriak Gea kegiranga.


Chaka terbangun dan menangis.


"Mbak Fan nangis semua!" teriak Gea kebingungan.


Fani dan Vira yang berada didapur langsung menghentikan makan mereka dan berlari menghampiri si kembar.


Gea yang tadinya kebingungan langsung tertawa membuat Fani dan Vira menatap aneh padanya.


"Ah ... meski sedang tegang-tegangnya ternyata masih bisa tertawa bahagia" seru Gea.


Klek ...


Pintu terbuka, ternyata yang datang Zahra dan anak-anak.


Zahra melihat Bilqis dan Chaka yang belum tidur jadi tersenyum menghampiri mereka, Mengujami Bilqis dengan ciuman hingga Bilqis geli dan tertawa. Zahra mengambil Chaka dari gendongan Vira dan menciumnya juga, seharian tidak menggendong mereka Zahra jadi gemas.


"Terima kasih sudah menjaga si kembar" ucap Zahra sambil menatap Gea, Fani dan Vira bergantian. "Malam ini kalian bisa istirahat biar aku yang nemenin mereka, bisa tolong bawa Bilqis kekamar?."


"Biar Ar yang gendong, mbak Fani bisa istirahat" Regan mengambil Bilqis dari gendongan Fani.


Regan mengekori Zahra dari belakang. Saat Zahra meletakkan Chaka di atas kasur Regan juga meletakkan Bilqis disebelahnya.


Melihat Regan memperhatikan si kembar, Zahra memilih untuk berganti baju.


Regan sendiri menyentuh perut mereka dan bermain-main dengan pipinya. Sebentar lagi mereka akan pulang, jadi Regan akan berpisah lagi dengan si kembar.


"Saat Bunda melahirkan mereka susah tidak?" tanya Regan tanpa menoleh pada Zahra yang baru saja duduk disampingnya.


Zahra menggelengkan kepala, "Bunda merasa tenang saat itu, saat hamil mereka Bunda merasa santai dan happy. Berbeda saat Bunda hamil dan melahirkan Ar" Zahra menoleh pada Regan. "Bunda merasa sedih dan sendiri saat itu meski ada As yang selalu datang kerumah mengunjungi Bunda, tetapi saat malam dan Bunda menangis kamu ikut bergerak seakan tahu apa yang Bunda rasakan. Bunda merasa hanya Ar yang mengerti Bunda, tadi saat kita berdebat Bunda sempat merasa kecewa karena Ar tidak lagi mengerti Bunda."


"Gak gitu Bun" suara Regan memelas.


Tangan Zahra menggenggam sebelah tangan Regan dengan kedua tangannya. "Tapi setelah As mencoba membujuk Bunda, perlahan Bunda sadar. Ar tidak bermaksud membantah Bunda bukan?, tetapi Ar ingin Bunda mempercayai segala keputusan besar yang Ar pilih. Ok Bunda ngerti tapi ..." Zahra menghela nafas berat, "apa pun yang terjadi, sesulit dan sebesar apa pun yang Ar hadapi, ceritakan pada Bunda. Bunda akan melesapaskan dan mengorbankan apapun untuk anak Bunda, Ar tahu kan Bunda bagaimana?, kalian lebih berharga dari pada hidup Bunda."


"I know" ucap Regan dengan mata berkaca-kaca.


"Seorang Ayah juga merasakan perasaan itu Ara"


Entah sejak kapan Abra sudah berada didalam kamar, mendekati mereka berdua duduk disamping Regan dan mengacak-acak rambut Regan.


"Tidurlah sudah malam" ucap Abra.


Regan mengagguk memeluk Zahra, "good night."


"Good night" Zahra mencium pipi Regan.

__ADS_1


"Peluk sekali ini saja untuk malam ini" ucap Regan memeluk Abra sebentar lalu pergi begitu saja.


Abra tertawa melihatnya, meski hubungan mereka sudah lebih membaik tetapi anak itu tetap merasa canggung dengannya.


Si kembar tidur ditengah-tengah kasur mereka, Abra menoleh pada Zahra yang sudah bersiap ingin tidur.


"kasurnya kita mepetin tembok ya Ara, biar aku tidur bisa peluk kamu" pinta Abra lirih.


"Tolong mengerti aku sedang kesal dengan kamu" sahut Zahra dengan judes.


Abra berdecak, turun dari dari kasur, mengambil nakas disamping tempat tidur yang dekat dengan tembok. Lalu mendorong kasur dengan sekuat tenaga.


"Abra!" pekik Zahra memeluk si kembar karena kasur tiba-tiba bergerak.


Selesai memepetkan kasur ke dinding, Abra membuka kaosnya, masuk kedalam selimut dan memeluk Zahra dari belakang.


"Marahnya lanjut besok Ara."


*-*


Zahra menatap jam dinding yang sudah menunjukkan jam satu pagi, dia masih belum bisa tidur karena banyak pikiran, kepalanya bahkan terasa pening.


Perlahan Zahra melepaskan diri dari pelukan Abra, menyusun bantal dibawah kaki si kembar sebelum akhirnya dia turun dan perlahan keluar dari kamar. Untuk terakhir kalinya dia ingin memastikan jika semua keputusannya mendukung Aslan dan Regan tinggal dinegara ini benar.


Kaki Zahra terus melangkah menaiki setiap anak tangga, samar-samar terdengar suara Aslan dan Regan membuat Zahra mempercepat langkahnya.


Pintu kamar Regan tidak tertutup sehingga Zahra bisa melihat Regan sedang membaca buku dan Aslan sedang membersihkan lensa-lensa kamera yang dibelikan Abra.


"Bisa jelasin tentang ini gak?" Regan menghampiri Aslan yang duduk dikasur.


"Aku punya rekaman profesor, baca bukunya aku juga kurang paham" Aslan menyodorkan hpnya.


"Lagi apa?" tanya Zahra berjalan masuk menghampiri mereka.


Aslan langsung membereskan lensa kameranya yang berserakan dan meletakkannya di nakas sehingga Zahra bisa duduk diatas kasuk dengan mereka.


"Ar baca buku tentang bisnis jurusan yang diambil As, kalau sendiri As lagi bersihin lensa kamera Bun" jawab Aslan.


Regan menutup bukunya, "Bunda kenapa belum tidur" tanya Regan.


Zahra menggelengkan kepalanya, "gak bisa tidur" jawab Zahra lirih menatap mereka satu persatu. "Setiap malam kerjaan kalian seperti sekarang?."


"Enggak" jawab Regan, "saat aktif kuliah kami sibuk dengan jurusan masing-masing, saat liburan Ar belajar apa yang di pelajari Aslan selama satu semester, kalau As dia sibuk di studio mr Robert."


"Apa tidak capek?"


Aslan tertawa kecil sedangkan Regan menggelengkan kepala.


"Enggak kok Bun, kita malah senang. As meski kuliah bukan jurusan yang As minati tetapi ada waktu dimana As bisa menggeluti hobi dan pession As" Aslan mengucapkannya dengan senyum lebar.


Regan juga begitu, dia tersenyum lebar. "Ar malah sebaliknya, tetapi kita menikmatinya kok selama ini. Disini orang-orangnya pintar-pintar dan Ar menjadi tertantang."


Mengetahui kedau anaknya bahagia Zahra harus pasrah bukan?, semua demi kebahagiaan mereka.


"Apa lagi yang mengganggu Bunda?" tanya Aslan meraih tangan Zahra dan menggenggamnya.


Zahra menunduk menatap tangan Aslan, meraih tangan Regan dan menatap kedua tangan yang dia genggam. "Bunda ingin mengajak kalian pergi."


Didepan kamar Regan dibalik tembok, tangan Abra mengepal mendengarnya. Apa Zahra tidak mengerti apa yang dia ucapkan?, kembali mau pergi?.


"Mendengar masa lalu Ayah, Bunda merasa ketakutan, tapi jika kalian tenang dan bahagia Bunda bisa apa?."


*-*


Jangan lupa



Terima kasih sudah menyempatkan diri baca cerita One More Chance 😙


Terima kasih atas dukungannya 😉


Love you pullll 😙 Unik Muaaa

__ADS_1


__ADS_2