One More Chance

One More Chance
Bersalah


__ADS_3

"Pak, Mr William memajukan pertemuan nanti siang di Singapur. Beliau juga mohon maaf karena mendadak, karena nanti malam mr William harus kembali ke New York".


Sam membaca email yang masuk dari sekretaris klien mereka sambil berjalan mengikuti langkah Abra Keluar dari ruang rapat.


"Kenapa baru bilang?," tegur Abra tegas.


"Maaf Pak, email dari sekretaris Mr William baru masuk sepuluh menit sebelum kita rapat dengan para dewan direktur".


"Semua berkas bagaiman?, sudah siap?."


"Sudah, Sari sudah menyiapkan di mobil".


Wajah Abra mengeras kesal, dia mempunyai janji dengan Gea akan makan malam dan berjalan-jalan untuk merayakan selesainya ujian kelulusannya.


"Memangnya ada penerbangan hari ini?," dia ingin mencari alasan untuk mengggagalkan pertemuan dengan klien, jika alasannya tidak kuat maka perusahaan akan mengalami kerugian meski hanya sedikit.


"Sudah, satu setengah jam lagi akan take off."


Dengan santainya Sam mengatakannya, Abra menghentikan langkahnya menatap Sam berang, membanting pintu mobil yang Sam bukakan untuknya dengan keras.


"Langsung pesan tiket begitu saja?," desis Abra.


Dengan wajah tanpa dosa Sam menjawab, "ya Pak, karena ini klien penting."


"Seharusnya lo bilang atau tanya dulu ke gue, gue ini bos lo, atasan lo!"


"Tapo Mr William klien penting, jadi harus segera."


Wajah Abra semakin menggelap. "I know, tapi lo gak ...."


"Gak ada alasan lagi!." Sam memotong ucapan Abra tegas, jika Abra sudah berani berbicara lo-gue terlebih dulu, maka Sam tidak perlu khawatir dirinya bersikap selayaknya seorang teman seperti biasa. "Tiket pesawat udah, berkas udah, hotel untuk menginab udah, baju kita untuk disana udah ...."


"Woy ... ngapain nyewa hotel sama bawa baju segala?." Kali ini giliran Abra yang memotong.


"Kita ke Singapur, sekalian menyelesaikan urusan dengan klien disana. Besok pulang langsung ke cabang di Kalimantan, dan lusa kita baru pulang."


"Kenapa semua mendadak gini?."


"Karena lo yang minta untuk libur minggu depan selama seminggu, jadi Sari memajukan semua jadwal dan bertepatan Mr William juga memajukan jadwal ...".


"Tapi gue punya janji sama Gea," potong Abra.


"Janji dengan Gea bisa di tunda, janji dengan mr William gak bisa. Lo mau ngorbanin seluruh masa depan karyawan dan perusahaan hanya demi Gea?."


Mereka saling adu tatap tajam. Perusahaan dan kelanjutan hidup para karyawan kedepannya memang lebih penting dari pada Gea, tetapi dia tidak tega melihat wajah sedih Gea yang nanti.


Mereka sudah hampir berminggu-minggu tidak pernah makan bersama. Terlebih, makan malam kali ini dia yang mengusulkannya, jadi dia merasa bersalah pada Gea.


"Apa perlu lo butuh waktu kayak remaja labil untuk ...."

__ADS_1


"Ah ... benar-benar kembali kedunia kerja lagi," gerutu Abra tidak mendengarkan ucapan Sam dan masuk kedalam mobil.


Kesal tidak didengarkan, Sam memukul kaca mobil Abra dan berlari memutari mobil untuk duduk di belakang kemudi, sebelum Abra berteriak marah dan didengan seluruh bawahan.


Cekcok mulut mereka ditonton oleh beberapa orang, meski sudah biasa, tetapi karyawan yang melihatnya tetap saja tak percaya dengan tingkah mereka berdua di luar perusahaan.


*-*


Jika biasanya Gea akan sedih mendengar Abra membatalkan acara mereka, kali ini Gea justru sebaliknya. Dia tersenyum lebar melihat layar hpnya membaca pesan yang dikirim Abra.


"Kenapa senyum-senyum?."


Suara didepannya kembali menarik perhatiannya. Dia sedang video call dengan Mila. Malam ini Mila ada dirumah Regan membantu Zahra setelah pasaran.


Regan hanya sesekali muncul, tapi melihatnya saja membuat Gea kegirangan. Terkadang juga terdengar suara celetukan Zahra yang ikut nimbrung.


"Dapat pesan dari Ayah, gak bisa tepatin janji makan malam bersama karena harus ke Singapur, besok harus ke Kalimantan dan sebagainya." Gea menjelaskannya dengan tersenyum lebar.


"terus kenapa malah senyum-senyum gitu gak sedih?," tanya Mila keheranan.


Gea tertawa kecil. "Udah biasa, tadi juga ketemu Tante Sari waktu ngambil baju Ayah. Katanya jadwal Ayah semua di majukan? karena Ayah minta libur satu minggu untuk ke Madura."


"Mau kesini lagi?."


"Iya." Gea mengatakannya dengan semangat. "Ayah mau ketemu Bunda dan Kak Regan," Gea mengucapkannya dengan penuh kegembiraan.


Sebuah tangan mendorong wajah Mila dari samping, yang ternyata Regan mendorongnya menjauh dan duduk dihadapan hp Mila menggantikan Mila.


"Bilang sama dia gak usah kesini, lama-lama kita gak punya uang. Kalau dia sering kesini hanya untuk makan, mulai hari ini kami menolak kedatangan tamu rak diundang."


Bukan merasa tersinggung atau sakit hati, Gea malah tertawa ngakak. Baru kali ini ada orang yang terang-terangan menolak kehadiran Abra, bahkan dari kata-kata yang di ucapkan Regan seakan menggambarkan Abra tidak lebih dari orang menumpang makan.


"Ok ok nanti aku kasih tahu Ayah," disela sela tawanya Gea berusaha mengatakannya.


Terlihat tangan Zahra yang mengelus puncak kepala Regan.


"Assalamu'alaikum."


Tawa Gea terhenti, keningnya mengerut mendengar Regan mengucapkan salam.


"Wa'alaikumsalam."


Gea langsung kaget hampir terjatuh dari kursi santai di pinggir kolam.


Dibelakangnya sudah ada Kakek Arya dengan kursi rodanya. Gea tidak sadar karena tertawa, sehingga tidak melihat Kakek Arya.


"Hai Kek," sapa Gea.


Kakek Arya hanya tersenyum, Gea bergeser memberikan Kakek Arya ruang untuk berbicara dengan Regan.

__ADS_1


"*Apa kabar sehat*?," tanya Regan dengan senyum lebarnya.


Gea terperangah melihatnya, tidak pernah dia melihat Regan tersenyum lebar begitu tulus. Bahkan saat menoleh melihat Kakek Arya yang terdiam, Gea memaksakan diri tersenyum. Kakek Arya menatap layar leptopnya, menatap Regan yang juga menatapnya.


Perasaan rasa bersalah kembali Gea rasakan. mata Kakek Arya mulai berkaca-kaca, semakin menyulitkan Gea bernafas.


"Baik, kamu disana bagaimana?, kapan mau kesini?." Suara Kakek Arya serak.


"Opa."


Suara Zahra menarik perhatian Gea dari Kakek Arya. Zahra duduk disamping Regan, tersenyum, menatap Kakek Arya dengan mata berkaca-kaja juga.


"Hai Nak, tidak merindukan Opa?."


Bibir Zahra bergetar menahan tangis. "Za rindu kok," ucap Zahra serak. "Opa, kenapa Opa kurusan?, apa Abra tidak mengurus Opa?. Opa sehat?, Opa jangan sakit-sakit ya, makannya teratur kan?."


Kakek Arya terkekeh kecil. "Kenapa tidak kesini, pulanglah dan pastikan sendiri. Apa Abra mengurus Opa atau tidak?, tidak ada yang mengomeli Abra tiap hari setelah Za pergi. Pulang ya ... Opa sudah tua, Opa tidak bisa bepergian jauh untuk bertemu dengan Zah dan Regan. Opa ingin bersama dengan ...."


Ucapan Kakek Arya terhenti, dia mendengar tarikan nafas berat Gea beberapa kali.


Gea diam diam menangis memalongkan mukanya. Dari gerakan bahu dan helaan nafas Gea Kakek Arya tau jika Gea diam-diam sedang meangais.


"Gea," panggil Kakek Arya.


"Ya," jawab Gea sedikit serak. Menghapus air matanya dan berbalik badan menghadap Kakek Arya.


Kakek Arya menjulurkan tangan, dengan ragu Gea meraih tangannya dan duduk dikursi disamping beliau. Gea masih menatap kelain Arah tidak berani menatap Kakek Arya maupun wajah Zahra dan Rehan dilayar leptopnya.


"Kenapa menangis?."


Gea menggelengkan kepala.


"Lihat Kakek."


Kepala Gea menggeleng lagi.


"Gea, Kakek perintahkan lihat kakek!." Perintah Kakek Arya tegas.


Gea perlahan menoleh menatap Kakek Arya, belum juga sedetik air mata Gea menetes, tangis gadis kecil itu pecah.


*-*


.


*Mohon untuk meninggalkan jejak dengan πŸ’–πŸ‘agar Author semangat nulisnya


Jangan lupa πŸ’¬ karena Author masih perlu saran, masukan dan perbaikan untuk menjadi lebih baik lagi


Love you...

__ADS_1


Thanks udah baca*


Unik_Muaaa


__ADS_2