
"Habis gagal tunangan langsung berangkat bro?" ledek Aslan yang duduk diatas kap mobil Alaric menunggu Javir diparkiran bandara.
Javir berdecak melempar tas jing-jingnya pada Aslan "lo jangan banyak bacot, cepet anter gue kerumah gue mau mau ngecek keamanan tempat tinggal kalian biar cepet bisa istirahat."
"Dampak gagal tinangan marah-marah" Aslan masih saja meledeki Javir.
Javir tidak menanggapinya kali ini, dia langsung masuk kedalam mobil Alaric melihat Alaric yang menatapnya dari kaca spion. "Bilang sama temen lo kita kenalan nanti, gue bener-bener gak mood."
Setalah mengatakan itu Javir langsung tutup mata, tidak tidur tetapi dia benar-benar tidak mau diganggu.
Penolakan Gea dua hari yang lalu membuatnya kesal pada gadis remaja itu, keesokan harinya dia kerumah Gea gadis itu sudah berangkat sekolah sejak jam enam pagi. Menunggu dideoan gerbang sekolah, Gea ternyata tidak sekolah.
Gea benar-benar menjauhinya, tidak bisa ditemuinya, Gea selalu menghindar bahkan melaporkan ke Papanya jika dia merasa terganggu oleh Javir, padahal ssbelumnya gadis itu yang selalu mengekori Javir.
"Udah sampai" Aslan membuka pintu bagasi mengeluarkan barang Javir.
Javir sendiri langsung keluar dari dalam mobil mengeluarkan leptopnya dari dalam tas sambil berjalan menuju kursi di depan rumah.
Tangannya dengan lincah mulai memencet keybord leptopnya, hingga tidak sadar jika Regan, Asland dan Alarik mengelilinginya memperhatikan.
"Lima penyadap" Javir mengeluarkan tabletnya dan menyalin peta yang muncul di layar leptopnya pada tabletnya.
Javir mengeluarkan mobil maunan kecil "ikutu dan ambil barang yang dia tunjukkan" perintahnya menatap Aslan sesaat.
Tanpa banyak bicara Javir sendiri berjalan sambil membawa sesuatu ditangannya kesetiap sudut halaman rumah depan sampai belakang meletakkan sesuatu yang dia bawa dari Jakarta.
Setelah dia meletakkan barang yang dia bawa Javir kembali menghidupkan leptopnya menghubungi Abra sambil memperhatikan lima penyadap yang Aslan letakkan di dekatnya.
"Hai Jav sudah sampai?" tanya Abra disebrang.
"Ya, ada lima penyadap, tapi semua sudah bisa diatasi, alat yang diberikan Papa juga sudah terpasang" lapor Javir.
"Ok terima kasih, kamu bisa bekerja diperusahaan teman om mulai tanggal sebelas."
"Baik Om."
Regan dan Aslan saling tatap tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Sedangakan Javir melangkah masuk kedalam rumah tanpa dipersilahkan.
"Kamar gue dimana?" tanya Javir berdiri di tengah-tengah ruang tamu.
"Kak Jav mau tinggal disini?" tanya Regan.
"Jangan panggil Kak, sebut nama saja."
"Oh ... ok" sahut Aslan, "lo mau tinggal disini?, healing ya?."
Javir menatap Aslan datar "untuk ngawasi kalian, dan mastiin kalian aman seperti tadi."
"Sampai kapan?" Regan menghampiri Javir mengambil ranselnya.
__ADS_1
"Semoga aja selamanya."
Tangan Javir menepuk pundak Regan untuk menunjukkan kamarnya dimana, baru mereka melangkah beberapa langkah menuju tangga, Emma turun dari lantai atas menggunakan hot pants dan tanktop.
Regan yang sudah biasa memalingkan muka menatap kearah lain.
Javir berbalik badan menatap Aslan dengan senyum sarkasnya "wah ... baru enam bulan disini sepertinya kalian sudah mulai nakal menyimpan perempuan dirumah."
Secara bersamaan Aslan dan Regan sahut menyahut membantah.
"Jangan sembarangan" tegur Regan datar.
"Itu adik Alaric, Ayah sudah tahu" Aslan mengucapkannya dengan nada tinggi.
"Jangan Natink."
"Regan masih polos kok sampai sekarang."
Regan berdecak menatap Aslan nyalang "kenapa selalu berakhir padaku As" protesnya.
"Excuse me, can you speak English?" Emma menghentikan perdebatan mereka.
Regan dengan masa bodohnya kembali berjalan melewati Emma yang masih berdiri ditangga.
"You are very ... very ... hot" bisik Javir saat berjalan melewati Emma.
Wajah Emma yang maru saja berseri mendengar bisikan Javir langsung berumah menatap Aslan garang "what wrong with you mr gay?."
"WHAT?" jerit Aslan tak terima.
Emma hanya melilitkan lidahnya dan pergi tidak menghiraukan Aslan.
"Karena kamu selalu mengomentari cara berpakaiannya." Alaric merangkul pundak Aslan.
"Adikmu selalu berpakaian kurang kain."
Alaric tertawa kecil "yes, she is."
*-*
Zahra mulai tadi hanya bisa bergerak kekanan dan kekiri disamping Abra, malam ini dia kembali tidak bisa tidur punggungnya sakit, dia juga tidak bisa memeluk Abra karena perutnya semakin membesar.
Kesal, lama kelamaan akhirnya Zahra menangis tak tahan membuat Abra membuka mata perlahan menoleh kearah Zahra yang memunggunginya. Pundak Zahra bergetar karena menahan tangis, hanya suara isakan kecil yang keluar dari mulutnya.
Zahra kembali terlentang karena posisi miring membuatnya tidak nyaman, dia menoleh pada Abra yang ternyata menatapnya membuat Zahra semakin jadi menangis.
Abra dengan sigap menjadikan lengan kirinya bantak Zahra dan menyandarkan kepala Zahra didadanya, memeluk Zahra dari samping, sambil menngelus perut Zahra lembut, sejak Zahra hamil kebiasaan Abra yang selalu mengelus rambut Zahra pindak pada perut Zahra.
"Kenapa sih selalu ngatasin sendiri, nagan sakit sendiri, disisi kamu sekarang ada aku Ara. Aku ngeliat kamu gini gak tega, pasti saat mengandung Ar kamu juga gini ya?."
__ADS_1
Sangat lirih dan serak, Abra menahan diri agar tidak menangis membayangkan apa yang dirasakan Zahra saat mengandung Regan tanpa dia disisinya.
"Aku minta maaf" Abra menghujami pelipis Zahra dengan ciuman.
"Aku bahagia bisa diberi kesempatan mengandung mereka, aku nangis karena gak bisa tidur, aku ngantuk gak bisa peluk kamu juga, aku kesel sendiri." Zahra menenggelamkan wajahnya di bahu Abra.
Abra tersenyum pilu "dulu juga gitu?."
Zahra terdiam sebelum akhirnya menganggukkan kepala pelan. "Kalau punggung aku sakit, kesal karana gak bisa gerak bebas aku kadang marah-marah dan nagis sendiri, kalau ada As dia yang nolongin, menghibur aku dengan celotehannya."
"Maaf ya sayang" Abra mencium kening Zahra.
"Yang membuatku kesel sekarang ..." Zahra menggantungkan kalimatnya menarik kepalanya menjauh sehingga tatapan mata mereka saling bertautan. "Mereka selalu buat aku ingin meluk kamu, dikit-dikit kamu, aku kesel. Perutnya udah gak bisa buat aku meluk kamu, kamunya kalau tidur sekarang gak meluk-meluk aku kayak biasnya "
Setiap kalimat yang keluar dari mulut Zahra, ekpresi yang ditunjukkan juga berganti-ganti membuat Abra gemas mengelus pipi Zahra yang tambah tembem.
"Maaf, aku bingung mau meluknya gimana, aku takut nanti nyakitin mereka" tangan Abra mengeluar perut Zahra entah yang kesekian kalinya.
Zahra menarik tangan Abra melingkarkannya diatas perut buncitnya "peluknya gini."
"Gak enak peluknya kalau gak dari depan" gida Abra berbisik ditelingan Zahra.
Zahra langsung meringsek menjauh mendorong muka Abra menjauh dengan telapak tangannya.
Abra tertawa kecil kembali menarik tubuh Zahra memeluknya dari samping. "Wajahnya memerah ..." ledek Abra mencium pipi Zahra gemas.
Zahra menundukkan kepalanya mengusel-usel keningnya didada Abra. "Nina boboin mau tidur" pintanya mengalihkan pembicaraan.
"Gak dielus-elus aja?" goda Abra.
"Ih ... Ayah ..."
Zahra membentur-benturkan kepalanya pada dada Abra "aku gigit nih" ancam Zahra.
"Aku rela kok sayang."
"ABRA!" teriak Zahra mulai kesal dengan pipih merahnya, matanya mulai berkaca-kaca "aku ngantuk loh."
Abra tertawa gemas semakin erat memeluk Zahra dari samping.
*-*
.
.
.
Unik Muaaa
__ADS_1