
Meski berada si kota yang sama, nyatanya Daddynya tidak pernah bertemu dengannya. Daddynya pulang saay dia sudah tidur dan kembali berangkat sat dia masih tidur. Satpam di depan rumahnya sudah dia introgasi, dia bahkan mencatat jam datang dan pergi Daddynya.
Tadi malam dia menunggu kedatangan Daddynya hingga tertidur di sofa ruang tamu, pagi hari pembantu yang memang harus bangun pagi membangunkanya.
Gea, dia berlari menuju kamar Daddynya namun pria itu tidak ada. Kembali Gea berlari kepos satpan dan tubuhnya lemas seketika kala mendengar Daddynya belum pulang.
Dan pada akhirnya Gea duduk di lobby menunggu kedatangan pria itu, dia bolos sekolah hari ini.
"jangan mengantarnya kerumah direktur, dia tidak tidur semalaman bisa-bisa dia meledak-ledak... ya Tuhan ya sudah saya langsung kesana....".
Sam berbicara sambil berjalan, Direktur paham siapa yang di maksud Sam, Gea berlari kecil mengikutinya.
Sam memasuki mobilnya tanpa Sadar Gea masuk terlebih dahulu di jok belakang, menunduk agar tidak ketahuan.
"ah... apa dia mau buat Opa shock masuk rumah sakit lagi" gerutu Sam sendiri.
Gea tetap diam bersembunyi.
"Halo sayang... bisa kamu handle urusan kantor... iya dia sedang gila sepertinya..." Sam sepertinya berbicara dengan seseorang di telfon. "di madura... setahuku Abra naik pesawat terbang kesana... sekolah anak itu juga dekat dengan bandara satu... aku juga merindukannya... Regan, namanya Regan...".
Regan...
"ya sudah, sudah sampai sambung nanti".
Mobil berhenti, Gea mengintip sepertinya mereka sedang di rumah Direktur yang Sam maksud, Kakek buyut Arya.
Gea ikut turun dari mobil setelah Sam turun. bisa dihitung dengan jari dia menginjakkan kaki di romah mewah milik Kakek Arya, karena dia tidak suka jika bertemu beliau. Tatapan yang selalu dia berikan padanya selalu datar dan terkesan dingin.
"aku bisa saja menyembunyikan mereka lagi jika kamu pergi sekarang meninggalkan tanggung jawabmu sebagai pemimpin perusahaan".
itu suara Kakek Arya. Gea berjalan menghampiri asal suara itu yang ternyata dari ruang makan.
Kakek Arya duduk di kursi rodanya, dibelakangnya Ibnu berdiri tegap, tidak jauh darinya Abra berdiri gusar dehan Sam yang menepuk bahunya.
"apa Daddy sedang marah pada Kakek?" guma Gea bersembunyi di balik guci besar.
"mereka istri dan anakku Opa, lebih penting bertemu dengan mereka dari pada perusahaanmu" raung Abra tak terkendali.
kening Gea mengerut menerka-nerka siapa yang di sebut istri dan anak oleh Abra, apakan dirinya dan Maminya?. Gea tersenyum mbenarkan tabakannya.
"wah... apa kedudukan mereka diatas segalanya?" terdengar suara Kakek Arya yang serank namun dengan nada seakan mengejeknya. "kenapa baru sekarang".
"dari dulu Zahra segalanya untukku" desis Abra dengan nada menekan setiap kata yang terlontar.
Zahra???
"tidak, sepertinya sekarangpun kamu lebih mementingkan wanita itu dan anaknya".
mereka sedang membicarakan siapa?. Gea mulai pusing menerka-nerka siapa yang sedang mereka bicarakan.
"kamu tidak akan menampung anaknya dirumahmu hingga saat ini, otak dan hatimu masih belum bisa terbuka sepenuhnya. cobala mengerti, jika kamu ada di posisi Zahra, diminta untuk kembali bersama ternyata dirumah yang pernah kalian tinggali dulu ada madu dan anaknya".
"aku tidak bisa meninggalkan Gea".
"kamu sudah meninggalkannya perlahan, apa kamu tidak sadar?, maka lebih baik tinggalkan dia sepenuhnya, kembalikan dia keibunya".
Tubuh Gea lemas seketika, dia terduduk dilantai dan menyandar pada dinding.
"aku sengaja membuatmu bertemu Zahra dan Regan karena aku tidak mau cicitku, darah Ganendra berpendidikan menengah namun yang bukan darah keturunanku berpendidikan tinggi".
__ADS_1
"Opa".
"kembali kekantor, selesaikan tugasmu. jangan sesekali mencoba membawa Zahra dan Regan menginjak rumah yang sama dengan madu dan anak tidak jelasnya. Ibnu saya mau istirahat".
Gea terdiam membisu, tubuhnya lemas tidak bisa dia gerakkan sedikitpun. dia merangkai segalanya dalam otak lecilnya, matanya memerah berkaca-kaca.
*-*
Beberapa jam sebelumnya.
Semalaman Abra tidak bisa tidur setelah membaca informasi dari Malvin. Diam seakan membeku di balkon kamarnya di rumah markas AS. Semua informasi yang Malvin berikan begitu detail, sangat detail sejak Zahra meninggalkannya hingga saat ini. Bahkan informasi tentang Regan juga tercantum di dalamnya.
Abra menangis pertama kali menemukan kenyataan itu, dia ingin marah, kecewa dan memukul dirinya.
tanpa terasa mata hari sudah mulai meninggi, Abra tetap duduk di balkon menatap langit dengan tatapan kosong.
Kesadarannya datang kala mendemgar suara teriakan yang bersahutan dari para anak buahnya yang sedang berlatih di belakang rumah markas AS.
Dia melirik jam tangannya sudah menunjukkan jam delapan, perlahan dia berdiri meski sedikit limbung berjalan keluar kamar. Tofa dan Nanda yang memang ditugaskan berdiri menjaganya diluar pintu berdiri tegap.
"keluarkan mobil sekarang" perintahnya.
Nanda langsung berlari lebih dulu.
Tofa berjalan di samping Abra, dia memperhatokan kemeja Abra yang lusuh, masih kemeja yang dia kenakan memarin, rambut yang acak-acakan dan tatapan mata yang kosong menatap kedepan tak bernyawa.
sesampai didepan rumah, Nanda menyerahkan kunci mobil Abra. "mau saya antar Bang?" tawarnya.
"tidak usah, katakan pada Sam untuk mengurus kantor saya mau kedirektur".
Tofa terkesiap seketika, dia ingin menghentikan niat Abra namun pria itu sudah masuk mobil dan menancap gas langsung.
Abra sampai di rumah Kakek Arya saat beliau selesai sarapan bersama Ibnu. Abra berdiri tidak jauh darinya menatap setiap gerakan Kakek Arya.
"cukup lama dari yang di perkirakan" kata Kakek Arya serak.
Tatapan mereka saling bertautan. Kakek Arya menyandarkan punggungnya di kursi roda. "apa kurang jelas yang di berikan Malvin?".
Abra tetap diam.
"butuh apalagi?".
"...".
"jika tidak kembali ke kantormu".
"kenapa Opa tega?" tanya Abra serak.
Kakek Arya tersenyum masam. "karena kamu juga tega pada Zahra, kenapa Opa tidak?".
"aku cucu Opa".
"mereka cucu memantu dan Cicitku, lebih berharga dari pada kamu yang gila perempuan lain".
Abra tidak dapat berkutik.
Pada saat itu Sam datang dan berdiri disebelahnya tanpa banyak bicara.
"kembali keperusahaan". perintahnya tegas meski dengan suara yang serak.
__ADS_1
"apa opa kira kondisiku sekarang bisa mengurus perusahaan?".
Kakek Arya tersenyum sinis padanya. "lalu apa yang akan kamu lakuan?" tanyanya dengan nada menantang. "aku bisa saja menyembunyikan mereka lagi jika kamu pergi sekarang meninggalkan tanggung jawabmu sebagai pemimpin perusahaan".
Tangan Abra mengepal menahan amarah, Sam menepuk pundaknya sambil berbisik untuk bersikap tenang.
"mereka istri dan anakku Opa, lebih penting bertemu dengan mereka dari pada perusahaanmu" raung Abra tak terkendali.
Dia mengabaikan bisikan Sam, dia benar-benar tidak bisa terkendali kali ini, semalaman dia memendam segala perasaan yang berkecamun menyesakkan dadanya sendirian tanpa bisa diluapkan.
"wah... apa kedudukan mereka diatas segalanya?" suara Kakek Arya yang serank namun dengan nada seakan mengejeknya membuat Abra semakin mengepalkan tangan. "kenapa baru sekarang".
"dari dulu Zahra segalanya untukku". desis Abra dengan nada menekan setiap kata yang terlontar.
Kepala kakek Arya menggeleng, dia menautkan jemarinya menatap Abra tajam namun hangat, tatapan yang sudah lama tidak beliau berikan padanya, hingha Abra lupa kapan terakhir Opanya memperhatikan dirinya sebagai Cucu satu-sarunya.
"tidak, sepertinya sekarangpun kamu lebih mementingkan wanita itu dan anaknya".
Genggaman tangan Abra melonggar perlahan.
"kamu tidak akan menampung anaknya dirumahmu hingga saat ini, otak dan hatimu masih belum bisa terbuka sepenuhnya". lirih namun menusuk hati Abra, seperti biasanya jika Kakek Arya menasehatinya dulu. "cobala mengerti, jika kamu ada diposisi Zahra, diminta untuk kembali bersama ternyata dirumah yang pernah kalian tinggali dulu ada madu dan anaknya".
"aku tidak bisa meninggalkan Gea".
"kamu sudah meninggalkannya perlahan" Abra terdiam. "apa kamu tidak sadar?, maka lebih baik tinggalkan dia sepenuhnya, kembalikan dia keibunya".
Perlahan Abra tersadar, dia sudah meninggalkan Gea tanpa kabar sejak menhinjakkan kadi di Madura. Bahkan mereka tidak sempat bertemu meski Abra sudah kembali dan tinghal di rumah yang sama.
"aku sengaja membuatmu bertemu Zahra dan Regan karena aku tidak mau cicitku, darah Ganendra berpendidikan menengah namun yang bukan darah keturunanku berpendidikan tinggi".
"Opa". Tegurnya tidak terima.
Kakek Arya mengangkat tangan tidak mengizinkannya berbicara. "kembali kekantor, selesaikan tugasmu. Jangan sesekali mencoba membawa Zahra dan Regan menginjak rumah yang sama dengan madu dan anak tidak jelasnya. Ibnu saya mau istirahat".
Abra tetap diam di temptnya.
"pikirkan baik-baik, meski Opa mau meninggal tetapi Opa masih mampu menyembunyikan anak dan istrimu".
Abra terbelalak, dadanya sesak hingga bernafas tidak beraturan.
Sam mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih dia menyedorkannya pada Abra namun tangan Abra tidak bisa terangkat. Tubuh Abra merosot lemas, terduduk dilantai begitu saja.
Sam mendekatkan gelas dibibir Abra. "minum tenangkan diri dulu".
Tidak bisa, bibir Abra bergetar, mulutnya terbuka namun dadanya sesak, nafasnya memburu seketika.
Semua yang terpendam seakan menjadi bom yang akan meledak, selama ini Abra berhasil memendam segalanya namun saat ini semua seakan menghimpit dadanya.
"TANTE TARI...". Teriak Sam menggema.
Sampanik bukan main melihat kondisi Abra.
yang datang pertama kali bukan Tari, istri sekaligus Dokter pribadi Kakek Arya, namun Gea yang menangis melihat Abra tergeletak mengap-mengap susah bernafas.
Tangan Abra membalas genggaman tangan Gea sebelum kesadarannya hilang.
*-*
Unique_Muaaa
__ADS_1