
"Boleh ikut?"?.
Gea berdiri tepat di depan motor Malvin menghhalangi jalannya.
Sore ini Malvi akan kembali kesekolah untuk melatih tim karate sekolah. Dia akan ikut Malvin karena Regan pasti juga akan ikut melatih adik kelasnya.
"nanti pulang malam" Malvin menolak.
Wajah Gea cemberut. "please...".
"enggak, kamu tidak boleh ikut. kamu harus siap-siap besok balik ke Jakarta".
Kepala Gea menggeleng seketika.
"kamu sudah tiga hari disini, sekolah kamu disana bagaimana?".
Panjaran mata Gea berubah sedih. "Gea gak mau pulang Om".
"kenapa?".
Kepala Gea kembali menggeleng.
"ya udah gak usah ikut".
"om..." Gea merengek sambil menghentakkan kaki menggoyang-goyangkan stang motor Malvin.
Malvin meletakkan helmnya di stang motor menatap Gea tajam dia harus berbicara dengan lembut pada anak keras kepala dan manja seperti Gea. "terus tujuan kamu mau ikut apa?, kamu mau ikut latihan karate?".
Gea menunduk. "enggak, mau ketemu kak Regan. kak Regan disana?" tanyanya lirih.
"biasanya" jawab Malvin sekenanya.
"Gea ikut ya?, please om" mata gadis kecil itu berkaca-kaca menatapnya.
Malvin tidak akan tega melihatnya, dia juga mempunyai putri, perasaan seorang Ayah akan lemah jika dihadapi air, Malvin menghela nafas. "ambil blezer dulu, celanamu terlalu...".
"ini" Resa, putri Malvin sudah menghampiri Gea dengan blazer panjang di tangannya. "aku kan sudah bilang kak, Papa gak mungkin mau bonceng kakak naik motor sportnya kalau pakai celana pendek kayak gitu" omel Resa pada Gea yang hanya menyengir menatapnya.
Dan Malvin tersadar seketika, jika semua yang mengajari Gea untuk sedih, merengek dan akan menangis jika tidak berhasil membujuknya ikut, adalah anak Malvin sendiri, Resa.
"Terima kasih"
Resa mengedipkan matanya berulang-ulang tersenyum lebar membalas pelototan mata Malvin padanya.
*-*
Dua bingkai foto kembali diletakkan diatas meja kerja Kakek Arya, dua orang yang berbeda tetapi begitu mirip namun lain orang.
Foro Abra berbaju karate mengangkat piala yang dia dapatkan saat berusia lima belas tahun, dan foto Regan yang hanya menunjukkan senyum segaris andalannya saat ikut melatih karate adik kelasnya beberapa minggu lalu, Malvin yang megirimkannya.
Mereka berdua, anak dan Ayah sama-sama memiliki kecintaan pada karate, kecintaan pada teman-temannya, keras kepala yang membedakan Regan tidak manja seperti Abra.
"Sam dan Gea sudah balik?" tanya Kakek Arya Pada Ibnu.
__ADS_1
"Belum Pak".
"Sudah berapa hari di Madura?".
""Tiga hari" Ibnu menjawabnya sembari membawa obat untuk Kakek Arya.
"Anak itu pasti mencoba memperbaiki semuanya padahal dia tidak tahu apapun, katakan pada Malvin untuk kirimkan dia semua informasi jika dia mau kembali ke Jakarta, saya tidak mau masalah ini mengganggu sekolahnya. Dia tidak seperti cucuku, Regan tidak mau ikut campur bahkan terkesan tidak menghiraukan Abra".
"Kemarin mereka makan bersama".
Senyum Kakek Arya terukir. "oh ya?".
"ya, mungkin karena Regan kasihan melihat Abra kelaparan seharian menunggu Zahra".
Sontak Kakek Abra tertawa terbahak-bahak hingga terbatuk.
Ibnu menjulurkan air yang dia pengang, Kalek Arya meminumnya tetapi memberi isyarat menolak obat pemberian yang Ibnu menjulurkan.
"Saya merindukan Regan, ayo ke Madura?. Sepertinya Abra tidak akan berhasil membawa cucu menantu dan cicitku".
"bagaimana anda mau bisa ke Madura kalau minum obat saja tidak teratur" kata Ibnu sepontan, karena kesal kakek Arya selalu tidak teratur meminum obatnya.
Kakek Arya menatap Ibnu tajam. "apa profesi istrimu sudah kamu ambil alih?, cerewet".
"lebih baik saya cerewet dari pada melihat anda sakit" bela Ibnu.
Mata Kakek Arya menatapnya tajam, bukan merasa takut atau teruntimidasi, Ibnu tersenyum dan menjulurkan obat yang masih dia pegang.
*-*
Hari ini hari Sabtu, sejak tadi pagi ada pasaran. Pasar di dekat rumah Zahra biasanya hanya menjual ikan dan sayuran, tetapi jika hari Sabtu pasar menjadi ramai, karena banyak penjual yang datang dari berbagai daerah hingga kota lain berjualan baju, kain dan segala hal.
Lapangan Adirasa di depan rumah Zahra akan dikelilingi oleh banyak penjual, mobil tidak bisa masuk, harus di parkir sedikit jauh.
Zahra juga menjajahkan jualannya di depan rumah, sedangkan toko yang jaga mbak Ika sekaligus melayani pembeli yang menikmati roti sembari duduk dikursi yang disediakan.
Abra sendiri sejak tadi pagi membantunya banyak hal. Zahra menatap Abra cemas khawatir Abra kelelahan, hingga tidak sadar terkadang Zahra menyeka keringat Abra.
Tatapan mereka bertemu sejenak, Zahra membuang muka menyembunyikan kecanggungan yang dia rasakan. Menyesal karena tidak bisa mengontrol tangannya.
"tadi ramai, sekarang langsung sepi seperti biasa" Abra mencoba mencairkan suasana.
"Pasar sattuan hanya ramai sampai jam dua belas" Zahra menyibukkan diri membersihkan meja.
"kenapa tidak sampai sore?".
"mereka dari kota lain, besok mereka juga kan jualan dilain pasar lagi".
Abra manggut-manggut. "pantas kamu mempunyai rumah didaerah sini, tempatnya strategis untuk jualan. Kamu tetap aja pintar berbisnis".
Zahra berbalik menatap Abra. "rumah ini bukan rumahku".
Kening Abra mengerut "lalu?".
__ADS_1
"ini punya perusahaan didepan itu, aku dan Regan hanya mengontrak disini".
Abra terdiam menatap Zahra sendu, mengontrak?, rumah yang kecil ini hanya kontrak Zahra dan Regan. Istri dan anaknya bukan hanya tinggal di rumah sederhana dan kecil ini, tetapi mereka hanya mengontrak saja. "kenapa tidak beli rumah saja?, kenapa malah mengontrak dirumah seperti in?. hampir setiap hari kamu dapat pesanan kue berbox-box, hampir setiap hari roti kamu laku. Apa masih tidak bisa membeli rumah?".
Zahra tersenyum simpul "dari pada beli rumah lebih baik disimpan demi masa depan Regan. Aku tidak mau memiliki segala hal duniawi, tetapi masa depan anakku tidak jelas nanti".
Perkataan Zahra seakan menghantamnya. "berapa tahun disini?".
Zahra kembali membersihkan meja. "tujuh tahun, sesampai di Madura kami tinggal di rumah sewaan juga selama setahun lalu pindah disini".
"dimana?".
Zahra kembali berbalik tersenyum pada Abra. "kenapa?" tanyanya disela tawa kecilnya yang tidak bisa dia tahan. "separuh rumahnya sudah roboh sekarang".
"berarti rumah itu rumah tua?, bagaimana kalau roboh saat kalian masih tinggal disitu". Tanya Abra matanya terbelalak menatap Zahra.
Zahra tertawa kecil "buktinya tidak".
Wajah Abra menengadah menghela nafas tidak bisa membayangkan rumah setua apa yang ditinggali mereka dulu.
Zahra meninggalkannya masuk kedalam rumah.
Abra mengikuti Zahra dari belakang, sebelum masuk lebih dalam lagi, Zahra menghentikan langkahnya berbalik menatap Abra.
"jangan ikut ke...".
"Ayo kembali" potong Abra. " kita mulai dari awal". Abra mengatakannya sebari menatap dalam Zahra.
Zahra tersenyum manis sembari menggelengkan kepalanya. "kamu sudah mempunyai keluarga" tolak Zahra.
"aku dan Vira sudah berpisah".
Zahra terdiam sejenak. "kenapa?".
"karena dia yang menginginkannya".
Zahra tersenyum sarkas saketika. "ternyata kamu memang tidak bisa berkutik jika menyangkut cinta pertamamu" ejek Zahra. "apa kamu Bodoh?".
Tatapan mata Zahra berubah memancarkan kemarahan. Tatapan yang pertama kali Abra lihat.
"kamu bertahun-tahun ingin memilikinya, setelah kamu berhasil menikahinya sampai memiliki anak dengannya kamu melepasnya begitu saja karena dia yang minta?. Seharusnya kamu mempertahankannya, terutama kalian sudah meiliki anak. Setidaknya anak kalian seharusnya bisa menjadi alasan untuk mempertahankan pernikahan kalian, mempertahankan Vira".
Abra kali ini paham satu hal kesalahan fatal yang membuat Zahra pergi. "Gea bukan anak kandungku Ara" ucapnya sembari menatap Zahra. "Gea bukan anak kandungku, Ara".
*-*
.
.
.
Unique_Muaaa
__ADS_1