
Setelah meluapkan semua yang Zahra ingin katakan, Zahra pamit pulang terlebih dahulu tampa memperdulikan Vira yang masih duduk diruangan Abra, bahkan dia melarang Abra mengantarkannya keluar.
Sedangkan Abra setelah Zahra pergi dia meminta Sari dan Sam menemaninya menyelesaikan berkas-berkas yang masih menumpuk, dia tidak memberikan Vira lesempatak untuk berbicara berdua dengannya, hingga akhirnya Vira pergi tanpa pamit.
Apa yang dikatakan Zahra membuat Abra merasa bersalah, dan kecewa pada dirinya dan Zahra juga. Zahra tidak pernah mengatakan jika dia ketakutan, akhir-akhir ini Zahra sudah mulai biasa mengeluh dan meminta bantuannya, tetapi dia tidak pernah mengatakan ketakutannya.
"Lo lagi gak fokus ya?" tanya Sam yang sejak masuk tadi memperhatikan Abra.
Abra menutup berkas didepannya, menyandarkan punggungnya menatap Sari dengan wajah yang menyiratkan kelelahannya.
"Apa wanita sangat sulit mengatakan apa yang dia rasakan?" tanya Abra datar.
Sari tersenyum, berfikir sebentar lalu mengangguk membenarkan. "Terkadang ya, terkadang tidak."
"Kenapa?"
Sari melirik pasa Sam sejenak, Sam pernah mengalami seperti yang dirasakan Abra, membuat mereka kembali mengingat kerekatan itu.
"Tergantung, bisa saja dia menunggu momen yang tepat untuk mengatakannya, atau dia memang tidak mau mengatakannya padamu karena takut membebanimu."
"Tapi kita sudah menjadi suami istri, seharusan harus membagi semuanya bahkan apapun." Abra mengatakannya dengan suara lurih putus asa menatap kalangit-langit ruangannya.
Benar tebakan Sari bukan, ini menyangkut hubungan antara pasangan, dan Sam juga pernah ada diposisi Abra.
Melihat Sari yang memilih diam Sam mulai angkat bicara mencoba menenangkan Abra.
"Gu sependapat dengan lo," ucap Sam, membuat Abra menatapnya. "Tetapi mereka juga perlu privasi begitupun dengan kita bukan?, tetapi sekuat apapun wanita dia akan mengatakan apa yang membuatnya tidak nyaman, tetapi itu suatu saat Bra. Lo tidak bisa memaksa dan sebaliknya tidak akan mudah baginya meluapkan semua. Jika kita tipe orang pemikir, mereka lebih pemikir dari kita, semua mereka pikirkan bahkan apa yang akan dilakukan besok, minggu depan, bulan depan bahkan masa depan mereka sudah pikirkan."
"Tapi gue merasa tidak berguna, tidak butuhkan, gue ..." suara Abra mengambang bingung mau mengatakan apa.
Sari tersenyum maklum, "Keberadaanmu sangat berguna, kamu sangat dibutuhkan dalam hidupnya. Aku mungkin bukan Zahra, tetapi aku juga perempuan. Seberapa kuat kami, kami juga butuh seseorang yang selalu ada disisi kami."
"Tidak usah dilanjutkan, lebih baik lo pulang kita lanjutin besok." Sam mengambil berkas didepan Abra menarik Sari keluar dari ruangan Abra.
Baru saja Sari keluar ruangannya, beberapa menit kemudian dia kembali masuk membawa sesuatu ditangannya.
"Tadi Nanda titip tiga kue, untuk aku dan San, untuk Malvin dan itu untukmu. Salam untuk Zahra terima kasih, semoga persalinan nanti lancar."
*-*
Aslan dan Alaric bermain ps, sedangkan Javir dan Regan tiduran disofa bed dibelakang mereka berdua. Regan membaca buku ditangannya, sedangkan Javir sejak tadi menatap layar hpnya.
"Bentar lagi hpmu pasti bolong" ucap Regan tanpa melihat Javir.
Merasa jika Regan berbicara padanya Javi hanya menghela nafas kembali menghidup matikan layat hpnya.
"Apa pekerjaan lo diperusahaan natap hp juga?" tanya Aslan.
Javir menelungkupkan tubuhnya dan kembali menatap layar hpnya, "gak terasa gue udah sebulan disini."
"Terus?" tanya Aslan dengan tangan dan tatapan masih fokus pada permainan PS mereka.
"Dia beneran gak mau ngubungi gue atau gimana?, gak kangen gitu sama gue?."
Regan yang mendengarnya menoleh pada Javir, menatapnya dengan tatapan datar, tangannya meraih hp Aslan dan meletakkannya ditengah-tengah halaman buku.
"Kalau tiga hari sampai seminggu dia gak ngubungi gue maklum, tapi ini sudah berminggu-minggu bahkan gue udah sebulan lebih disini." Javir terlentang menatap Regan, "gue tersadar dia udah lama gak ngubungi gue setelah dapat gaji tadi sore."
Regan tetep diam, Aslan dan Alaric mulai berseru hebih dengan permainan mereka sendiri.
"Ah ... kalah, kamu sih bang melo mulu" gerutu Aslan.
Stik PSnya Aslan berikan pada Alaric, tidak semangat lagi bermain.
"Dia bicara siapa?" tanya Alaric yang mulai paham bahasa mereka.
"Pasti si Gea" tebak Aslan.
"Ya iyalah siapa lagi" sahut Regan.
Javir duduk bersila menatap Aslan dan Regan bergantian. "Dia kenap sih?, terakhir dia natap gue kayaknya dia kecewa gitu."
"Emangnya udah ngecewain Gea Bang?."
Javir menjawabnya dengan mengangkat bahu.
"Coba ingat-ingat lagi" Regan melirik halaman bukunya.
__ADS_1
"Kalian kan saudaranya, dia pernah cerita gak kekalian?."
"Ke Bunda dan Ayah enggak apalagi kekita yang jauh" Aslan mencari-cari sesuatu.
"Gue emangnya pernah ngapain dia sampek dia kecewa?, gue me ..."
Tangan Regan menepuk pundak Javie membuat menghentikan Javir. "Kembali kepertanyaan awalmu bang, bagaimana kalau aku balik pertanyaannya." Javir menatap Regan dengan serius, "kamu beneran gak mau ngubungi dia?, gak kangen gitu sama dia?."
Pertanyaan Regan membuat Javir terdiam sejenak lalu tertawa kecil.
"Ngapain gue ngubungi dia?, gue masih tersinggung dia nolak mau tunangan padahal sebelumnya baik-baik saja." Javir mengucapkannya dengan satu kali tarikan nafas.
"Tersinggung apa kecewa bang?" tanya Alarik duduk disamping Regan.
Mata Javir melirik Alaric tidak suka.
"Kalau kangen?" kali ini Regan yang bertanya dengan nada dan tatapan serius.
"Kangan dari mananya?" Javir terkekeh kecil berdiri dari duduknya. "Gak nyangka aja hp gue tenang sebulan lebih ini gak ada yang ganggu ..."
"Intinya kangen atau enggak?" tanya Regan dengan nada tegas.
"Ya enggaklah" jawab Javir penuh keyakinan.
Javir mulai berjalan hendak pergi, tangan Regan mengeluarkan hp Aslan dari dalam bukunya dan menloud speakernya.
"Udah dengarkan?" tanya Regan.
Tatapan Regan tertuju pada Javir bukan hp Aslan yang ditangannya, Alaric melirik Aslan saat membaca panggilan yang tersambung dari hpnya.
Javir sendiri menghentikan langkahnya tidak mengerti dengan apa yang ditanyakan Regan, berbalik badan hendak bertanya tetapi sebelum suaranya keluar ...
"Udah"
Mata Javir terbelalak seketika.
"Lain kali jangan gitu, ganggu aku tidur buat sesuatu yang gak penting."
"Ge ..."
Hp Aslan Regan melempar pada pemiliknya lalu menatap Javir dengan senyum leganya, tetapi Javir menatapnya dengan mata memerah pehih amarah.
Senyum dibibir Regan semakin lebar, "apa? ada yang salah?."
"Apa yang udah lo lakuin?" desis Javir melangkahkan kakinya hendak mendekati Regan.
Buru-buru Aslan menghalangi Javir, "tenang Bang."
"Marah?, kenapa?, padahal semuanya jadi jelaskan?."
"APANYA YANG JELAS B*****T?" teriak Javir.
Aslan memeluk tubuh Javir menghalangi Javir yang hendak menghampiri Regan, "sabar bang dia gak gak ngerti cinta-cintaan, dia ngertinya yang oenting selesin urusan."
Senyum Regan perlahan hilang, tangannya menggenggam erat buku yang dia baca tadi, tanpa takut dia menghampiri Javir, menepis tangan Alaric yang memegangi sebelah lengannya.
"Buat apa marah bang?" dengan santainya dia bertanya lalu berjalan melewati Javir yang terdiam.
*-*
Jam sudah menunjukkan jam sembilan, Abra baru saja datang, tidak seperti baisanya diruang tamu Zahra tidak menunggunya seperti biasa.
Perlahan Abra membuka pintu kamar, melihat Zahra yang ternyata sudah tidur, Abra terdiam lama memperhatikan Zahra dari ambang pintu, wanitanya sesekali bergerak tidak nyaman mengubah posisi tidurnya atau bantal yang menyanggah perutnya.
Merasa masih kurang nyaman dengan posisi tidurnya Zahra membuka mata dan menemukan Abra sedang menatapnya dengan tatapan datar. Kening Zahra mengerut dan memejamkan mata menstabilkan penglihatannya, didekat pintu memang Abra yang sedang berdiri menatapnya kali ini dengan senyum.
"Hai" sapa Zahra mencoba bangun, "maaf tidak menunggu diluar karena aku merasa lelah, punggung sakit" keluh Zahra.
Abra tersenyum kecil "ya, aku mandi dulu."
Zahra mengerutkan kening mendengarnya, meskipun tersenyum sikap abra cenderung dingin.
Abra meletakkan tak kerjanya dan kotak kue yang tadi diberikan Sari di meja, membuka dasinya dan dan jasnya sambil berjalan menuju keranjang cucian.
Sebelum meleyakkan jas dan dasinya, mata Abra melihat sesuatu, baju yang tadi pagi Zahra pakai sebelum dia berangkat kekantor. Abra mengambilnya dan menatap baju ditangannya, terdapat adonan kue yang mengering membuat tangan Abra mengepal.
"Aku ingat tidak memesan kue selain untuk karyawan dikantor" ucap Abra pelan.
__ADS_1
Zahra yang masih tidur terlentang menoleh pada Abra, dia melihat Abra memegang baju yang dia pakai tadi.
"Apa kue yang kamu berikan pada Malvi dan Sari buatanmu sendiri?" ucap Abra mulai penuh tekanan menahan emosi.
Zahra hanya dia berusaha unguk duduk meski sedikit kesulitan pada akhirnya dia bisa duduk dengan bantuan headbord kasur.
Abra berbalik badan menatap Zahra yang masih membenarkan posisi duduknya agar nyaman. Tidak ada niatan membantu meski terbesit rasa kasihan melihat Zahra kesakitan, tetapi perasaan kecewa sudah menguasainya.
"Aku sudah melarangmu untuk membuat kue, dokter juga sudah mewanti-wanti kamu untuk istirahat total" Abra melempar baju Zahra jekeranjang cucian hingga keranjang itu jatuh.
Abra semakin kesal, keranjang itu bergerak ke kakinya membuat Abra melampiaskannya dengan menendang keranjang itu.
"Abra jangan kebiasaan melampiaskan amarahmu sama benda mati" omel Zahra.
Semakin membuat amarah Abra tersulut, "lalu aku harus melampiaskan kekecewaanku padamu pada siapa?."
Tangan Abra berkacak pinggang menatap Zahra tajam, Zahra sendiri hanya diam tahu jika dia bersalah.
Minggu Abra mendukungnya untuk membagikan kue pada para karyawan sebagai ungkapan rasa sukur mereka karena kehamilan Zahra sudah memaski usia tujuh bulan, tetapi Abra melarang keras saat Zahra mengatakan akan membuat kue sendiri.
"Aku sejak tadi kecewa, kamu takut hamil tetapi aku menginginkan kamu hamil, seandainya aku tahu aku tidak akan menghamilimu."
Zahra mengangkat wajahnya menatap Abra sendu, "awalnya aku merasa aku tidak takut hamil lagi, tetapi saat mengetahuinya aku ketakutan, aku berencana mengatakannya padamu tetapi kamu lebih dulu tahu aku hamil dan sangat bahagia, aku tidak mau menghancurkan kebahagianmu."
"Selalu" desis Abra, "Kamu selalu memikirkan orang lain terlebih dahulu Ara."
"Lagi pula aku sudah terlanjur hamil, meskipun kamu tahu kalau aku ketakutan apa yang akan kamu lakukan?."
"Setidaknya aku bisa lebih sering disampingmu, bisa melakukan segala hal lebih baik lagi."
Mata mereka saling tatap dalam diam, hingga Abra yang pertama kali membuang muka menghela nafas menenangkan dirinya.
Abra berjalan mengambil hp diatas meja dekat dia meletakkan tas kantornya dna tidak sengaja melihat kue buatan Zahra membuatnya terdiam sejenak.
"Tapi sepertinya kamu sekarang sudah tidak ketakutan akan melahirkan prematur" ucap Abra dengan nada menyindir, "bahkan kamu mengabaikan ajuran dokter dan laranganku."
Mengerti apa yang dimaksud Abra Zahra mencoba untuk turun dari kasur, dia tidak suka Abra berbicara sambil membelakanginya, tetapi perutnya kembali kram membuatnya meringis.
Abra mendengar ringisan Zahra, tetapi dia mengepalkan tangan tidak membalikkan badan.
"Aku hanya membuat tiga kue" ucap Zahra disela-sela ringisannya, "itupun aku dibantu banyak orang" lanjutnya.
Seakan tidak menghiraukan Abra berjalan menuju pintu, "mulai saat ini aku tidak mau makan masakanmu, kamu hanya boleh menyiapkan pakaianku kekantor dan menemanku makan."
Abra membuka pintu kamar hendak keluar.
"Mau kemana?" tanya Zahra lirih.
"Merokok" jawab Abra singkat.
"Gak tidur diluarkan?."
Abra diam menggnggam gagang pintu kuat sebelum menganggukkan kepala.
"Ayah gak akan tindur diluarkan?, janji?" tanya Zahra kembali memastikan.
"Ya"
Sangat singkat, Arbra menutup pintu kamarnya dan berjalan keluar rumah menutu halaman belakang.
*-*
.
*Hai ...
Untuk si ReQi disebelah dengan si orange 🙏
Maaf, karena nanti ceritanya berseries Author maunya bab tidak begitu panjang dan bisa dibaca terpisah 🙏
Tapi untuk* One More Chance *tetap berada di sini kok 😉 sampai tamat Insya'Allah 😉
Mohon pengertiannya 😇
Love you 😙*
Unik Muaaa
__ADS_1