One More Chance

One More Chance
Kehilangan


__ADS_3

Seakan melihat mereka berempat adalah kebahagiaan baginya yang sudah cukup untuk dia terima sebelum kembali kesisi-Nya. Tepat setelah mereka berempat selesai makan, Zahra tidak sengaja melihat Kakek Arya menangis dalam diam, perlahan Zahra mendekati Kakek Arya menggenggam tangan beliau yang terangkat.


"Maafkan Abra," ucap Kakek Arya lirih, karena Zahra mendengarnya secara samar Zahra merendahkan tubuhnya. "Maafkan Abra, dia juga sudah menyesal dan menerima hukuman selama belasan tahun setelah kamu pergi, baik dari dirinya sendiri dan dari Opa." Dengan suara yang semakin lirih Kakek Arya mengucapkannya.


"Setelah kamu pergi, Opa melihat sisi lain darinya, yang selama ini selalu dia sembunyikan dari siapapun. Opa berat meninggalkan dunia ini tanpa melihat Regan menerima Abra, Opa juga merasa berat jika meninggalkan Abra sendirian.


Opa tidak memaksamu untuk kembali pada Abra, cukup maafkan dia. Kamu pasti tahu jika Opa pergi dia pasti akan sendirian." suaranya yang semakin lemah membuat Zahra harus mendekatkan telinganya ke bibir Kakek Arya. "Opa titip Abra dan Regan."


Tepat setelah mengatakan itu Mesin di samping tempat tidur Kakek Arya berbunyi.


Zahra menoleh pada mesin itu menatapnya dengan tatapan tertegun. Abra memegang dadanya yang terasa sesak dan ter jatuh terduduk menatap Opa nanar, Gea menangis ditempatnya, Regan dengan sigap memencet tombol didekat Zahra dan berlari keluar memanggil dokter.


Zahra menatap wajah Kakek Arya yang tersenyum menghadapnya, baru saja beberapa detik Kakek Arya selelsai mengatakan menitip Abra dan Regan beliau sudah tidak sadarkan diri.


"Ayah ..." Gea berteriak melihat Abra kesakitan diatas lantai, memukul dadanya dengan air mata mengalir.


Beberapa dokter dan perawat datang menangani Kakek Arya, Zahra berlari menghampiri Abra menenangkannya.


Semua kalang kabut dalam ruang inap kakek Arya, Regan membantu Zahra memapah Abra keluar dari ruanga inap Kakek Arya agar tidak menggngggu pada dokter dan perawat.


Malvin yang baru datang dengan Javir mengganti Zahra, Gea menangis sendiri dibelakang mereka, Javir menghampirinya menepuk punggung gadis kecil itu, tangis Gea semakin kencang membuat Javir menarik Gea dalam pelukannya untuk menenangkan gadis itu.


Setelah Abra duduk di kursi Zahra mencoba menenangkan Abra sepertu sebelumnya tetapi tidak berhasil. Tangan Abra yang terkepal hingga memutih membuat Regan berlari memanggil dokter dan perawat.


*-*


Regan menatap Abra yang tertidur, tadi dokter memberinya oksigen Abra masih memberontak dan pada akhirnya dia disuntik.


Kali ini Zahra menunggu Kakek Arya bersama Gea dan juga Javir, sedangkan dia bersama Malvin.


"Seharusnya kita tidak memaksa dia masuk waktu itu" ucap Malvin yang ternyata sudah berdiri disisilain disamping kasur Abra.


"Sejak kapan dia mempunyai fobia?," tanya Regan tetapi tatapan matanya masih menatap Abra yang terbaring dikasur.


Malvin menatap Regan memastikan reaksi apa yang akan Regan tunjukkan. "Setelah kepergian Bundamu, awal dia bahkan tidak bisa mendengar kata rumah sakit."


"Dia tidak terlihat lemah."


"Saat Gea lahir dia tidak menemani Vira, saat istri Kakekmu sakit samapi meninggal dia tidak kerumah sakit, dia langsung menunggunya di kubur."


"Apa dia menghukum dirinya sendiri dengan kata fobia?," Regan mengangkat kepalanya menatap Malvin.


Kapala malvin mengangguk membenarkan. "Ya, bahkan setelah kepergian Bundamu setiap teringat nama Zahra dia akan duduk di cafe tempat dia menembak Bundamu untuk pacaran, diretaurant saat dia melamar bahkan terkadang duduk didepan rumah kos Bundamu dulu selama berjam-jam. Dia mengabaikan semua orang dan perusahaan, jadi Kakekmu mundur dan memberikan tanggung jawab besar padanya, dia malah menjadi gila kerja.


Meski Kakekmu tahu kalian dimana dia tidak memberi tahu pada Abra, karena beliau juga menghormati keputusan Bundamu, terlebih Abra juga yang bersalah."


Wajah Regan tetap saja datar dia kembali menatap Abra sebelum beranjak duduk di sofa menegadah menatap langit-langit rumah sakit.


Malvin mengikutinya dan menyodorkan hpnya pada Regan. "Pesan yang dia tulis setelah bagun tidur tadi subuh."


Regan melirik hp Malvin ragu untuk mengambilnya, tetapi pada akhirnya dia mengambil hp beliau.


Abra


Dia bangunin gue😍


Maksa gue untuk sholat


Awal bagun fobia gue kambuh


setelah lihat dia gue merasa

__ADS_1


bahagia tapi mau nangis


^^^Malvin^^^


^^^Kenapa? jangan lebay^^^


^^^gue geli^^^


Bukan lebay nyet...


Masih ingatkan lo


yang gue katakan untuk


ngebujuk Ara ketemu Opa?


^^^😐 lupa gue^^^


Gue gak akan ganggu mereka


yang artinya gue gak akan ketemu


mereka lagi


Apa rumah sakit akan menjadi


tempat terakhir gue ketemu


dia lagi?


Terus apa yang harus gue


lakuin?, apa kabar fobia gue?


^^^dibalik fobia Bra....^^^


^^^Nanti kalau loe sakit^^^


^^^gak bisa di bwh kermh sakit^^^


^^^loe bisa mati konyol^^^


Kehilangan dia berat Nyet...


lo udah tahu itu


Kalau Opa mati gue ikutan aja


^^^Lo mua gue hajar 👊^^^


Hehehe....


Gue sama siapa lagi?


Opa pergi gue sendirian


^^^Loe masih punya gue^^^


^^^Gea dan Sam juga^^^


Lo dan Sam udah punya

__ADS_1


keluarga


Gea 😔


gue akan kembaliin dia


ke Vira sebelum gue mati


^^^Regan?^^^


^^^lo mau ninggalin dia?^^^


Dari awal dia sama Ara


dia gak mungkin sama gue


^^^Kenapa lo gak coba^^^


^^^bica lagi sama Zahra^^^


Gue udah janji


Gue ngantuk...


Regan sudah membacanya, tetapi dia tetap menatap layar hp Malvin. "Dasar orang tidak tahu bertanggung jawab?, kalu dia mati karyawan perusahaan gimana? mereka akan kehilangan mata pencarian mereka."


Ini diliar ekpestasi Malvel.


Regan berjalan cepat menuju kamar Abra menyentuhnpundak abra dan menggoncangnya pelan. "Bangun ..."


"Regan" tegur Malvin menepis tangan Regan. "Jangan kasar begitu, biarkan dia ...."


"Biarkan dia tidur disaat keadaan genting begini?," potong Regan.


"Tepi jangan kasar begit dia itu Ayah kamu."


"Ayah saya?, dia bukan Ayah saya."


"Hei !!!," hardik Malvil.


Regan melirik Abra. "dia saja tidak mengakui saya sebagai anaknya kenapa saya harus mengakui dia sebagai Ayah saya?".


Tangan Abra mengepal, dia sudah naguan tetapi dia takut membuka mata.


Regan kembali mengguncang tubuh Abra, mau tidak mau Abra membuka mata perlahan. "Bangun, apa anda tidak mau mengucapkan sesuath sebelum Kakek anda pergi?."


Abra terdiam menatap langit-langit kamar inapnya dengan tatapan kosong.


"Kakek anda ada di ICU, sebelum beliau pergi anda harus sudah meminta maaf."


Kali ini Abra menoleh menatap Regan.


"Setidaknya itu akan mengurangi rasa kehilangan anda nanti."


Regan pergi bagitu saja keluar dari kamar, dia tidak mau lama-lama bersama Abra. Pria itu selalu menatapnya tajam setiap kali Zahra dan Regan bersama, Abra masih tidak mengakuinya sebagai anak mereka, jadi Regan akan menjaga jarak.


*-*


.


.

__ADS_1


.


Unik_Muaaa


__ADS_2